
Sudah berbulan-bulan Kerajaan Lagarde bersabar menunggu kedatangan Airlea sejak kepergiannya meninggalkan istana kerajaan Oswald. Namun, tak satu pun kabar baik yang didapat mereka. Entah bagaimana ceritanya, Airlea yang kini berganti nama begitu gesit hingga tak pernah tertangkap. Tentu saja dengan bantuan seorang pria tak dikenal, yang mereka juluki sebagai 'sang tunawisma pemegang belati'.
Berbagai cara sudah ditempuh kedua kerajaan demi membawa pulang sang putri, baik menggunakan cara halus atau pun kasar, tetapi Airlea sama sekali tidak berkenan untuk kembali.
Hal itu tentu saja membuat kesabaran Prince Deshington habis.
Tanpa memerdulikan jalinan persahabatan kedua orang tuanya dengan kedua orang tua Airlea, pria itu menabuh genderang perang dan menyerbu Istana Kerajaan Oswald tepat pada dini hari. Bersamaan dengan itu, dia juga menyuruh beberapa prajuritnya untuk mendatangi Airlea sekali lagi dan membawa gadis itu ke hadapannya, baik hidup atau pun mati.
Raja Galadriel tentu saja terkejut dengan tindakan anak dari sahabat baiknya itu. Mereka yang selama ini hidup dalam kedamaian selama berpuluh-puluh tahun, tentu menurunkan tingkat kewaspadaannya. Pihaknya sama sekali tidak dalam kondisi siap perang.
Dengan beringas Deshington dan Mavolery, bersama seluruh prajuritnya menghabisi para penjaga dan prajurit kerajaan Oswald. Pria itu bahkan berhasil merangsek masuk dan menyandera Raja Galadriel, Ratu Levania, dan Princess Leanor.
"Terkutuklah perbuatanmu ini, Mavolery, Deshington!" seru Galadriel yang kini tengah meringkuk kesakitan dengan kondisi tangan dan kaki terikat di belakang.
"Putrimu lah yang terkutuk, Galadriel! Dia lah yang telah membawa petaka kepada keluarga dan seluruh kerajaanmu!" ucap Deshington sinis. Dia melipat kedua tangannya sembari sesekali menendang kaki Galadriel, hingga pria paruh baya itu meringis kesakitan.
"Tidak! Aku akhirnya mengerti mengapa Airlea menolak keras perjodohan ini, bahkan sampai rela meninggalkan seluruh hidupnya di sini!" Galadriel mengangkat kepalanya dan membalas tatapan sinis sepasang ayah dan anak itu.
Mendengar hal itu, Deshington naik pitam. Dia menyeret Galadriel dan keluarganya ke balkon lalu memperlihatkan kepada mereka pemandangan mengerikan yang ada di luar sana.
Galadriel membelalakkan matanya. Kobaran api muncul di beberapa kediaman rakyatnya yang dekat dengan istana. Banyak sekali tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan di halaman istana, dari mulai prajurit hingga beberapa rakyat biasa.
"Kesetiaan rakyatmu membuat mereka dengan bodoh berusaha membantu menghentikanku, padahal sekelas prajurit saja tak mampu mengalahkan kehebatan prajurit kerajaanku!" tawa bengis keluar dari mulut Mavolery.
"Terkutuk kalian semua!" pekik Galadriel seraya berusaha melepaskan ikatan pada tangannya. Namun, tetap tidak berhasil.
__ADS_1
Deshington tertawa.
Leanor menangis sesenggukan, sementara Levania tampak pasrah. Wanita itu seolah tahu bahwa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Nyawa mereka kini berada di ujung tanduk. Dalam hati dia berdoa pada sang dewi keberuntungan untuk terus melindungi putri bungsunya, Airlea, di mana pun dia berada.
"Jangan menangis, Sayang," ucap Levania seraya menempelkan keningnya pada kening sang putri sulung. "Ketahuilah, Ibu sangat mencintaimu," sambung wanita itu. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Leanor mengangguk, dengan suara terisak dia berkata, "Aku juga mencintai Ibu dan Ayah, dan aku tak akan pernah membenci Airlea atas apa yang terjadi hari ini."
Levania tersenyum lembut dan mengecup dahi Leanor penuh kasih sayang. Setelah itu, dia beralih pada sang suami yang kini hanya bisa tertunduk tak berdaya. Menggunakan lututnya, Levania beringsut menghampiri sang suami. Deshington membiarkan hal tersebut sebagai salam perpisahan keluarga.
"Jangan membenci putri bungsumu," ucap wanita itu pada sang suami.
"Tak pernah sekali pun. Justru dari awal seharusnya aku mengalah. Kekerasan hatiku lah yang menyebabkan Airlea pergi dari hidup kita." Sesal terlihat jelas di mata Galadriel. Memberikan salah satu putri kesayangannya pada pria arogan dan kejam seperti Deshington merupakan kesalahan terbesarnya sebagai seorang ayah.
Galadriel memejamkan matanya, meresapi sepenggal kalimat yang selalu dia sukai dari sang istri. "Aku juga mencintaimu, Levania."
Detik selanjutnya tebasan pedang membawa pergi nyawa Levania, tepat di hadapan Galadriel dan Leanor.
Teriakan melengking Leanor menggema. Namun, detik berikutnya Leanor tak lagi bersuara, sebab Deshington melakukan hal yang sama pada gadis itu.
Galadriel membelalakkan matanya. Trauma menghantam telak batin pria paruh baya itu, kala menyaksikan nyawa kedua orang tercintanya harus terenggut tepat di depan mata.
Beberapa rakyat yang mulai berkerumun di halaman istana dan melihat kejadian tersebut, sontak berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya.
Mavolery menjambak kepala sahabatnya dan memaksa pria itu berdiri.
__ADS_1
Di hadapan rakyatnya, Galadriel tersenyum ramah. "Berbahagialah kalian semua, wahai rakyatku. Maafkan aku atas kejadian ini, dan tolong, jangan pernah membenci putri bungsuku."
Detik setelah Galadriel berkata demikian, Mavolery dengan tega menebas leher sahabatnya di depan rakyat Kerajaan Oswald.
"Inilah hukuman bagi para manusia-manusia ingkar!" teriak Mavolery sembari melempar tubuh Galadriel yang sudah tidak bernyawa ke bawah.
Rakyat langsung mengerubungi dan memeluk tubuh Galadriel sembari menangisinya. Dalam waktu kurang dari dua jam mereka harus kehilangan sang raja baik hati dan seluruh keluarganya.
Hujan yang tiba-tiba turun seolah memberi isyarat, bahwa langit juga turut merasakan kesedihan atas kehilangan mereka.
Satu fakta yang sama sekali tidak diketahui Airlea mau pun Galadriel dan keluarganya adalah, kematian tragis yang juga menghampiri Airlea dua hari kemudian.
...*****...
Setelah pembantaian keji itu, Deshington menduduki Kerajaan Oswald dan mengganti namanya menjadi Kerajaan Lagarde II. Semua barang-barang peninggalan keluarga Oswald dibuang tanpa sisa.
Rakyat yang masih mencintai mereka memutuskan mengambil barang-barang tersebut dan menyimpannya di sebuah kandang peternakan kuda milik salah seorang saudagar kaya yang sudah tidak terpakai lagi.
Sementara itu, Deshington yang berkuasa menjalankan pemerintahan secara semena-mena. Dia menaikkan pajak penghasilan setinggi-tingginya pada rakyat. Rakyat juga diwajibkan menyetor hasil panen mereka sebesar 30 persen. Jika mereka enggan membayar, kios, peternakan, kebun, dan rumah mereka akan disita atau dibakar sampai habis. Siksaan fisik bahkan tidak terelakkan.
Dia juga melarang rakyatnya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Jika ada yang kedapatan kabur, maka mereka akan dijadikan budak istana seumur hidup tanpa bayaran.
Selama hampir 20 tahun rakyat harus hidup dalam rasa takut dan ketidakadilan, sebelum akhirnya Kerajaan Valcke mengambil alih istana dan menggulingkan Deshington.
Meski tidak sebaik hati Raja Galadriel, tetapi rakyat tetap dapat hidup normal dan bahagia kembali, di bawah kepemimpinan Raja Varley yang kini berusia lanjut. Beliau bahkan mengabulkan permintaan rakyat dengan mendirikan sebuah bangunan untuk menyimpan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Oswald sebagai penghormatan, sebelum akhirnya dipindahkan ke tempat yang baru pada tahun 1890-an.
__ADS_1