Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 52 : Dinas Luar Kota.


__ADS_3

Elena dan Jemima baru saja tiba di Ocean Blue City untuk peresmian pabrik otomotif milik Wileen Group yang baru. Bersama beberapa jajaran petinggi kantor lainnya, mereka langsung pergi menuju hotel bintang lima yang sudah dipesankan sejak dua hari lalu.


Elena sengaja meminta ditempatkan dalam satu kamar bersama Jemima agar tidak merasa sendirian.


Setelah beristirahat sejenak dan makan siang bersama di restoran hotel, mereka pun pergi menuju pabrik tersebut untuk melihat-lihat terlebih dahulu.


Tiga buah mobil telah disiapkan pihak hotel untuk mereka semua.


Elena, Jemima, dan Jefry, CFO Wileen Group, sekaligus sepupu termuda sang ayah, berada di dalam mobil yang sama.


"Hawanya sejuk sekali di sini," ujar Jefry seraya memperhatikan jalanan kota yang masih tampak rindang dan nyaman.


Semula, dia pikir perizinan akan pembangunan pabrik ini akan memakan waktu lama karena masyarakat biasanya dengan tegas menolak, sebab takut wilayah mereka tercemar, apa lagi kawasan ini memiliki laut yang indah, –meski pabrik milik mereka dijamin aman dari limbah berbahaya–.


Syukurlah kurang dari setahun perizinan selesai diurus dan pembangunan pun dapat dilakukan.


"Mungkin karena kota ini letaknya juga tidak jauh dari laut." Elena menimpali. "Paman memang belum pernah ke sini sebelumnya?" tanya gadis itu kemudian.


Jefry menggeleng. "Kau sendiri, memangnya belum pernah? Atau Jemima mungkin sering ke sini?" Pria berusia 37 tahun itu menatap spion tengah.


Elena menggeleng, sejurus dengan apa yang dilakukan Jemima.


Melihat reaksi keponakan dan sekretarisnya, dia pun menggumamkan sesuatu. "Apa aku bikin villa di sini saja ya?"


"Dengan senang hati aku akan selalu berkunjung kemari dan mengganggu liburanmu," kelakar Elena yang langsung disambut tawa manis Jefry.


BRAAAK!


Mobil yang dikendarai Jemima, tanpa disengaja baru saja menabrak sebuah mobil box yang berhenti secara mendadak di depan mereka. Jemima yang tidak siap, terlambat menginjak pedal remnya.


"Anda tidak apa-apa, Tuan, Nona?" tanya Jemima khawatir. Wanita itu menoleh ke belakang guna memastikan kedua atasannya dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


"Kami tidak apa-apa. Coba lihat, ada apa di depan sana?" titah Jefry pada wanita itu.


"Baik, Tuan." Tanpa pikir panjang, Jemima langsung turun dari mobil dan menggedor body mobil box yang ada di depannya.


"Maaf, Kak, aku tidak sengaja." Seorang pria muda yang berada di kursi kemudi tampak ketakutan setelah salah menginjak pedal. Padahal ini sudah sebulan setelah dia berhasil menyelesaikan sekolah kemudinya dan mendapatkan SIM. Namun, sikap groginya membuat pria muda tersebut sering mendapatkan masalah di jalan.


Pria berjanggut dan berkumis tipis itu mengangguk. "Tidak apa. Sepertinya kita baru saja membuat mobil seseorang rusak. Aku akan turun untuk menemuinya," ujar pria itu.


"Tidak perlu, Kak, biar aku saja yang turun. Aku akan bertanggung jawab dengan menemuinya, Kakak bisa memotong upahku untuk mengganti perbaikan mobil orang itu."


Tanpa menunggu respon dari bosnya, pria muda itu langsung turun untuk menemui Jemima.


Jemima menatap pria muda itu dari atas ke bawah, sebelum kemudian membuka suaranya. "Saya rasa Anda tahu kesalahan Anda." Wanita itu mengerling pada mobil sewaan hotel yang kaca lampu depannya dalam keadaan pecah.


"Saya tahu Nona. Maafkan saya, saya berjanji akan mengganti kerugian yang ada. Anda bisa langsung membawanya ke bengkel dan menghubungi saya setelahnya." Pria muda itu membuka dompetnya dan menyerahkan kartu identitas beserta nomor telepon pada Jemima.


"Nama saya Dennis. Saya bekerja di Destiny Cafe yang berada sekitar satu setengah jam dari sini. Letaknya cukup dekat dengan pinggir pantai."


Jemima menerima kartu identitas Dennis sebagai jaminan agar pria itu tidak melepaskan tanggung jawabnya.


"Kalau begitu, terima kasih, dan maaf sekali lagi, Nona." Dennis dengan sopan membungkukkan badannya. Dia pun mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam mobil dan menungguinya hingga pergi meninggalkan mereka.


Chris, nama pria yang sedari tadi hanya duduk di dalam mobil melirik ke arah mobil yang baru saja melewatinya.


"Bagaimana?" tanya pria itu ketika Dennis naik ke dalam mobil mereka.


"Semua sudah beres, Kak. Aku akan mengganti kerugiannya. Maafkan aku," ucap Dennis dengan raut wajah menyesal.


"Tidak perlu dipikirkan," kata Chris.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan Chris yang mengemudi mobil. Dia tak ingin kejadian serupa terulang kembali.

__ADS_1


Beruntung muatan mobil saat ini sedang dalam keadaan kosong karena mereka baru saja mengantarkan pesanan pada para pelanggannya.


Hampir tiap dua hari sekali Chris ditemani karyawannya secara bergantian, selalu mengantarkan hasil laut beku untuk disalurkan ke beberapa supermarket dan toko daging yang ada di kota. Selain usaha tersebut, dia juga membuka sebuah kafe kecil yang letaknya tak jauh dari pinggir pantai, dan cukup ramai.


Setelah selesai mengantar pesanan, Chris mengembalikan mobil tersebut ke gudang kecil yang dia miliki, sebelum kemudian mengawasi kafe hingga sore.


...***...


Elena dan Jefry secara bergantian melihat kartu identitas milik Dennis. Semula, Elena tidak merasa keberatan jika pria muda tersebut mengaku tidak memiliki uang untuk mengganti biaya perbaikan mobil. Dia pun meminta Jemima untuk menghubungi Dennis secepatnya. Namun, Jefry dan Jemima sendiri dengan ngan tegas menolak usulan Elena yang terlalu baik terhadap orang lain


"Berbuat baik dengan seseorang memang perlu dilakukan El, tapi bukan berarti kita harus selalu mengalah. Manusia butuh rasa tanggung jawab agar tidak mengulangi kesalahannya di masa depan," kata Jesry panjang lebar, yang langsung disetujui Jemima.


Elena menghela napas pasrah. Mau tak mau dia harus mengalah dari pada menghadapi dua orang tersebut.


"Baiklah, terserah kalian saja."


...***...


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di pabrik Wileen Group itu sebenarnya. Namun, karena insiden di luar dugaan tadi, mereka pun harus mengalami keterlambatan selama sepuluh menit.


Kedatangan Elena dan Jefry disambut hangat oleh William, sang kepala pabrik.


Selain menjelaskan acara peresmian besok, pria berusia 55 tahun itu juga mengajak Elena, Jefry, dan Jemima untuk berkeliling-keliling ke dalam pabrik seraya memperkenalkan beberapa orang karyawan yang dilewatinya.


Pabrik yang memiliki luas hampir tujuh hektar tersebut merupakan pabrik pertama yang digadang-gadang memiliki teknologi canggih, dan tidak seperti pabrik lainnya. Kebersihan di dalam sini sangat terjaga.


Elena menatap puas pabrik yang akan membuat body mobil tersebut.


Setelah berkeliling, Elena juga diajak untuk menikmati makan siang yang akan dihidangkan untuk para karyawan pabrik.


Pabrik yang rencananya akan dapat menampung dua ribu karyawan ini juga memiliki dapur khusus agar para pekerja tidak perlu membawa bekal sendiri dari rumah. Tentu dengan harga yang cukup terjangkau dan bersahabat.

__ADS_1


"Bagaimana dengan perekrutan karyawan?" tanya Jefry.


"Berjalan dengan semestinya, Mr. Jefry. Masyarakat menyambut antusias lapangan pekerjaan yang kami buka. Kini, kami sedang menyeleksi para pelamar secara ketat." Jawab William.


__ADS_2