
Tiga orang wanita muda masuk ke dalam kamar yang ditempati Elena, begitu dia membuka matanya.
Ketiga orang berpakaian maid tersebut membuka rantai yang mengikat kaki Elena, lalu menyuruhnya untuk turun dari ranjang.
"Ada apa ini? Kalian siapa? Aku di mana?" tanya Elena dengan wajah kebingungan.
"Tenang Nona, kami diminta membantu Anda mandi dan berganti pakaian. Jika Anda menolak, kami terpaksa akan menyeret Anda," jawab salah seorang maid dingin.
Mendengar ancaman tersebut, Elena pun mau tidak mau menuruti mereka.
Selesai mandi dan berganti pakaian, gadis itu diberikan sarapan pagi dan segelas susu hangat. Namun, dia sama sekali tidak bisa makan dengan nyaman karena ketiga maid tersebut belum mau meninggalkannya sendirian di sana.
Berkali-kali Elena menyuruh ketiga wanita muda itu keluar, tetapi mereka akan dengan tegas menolak.
"Kami akan pergi setelah Anda selesai menghabiskan sarapan." Itu lah jawaban yang mereka berikan pada gadis itu.
"Kalau begitu, kapan Tuan Albern kembali ke sini?" tanya Elena tiba-tiba.
Pertanyaan yang baru saja diajukan Elena sontak membuat ketiganya terkejut. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Tidak perlu terkejut begitu, aku sudah tahu siapa bos kalian," ujar Elena santai.
" ... Tuan Albern sedang pergi sebentar, Nona. Mungkin beliau akan kembali sebentar lagi."
Elena mengangguk lalu kembali melanjutkan acara sarapannya. Untuk saat ini, dia lebih memilih tetap diam dan tenang, sampai bisa bertemu dengan pria itu.
Setelah selesai makan, kaki Elena kembali diikat dengan rantai oleh salah seorang maid, sebelum mereka pergi meninggalkan dirinya sendirian di sana.
Elena tidak bisa lagi memberontak, karena mereka mengancam akan melukai dirinya jika dia membuat berulah sedikit saja.
Tepat ketika ketiganya keluar dan menutup pintu, rupanya Albern sudah berdiri di tempat itu. Mereka lantas membungkuk hormat padanya.
"Bagaimana?" tanya Albern.
"Nona sudah kami mandikan dan kami ganti pakaiannya, Tuan. Dia juga sudah menghabiskan sarapannya. Hanya saja ...," Maid tersebut ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Hanya saja apa?" Albern mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Sepertinya Nona itu tahu bahwa Anda lah yang telah membawanya kemari, sebab dia menanyakan keberadaan Anda, Tuan." Maid lain melanjutkan perkataan temannya.
__ADS_1
Albern tersenyum sinis. "Dasar rubah licik! Ternyata kau sudah sadar semalam."
Pria itu pun menyuruh ketiganya pergi, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar Elena.
Melihat kedatangan Albern, Elena bergegas mendudukkan diri. Dia tak ingin kejadian semalam terulang lagi.
Matanya memandang sinis Albern yang kini tengah tersenyum menyebalkan.
"Ke mana tatapan penuh cinta yang selalu kau tujukan padaku itu, El?" tanya Albern dengan wajah menjijikan. Entah mengapa, raut wajah Albern tiba-tiba terasa sangat familiar di benak Elena.
"Kenapa kau melakukan ini semua, Al? Mengapa kau menculikku? Kalau kau ingin mengajakku bicara, tidak perlu sampai seperti ini. Keluargaku saat ini pasti tengah dilanda kekhawatiran." Elena memandang Albern penuh keberanian.
Albern duduk tepat di hadapan gadis itu. Dia membelai wajah cantik kekasihnya tersebut.
Elena hendak menepis tangan Albern, tetapi Albern dengan sigap menangkap pergelangan tangannya.
"Sekarang kau sudah berani menolakku, El."
"Aku tidak suka candaanmu ini. Sekarang pulangkan aku ke rumah!" pinta Elena tegas.
Mendengar hal itu, Albern kontan tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang bercanda El! Kau lah yang menganggap hubungan kita hanya sebuah candaan belaka. Andai kau tidak mempermainkanku, aku tak akan mungkin melakukan ini semua!" seru pria itu dingin. Sorot matanya berubah ketika mengatakan demikian.
"Pulangkan aku, maka aku berjanji akan memperbaiki semuanya denganmu." Elena berusaha menawarkan sebuah pilihan.
Elena terbelalak saat mendapati seutas tali rantai yang sama, keluar diambil oleh Albern.
Tanpa pikir panjang, Albern langsung merebahkan tubuh Elena dan mengangkat kedua tangannya, sebelum kemudian mengikat tangan gadis itu ke tiang tempat tidur.
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan, hah!" Elena bergerak-gerak liar guna mencari celah, agar Albern tidak berhasil mengikat tangannya. Namun, pria itu dengan kurang ajar malah menduduki pinggangnya dan menggigit leher Elena keras.
"Diam!" sentak Albern dingin.
Ketakutan melanda diri Elena. Lelehan air mata keluar dari pelupuk gadis berusia 20 tahunan itu, sesaat setelah Albern berhasil mengikat kedua tangannya.
Jantung Elena berdegup kencang, saat Albern perlahan mulai mendekati dan membuka kancing pakaian Elena satu persatu.
"Hentikan!" teriak Elena.
"Berteriaklah sepuasmu, El. Ruangan ini kedap suara," ucap Albern.
__ADS_1
Pria itu kemudian mencengkeram pipi Elena dan meraup bibir tipisnya dengan gerakan kasar.
Elena berusaha menolak dengan merapatkan bibirnya kuat-kuat. Namun, tangan pria itu dengan kurang ajar malah menyentuh d4d4nya. Dia membelai dan m*r3m4s d4d4 Elena kasar.
Elena kontan saja terkejut. Selama mereka berpacaran, Albern tidak pernah memperlakukannya hina seperti ini. Dia masih mengingat betul komitmen Albern untuk tidak menyentuhnya sebelum janji suci pernikahan mereka terucap.
Dengan beringas Albern mulai mengacak isi mulut Elena menggunakan lidahnya. Tak puas sampai di sana, dia juga membuka kancing baju Elena hingga pakaian dalamnya terlihat.
Elena sontak berteriak lebih keras. Dengan nekat dia menggigit bibir Albern hingga berdarah.
Albern yang terkejut segera melepaskan diri dari Elena.
"Sialan!" umpat pria itu seraya menghapus darah yang mengalir dari bibirnya.
"Berani sekali kau, El? Bukankah ini yang sejak dulu kau inginkan, hah!" Albern mencengkeram kembali pipi Elena.
"Kau dulu pernah bertanya padaku, kan, mengapa kita tak pernah melakukan hal lebih? Itu karena keyakinanku akan dirimu, El. Namun, sekarang keyakinan itu sudah hilang. Aku tak akan lagi menahan diri."
Setelah berkata panjang lebar, Albern semakin memberanikan diri berbuat lebih.
Dia menciumi leher Elena dan menggigitnya kasar. Pakaian gadis itu bahkan sudah terkoyak, dan hanya menyisakan ********** saja.
Elena semakin memberontak. Entah mengapa, ingatan masa lalunya sebagai Iris pun tiba-tiba bergulir.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya saat melihat wajah Albern berubah menjadi sosok pria paruh baya, Benjamin.
Albern yang merasa aman karena ruangan tersebut kedap suara, semakin beringas menyentuh tiap inchi tubuh gadis itu.
Namun, begitu Albern hendak melucuti pakaian dalam Elena, dirinya tiba-tiba kaku, tidak dapat bergerak.
"Seharusnya kau bersyukur, Tuhan menghidupkan dirimu kembali dalam takdir yang baik. Sementara aku, masih harus merangkak dan berusaha merubah takdirku sendiri."
Suara Elena terdengar sedikit berubah. Wajahnya pun terlihat sangat dingin dan menakutkan.
Albern terkejut saat Elena dengan mudah melepaskan diri dari rantai yang membelenggu tangannya. Dengan cepat, dia mencekik leher pria itu sekuat tenaga.
Albern meronta-ronta. Wajah pria itu terlihat sangat ketakutan, tatkala menyadari bola mata Elena berubah putih.
"Ini lah yang aku rasakan dulu. Kini, kau harus merasakannya juga," ujar gadis itu dengan suara menggema.
__ADS_1
Albern berusaha mencengkeram tangan Elena. Namun, kesadarannya yang semakin menipis membuat cengkeraman tangan pria itu melemah.
"El, to—long!"