Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 51 : Kencan Buta.


__ADS_3

Di salah satu restoran kelas menengah, Elena dengan pakaian semi formal tengah duduk seorang diri di salah satu sudut meja.


Sudah lebih dari sepuluh menit dia menunggu seseorang yang kata Jemima akan datang tepat pukul tujuh malam. Akan tetapi, hingga jam tujuh lewat dua belas menit, pria yang akan menjadi partner kencan butanya kali ini masih belum juga terlihat batang hidungnya. Belum lagi, suara gemuruh petir sudah terdengar menggelegar. Hujan pun mulai turun.


Rasa jenuh mulai menghinggapi diri Elena. Satu sisi dia ingin meninggalkan tempat tersebut, tetapi di sisi lain, dia masih ingin menunggu di sana.


Lagi pula, dia tak ingin mengecewakan sang ibu dan sekretaris pribadinya yang sudah susah payah mengatur acara absurd ini. Walau pun dia tidak terlalu menyukainya, tetapi dia tetap ingin menghargai.


Soal dari mana Jemima bisa mengenal pria-pria ini, jawabannya adalah dari aplikasi pencari jodoh. Samantha pernah berkelakar bahwa dia tak ingin melihat Elena kehilangan masa muda hanya karena sibuk bekerja.


Hal itu membuat Elena kesal sekaligus malu. Alhasil, di sini lah dia sekarang.


Sekali lagi Elena menatap jam tangan mewah miliknya.


"Sepuluh menit lagi. Jika dalam waktu sepuluh menit dia tak juga datang, lebih baik aku pergi saja," gumam gadis itu.


Suara langkah kaki terburu-buru terdengar indera pendengaran Elena sesaat kemudian. Penasaran akan suara tersebut, Elena dan beberapa orang pengunjung menoleh ke arah sumber suara.


Jauh, di depan pintu masuk ada seorang pria tampan berkaca mata yang baru saja masuk ke dalam restoran dengan tubuh nyaris basah kuyup.


Pria itu menoleh ke sana kemari sembari menatap ponselnya sesekali, seolah sedang mencari seseorang.


Elena mengerutkan keningnya, tatkala menyadari wajah seseorang itu sepertinya mirip dengan pria yang akan menjadi partner kencannya.


Benar saja! Begitu mata mereka bersirobok, pria tampan berkaca mata itu melambaikan tangannya pada Elena tanpa malu.


Elena tertawa kecil. Ini bukan kali pertama dia menjalani kencan buta. Jika boleh dihitung dengan malam ini, Elena sudah mengalami kencan buta selama lima kali.


Bertemu dengan empat pria ajaib sebelumnya membuat Elena tak lagi terkejut dengan yang satu ini. Bahkan, gadis itu menganggap pertemuan mereka hanya sekadar mencari teman saja.


"Elena ya?" tanya pria itu ketika sampai di hadapan Elena. Dia membersihkan tangannya dan mengulurkan tangan pada Elena.


"Ya, aku Elena." Elena menyambut uluran tangan pria itu.


"Aku Drax. Maaf membuatmu menunggu lama. Mobilku terjebak macet di jembatan Cameron, dan aku meninggalkannya di sana. Beruntung, salah satu polisi yang bertugas di sana menawarkan diri untuk membawakan mobilku ke sini."


Elena mengangguk memahami. Pantas saja dia datang terlambat, jembatan akan selalu dalam keadaan macet jika cuaca sedang hujan. Elena kemudian mempersilakan Drax duduk.

__ADS_1


"Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri," ujar Elena tak enak hati. Dari penampilannya, Drax terlihat seperti pria baik-baik, lembut, dan sopan. Maklum saja, mungkin karena profesinya sebagai dokter anak.


"Tidak apa, ini pertemuan pertama kita dan aku tidak mungkin mengecewakanmu," jawab Drax.


Mereka pun memesan makan malam dan menikmatinya bersama sembari berbincang-bincang ringan.


Drax rupanya seorang pria pendatang baru dari sebuah kota kecil, yang sedang mengurus kepindahannya di salah satu rumah sakit di kota ini.


Prestasinya di bidang medis membuat salah satu direktur rumah sakit meminta Drax untuk pindah ke rumah sakit utama yang lebih besar dan mewah.


Drax dengan senang hati menerima tawaran tersebut.


"Maklum, seumur-umur aku belum pernah tinggal di kota besar seperti ini," kata Drax seraya tersenyum.


"Suasana di kota kecil pasti sangat nyaman dan menenangkan," timpal Elena. Sejak dulu, dia mendambakan hidup di kota kecil dan memiliki peternakan sapi sendiri.


"Memang menyenangkan. Kapan-kapan, aku bisa mengajakmu ke kotaku kalau mau." Tawaran Drax disambut baik oleh Elena.


"Terima kasih," ucap gadis itu.


Obrolan mereka mengalir cukup lancar dan menyenangkan, sebab Drax ternyata seorang pria yang sangat humoris dan menyenangkan diajak bicara.


Elena terdiam sesaat guna memikirkan harus memulai dari mana. "Tak ada yang istimewa dari kisah hidupku, selain aku hanyalah seorang mahasiswi biasa yang kini sedang menggantikan kakakku di kantor, dua tahun belakangan ini."


"Memangnya kakakmu ke mana?" tanya Frax penasaran.


"Entahlah. Dia sepertinya seorang pria berjiwa bebas, dan kami hanya bisa berdoa sekaligus menunggu kepulangannya di sini." Sorot mata Elena sekilas terlihat sendu.


"Kau sepertinya tidak terlalu dekat dengan kakakmu ya?" tanya Drax lagi.


Elena mengangguk. "Ya, kami baru saja bertemu setelah lima belas tahun berpisah, dan dia ... bukan kakak kandungku."


Melihat raut kesedihan Elena, Drax pun segera meminta maaf. "Maafkan aku, aku tak bermaksud mengulik kehidupan pribadimu," sesalnya.


"Ahh, tidak apa-apa. Aku malah yang meminta maaf, karena ceritaku membuat suasana makan malam menjadi sedikit tidak menyenangkan." Elena menatap Drax tak enak hati.


"Tidak masalah. Aku senang bisa mengenal gadis seperti dirimu. Kuharap, kakakmu bisa segera pulang dan berkumpul bersama keluarga."

__ADS_1


Elena tersenyum dan berterima kasih. Gadis itu pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan segala hal tentang pasien-pasien Drax yang merupakan anak-anak manis nan lembut.


Sekitar pukul sembilan malam, mobil milik Drax tiba di depan restoran.


Drax dan Elena yang memang menunggu di sana segera keluar. Mereka berterima kasih pada polisi tersebut karena sudah mau direpotkan. Drax bahkan berniat ingin memberikan sejumlah uang tanda terima kasih, tetapi polisi tersebut menolak.


"Jarang ada polisi yang jujur dan baik hati seperti beliau. Mudah-mudahan, hidupnya selalu dilimpahkan keberkahan," ujar Elena setelah masuk ke dalam mobil Drax.


Mendengar itu, Drax tersenyum.


...***...


Satu jam kemudian, Drax dan Elena tiba di kediaman keluarga Wileen.


Elena menawarkan Drax untuk mampir ke rumah terlebih dahulu, tetapi pria itu dengan sopan menolaknya.


"Semoga kita masih bisa bertemu lagi, El. Senang bisa berkenalan denganmu," ujar Drax penuh harap.


"Aku juga. Terima kasih untuk makan malamnya yang menyenangkan."


"Sama-sama."


Elena pun turun dari mobil Drax dan menunggu di depan sana hingga mobil pria itu menghilang dari pandangannya.


Sesampainya di dalam, ternyata Samantha dan Jemima, yang kini sering bermalam di sana, sudah menunggu kedatangan gadis itu di ruang tamu.


Mereka menahan Elena yang hendak naik ke kamarnya dan memaksa gadis itu untuk bercerita terlebih dahulu.


"Jadi?" tanya Samantha dengan wajah menggoda. Jemima pun tak kalah demikian.


"Cukup menyenangkan dari pada keempat pria sebelumnya." Gadis itu mendelik jengkel pada Jemima yang tampak sumringah.


"Lalu, kapan kalian akan bertemu lagi?" tanya sang ibu dengan wajah penasaran.


"Tidak tahu, dia sedang sibuk mengurus kepindahannya kemari." Jawab Elena.


"Baiklah, semoga kalian berdua cocok. Kau harus mulai mengenal pria lain dan menghabiskan masa mudamu dengan bahagia, El." Samantha memandang wajah sang anak dengan penuh sayang.

__ADS_1


Elena tersenyum simpul. "Tak ada yang bisa membuatku bahagia selain dia, Ma," batin gadis itu.


__ADS_2