Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 41 : Ulah Albern.


__ADS_3

Evans dan Jemima sampai di food street tempat Elena menghabiskan waktu tadi. Mereka berdua langsung berpencar untuk mencari keberadaan gadis itu.


Evan pergi menyusuri lokasi terakhir Elena menggunakan maps. Sementara Jemima menunjukkan foto adik dari atasannya itu pada setiap orang yang dia temui.


"Permisi Nona-nona, apa kalian pernah melihat gadis dalam foto ini?" Jemima mendekati sekumpulan gadis yang sedang menikmati suasana malam di sana.


Mereka melihat foto yang Jemima tunjukkan, sebelum kemudian kompak menggelengkan kepala.


"Tolong, lihat sekali lagi," pinta Jemima.


"Maaf kami memang tidak pernah melihatnya," ujar salah seorang gadis di antara mereka.


Jemima menghela napas kecewa. "Baiklah. Maaf mengganggu waktu Anda semua. Terima kasih," ucap Jemima sebelum melanjutkan pencariannya lagi.


Wanita itu berganti haluan dengan bertanya pada pedagang sekitar. Elena baru saja wisata kuliner di sana, yang berarti mungkin saja beberapa pedagang masih mengingat wajahnya.


"Tuan, maaf mengganggu waktunya. Apa Anda melihat gadis ini?" tanya Jemima pada salah satu pedagang.


Pedagang tersebut menghentikan kegiatan memasak patty-nya dan menatap foto yang Jemima tunjukkan.


"Sepertinya aku pernah melihat," ujar sang pedagang paruh baya itu. "Ahh, aku tentu mengingatnya! Gadis itu lah yang memberikan tips besar padaku saat membeli tadi."


"Kapan dia beli di sini, dan apakah Anda tahu ke mana perginya setelah itu?" tanya Jemima.


Sang pedagang menggeleng. "Sudah lama, mungkin dua jam yang lalu. Aku sibuk melayani pembeli, jadi tidak mungkin memperhatikan ke mana mereka pergi satu persatu."


Kekecewaan kembali hadir di benak Jemima. Dua jam yang lalu Elena pasti masih berkeliling setelah membeli dagangan ini.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, Tuan." Wanita itu membungkukkan badannya.


"Sama-sama, Nona."


...***...


Langkah Evans terhenti tepat di lokasi terakhir Elena berada. Namun, tak seujung kuku pun sosok gadis itu terlihat matanya, meski dia menoleh ke sana kemari.


Pria itu malah mendapati sesuatu yang terlihat sangat familiar, tergeletak di tengah jalan.


Penasaran akan benda berwarna ungu tersebut, Evans kembali melangkah dengan sangat hati-hati ke tengah jalan raya untuk menghampirinya.


Sesampainya di sana, Evans sangat terkejut mendapati benda yang dia lihat, ternyata merupakan pecahan-pecahan ponsel Elena yang mungkin sudah terlindas oleh lalu-lalang kendaraan.


Evans mengambil potongan ponsel terbesar dan membolak-balikannya guna memeriksa lebih spesifik.


"Kenapa ponselnya ada di sini? Ya Tuhan, ke mana dia!" gumam pria itu setelah yakin bahwa yang dia temukan adalah ponsel milik sang adik.

__ADS_1


"Leon!"


Baru saja Evans hendak kembali berjalan, tiba-tiba suara seorang gadis terngiang di telinganya.


"Leon, tolong!"


Evans sontak memegang kepalanya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, guna mencari sumber suara tersebut.


Seberkas bayangan seorang gadis berpakaian kuno, tiba-tiba muncul dalam ingatannya.


"Leon, aku takut!"


"Arghh!" Evans memejamkan matanya. Rasa mual dan sakit di kepala mulai menyerang pria itu.


Evans tak bisa melangkah, sebab suara tersebut semakin lama semakin mengganggu. Dia bahkan sama sekali tidak dapat mendengar suara klakson kendaraan, yang menyuruhnya untuk menyingkir dari sana.


Jemima yang baru saja berjalan melewati halte bus sontak memicingkan matanya, begitu mendapati di kejauhan, seorang pria sedang berdiri di tengah jalan yang sedang ramai.


Setelah memastikan bahwa pria itu adalah atasannya, secepat mungkin Jemima berlari menghampiri Evans dan membawanya pergi ke pinggir jalan.


"Tuan, Anda bisa mendengar saya? Ada apa, Tuan?" tanya Jemima khawatir. Wanita itu menepuk-nepuk pundak Evans untuk menyadarkannya.


Dada Evans terlihat naik turun. Dia sama sekali tidak menjawab, dan hanya menyodorkan potongan ponsel Elena pada sang sekretaris.


Jemima menerima ponsel tersebut dan terkejut. Bagaimana bisa ponselnya tergeletak di tengah jalan? Kalau pun jatuh, tidak mungkin jauh sampai ke sana.


"Kita harus lapor polisi, Tuan," usulnya kemudian.


Evans menganggukkan kepalanya. Setelah pria itu sudah tenang, keduanya pun memutuskan untuk melaporkan kehilangan Elena ke kantor polisi terdekat.


...***...


Elena terbangun di dalam sebuah kamar mewah yang cahayanya sedikit redup. Ranjang yang dia tiduri merupakan ranjang mewah beratap yang memiliki tirai berwarna emas.


Di sebelah kanan dan kiri ranjang terdapat nakas berwarna senada. Sementara di kaki ranjang, sebuah sofa minimalis tergeletak di sana. berhadapan dengan televisi.


Elena mencoba bangkit dari ranjang, tetapi kakinya ternyata terikat oleh rantai.


Gadis itu tak mampu melepaskan diri karena rantai tersebut terikat di kaki ranjang dengan sangat kuat.


Ketakutan melanda diri Elena. Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh gadis itu adalah berteriak minta tolong. Namun, sebelum dia mengeluarkan suaranya, suara pintu kamar tiba-tiba terbuka.


Dengan cepat Elena kembali berbaring dan memejamkan matanya.


"Kenapa dia belum bangun?"

__ADS_1


Suara seorang pria yang terdengar sangat familiar, tertangkap indera pendengaran Elena.


"Sebentar lagi dia akan bangun Bos, Anda tenang saja," jawab pria lain.


Suara langkah kaki terdengar, seiring pintu tertutup.


Elena mencoba menahan gemetar ketakutan pada tubuhnya, tatkala ranjang yang dia tiduri mulai berdecit. Tanda bahwa ada seseorang yang kini sedang menaiki ranjang dan mendekati dirinya.


Jantung gadis itu sontak berdegup kencang saat sebuah tangan mulai membelai wajah dan pipinya, kemudian turun ke leher dan belahan d4d4ny4.


Tangan pria itu berhenti tepat di atas belahan d4d4 Elena cukup lama, lalu berkata, "kau adalah milikku, El!"


Elena hampir menangis karena terkejut. Sebab, suara itu adalah suara milik Albern, kekasihnya sendiri.


"Kenapa dia tega melakukan ini semua?" Batin gadis itu.


Mengetahui Elena sama sekali belum memberikan respon. Albern semakin memberanikan diri untuk mencium pipi gadis itu.


Setelah puas memain-mainkan wajah Elena, Albern kemudian pergi meninggalkan kamar.


Tepat ketika pintu tertutup, Elena membuka matanya dan menangis tersendat-sendat.


Dalam hati, Elena menerka-nerka alasan pria itu nekat berbuat demikian. Sebab, Albern yang selama ini dia kenal merupakan sosok pria baik hati dan tidak pernah berbuat macam-macam. Intensitas pertemuan mereka yang lumayan sering membuat Elena yakin, dia bahkan tak mampu menyakiti seekor lalat sekali pun. Namun, kini pandangannya berubah.


Entah selama ini sikap yang Albern tunjukan hanya lah kepalsuan belaka, atau memang karena pertengkaran mereka, dia berubah menjadi sosok yang lain.


Terlalu banyak menangis membuat Elena tanpa sadar tertidur di sana.


...***...


Pihak kepolisian yang mendapati laporan kehilangan Elena bergegas mengadakan penelusuran pagi ini.


Reputasi keluarga Wileen membuat mereka tak perlu menunggu selama 24 jam terlebih dahulu.


Beberapa personil dikerahkan untuk mencari jejak gadis itu. Dari rekaman CCTV yang berada di dekat lokasi kejadian, mereka mendapati Elena dibawa oleh sebuah mobil van hitam saat tengah duduk di halte bus. Ponsel milik Elena pun dibuang dari dalam mobil, persis beberapa meter setelah meninggalkan halte tersebut.


Evans dan Jemima tidak tinggal diam. Mereka turut membantu mencari keberadaan Elena dengan menyuruh beberapa anak buah sang ayah. Tak lupa, orang-orang tersebut diminta Evans untuk merahasiakan ini semua dari kedua orang tuanya.


Kondisi kesehatan Simon yang belum sepenuhnya pulih, membuat Evans memilih tidak memberitahu kabar memilukan ini.


Dia hanya meminta waktu sedikit lebih lama di sana, karena pekerjaan mereka masih belum selesai. Sekaligus menjelajahi keindahan kota sesuai keinginan Elena.


Di sela-sela pencariannya, Evans tak pernah berhenti memikirkan sosok bayangan seorang gadis, yang sempat muncul tadi malam. Belum lagi suara-suaranya, yang sangat dia yakini mirip dengan suara Elena.


Namun, mengapa Elena memanggilnya dengan nama Leon? Nama pria yang sempat hadir beberapa kali dalam mimpinya.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa maksud bayangan dan suara-suara tersebut?


__ADS_2