Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 43 : Leon / Evans.


__ADS_3

Evans tiba-tiba berdiri di sebuah ruangan gelap yang tampak sangat sunyi dan tidak berujung. Pria yang terlihat kebingungan itu lantas menoleh ke sana kemari seraya berteriak memanggil-manggil nama keluarganya, dan juga Jemima. Namun, hanya gema dari suaranya sendiri lah yang muncul sebagai jawaban dari teriakannya.


"Di mana aku ini? Apa ini mimpi?" tanya Evans kebingungan.


Pria itu mencoba berjalan lurus selama beberapa saat. Namun, yang dia temui hanyalah kegelapan malam saja. Sampai akhirnya, wujud seorang wanita cantik berpakaian sangat sederhana muncul di hadapan Evans.


"Leon, tolong aku!" seru wanita tersebut.


Evans mematung sesaat. "Siapa kau? Siapa Leon?" tanyanya kemudian.


"Leon, tolong aku! Pria itu kembali ingin menyelakai diriku!" Tanpa menjawab pertanyaan Evans, wanita itu malah kembali mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dia pahami.


"Siapa kau, dan di mana aku sekarang?" tanya Evans sekali lagi. Kali ini matanya terlihat menajam.


Sosok wanita itu terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah Evans, dan berdiri persis beberapa centimeter di depannya.


"Kita akan terus terlahir kembali sebagai sepasang kekasih yang selalu saling mencintai, dan setiap kesempatan itu tiba, aku tak akan pernah membiarkan Tuhan mengambil ingatan pahit ini dari kita sampai kapan pun."


Setelah mengatakan hal aneh seperti itu, wanita tersebut maju satu langkah dan berjinjit untuk mengalungkan kedua tangannya di leher Evans.


Tanpa diduga, wanita itu mencium bibir Evans dan memagutnya mesra.


Evans terbelalak. Otaknya menyuruh pria itu untuk segera menyingkirkan wanita asing tersebut.


Namun, jauh di dalam lubuk hati Evans, ada sebongkah kerinduan yang membanjiri kalbunya.


Evans tersadar, bahwa dirinya tengah merindukan seseorang. Akan tetapi pria itu tak dapat mengetahui siapa orang yang tengah dirindukannya tersebut.


Bersamaan dengan itu, rasa sakit dan pilu muncul menghantam benak Evans seketika.


Sosok wanita muda itu semakin dalam memagut Evans.


Seolah sudah terhipnotis, Evans pun mencengkeram lembut pinggang sang wanit dan membalas ciumannya.


Mata Evans ikut terpejam. Disaat itu lah bayangan sebuah bangunan besar terlihat jelas olehnya, lengkap dengan papan nama yang terpampang jelas di dinding rumah tersebut.


Evans terbangun dari mimpinya seketika. Jantung pria itu seketika berdegup kencang. Dadanya terlihat naik turun dan tubuhnya bahkan sudah dipenuhi oleh keringat dingin.


Evans mencoba mengingat-ingat kembali mimpi yang baru saja dialaminya tersebut. Namun, satu-satunya hal yang masih dapat dia ingat adalah bayangan sebuah rumah mewah dan sepetik asa yang seolah telah hilang.

__ADS_1


"Perasaan apa ini?" gumam pria itu. Sontak dia mengusap wajahnya dan terkejut ketika mendapati ada tetesan-tetesan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Aku ... menangis?" tanyanya pada diri sendiri.


...***...


"Iris."


Suara merdu seorang pria mengalun lembut memanggil namanya. Tak hanya sekali, suara tersebut terus memanggil-manggil namanya berulang kali.


"Lepaskan, Iris. Kau tak pantas berlumuran dosa atas kematian pria itu."


Suara lembut itu kembali mengalun. Namun, Elena sama sekali tidak mempedulikannya, dia terus mencekik leher Albern, meski lelehan air mata terlihat mengalir membasahi pipinya.


"Iris." Suara tersebut lagi-lagi muncul memanggil dirinya. Kendati demikian, ia sekali tidak terdengar mengintimidasi.


Elena mengendurkan cengkeramannya pada leher Albern, sebelum kemudian melepaskan pria itu sepenuhnya.


Mendapat kesempatan seperti itu, Albern menjauhkan diri dari Elena hingga terjatuh dari tempat tidur. Demi menghilangkan ketakutan yang ada dalam dirinya, Albern bahkan menghardik dan mencoba menampar Elena. Namun, gadis itu malah dengan sigap memelintir tangan Albern sekuat tenaga, hingga tulangnya berbunyi.


Suara pekikan Albern terdengar memilukan seketika.


Mereka datang berbondong-bondong dan mendobrak pintu kamar tersebut.


Pemandangan memilukan kemudian tertangkap indera penglihatan mereka.


Elena yang hanya memakai pak*ian dal*m, berdiri angkuh di hadapan Albern yang kini seperti bersujud sembari merintih kesakitan.


Bos mereka tersebut terdengar memohon ampun pada gadis itu.


Bergegas tiga orang pria bertubuh tinggi besar berlari menghampiri keduanya, hendak menolong Albern. Namun, suara Elena yang terdengar menyeramkan menyuruh mereka berhenti.


Ketiganya sontak menghentikan langkah kaki mereka. Sekujur tubuh mereka tiba-tiba merinding ketakutan.


"Diam di sana!" seru Elena sekali lagi seraya menatap ketiga orang tersebut.


Mendapat tatapan seperti itu, buku kuduk mereka meremang seketika.


"Tidak akan pernah kubiarkan kau menghancurkan hidupku lagi. Jika kau masih berniat melakukannya, nyawamu hilang di tanganku!"

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Elena melepaskan tangan Albern dan menendang tubuhnya, hingga membentur kaki ketiga anak buah pria itu.


Tanpa berkata apa-apa, mereka segera membantu Albern berdiri dan membopongnya keluar dari kamar. Begitu pun dengan semua orang yang ada di sana.


Pintu kamar yang ditempati Elena terdengar menutup, dan disaat itu lah, bola mata Elena kembali seperti semula.


Gadis itu terjerembab jatuh ke lantai dan pingsan.


...***...


Ditemani Jemima dan dua buah mobil di belakangnya, Evans mengemudikan sebuah mobil untuk pergi menuju 'Royal Golden Mansion'.


Hanya itu lah satu-satunya mimpi yang dapat dia ingat. Entah mengapa, dia merasa mimpi tersebut merupakan petunjuk akan tempat dimana Elena berada saat ini.


Berbekal informasi yang Jemima dapatkan dari internet, mansion tersebut merupakan satu dari sepuluh mansion terkenal yang ada di kota ini ... dan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, identitas pemilik mansion dirahasiakan dari publik.


Jemima semula memberikan usul untuk memberitahu pihak kepolisian akan petunjuk aneh yang Evans temukan. Namun, pria itu dengan tegas menolak.


"Kau saja sempat tidak percaya denganku, bagaimana dengan mereka?"


Jemima masih mengingat jelas perkataan atasannya. Memang benar mereka sempat sedikit berdebat, sebelum akhirnya, dia memutuskan untuk mengikuti kemauan Evans untuk mengunjungi mansion itu.


Lagi pula, polisi pasti akan melindungi sang pemilik dan tidak akan membiarkan mereka masuk, jika tahu Evans akan menerobos ke dalam sana. Oleh sebab itu, dia membawa serta delapan anak buah sang ayah yang kini mengikutinya dari belakang.


Evans tidak mungkin bisa masuk ke dalam sana sendirian. Dia hanya menugaskan mereka untuk membantunya membukakan jalan, sebelum kemudian masuk seorang diri mencari Elena.


Mobil yang dikemudikan Evans mulai memasuki kawasan perbukitan yang terlihat asri dan menyejukkan.


Evans melajukan mobilnya secepat mungkin hingga sampai di depan gerbang raksasa sebuah mansion luas dan mewah. Dari luar saja sudah dapat terlihat, bahwa mansion tersebut memiliki pengamanan yang sangat ketat. Beberapa orang penjaga pun terlihat mondar-mandir.


"Anda yakin Tuan? Kita akan mendapat masalah besar jika ternyata Nona Elena tidak ada di sana," ujar Jemima sedikit khawatir.


"Masalah besar itu tidak akan terjadi jika ternyata Elena ada di sana. Aku akan sangat menyesal jika petunjuk tersebut benar adanya."


Evans kemudian menyalakan lampu hazard d dua kali demi menarik perhatian orang-orang tersebut.


Jemima menahan napasnya. Bertahun-tahun mengenal Evans, dia tahu betul pria itu sangat skeptis dengan hal-hal di luar logika. Namun, lihatlah sekarang! Hanya karena sebuah mimpi konyol, dia nekat mencari masalah dengan salah satu orang penting di kota ini.


Kemampuan bela diri Evans memang tidak bisa diremehkan, tetapi tetap saja itu merupakan salah satu hal bodoh yang pernah dia temui. Pasalnya, Evans tidak pernah benar-benar berkelahi dengan seseorang. Pria itu hanya pernah berkelahi dengan anak-anak sekolah dasar. Itu pun sebagai pelatih.

__ADS_1


__ADS_2