
Suara tawa seorang gadis menggema memenuhi hutan belantara, saat Leon dengan gagah berani mencoba menunggangi seekor babi hutan besar, tetapi jatuh dan terguling di atas tanah.
Sembari bertolak pinggang, Airlea mencibir tingkah Leon yang semula ingin memamerkan kemampuannya menjinakkan hewan-hewan liar. "Kau lebih cocok dijuluki pria bermulut besar dari pada bernyali besar dan mampu menjinakkan hewan liar!" cemoohnya.
Leon berdiri dari posisinya dan langsung membersihkan pakaiannya yang penuh dengan tanah juga dedaunan. "Ini hanya satu kesalahan di antara seribu keberhasilan yang aku lakukan. Tidak masalah," kilahnya sembari menahan malu.
Mendengar itu, Airlea kembali tertawa. Dia pun menghampiri Leon, dan membantu pria itu membersihkan kotoran yang berada di wajahnya.
Leon sontak mengelak. Dia tak enak hati jika lagi-lagi Airlea harus bersentuhan dengan sesuatu yang kotor karena ulahnya.
"Sudah kubilang, kan, aku tidak akan mati hanya karena bersentuhan dengan tanah kotor."
"Aku tahu."
Demi menghindari gadis itu, Leon bergegas pergi setelah mengangkat busur dan anak panahnya kembali ke punggung. Tak lupa, belati kesayangannya disematkan lagi ke pinggangnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Airlea seraya berlari menyusul Leon.
"Jangan ikuti aku! Pulanglah, kau sudah terlalu lama pergi," titah Leon.
Airlea berhenti sejenak, seolah memikirkan sesuatu.
Dia masih ingin bertemu dengan Leon sedikit lebih lama. Namun, dia juga tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa mungkin saja keadaan di istana sedang sedikit kacau karena ketidakberadaan dirinya.
"Hei!" seru Leon saat mendapati Airlea berjalan di sebelahnya.
"Sebentar lagi saja. Aku sedikit penasaran dengan tujuanmu itu," ujar Airlea.
Leon mengerutkan keningnya. "Kau yakin tidak menyesal mengikutiku kali ini?"
"Yakin sekali. Memangnya kenapa?" Airlea balik bertanya.
Leon mengangkat bahunya. " Aku harap kau tidak menyesal," kata pria itu seraya mematri senyum misterius.
...***...
Airlea seolah hendak menarik kembali kata-katanya yang sempat dia lontarkan pada Leon. Terang saja, pasalnya, Leon kini sedang mandi di sebuah aliran sungai yang ada di dalam hutan.
Pria itu tanpa malu membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek saja, sebelum kemudian duduk di bawah salah satu air terjun di sungai tersebut.
__ADS_1
"Katamu, kau tidak akan menyesal?" tanya Leon dengan suara sedikit keras pada Airlea yang tengah duduk membelakanginya seraya bersedekap.
"Kau seharusnya memberitahu ke mana akan pergi!" jawab Airlea ketus.
"Kau bilang hanya penasaran dengan tujuanku, tetapi tidak menanyakan ke mana aku akan pergi!" sahut pria itu tak mau kalah. Wajahnya yang tampan terlihat lebih segar.
"Aku tak ingin berdebat. Lanjutkan mandimu, aku akan pergi dari sini!" Tanpa menoleh ke belakang, Airlea menjinjing gaunnya dan melangkah pergi menjauhi sungai. Namun, dia lupa kalau tempat ini belum pernah dikunjunginya, yang berarti, dia sama sekali tidak tahu ke mana arah jalan pulang.
Melihat gelagat Airlea, Leon sontak tertawa. Pria itu pun berjalan menghampiri Airlea.
Airlea yang tahu, segera menjerit dan melarang Leon untuk mendekatinya. Namun, Leon sama sekali tidak peduli. Dia bahkan kini berdiri di hadapan Airlea tanpa canggung.
"Seorang pria bertelanjang dada bukanlah sesuatu yang tabu," kata pria itu.
"Aku tahu! Tapi ... kau ... bukan .... Ck, enyahlah dariku!" seru Airlea panik. Tangannya dengan sigap menutupi kedua matanya yang tengah terpejam.
Leon tersenyum tipis. "Bagaimana kalau kau juga merasakannya? Kau pasti belum pernah mandi seperti ini, kan? Rasanya ... bebas."
"Kau gila! Bagaimana mungkin aku mandi dengan pria asing yang baru saja dikenal?" pekik Airlea.
Leon mengangkat bahu. "Sungai ini luas, kita tak perlu mandi berdekatan. Aku akan mandi di ujung sana, sementara kau di sini." Pria itu kemudian berbalik memunggungi Airlea dan berjalan menjauhinya. "Buka matamu," titah Leon.
Perlahan, Airlea membuka matanya dengan sangat hati-hati. Benar saja, Leon rupanya sudah menghilang dan pergi menuju sisi lain sungai.
"Sekali saja sepertinya tidak apa-apa. Lagi pula sungainya bersih dan bening, pasti tidak akan ada apa-apa."
Airlea menoleh ke arah Leon pergi dan mendapati pria itu tengah berdiam diri di dalam sungai dengan posisi tubuh memunggunginya.
Merasa aman, Airlea pun perlahan membuka gaun dan lapisan-lapisannya satu persatu dan hanya menyisakan pak4ian dal4mnya saja.
Setelah itu, Airlea menghampiri tempat yang sebelumnya ditempati Leon dan mulai membasuh diri.
"Segarnya!" pekik Airlea. Teriakannya tentu saja mengundang keingintahuan Leon.
Diam-diam pria itu menoleh ke arah Airlea dan mendapati sang putri tengah bermain air dengan riang gembira.
Wajah cantik dan lekuk tubuhnya membuat Leon terpaku seketika. Namun, pria itu buru-buru memalingkan wajahnya begitu menyadari ketidaksopanan karena telah lancang mengintip sang putri kerajaan.
"Arrghh!"
__ADS_1
Baru saja Leon hendak menjauhi tempat tersebut, suara teriakan Airlea tiba-tiba menggema.
"Tolong, Leon!"
Mendengar namanya dipanggil, Leon segera naik ke permukaan dan berlari menghampiri Airlea yang kini sedang berusaha melepaskan diri dari sesuatu.
Dengan cepat Leon menyusul Airlea.
"Ada yang menangkap kakiku di balik air terjun ini!" teriak Airlea.
Leon dengan cepat berlari menuju ke balik air terjun dan menenggelamkan dirinya untuk memeriksa kaki Airlea.
Beberapa saat kemudian pria itu naik ke permukaan sembari memegang potongan akar pohon yang baru saja dia potong.
"Apa itu? Binatang apa yang telah menjerat kakiku?" tanya Airlea ketakutan.
"Ini hanya akar pohon Meriwail." Leon menatap Airlea dengan wajah jenaka.
Pohon Meriwail merupakan tanaman yang hidup di pinggiran aliran sungai. Sebab akarnya akan tumbuh dan merambat hingga ke dalam sungai agar bisa hidup. Bentuknya yang tidak kaku seperti akar pohon biasa membuat orang-orang sering salah paham dan ketakutan.
Airlea menghembuskan napas lega. Baru saja dia hendak bergerak, tiba-tiba kakinya kembali menyentuh sesuatu hingga membuat Airlea menjerit dan memeluk Leon.
"Hei! Hei! Lihat, airnya bening, seharusnya kau tahu memeriksa dulu apa yang menyentuh kakimu!" seru Leon seraya menunjuk kaki Airlea.
Airlea mengikuti arah pandang Leon dan mendapati kakinya ternyata kembali terjerat pohon Meriwail.
"Syukurlah," ujar Airlea. Matanya menatap Leon dengan penuh terima kasih. Sedetik kemudian keduanya menyadari posisi mereka yang masih berpelukan satu sama lain.
"Ma–maaf," ucap Airlea. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari Leon. Namun, Leon malah menahan pinggangnya.
"Leon ... ini ...!"
"Aku tak bisa menahan diri lagi," ujar Leon tiba-tiba. Suaranya yang berat membuat Airlea terpaku.
Sejak pertemuan kedua mereka, Leon memang menaruh perhatian lebih pada putri bungsu kerajaan tersebut. Namun, status mereka tentu saja membuat Leon tak bisa melangkah lebih dalam.
Tapi sentuhan fisik ini membuat perasaan Leon semakin membuncah. Dia tak peduli lagi, bahwa gadis yang dicintainya adalah seorang putri kerajaan.
"Apa maksudmu?" Hanya itu satu-satunya kalimat yang mampu Airlea keluarkan.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Leon malah mendekap pinggang Airlea lebih erat. Tanpa permisi, pria itu mencium bibir sang putri dan memagutnya mesra.
Airlea yang semula terkejut kini turut memejamkan matanya. Di bawah guyuran air terjun Sungai Pa Emër, mereka mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih.