Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 6 : Air Mata Luka.


__ADS_3

"Apa!" teriak Elena tanpa mempedulikan dirinya yang kini tengah berada di meja makan, sedang menyantap hidangan makan malam bersama seluruh keluarganya.


"El!" tegur sang ibu dengan nada memperingati.


"Ma ... af," ucap Elena lesu. Matanya kembali menatap sang ayah, yang sama sekali tidak merasa terbebani setelah mengatakan hal demikian.


Elena menggaruk kepalanya frustrasi. "Pa, aku pasti tidak akan fokus pada kuliah jika harus ke kantor juga!" pekiknya kembali.


"El ...!" Lagi-lagi sang ibu bersuara.


"Iya, Ma ... maaf," keluh Elena sembari mengerucutkan bibirnya.


"Lagi pula, aku sama sekali tidak memiliki pengalaman. Kalau memang Papa ingin menyuruhku bekerja, lebih baik aku mulai dari bawah saja. Ahh, bagaimana kalau jadi OG?" usul Elena asal-asalan, yang langsung mendapat pukulan manis di kening, dari sang ibu tercinta.


"Sakit, Ma!" seru Elena seraya mengusap-usap keningnya.


"Dengarkan ayahmu, Sayang," titah sang ibu.


Elena tertunduk lesu.


"Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi, El? Kakakmu saja sudah membantu Papa sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, dan dia sama sekali tidak merasa terbebani akan hal ini, padahal dia tinggal di luar negeri."


"Sebenarnya bukan itu, Pa. Aku juga tidak keberatan jika harus bekerja di kantor ... tetapi menjadi sekretaris pribadi Kak Evans? Rasanya aku tak sanggup melakukannya." Elena hanya bisa mengucap sebaris kalimat tersebut dalam hati. Matanya kemudian melirik pria yang sedang duduk tenang di hadapannya.


"Kak Evans pasti keberatan juga." Sorot matanya tampak memohon, agar sang kakak juga mengatakan hal yang demikian.


"Papa sudah memberitahu kakakmu sejak di kantor tadi pagi, dan dia sama sekali tidak keberatan dengan usulan Papa. Benar, kan, Evans?" Simon meminta persetujuan putranya.


Evans mengangguk tanpa suara.


Melihat jawaban Evans, Elena kontan saja terkejut. Pasalnya, sejak tadi pria itu sama sekali tidak ikut menanggapi pembicaraan mereka. Dia hanya fokus menyantap makan malamnya dengan tenang.


Melihat ketidakpedulian Evans, Elena yang kesal langsung berdiri dari kursi makannya.


"Lihat, kan, Pa? Bagaimana bisa aku bekerja dengannya, jika keberadaanku saja sama sekali tidak dihiraukan? Terima kasih atas makan malamnya, aku permisi ke atas dulu!" Tanpa menunggu tanggapan dari kedua orang tuanya, Elena melenggang pergi meninggalkan meja makan.


"El," panggil Samantha lirih. Netra birunya kemudian menatap sang anak sulung dengan pandangan memohon. "Vans, tidak bisakah kau hentikan ini semua, Sayang? Kau tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini pada adikmu sendiri."


Evans meletakkan sendok dan garpu makannya di atas piring, sebelum kemudian berdiri. "Sejak awal aku sudah mengatakan, bahwa aku akan pergi meninggalkan keluarga ini setelah kehadiran Elena. Namun, kalian tak pernah mau mendengarkan." Pria itu membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.

__ADS_1


Samantha memegang dadanya yang mendadak pilu. Keinginan untuk melihat kedua putra-putrinya saling menyayangi tampaknya sangat jauh dari harapan.


"Bagaimana ini, Pa?" tanya wanita itu lirih.


"Mereka tak akan selamanya seperti ini. Percayalah." Simon meremas tangan Samantha, berusaha menenangkan kegundahan hati sang istri.


...***...


Sejak kejadian itu, hubungan Elena dan Evans semakin terasa dingin dan jauh. Berpapasan di dalam rumah saja, keduanya bak orang asing yang tidak saling mengenal.


Hal itu sebenarnya sama sekali tidak dipermasalahkan Elena. Justru, dia merasa jauh lebih baik, jika saja sang ibu tidak berusaha menyatukan mereka.


Ada saja yang dibuat Samantha agar keduanya saling berkomunikasi. Dari mulai menyuruh Evans mengantar Elena ke sekolah, sampai meminta Elena mengantarkan minuman untuk sang kakak, seperti saat ini.


"El, tolong antarkan teh hangat ini ke ruang kerja kakakmu ya," pinta Samantha.


"Kenapa tidak menyuruh Maya atau Lily saja Ma?" keluh Elena.


Samantha menggelengkan kepalanya. "Kau saja yang antar ya, Sayang?" Sebaris senyum manis –yang terlihat menakutkan di mata Elena– terpatri di wajah cantik wanita paruh baya itu.


Mau tak mau, Elena akhirnya menuruti perintah sang ibu untuk mengantar minuman tersebut, walau sambil bersungut-sungut.


Sesampainya di depan ruang kerja Evans, Elena mengetuk pintu sebanyak dua kali dulu, lalu masuk ke dalam.


"Ini tehnya," ujar Elena datar.


"Hmm." Hanya sebuah gumaman tak acuh yang diberikan Evans untuk Elena, sebagai jawaban.


Elena berusaha menahan diri untuk tidak melempar nampan ke wajah tampan sang kakak. Dengan langkah terhentak-hentak, gadis itu pun keluar dari ruang kerja Evans.


"Aw!" pekik Elena ketika kakinya tidak sengaja terantuk kaki sofa.


Elena terduduk di lantai guna memeriksa keadaan jempol kakinya yang tampak membiru dan berdenyut-denyut menyakitkan.


Evans yang sebenarnya melihat insiden tersebut, sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap Elena.


"Sial! Sakit sekali!" umpat Elena kesal. Sesekali, suara ringisan kecil keluar dari bibir gadis itu.


Elena bergegas bangkit dari lantai. Dengan langkah tertatih, dia mulai berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


Namun, Elena sontak memekik ketika Evans secara tiba-tiba menggendong dirinya tanpa aba-aba.


"Kak, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" sergah Elena.


Evans tidak menghiraukan protes sang adik. Pria itu membawa Elena ke dalam kamarnya yang berada tak jauh dari sana.


"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin Papa dan Mama memergoki diriku yang tidak peduli padamu!" seru Evans dingin.


"Dasar pria sialan tak tahu diri!" maki Elena dalam hati.


Dia tak mungkin mengeluarkan kata-kata itu secara gamblang pada sang kakak. Alhasil, Elena hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa lagi.


Rasa sakit yang semula dirasakan olehnya, terganti dengan kekesalan berkali-kali lipat.


"Sudah, turunkan aku di sini saja," ujar Elena ketika mereka sampai di depan kamarnya.


Lagi-lagi Evans tidak mau mendengarkan. Dia baru mau melepaskan sang adik, ketika dirinya masuk ke dalam kamar gadis itu.


Namun, alih-alih menurunkannya secara perlahan, Evans malah melempar gadis itu ke atas tempat tidur dengan kasar.


Tanpa mempedulikan ringisan yang keluar dari mulut Elena, pria itu bergegas ke luar dari kamar, dan kembali lagi sembari membawa kotak P3K.


"Obati sendiri!" seru Evans dingin seraya melempar kotak tersebut, hingga nyaris mengenai kaki Elena yang tengah terluka.


Elena terdiam. Gadis itu hanya bisa memperhatikan kepergian Evans dengan mata yang sudah basah.


"Kenapa menangis, Bodoh!" umpat Elena seraya menghapus air matanya kasar.


Seharusnya, dia tak boleh terkejut dengan perlakuan kejam Evans barusan. Sebab dulu, sang kakak bahkan pernah meninggalkannya sendirian di tengah badai salju, hanya karena dia mengikuti dirinya terus.


Itu lah salah satu alasan lain, yang membuat Elena tak ingin lagi ikut ayah dan ibunya ke luar negeri untuk menemui sang kakak.


Sembari tersedu-sedu, Elena mengobati kakinya seorang diri.


"Sayang!" Samantha datang beberapa menit kemudian setelah Evans memberitahu dirinya soal luka Elena.


Wanita itu menghampiri putrinya yang sedang menangis sembari mengobati lukanya sendirian.


Melihat sang ibu datang ke kamar, Elena malah mengeraskan tangisannya. "Sakit, Ma!"

__ADS_1


"Iya, Sayang, Kakimu sakit ya? Mama obati lukamu ya?" Samantha segera mengambil alih cream yang ada di tangan Elena dan mulai mengoleskannya secara perlahan.


Mendengar perkataan sang ibu, Elena semakin menangis. Beliau sama sekali tidak mengetahui, akan maksud dari sakit yang Elena katakan.


__ADS_2