
Ciuman tersebut terasa lebih dalam dan penuh arti saat Evans mencoba memagutnya selama beberapa detik, sebelum kemudian kesadaran perbuatannya.
Pria itu sontak memundurkan diri sembari memasang wajah terkejut. Bibirnya terasa kebas dan dingin, belum lagi jantungnya mulai berdetak tak karuan.
"Dia adikmu, Tolol!" maki Evans dalam hati. Meski mereka bukan kakak beradik kandung, tetap saja perbuatan yang baru dia lakukan merupakan salah satu kesalahan besar. Apa lagi, Elena sama sekali tidak mengetahui akan fakta tersebut.
"Adik ya?" gumam Evans dalam hati, sembari tertawa lirih. Dipandanginya wajah cantik Elena sekali lagi dengan penuh cinta.
Semakin hari dekat dan mengenal Elena, membuat rasa sayang yang dimiliki Evans semakin besar. Namun, perasaan itu bukanlah rasa sayang sebagaimana seorang kakak pada adiknya, melainkan seorang pria pada wanita.
Namun sayangnya, sebuah dinding pemisah tak kasat mata membuat Evans benar-benar harus menahan diri untuk tidak bersama dengan Elena.
Menyadari hal tersebut, selama berhari-hari ke belakang kemarin, dia memikirkan segala kemungkinan perihal mengapa ingatan masa lalunya kembali hadir ... dan kini, Evans semakin yakin bahwa ingatan ini merupakan sebuah kutukan yang Tuhan berikan.
Mungkin saja, kutukan ini akan berhenti jika mereka berdua tidak akan bersatu.
Evans mengambil napas dalam-dalam sebelum kemudian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar Elena.
Sesaat setelah pintu terdengar menutup, Evans sama sekali tidak menyadari bahwa Elena belum sepenuhnya tertidur.
Gadis itu kontan menangis tersedu-sedu dengan suara teredam.
Entah mengapa, dia sangat yakin sekali, bahwa orang yang baru saja menciumnya bukanlah sosok Evans, melainkan Leon.
"Apa dia mengingatku? Apa dia mendapatkan ingatan yang sama?" Sederet pertanyaan berseliweran di kepala Elena.
...***...
Pagi harinya, seolah tak terjadi apa pun, Elena bangun dan keluar dari kamar dengN wajah ceria seperti biasa.
__ADS_1
"Pag ... i." Keningnya berkerut seketika, tatkala mendapati keadaan apartemen dalam keadaan kosong, padahal waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.
Tidak mungkin Evans berangkat ke kantor di hari libur ini.
"Sepertinya dia sedang lari pagi," terka Elena. Gadis itu pun bergegas pergi ke kamar mandi dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Namun, sampai hidangan sarapan pagi mendingin, pria itu belum juga kembali ke apartemen.
Elena mencoba menghubungi Evans, tetapi ponselnya ternyata berada di dalam kamar.
Gadis itu memasuki kamar Evans yang masih dalam keadaan rapi. Semua pakaian, ponsel, dan dompet masih berada di sana.
"Ke mana dia?" tanya Elena.
Kekhawatiran gadis itu semakin menjadi setelah dia mencoba menghubungi Jemima dan ibunya, karena ternyata sang kakak pun tidak berada di sana.
Jantung Elena berdetak kencang. Dia pun bergegas keluar dari apartemen Evans dan mengendarai mobilnya.
Elena tidak mencoba menghubungi orang lain, sebab selama tinggal di tanah air, Evans belum pernah bergaul dan memiliki seorang teman, selain kolega kantor. Fokusnya selalu hanya pada pekerjaan saja.
"Apa karena kejadian semalam, dia merasa bersalah padaku?" gumam Elena dengan mata basah.
Menjelang petang, gadis itu baru sampai di rumah sakit tempat sang ayah berada.
Gadis itu dengan gamblang mengatakan pada sang ibu, kalau kakaknya menghilang entah ke mana tanpa membawa sehelai pakaian pun dan barang apa pun. Ponsel dan dompetnya bahkan ditinggalkan begitu saja di sana.
"Ma, sepertinya kita harus meminta bantuan pihak kepolisian untuk mencari keberadaan Kakak!" usul Elena.
Samantha terdiam sejenak. "Tidak perlu Sayang, kakakmu pasti sedang ada urusan. Kita tunggu saja ya?"
__ADS_1
Elena mengerutkan keningnya heran. Sang ibu sama sekali tidak terlihat khawatir. Beliau bahkan menyuruh Elena menunggu.
Menunggu apa?
"Apa yang harus ditunggu, Ma? Mama tahu sesuatu? Kakak memang ke mana? Kenapa tidak memberitahu aku?" sederet pertanyaan terlontar dari mulut mungil Elena.
Samantha mengangkat telunjuknya ke bibir seraya melirik sang ayah yang baru saja tertidur.
"Ma, tolong katakan?" Elena memandang sang ibu dengan wajah memelas.
"Mama juga tidak tahu, Sayang, tetapi kakakmu memang pernah memberitahu Mama, bahwa dia ingin menenangkan diri di suatu tempat terlebih dahulu selama beberapa waktu, dan dia menyerahkan seluruh pekerjaannya padamu dan Jemima." Samantha menjelaskan pada sang putri sejujurnya.
"Tapi kenapa sampai meninggalkan semua pakaian dan barang-barang pentingnya? Memang dia bisa hidup tanpa itu, dan bagaimana kita bisa menghubunginya?" seru Elena marah. Gadis itu tak peduli kalau sang ayah akan terbangun karena suaranya.
Samantha hanya bisa menanggapi pertanyaan Elena dengan gelengan pelan. Dia pun meminta sang anak untuk tidak terlalu memikirkan sang kakak dan fokus pada pekerjaan dan kesehatan Simon dulu.
"Mama yakin kakakmu akan kembali secepatnya." Samantha mengelus lembut rbut Elena dan memeluknya erat.
...***...
Elena kembali ke rumahnya dalam keadaan tidak bersemangat. Lily yang menyapanya bahkan sama sekali tidak dihiraukan gadis itu. Dia malah memilih langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Sesampainya di kamar Elena menumpahkan segalanya di sana. Rasa marah, bingung, takut, rindu, heran, bercampur menjadi satu dalam benaknya.
Sekuat apa pun gadis itu mencoba mengambil kesimpulan atas kepergian Evans, dia sama sekali tidak menemukan jawabannya.
Elena mengambil ponselnya dan membuka galery foto di ponsel tersebut. Di sana terdapat sebuah foto bergambar Evans, yang dia ambil secara diam-diam di salah satu restoran cepat saji.
Foto itu lah satu-satunya yang dia miliki. Elena baru ingat, bahwa mereka tak pernah memiliki foto bersama selain foto keluarga. Itu pun saat dia masih baru berusia 1 tahunan.
__ADS_1
Elena mengelus foto Evans yang sedang asyik menikmati makan siangnya waktu itu. Meski dari samping, wajah pria itu masih cukup dapat terlihat.
"Ke mana kau, Bodoh? Apa kau benar-benar mengingat semuanya dan muak terhadap talkdir kita? Makanya kau memutuskan untuk pergi?" gumam Elena dengan raut wajah marah.