
Kabar tentang kembalinya Elena membawa kegembiraan tersendiri tak hanya bagi keluarga Wileen, melainkan juga seluruh karyawan Wileen Group beserta jajarannya.
Seluruh pemeriksaan telah dilakukan pihak dokter kepada Elena. Hasilnya, tak ada masalah berarti yang terjadi di tubuh gadis itu. Kakinya yang mengalami patah tulang bahkan telah pulih hampir enam puluh persen. Hal tersebut tentu saja berada di luar nalar medis.
Satu-satunya kesimpulan yang bisa Dokter James ambil adalah, bahwa tubuh Elena memiliki sel regenerasi yang lebih cepat dari manusia biasa.
Gadis itu kini tengah sibuk menjalani terapi fisik di rumah sakit guna mengembalikan fungsi anggota tubuhnya seperti dulu.
Samantha dengan setia menemani sang anak bungsu di rumah sakit. Kondisi wanita itu sepenuhnya pulih dalam beberapa hari, seiring dengan kondisi kesehatan Elena yang semakin hari semakin membaik.
Sementara untuk ingatannya sendiri, beberapa waktu lalu Iris ternyata pernah datang kembali ke dalam mimpinya, dan memberitahu semua pada Elena.
Dari mulai kehidupannya sebagai seorang Princess Airlea, hingga menjadi sosok baru yang dia ketahui, yaitu Iris. Begitu juga dengan kehidupan cintanya yang harus berakhir tragis.
Hal itu juga yang membuat Elena mengetahui, bahwa mereka merupakan satu orang yang sama. Ya, Elena adalah sosok reinkarnasi ketiga dari Iris.
Iris juga memberitahu gadis itu bahwa sebagian jiwanya yang bukan lagi berisi seorang Elena yang sekarang saja. Itu lah mengapa dia bisa lolos dari jeratan maut.
Namun, satu hal lain yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan Elena adalah, kenyataan bahwa Evans merupakan sosok reinkarnasi dari suami Iris, Leon.
Mengingat nama Evans, jantung Elena sontak berdegup kencang. Tak hanya ingatan mereka saja yang kini saling berbagi dan menyatu, perasaan mereka juga demikian.
Elena meringis sedih. Seakan Tuhan tak rela membiarkan dirinya dan sang suami di masa lalu bersatu, mereka kini malah ditakdirkan lahir dari rahim yang sama.
"Leon!" desis Elena sembari berurai air mata. Di satu sisi gadis itu ingin menepati janji yang pernah dia ikrarkan di ujung kematian mereka dulu. Namun, di sisi lain ikatan darah yang menjadi takdir kehidupan mereka kini, memaksa Elena untuk melupakan semua janjinya yang terucap.
...***...
Samantha yang harus mendampingi sang suami untuk pergi memenuhi undangan salah seorang kolega penting Wileen Group, mau tak mau harus melepaskan Elena dan menitipkannya pada sang putra sulung.
Bila dulu Samantha selalu merasa was-was meninggalkan mereka berdua, tetapi kini dia tak lagi merasa demikian. Sikap Evans sudah jauh berubah. Dia tak lagi terlihat memusuhi sang adik dan tengah berusaha menjadi kakak yang baik.
Pria itu bahkan sama sekali tidak keberatan, ketika dirinya meminta tolong untuk menjaga Elena selama beberapa hari.
Elena sedang sibuk menjalani fisioterapi saat Evans masuk ke dalam ruangannya. Gadis itu sudah tak lagi merasa kesakitan ketika mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dia bahkan sudah bisa menegakkan tubuhnya selama dua hingga tiga menit.
Untuk kaki sendiri, Elena masih harus menunggu beberapa minggu lagi, sebab operasi patah kakinya membuat fisioterapi tak bisa dilakukan maksimal. Namun, hal itu mungkin saja bisa terjadi lebih cepat, mengingat sistem regenerasi Elena cukup mencengangkan.
__ADS_1
Elena merintih saat sang terapis mengangkat kedua kakinya secara bergantian dengan sangat perlahan.
"Pelan-pelan saja ya? Kita lakukan sekali lagi. Bisa?" tanya Mrs. Julia, sang terapis.
Elena hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Mrs. Julia.
Evans tersenyum simpul. Matanya menatap lembut sosok Elena yang tampak tidak menyerah, meski digempur berbagai rasa sakit.
Setelah kira-kira setengah jam, akhirnya sesi terapi Elena selesai.
Elena yang merasa canggung akan kehadiran Evans mendadak berubah menjadi sosok pendiam. Evans memang bukan kali ini saja menemaninya di rumah sakit, tetapi biasanya mereka tidak hanya berdua di sana.
Entah mengapa, mengetahui bahwa Evans adalah sosok Leon membuat hati Elena selalu merasa tidak tenang.
"Ayo lah, jadi Elena dulu sehari ini saja!" Batin Elena.
"Ada apa, El?" tanya Evans. Alisnya terangkat saat melihat Elena seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa. Kakak kalau mau pulang, pulang saja. Aku masih bisa melakukan apa pun seorang sendiri," kata gadis itu.
Evans terdiam. Dia menyadari sikap dingin Elena. Meski sang adik sudah mengatakan telah memaafkan dirinya, tetap saja Evans merasa tidak demikian.
Evans mendekat dan duduk di tepi ranjang gadis itu. Dengan perlahan dia menyuapi sang adik sesuap demi sesuap.
Melihat sosok Evans dari jarak sedekat ini, membuat jantung Elena kembali berdegup kencang.
"Ada apa?" tanya Evans ketika menyadari tatapan mata Elena yang begitu intens padanya.
Elena menggeleng. Tangan Evans kemudian terulur menuju sudut bibir Elena untuk mengambil sisa makanan yang ada di sana.
Elena termangu sesaat. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan wajah memerah. Dalam hati dia berusaha menolak perasaan Iris. Biar bagaimana pun, Evans kini adalah kakaknya sendiri.
...***...
Meski ingatan masa lalunya telah kembali, Elena tetap tak bisa begitu saja mengabaikan kehidupannya di masa kini. Terlebih pada hubungannya dengan sang kekasih hati yang sudah terjalin lumayan lama, Albern.
Namun, perasaan cinta yang dulu dipersembahkan untuk Albern semakin lama semakin terkikis. Pengaruh Iris benar-benar mampu mengubah hatinya untuk tak lagi menjadikan sosok Albern sebagai seseorang yang spesial lagi.
__ADS_1
Perubahan ini sebenarnya dirasakan oleh Albern sendiri. Sebab, setiap dia menemui gadis itu di rumah sakit, Elena tidak terlalu terlihat antusias seperti dulu.
Bagi Albern, Elena menjadi sosok yang berbeda setelah bangun dari tidur panjangnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh sahabat baiknya, Jenny.
Elena sendiri memilih untuk tidak menceritakan hal yang dia alami dulu kepada Jenny. Hal itu dilakukan olehnya, sebab cerita ini pasti tidak akan bisa diterima begitu saja oleh orang awam.
Namun, bukan berarti dia akan terus menyembunyikan hal ini dari sahabat baiknya itu. Gadis itu hanya butuh sedikit waktu.
Untuk sekarang, dia akan fokus pada penyembuhan dirinya dulu.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia dan sudi mengikuti novel ini. Mohon dukungannya untuk cerita ini, agar saya bisa semakin semangat menulis.
Mungkin banyak juga dari pembaca yang menjadi silent rider di cerita ini (Nggak apa-apalah aku percaya diri sedikit ..
xixixi 🤭🤭)
Jika ada kesalahan-kesalahan dalam penulisan mau pun tanda baca, harap dimaklumi. Sebisa mungkin saya akan revisi saat cerita ini sudah tamat nanti.
Sekali lagi terima kasih semua.
Salam Cinta,
__ADS_1
Kim O ❤️