Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 27 : Aku Akan Terus Bersamamu.


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Elena tiba-tiba tersentak dan jatuh ke tanah. Dada gadis itu terasa sangat sesak hingga membuatnya sulit mengambil napas.


Kaki Elena kini bahkan sulit digerakkan. Setiap kali dia mencoba bangkit, tubuhnya akan kembali jatuh, seperti ada sesuatu yang menahannya sekuat tenaga.


"Iris!" seru Elena dalam hati. Matanya menatap kepergian Iris yang kini tengah dibawa kedua orang pria asing tersebut.


Wajah gadis itu berubah panik, ketika tanpa sengaja melirik tangannya yang tengah menggapai-gapai ke arah Iris. Pasalnya, tangan Elena tak lagi setegas sebelumnya. Bagai hologram, tubuhnya seolah-olah hendak menghilang.


"Ada apa denganku?" gumam Elena lemah. Matanya kembali menatap sosok Iris yang semakin lama semakin menjauh, sebelum kemudian menghilang dari pandangannya.


"I ... ris, tol ... ong, Iris." Elena bersusah payah membuka suaranya, sembari terus terjaga sebelum semuanya menjadi gelap gulita.


...***...


Iris terbangun dari pingsannya di sebuah gudang penyimpanan asing yang sama sekali tidak pernah dia temui. Suasana yang sedikit temaram menyulitkan Iris untuk menatap kejauhan. Dia hanya bisa menangkap benda-benda terdekat, seperti botol-botol minuman keras yang tersusun rapi di rak sebelah kanan kirinya.


"Halo, ada orang di sini?" Iris membuka suaranya.


Hening, tak ada suara apa pun di sana selain suaranya sendiri.


Sekali lagi Iris berteriak meminta tolong seraya menggerak-gerakan tubuhnya yang terikat erat di kursi.


"Siapa pun, tolong aku!" Air mata mengalir membasahi pipi Iris. Rasa takut yang hinggap di benaknya tak bisa dia sangkal lagi.


"Aku takut," gumam Iris terisak.


"Leon, kau di mana?" Tangisan Iris semakin tak terbendung kala mengingat nasib sang suami yang entah masih hidup atau tidak.


"Iris!"


Namun, tiba-tiba wanita muda itu terkejut begitu mendengar suara seseorang samar-samar memanggil namanya.


"Siapa itu?" tanya Iris.


Suara gesekan di lantai membuat Iris sedikit waspada. Dia mengerutkan keningnya, guna mempertajam penglihatannya pada ujung ruangan yang sangat gelap.

__ADS_1


Dia yakin arah suara itu berasal dari sana.


"Siapa di sana?" tanya Iris sekali lagi.


Lagi-lagi tak ada jawaban selain gesekan benda di lantai yang terdengar sedikit ngilu.


Suara gesekan benda tersebut semakin lama semakin dekat, hingga akhirnya Iris dapat melihat dengan jelas, bahwa ada sosok pria dengan kondisi babak belur di dalam ruangan yang sama dengannya.


Iris kontan memekik begitu menyadari bahwa sosok pria itu adalah suaminya sendiri.


Iris berusaha melepaskan diri dari ikatan untuk menghampiri Leon, tetapi dia sama sekali tidak bisa bergerak.


Tak ingin menyerah, Iris menjatuhkan diri ke lantai bersama kursinya dan merambat menuju Leon.


Wanita itu tidak peduli pada seluruh tubuhnya yang mulai terasa sakit.


Iris mendekatkan wajahnya pada wajah Leon, sesampainya di sebelah sang suami.


"Ada apa denganmu?" tanya Iris dengan air mata bercucuran. Hatinya nyeri mendapati kondisi Leon yang lemah dan tidak berdaya.


"Pergi," gumam Leon lemah. "Pergi dari sini, pergi yang jauh!" Sambung Leon dengan terbatuk-batuk.


Bel4t1 milik sang suami yang dia bawa sudah pasti jatuh ketika kedua pria asing tadi menyergapnya.


"Mereka akan kembali," ujar Leon kembali.


"Kita akan berhasil keluar sebelum mereka kembali." Iris menggeser tubuhnya menuju rak botol. Tangannya yang terikat di belakang kursi membuat Iris mendekatkan sandaran kursinya pada rak.


Tanpa bisa melihat, Iris meraba-raba beberapa botol dengan tangan terikat dan mengambil satu di antaranya.


Setelah dapat, Iris memecahkan botol tersebut dan mulai memotong tali yang mengikat tangannya.


Jantungnya berpacu cepat. Keringat juga mulai mengalir membasahi tubuhnya. Sebab, wanita itu takut orang-orang yang menculiknya tiba-tiba datang ke dalam gudang.


Benar saja! Begitu ikatan tangannya terlepas, lampu di dalam gudang tiba-tiba menyala terang.

__ADS_1


Terlihat sesosok pria bertubuh gemuk bersama lima atau enam orang pria lainnya memasuki gudang penyimpanan sembari membawa beberapa senjata tajam.


Melihat keadaan yang cukup berantakan membuat Benjamin bergegas menghampiri Iris dan mencengkeram dagunya.


"Sudah bangun rupanya, Cantik. Kau pikir bisa kabur dari sini, hah!" seru Benjamin saat melihat kedua tangan Iris yang sudah terlepas dari ikatan.


Seorang anak buah Benjamin hendak mengikat kembali tangan Iris seperti sebelumnya, tetapi pria itu melarang keras. Dengan kasar, dia mengangkat Iris bersama kursinya dan membenarkan posisi wanita itu kembali.


Leon memberontak. Dia meneriaki Benjamin untuk tidak memperlakukan sang istri kasar dan juga menjauhkan tangan kotornya dari tubuh istrinya. Namun, tendangan anak buag Benjamin membuat Leon mengerang kesakitan.


"Leon!" pekik Iris.


Setelah Iris kembali duduk, Benjamin kembali mencengkeram dagunya dan mengarahkan kepala wanita itu untuk menatap kondisi sang suami yang terlihat sangat menyedihkan.


"Ssstt! Ssstt! Diam Sayang. Semakin kau berteriak, maka orang-orangku akan semakin beringas menyiksa suamimu." Seringai menyeramkan terpatri di wajah bengis Benjamin.


"Apa yang Anda inginkan Tuan? Mengapa Anda tega melakukan ini terhadap kami? Apa salah kami?" tanya Iris diiringi air mata.


Mendengar pertanyaan yang diajukan wanita muda itu, Benjamin tertawa terbahak-bahak.


"Jangan pura-pura bodoh, Iris. Kau sangat tahu apa yang aku inginkan," jawab Benjamin.


"Mendapat penolakan darimu membuat aku mencoba mengajak suamimu untuk berunding secara baik-baik. Kalau saja dia dengan sukarela menyerahkan dirimu untuk kupersunting, mungkin saja dia tidak akan mengalami hal seperti ini."


"Kau pria gila yang sangat menjijikan!" Hina Iris tanpa rasa takut.


Mendapat hinaan dari wanita yang disukainya, membuat Benjamin serta merta naik pitam. Dia menampar dan memukul wajah Iris berkali-kali hingga darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya.


Melihat sang istri diperlakukan kasar, Leon semakin memberontak. Dia menendang salah satu anak buah Benjamin hingga terjerembab ke lantai. Namun, beberapa anak buah Benjamin lainnya langsung mengeroyok Leon sampai bos mereka menyuruh berhenti.


"Sekarang, lihat suamimu! Pilih salah satu, kau hidup bersamaku dan hidup bergelimang harta, atau tetap bersikeras menolak? Jika kau mau menerima, maka Leon akan kulepaskan, tetapi bila tidak, akan kuhabisi kalian berdua!" ancam Benjamin.


Tanpa pikir panjang Iris menolak mentah-mentah. Wanita itu tak peduli jika mereka akan dihabisi, asal dia masih bisa bersama sang suami hingga akhir hayat.


Leon menggertak Iris dan mengatainya bodoh. Pria itu lebih baik mati dari pada harus melihat Iris ikut menderita.

__ADS_1


"Aku akan terus bersamamu, meski harus ke neraka sekali pun!" tegas Iris dengan wajah penuh ketegaran.


Benjamin tertawa setelah mendengar kata-kata wanita itu. "Drama kalian sungguh menjijikan!" serunya sinis. Dia lalu menyuruh para anak buahnya untuk melepaskan ikatan Leon dan Iris, kemudian menyeretnya keluar dari gudang.


__ADS_2