
Acara pariwisata yang rencananya diundur bulan depan akhirnya terlaksana juga. Para siswa-siswi angkatan tingkat akhir yang terdiri dari lima kelas, mengadakan pariwisata ke sebuah museum sejarah yang berada jauh di kota lain.
Butuh waktu lima jam untuk sampai di tempat tersebut menggunakan bus.
Perjalanan yang semula melewati jalan-jalan besar, kini telah memasuki area pedesaan yang sangat asri. Beberapa hamparan padang rumput dan peternakan sapi yang mereka lewati membuat Elena terlihat sangat antusias dan gembira. Tak hanya itu, bus juga melewati berbagai perkebunan anggur, apel, dan juga kiwi yang begitu memanjakan mata.
Jenny yang duduk sebangku dengan Elena juga tak kalah heboh. Gadis itu mengabadikan semua pemandangan indah yang mereka lihat, menggunakan kamera polaroid yang dia bawa.
"Sekali-kali, mata kita memang harus dimanjakan dengan pemandangan pedesaan seperti ini. Kau sih, enak, punya dua pemandangan yang sama-sama menyegarkan mata," kata Jenny tiba-tiba.
"Hah? Pemandangan yang mana?" tanya Elena heran. Dia tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan sahabatnya.
"Ck! Itu, loh, Albern dan kakakkmu yang super duper tampan," jawab Jenny sembari terkikik genit.
Elena tertawa meringis. Di satu sisi dia menyetujui omongan Jenny, tetapi di sisi lain tidak, karena ada sosok sang kakak yang tersemat dalam ucapan sahabatnya itu.
Bus yang mereka tumpangi akhirnya tiba si sebuah pelataran gedung bertingkat yang sangat mewah. Ornamen-ornamen dan patung-patung yang ada di sekitar gedung membuat bangunan tersebut terlihat semakin berkelas sekaligus menakutkan.
Air mancur besar yang terletak di tengah-tengah halaman parkir menjadi pusat perhatian para siswa-siswi. Di atasnya terdapat sebuah patung kuda yang ditunggangi seorang pria berjubah emas.
Para siswa-siswi kemudian dipersilakan turun dari bus.
"Wow, ternyata semewah ini Museum Kerajaan Oswald!" Jenny menatap takjub pada bangunan di depannya.
Museum yang didirikan tahun 1890-an itu memang khusus diperuntukkan bagi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Oswald yang berdiri sebelum masehi.
Tadinya, Museum tersebut hanya terdiri dari satu bangunan saja. Namun, pada awal tahun 90-an, pemerintah sepakat membangun hotel tepat di atasnya, karena wilayah mereka termasuk dalam kawasan agrowisata.
Mr. Edward, salah satu guru yang menjadi kepala koordinator pariwisata sekolah mereka, menyuruh para siswa-siswi membentuk barisan dan masuk bergiliran guna diberikan id-card sesuai nama dan kelas masing-masing. Rencananya mereka akan menginap di sana selama sehari.
Para murid memandang takjub interior bangunan museum yang tak kalah mengagumkan. Jenny bahkan sampai tak bisa menutup mulutnya, jika Elena tidak menahan dagu gadis itu.
"Tampangmu jelek sekali," ejek Elena.
__ADS_1
Jenny mendelik kesal. Mereka kemudian naik ke lantai atas untuk check-in. Kedua gadis itu ternyata sekamar dengan dua teman sekelas lainnya, Bella dan Abigail.
"Perhatian semuanya! Kalian bisa ke kamar masing-masing untuk beristirahat terlebih dahulu, sebelum berkumpul pada saat jam makan siang. Jangan lupa untuk selalu memakai id-card ini." Mr. Edward mengangkat tinggi-tinggi id-card yang terpasang di lehernya.
Jenny mengajak ketiga teman sekamarnya untuk naik ke lantai tiga.
"Wah!" pekik keempat gadis itu begitu melihat kamar hotel mereka. Terdapat dua kamar tidur king size yang ada di sana, persis menghadap balkon.
Elena bergegas meletakan tasnya di dalam lemari dan berlari ke balkon. Mata gadis itu langsung termanjakan dengan penampakan Gunung Oswald yang sangat indah.
Jenny, Bella, dan Abigail, menyusul Elena ke balkon.
"Indah sekali! Rasanya tak cukup hanya menginap semalam," ujar Abigail sumringah, sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Kau benar!" Jenny menimpali perkataan temannya itu.
Keempatnya pun kembali duduk di ranjang dan berbincang ringan seraya menunggu jam makan siang tiba.
...***...
Suara gemuruh tepuk tangan dari para anggota memenuhi ruang rapat, ketika sebuah smartphone muncul di tengah-tengah meja.
Smartphone yang dibuat Wileen Group itu memiliki beberapa keunggulan, salah satunya adalah mampu mendeteksi kondisi tubuh sang pemilik. Selain itu, body smartphone buatan mereka juga mampu menyala dalam gelap, agar memudahkan si pemilik mencari keberadaannya.
Namun, yang lebih diunggulkan lagi adalah sistem keamanan smartphone yang dapat menghubungi nomor darurat, jika terjadi kecelakaan atau tindak kriminal dari pemiliknya.
Hanya dengan menekan satu tombol, smartphone otomatis akan langsung mengirimkan lokasi tempat kejadian perkara ke dalam database polisi, tanpa harus menunggu mereka melacaknya terlebih dahulu.
Evans berdiri dari kursinya dan berterima kasih pada seluruh pihak-pihak terkait yang sudah terlibat dalam proyek pembuatan Anshel Phone tersebut.
Rapat dibubarkan setengah jam kemudian. Para petinggi perusahaan memeluk dan menjabat tangan Evans dengan ramah.
"Simon memiliki seorang putra yang sangat hebat. Kami harap Wileen Group akan berkembang di tanganmu, Evans Cedric Wileen. Kami percayakan semua padamu." Martin, salah seorang petinggi menepuk halus lengan Evans.
__ADS_1
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Mr. Martin," ucap Evans penuh kesantunan.
Selesai rapat, Evans kembali ke ruangannya didampingi Jemima.
"Anda ingin makan siang di mana Tuan?" tanya wanita itu.
"Di sini saja. Pesankan aku makanan cepat saji di restoran depan kantor," jawab Evans.
"Baik, Tuan." Jemima langsung mengambil ponselnya dan menghubungi restoran tersebut.
Tak lama berselang, Simon datang ke dalam ruangan dan menghampiri Evans untuk memberinya selamat.
"Itu hanya rapat biasa, Pa. Aku baru pantas diberi ucapan selamat jika acara peluncuran Anshel Phone yang kupimpin, berjalan dengan lancar," ujar Evans.
"Tidak apa-apa. Papa akan memberimu ucapan selamat dua kali, kalau begitu." Tawa renyah terdengar dari pria berusia hampir kepala enam itu.
Evans tersenyum simpul.
"Omong-omong, besok temani Papa dan Mama menemui salah seorang kolega yang sedang sakit. Bisa?" tanya Simon kemudian.
"Bisa Pa," jawab Evans.
Simon menepuk pundak sang putra dan pamit pergi.
...***...
Elena, Jenny, Bella, dan Abigail mengambil tempat duduk tepat di balkon restoran. Mereka ingin menikmati makan siang sembari memandangi pemandangan indah yang terhampar di luar hotel.
Di tengah-tengah acara makan, Mrs. Jane membunyikan gelas guna meminta perhatian para murid untuk mendengarkan perkataannya.
"Dengar anak-anak! Setelah makan siang, kita akan pergi ke lantai satu untuk berkeliling melihat museum. Kalian akan dibagi dalam lima kelompok sesuai dengan kelas masing-masing, dan didampingi oleh staf museum. Baru pada malam harinya, kita akan mengadakan pesta barberque di taman belakang hotel ... ssstt! Biarkan saya selesai bicara dulu!" Mrs. Jane memperingati para siswa yang mulai bergemuruh.
"Keesokan harinya, kita akan menghabiskan waktu di taman wisata yang letaknya satu jam dari sini, sembari jalan pulang. Jadi, jangan sampai ada barang yang tertinggal, dan jangan buat keributan. Utamakan sopan santun. Mengerti!" Mrs. Jane menatap sekeliling restoran.
__ADS_1
"Mengerti, Mrs!" jawab para murid serempak.