
Elena baru mau melepaskan ciuman mereka saat oksigen yang dia hirup mulai habis.
Dengan wajah memerah, Elena memandangi Evans penuh kerinduan.
Evans pun sebenarnya merasakan hal yang sama, bahkan mungkin jauh lebih besar dari pada rasa rindu yang Elena rasakan saat ini.
"Pergi!" seru Evans. Dia sengaja menekan suaranya agar tidak terdengar ragu.
"Jangan mengusirku atau aku akan menciummu lagi!" balas Elena dengan berani. Wajahnya benar-benar menyiratkan keteguhan. Bahkan, gadis itu pun tidak merasa malu sama sekali karena berlaku agresif lebih dulu. Dia sudah menguburnya dalam-dalam hanya untuk mengejar Evans agar kembali ke pelukannya.
Evans menatap Elena datar. Pria itu tetap berusaha menekan perasaannya. Sekuat tenaga dia menolak keinginan hatinya untuk mendekap tubuh mungil sang adik angkat, sekaligus gadis yang sangat dicintainya itu.
"Aku tahu, cerita tentang sepasang kakek nenek itu hanya lah karanganmu semata, kan? Aku juga tahu kau berusaha menghindariku karena ingatan masa lalu kita," terka gadis itu tepat sasaran.
"Lalu? Mengapa kau masih mencoba mengejarku. Ingatan ini jelas merupakan sebuah kutukan, dan aku ingin mematahkannya. Dengan begitu, reinkarnasi pasti kita akan berhenti!" Mimik wajah Evans terlihat berubah setelah mengatakan hal tersebut.
Mendengar perkataan pria itu, Elena refleks menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Mau ini sebuah kutukan atau bukan, aku akan tetap memenuhi janjiku untuk bersamamu dan bahagia!"
Evans tertawa sinis. "Lupakan janji itu! Takdir kita tak akan pernah berubah jika terus bersama. Kau sudah hampir celaka karena perbuatan Albern. Meski gagal, kita tidak tahu bagaimana ke depannya! Jangan keras kepala, hidupmu akan dipenuhi luka saat bersamaku!"
"Takdir! Luka! Jika memang itu yang akan aku jalani, aku tidak peduli. Yang mana saja asal bisa bersamamu, aku tidak peduli!" seru Elena keras kepala.
Evans menggigit dalam bibirnya. Wajahnya tampak tidak menyukai jawaban gadis itu.
Dia pun berbalik dan memutuskan tidak menghiraukan Elena lagi. Tanpa bicara apa-apa, Evans memilih membereskan botol-botol yang berserakan di ruang tamu dan membuangnya.
Elena juga turut membantu membersihkan seluruh lantai rumah. Dia juga membuka gorden rumah agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam.
Setelah membuang botol-botol minuman keras tersebut, Evans kemudian pergi menuju ruang laundry untuk mencuci pakaian. Sembari mesin cuci selesai menggiling, dia pun masuk ke dapur untuk memasak makan siang sederhana.
Sementara itu, Elena baru saja masuk ke dalam rumah setelah selesai menyapu teras.
Melihat Evans tampak sibuk berkutat di dapur, gadis itu pun menghampirinya diam-diam.
Evans tersentak saat merasakan sebuah pelukan hangat ditubuhnya.
__ADS_1
Mengetahui siapa yang memeluknya, Evans mendengkus kesal. "Lepaskan aku!" serunya kesal.
"Biarkan seperti ini dulu. Boleh?" Elena menyusupkan kepalanya lebih dalam ke punggung Evans. Wangi sabun masih menguar dari tubuh pria itu.
"Tidak!" Dengan sedikit paksaan Evans berhasil melepaskan diri dari Elena. "Kembali lah ke penginapan. Aku ingin sendiri."
"Aku tidak akan ke mana-mana!" sahut Elena keras kepala.
Evans berbalik menghadap gadis itu, dan mengangkatnya ke atas meja pantry. "Kau tahu, kehadiranmu benar-benar membuatku risih, El! Kembali lah ke rumah. Aku sudah hidup tenang di sini!"
Evans sengaja menaikan Elena ke meja pantry, agar gadis itu bisa melihat dengan jelas sorot matanya yang serius.
Gadis itu pun tertunduk sejenak, sebelum kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. "Baiklah. Aku pergi dulu."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Elena turun dari meja pantry, dan pergi meninggalkan rumah Evans begitu saja.
Evans lantas mengerutkan keningnya. "Semudah itu?" gumam pria itu heran. Dia pun menatap dua buah piring yang ada di hadapannya, lalu mengembalikan yang satunya lagi ke dalam rak.
...***...
Dengan wajah polos, Elena berdiri di depan pintu sembari menatap Evans.
Evans memutar bola matanya jengah. Dia pun hendak menutup pintu kembali agar Elena tidak dapat masuk ke dalam rumah.
Namun, Elena dengan sigap menahan pintu itu menggunakan kakinya. "Waktuku tinggal satu hari lagi di sini, dan aku ingin menghabiskan waktu denganmu," ujar gadis itu sembari merangsek masuk ke dalam rumah Evans.
Evans tak bisa melawan. Dia yang mulai hafal bagaimana tabiat Elena akhirnya mengalah.
Dia hanya mengikuti gadis itu yang sekarang naik ke lantai dua dan masuk ke dalam salah satu kamar tamu, tepat berada di sebelahnya.
"Omong-omong, kau ingin ke mana?" tanya Elena begitu menyadari penampilan Evans yang sudah rapi.
"Aku ingin ke gudang." Jawab Evans singkat. Dua hari sudah dia meninggalkan pekerjaan dan hanya mengurung diri di rumah untuk bersembunyi, dan kini, pria itu tak perlu melakukannya lagi.
"Aku boleh ikut?" tanya Elena lagi.
__ADS_1
Evans terdiam sejenak. "Aku tidak ke mana-mana, hanya di gudang saja. Pengiriman sudah dilakukan pagi tadi."
"Aku sudah pernah melihat kafe-mu, kini aku ingin melihat gudang."
Evans menghela napas pasrah. Tanpa menjawab apa-apa, dia pun pergi meninggalkan Elena.
Elena bergegas mengikuti Evans menuju ke luar rumah.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di depan sebuah gudang sederhana. Ada dua buah kendaraan mobil pick up, dan satu buah kendaraan mobil box yang terparkir di halaman gudang.
Hawa dingin langsung terasa di tubuh Elena ketika Evans membuka pintu gudang.
Elena cukup terpukau karena gudang tersebut sangat bersih. Tempat tersebut memiliki ruangan-ruangan tersendiri.
"Kak Chris!" panggil Dennis. Pria muda itu berlari menghampiri keduanya. "Kakak dari mana saja dua hari ini?" tanyanya.
"Aku hanya tidak enak badan," jawab Evans.
Jawaban Evans membuat pria itu menganggukkan kepalanya. Dia pun tak lupa menyapa Elena. Melihat kedekatan mereka, Dennis berspekulasi bahwa hubungan keduanya sudah kembali membaik.
Dia pun menawarkan Elena untuk duduk dan memberikan sebuah minuman kaleng.
"Terima kasih," ucap Elena tulus.
"Sama-sama Nona," jawab Dennis ramah.
Sembari menikmati sekaleng soda, Elena memperhatikan bagaimana Evans dengan cekatan mengatur para bawahannya. Dia pun terlihat berdiskusi dengan Dennis yang tengah memberikan laporan keuangan pada pria itu.
Elena tersenyum. Evans merupakan pria cerdas. Mau sebagai CEO atau pun pengusaha kecil seperti ini, dia mampu mengelolanya dengan baik.
Selesai berurusan dengan gudang, keduanya kemudian pergi menuju kafe hingga malam. Banyak dari para warga yang menanyakan identitas Elena, dan Evans dengan gamblang serta penuh penekanan menjawab, bahwa dia merupakan adiknya.
Elena yang tidak menyukai jawaban Evans hanya bisa menahan kekesalannya. Untuk saat ini, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Gadis itu menyadari betul sikap dingin Evans selama bersama dengannya sepanjang hari ini. Namun, Elena sama sekali tidak peduli. Dia yakin Evans hanya ingin membuatnya tidak betah berlama-lama di tempat ini.
__ADS_1