Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 22 : Sosok Leon di Mata Elena.


__ADS_3

Iris tiba di depan sebuah rumah kumuh yang terlihat menyedihkan di mata Elena. Beberapa rumah lain memang memiliki kondisi yang nyaris sama, tetapi rumah Iris terlihat lebih rapuh.


Wanita muda itu masuk ke dalam bilik kotak yang berada tak jauh dari rumah sembari membawa satu gerabah berisi air. Setelah itu, dia masuk ke dalam rumah dengan membawa gerabah satunya.


Elena mengikuti wanita itu. Matanya menatap sendu ke sekeliling rumah Iris yang tidak memiliki apa-apa. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian gadis itu, yaitu sebuah kotak berukuran sedang yang teronggok di sudut ruangan. Peti tersebut sepertinya tidak pernah dibuka karena sudah sangat berdebu.


Elena mencoba menyentuhnya, dan ... berhasil!


Dia ingat, jika dia bisa tersentuh pohon dan ranting-ranting di hutan. Jadi, bukan tidak mungkin dia juga bisa menyentuh benda-benda lainnya.


Elena menahan diri untuk tidak membuka kotak rahasia itu, dan memilih memperhatikan Iris yang sedang sibuk membuat bubur gandum.


Beberapa saat kemudian, seorang pria berwajah tampan masuk ke dalam rumah.


Elena kenal dengan pria itu. Dia adalah Leon, suami dari Iris. Pria yang entah mengapa terlihat sangat mirip dengan seseorang.


Iris menyambut kepulangan Leon dengan memberinya kecupan mesra di bibir.


Melihat itu, tiba-tiba jantung Elena berdegup kencang. Dia bukannya merasa iri atau tidak nyaman melihat kemesraan mereka. Justru, dia merasa sangat senang, tetapi di sisi lain juga seperti kehilangan sesuatu.


Elena berjalan lebih dekat guna melihat wajah Leon lebih jelas.


Warna bola mata pria itu benar-benar terlihat sangat familiar.


"Siapa?" Batin Elena.


Seolah terhanyut akan warna mata Leon, Elena tanpa sadar mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah tampan pria itu.


Namun, tiba-tiba tubuh Elena seperti tertarik oleh sesuatu. Dia berusaha menahan dirinya agar tidak tersedot, dengan berpegangan pada tiang rumah. Namun, anehnya, kali ini dia tidak dapat menggapai benda mati tersebut.

__ADS_1


"Hah! Ada apa ini? Tolong aku!" teriak Elena.


"Iris, tolong aku!"


Iris yang kini sedang sibuk menuang bubur gandum untuk sang suami, tiba-tiba menjatuhkan sendok buburnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Leon.


Wanita itu memegang dadanya yang terasa bergemuruh. "Ti–tidak apa-apa, aku hanya merasa seperti ada yang sedang memanggil namaku," ucap Iris dengan wajah kebingungan.


"Mungkin hanya suara embusan angin malam. Cuaca malam ini sangat dingin." Leon memeluk Iris dari belakang dan mengecupi lehernya mesra.


...***...


Evans tak bisa berhenti memandangi Elena yang tengah diberi tindakan RJP (Resusitasi Jantung Paru-paru) oleh petugas medis. Mereka kini berada di dalam ambulance menuju rumah sakit terdekat.


Batin pria itu tengah diliputi berbagai ketakutan akan kondisi adiknya sendiri. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kejadian nahas bisa menimpa Elena. Apa lagi, dari apa yang dia dengar tadi, bahwa kawasan di depan kantornya tidak pernah sekali pun terjadi kecelakaan, meski banyak kendaraan keluar dan berlalu lalang saat jam pulang kerja.


Salah seorang petugas medis tiba-tiba menyuruh Evans untuk duduk menjauh dan tidak menyentuh tubuh sang adik, mau pun alas brankar-nya, sebab mereka akan menggunakan alat AED (Automated External Defibrillator). RJP sudah dilakukan sebanyak lima siklus, tetapi denyut nadi Elena masih belum kembali. Mau tidak mau mereka harus menggunakan alat AED tersebut.


Terdapat dua lempeng elektroda AED yang kemudian ditempelkan ke dada Elena, sesuai dengan posisi yang telah ditentukan. Setelah terpasang dan monitor selesai menganalisis keadaan gadis itu, petugas medis tersebut kemudian memberi aba-aba pada rekan lainnya, sebelum menekan tombol 'shock' yang ada di sana.


"Clear?"


"Clear!"


"Shock!"


Setelah memberi kejutan listrik, AED tadi menganalisis kembali kondisi pernapasan dan denyut nadi Elena. Petugas medis juga ikut memeriksa nadi Elena.

__ADS_1


Alat kembali digunakan ketika tidak terlihat tanda-tanda muncul di layar monitor defibrillator.


"Clear!"


"Shock!"


Kali ini, helaan napas penuh kelegaan keluar dari mereka saat melihat layar monitor menunjukkan bahwa denyut nadi gadis itu telah kembali.


Salah seorang dari mereka bahkan menepuk bahu Evans dan tersenyum sembari menenangkan pria itu, saat menyadari ada air mata yang menetes membasahi pipinya.


...***...


Simon dan Samantha tiba di rumah sakit beberapa saat kemudian.


Wanita paruh baya itu menangis sejadi-jadinya begitu sang putra sulung mengabari mereka.


Evans memberitahu, bahwa Elena mengalami patah tulang di kaki dan pendarahan pada otak. Sekarang, dia sedang menjalani operasi darurat.


Mereka yang sedang berada di luar kota, bergegas mencari penerbangan langsung setelah mendapat kabar demikian.


Evans memeluk Samantha dengan erat, sementara Simon terduduk lesu di kursi tunggu. Matanya menatap ruang operasi tempat di mana sang putri berada.


Simon berusaha mengambil napas perlahan agar detak jantungnya tetap stabil.


"Adikmu, Nak! Adikmu!" jerit Samantha. Wanita paruh baya itu tak berhenti memanggil nama anak bungsunya tersebut.


Evans hanya bisa memeluk sang ibu guna menenangkan hati beliau.


Melihat kerapuhan kedua orang tuanya, membuat rasa bersalah di hari Evans semakin mengembang.

__ADS_1


Dalam hati, pria berusia 30 tahun itu merapalkan kata maaf berkali-kali sembari berdoa akan kelancaran operasi darurat yang tengah dijalani Elena.


__ADS_2