Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 33 : Mimpi Evans Kembali Hadir.


__ADS_3

Elena baru saja pulang persis setelah makan malam selesai. Gadis itu terlihat kesal setelah mendengar celetukan Evans, padahal dia hanya bermaksud bercanda.


Maklum saja, pria itu merasa tak tahan mendengar imajinasi sang adik yang menurutnya kelewat batas.


"Zaman sudah maju dan dia masih percaya hal-hal mustahil seperti itu?" Evans tertawa mengejek seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak ingin memikirkan hal konyol tersebut lebih dalam, dia pun memilih untuk mengecek pekerjaannya terlebih dahulu sebelum pergi tidur.


...**********...


Suara-suara derap pacu kuda membelah keheningan hutan malam itu. Leon bersama beberapa anak buahnya dengan cepat mengejar musuh Kerajaan Valcke, Drustan, yang kabur setelah mereka mengadakan penyerangan ke dalam Istana.


Mereka tak boleh kehilangan jejak Drustan, karena dia lah pemimpinnya. Raja Varley sudah memberi ultimatum keras untuk terus mengejar dan membvnvh Drustan apa pun yang terjadi.


Leon menghentikan kudanya tiba-tiba sembari menoleh ke sana kemari. Pria itu kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi, untuk memberi isyarat pada anak buahnya agar tidak mengeluarkan suara apa pun.


Dengan gerakan sangat perlahan dan hati-hati, tangan kiri Leon mulai memegang busur panah. Sementara tangan kanan pria itu menarik anak panah yang tersampir di belakang punggungnya.


Para prajurit lain turut melakukan hal yang sama seperti Leon.


Suasana hening mendadak. Hanya ada suara hewan-hewan malam yang terdengar samar di telinga mereka.


Leon menajamkan indera pendengarannya.


"Aarrgghh!" teriakan kesakitan terdengar beberapa saat kemudian. Leon menoleh ke belakang dan terkejut, tatkala mendapati seorang prajuritnya t3was dengan anak panah menancap tepat di batang lehernya. Anak panah kedua tak lama melesat ke arah anak buah Leon yang lain.


Dengan sigap Leon menembakan anak panah ke arah kegelapan. Meski tidak dapat melihat siapa yang telah memanah, tetapi dia bisa melihat dengan jelas dari arah mana datangnya anak panah milik sang musuh.


"Arrghh!"


"Arrghh!"


"Arrghh! Sial!"


Suara teriakan-teriakan memekakkan telinga terdengar memecah keheningan lagi. Suara tersebut berasal dari kedua belah pihak yang mulai jatuh berguguran dan tew4s.


Kini hanya tersisa dirinya dan Larry, sahabat sekaligus bawahannya.


"Bagaimana?" tanya Larry sembari tetap memasang kuda-kuda dengan busur panah beracun miliknya.

__ADS_1


"Aku akan tetap mengejarnya, kau kembalilah ke Istana!" titah Leon seraya memacu kudanya meninggalkan Larry tanpa menunggu jawaban.


Mendengar derap kaki kuda bergema kembali, Drustan memerintahkan empat orang yang tersisa untuk memacu kudanya lagi demi menghindari kejaran Leon.


"Dia hanya sendirian Tuan, kami berempat akan menghadapinya di sini," ujar salah seorang anak buahnya.


"Jangan remehkan orang itu. Dia adalah panglima perang termuda yang pernah dimiliki Kerajaan Valcke. Kemampuannya jauh di atas kalian. Sebelum kalian berhasil membvnvhnya, dia yang akan lebih dulu m3m*c4hkan kepala kalian!" seru Drustan seraya pergi meninggalkan keempat orang tersebut.


Mereka saling berpandangan sejenak. Tanpa disadari keempatnya, tiba-tiba empat anak panah melesat cepat sekaligus hingga men3mbvs kepala mereka dalam satu kali serangan.


"****!" geram Drustan yang ternyata sedang melihat ke depan sembari terus memacu kudanya. Tak bisa dipungkiri, rasa takut mulai menghinggapi benak Drustan.


Bagaimana tidak, Leon merupakan satu-satunya prajurit terbaik yang dimiliki Kerajaan Valcke. Dari kabar yang berembus, dia bahkan pernah menerobos pertahanan musuh seorang diri dan menghabisi ketuanya hanya dalam beberapa saat saja.


Meski Leon tidak memiliki latar belakang dari keluarga militer, hal itu tidak menyurutkan niat Raja Varley untuk mengangkatnya menjadi panglima perang termuda. Jadi, sudah bisa dipastikan Drustan tidak akan mungkin bisa menghadapi Leon seorang diri.


"Sial! Sial! Sial!" hardik Drustan seraya memvkvl kudanya agar lebih cepat berlari.


Saat Leon tengah fokus menatap ke depan agar tidak kehilangan jejak Drustan, tiba-tiba, sosok seorang pria dengan kudanya melesat cepat melewati Leon.


"Larry!" teriak Leon saat mengetahui bahwa itu adalah sahabatnya.


Larry tidak mendengar, dia malah semakin melajukan kudanya secepat mungkin hingga jarak mereka semakin melebar.


Tak ingin menyerah, Drustan melukai perut Larry menggunakan pisau kecil yang memang sudah dia persiapkan.


Larry yang sempat lengah dengan sigap menendang pisau tersebut hingga terlempar ke tanah. Pertarungan pun tak dapat dihindari.


Leon datang tak lama kemudian. Dia turun dari kuda dan menghampiri kedua pria yang tengah bertarung tersebut.


"Jangan mendekat! Bidik dari sana!" teriak Larry sambil berusaha menghindari serangan Drustan. Pria itu juga sempat berlari, hendak menyerang Leon, tetapi dengan cepat Larry segera mendekap tubuh Drustan dari belakang.


"Cepat Bodoh!" hardik Larry.


"Kau gil4! Minggir! Tak perlu berlaku demikian, aku pasti berhasil membvnvhnya!" balas Leon.


"Ini bukan soal bisa atau tidak! Ini soal kesempatan, Bodoh! Cepat lakukan!" teriak Larry penuh kemarahan.


Drustan memberontak keras. Namun, Larry semakin mengencangkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku percaya padamu, Leon," suara Larry terdengar lebih rendah sekarang. Pria itu juga tersenyum lembut padanya.


Leon mulai mengangkat panahnya dan membidik kepala Drustan. Dia sengaja membidik pinggir kepala Drustan agar tidak mengenai kepala Larry.


Tepat ketika anak panah Leon melesat, Drustan tiba-tiba menggeser tubuh mereka.


Panah tersebut pun menembus kep*l4 Drustan hingga p3c4h, dan menancap tepat di kening Larry.


Leon berteriak. Pria itu turun dari kudanya dan berlari menuju Larry yang sudah roboh di tanah bersama Drustan.


Leon menendang Drustan dari atas tubuh Larry dan memangku sahabatnya.


Leon menyuruh pria itu untuk tidak banyak bicara dan akan segera membawanya pulang. Namun, Larry menolak.


"Pulanglah tanpaku, berikan kabar bahagia ini pada Raja Varley," pesan Larry terbata-bata.


Leon menggeleng. "Diamlah! Aku akan membawamu pulang! Aku akan membawamu pulang!"


Larry memejamkan matanya seraya mencengkeram seragam Leon. "Aku merelakan kematianku untuk melindungi Kerajaan Valcke. Jadi, kuharap kau tidak menyalahkan dirimu sendiri, kawan!"


Leon mulai menangis. Kenangan-kenangan akan kebersamaan mereka seketika terngiang diingatan pria itu.


"Teruskan perjuangan dan pengabdianku, kawan," pesan Larry kemudian.


Begitu mengatakan hal tersebut, Larry diam tak bergerak lagi. Tangannya kemudian terkulai jatuh ke tanah.


Leon berteriak histeris.


...**********...


"HAH!" pekik Evans yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


Pria itu menegakkan tubuhnya dan menoleh ke sana kemari, seolah sedang mencari sesuatu. Mata Evans kemudian teralih pada laptopnya yang ternyata masih berada dalam pangkuan.


"Mimpi?"


Evans sontak mengusap pipinya yang basah.


"Air mata? Dari mana?" tanya Evans kebingungan seraya memperhatikan tangannya.

__ADS_1


Dia mencoba mengingat-ingat mimpi yang baru saja dialaminya, terutama pada pria yang berada di dalam mimpi tersebut. Evans yakin bahwa pria itu adalah pria yang pernah dia impikan sebelumnya.


"Mimpi apa ini?" gumam Evans tak mengerti.


__ADS_2