Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 25 : Mimpi Evans (2).


__ADS_3

"Kita belum pernah berkenalan, kan? Kau pasti sudah mengetahui siapa aku dan bagaimana sepak terjangku?" Benjamin meminta sebuah kursi pada salah satu anak buahnya dan duduk di hadapan pria itu.


"Ya, saya tahu betul. Apa lagi, saya juga tahu benar bahwa kita tak pernah memiliki masalah satu sama lain. Jadi, bisa jelaskan apa maksud dari semua ini?" tanya sang pria.


Mata Benjamin menelisik keadaan Leon dari atas kepala hingga kaki. "Kita memang tidak pernah memiliki masalah sebelumnya. Aku pun tahu siapa kau. Leon Alfred Hugo, mantan panglima perang di Kerajaan Valcke. Sang pemanah handal dan pandai menggunakan bel4t1, yang akhirnya memilih hidup biasa sebagai pekerja serabutan dan pemburu setelah kematian sahabatnya." Benjamin menjelaskan panjang lebar apa yang dia ketahui.


Leon menatap Benjamin dengan raut wajah aneh. Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa Benjamin bisa mencari tahu tentang dirinya sedetail itu? Dari mana sumbernya, dan untuk urusan apa?


"Bagaimana bisa Anda mengetahui semua itu?"


Benjamin tertawa kecil. "Aku memiliki banyak koneksi, Leon. Aku bahkan mengetahui masa kecilmu yang cukup kelam, terutama cerita soal kemat1an kedua orang tuamu."


Leon mengepalkan tangannya.


"Langsung saja! Kau memiliki istri yang cantik, Leon. Apa yang kau inginkan saat ini? Emas? Rumah bagus? Wanita cantik dan seksi lainnya? Aku bisa memberikan semua itu asal kau sudi menyerahkan Iris untuk aku persunting sebagai istri mudaku."


Mendengar itu, Leon membelalakkan matanya. "Jadi, ini alasan Anda menyekap saya di tempat kumuh ini?" tanya Leon.


Benjamin tertawa terbahak-bahak. "Ya, tentu saja. Aku tak akan mau repot-repot berurusan dengan orang lain, jika tidak mempunyai kepentingan." Pria gemuk itu berdiri dari kursinya dan berjalan menuju salah satu rak penyimpanan minuman ker4s. Dia kemudian mengambil dua botol dan menyerahkan yang satunya di hadapan Leon.


"Bukakan talinya," titah Benjamin pada anak buahnya.


Sang anak buah yang diberi perintah oleh Benjamin sejenak ragu, sebelum akhirnya menuruti perintah bosnya tersebut.


Walau sudah dibukakan, Leon tetap bergeming. Dia bahkan menolak tawaran Benjamin untuk meminum minumannya.


"Rugi menolak minuman mahal seperti ini Leon," ujar Benjamin sembari menenggak minuman di tangannya.


Leon tidak menjawab. Suasana sempat hening sejenak, sebelum Benjamin membuka suaranya lagi.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Kau dulunya hidup cukup bergelimang harta berkat kebaikan Raja Varley yang sangat mengagumi bakatmu. Apa kau tidak merindukan hidup seperti itu lagi? Aku bisa memberikannya dengan sedikit syarat saja. Masih banyak wanita-wanita cantik lainnya di sana, Leon," ujar Benjamin panjang lebar.


"Pertanyaan itu saya kembalikan pada Anda. Begitu banyak wanita-wanita cantik di luar sana, tetapi kenapa harus memilih seorang wanita yang jelas-jelas sudah memiliki suami?" Mata Leon menatap tajam Benjamin. Dia sama sekali tidak terlihat takut, meski para anak buah Benjamin tengah memegang senjata.


Benjamin tersenyum sinis. "Seperti yang pernah kudengar, kau memang pria pandai bersilat lidah dan pintar bernegosiasi. Satu hal yang ingin kutanyakan. Apa Iris mengetahui, bahwa tangan sang suami tercinta telah banyak berlumuran dar4h, termasuk d4r4h sahabatnya sendiri?"


Pertanyaan Benjamin membuat Leon hendak meraih pakaian pria itu. Namun, dengan sigap Benjamin memundurkan tubuhnya.


"Larry, sahabatmu, mungkin memang sudah merelakan kematiannya dengan memintamu untuk segera membvnvhnya juga, tatkala dia telah berhasil mengepung musuh menggunakan tubuhnya sendiri. Namun, jika itu terjadi padaku, tentu aku akan lebih memilih melepaskan musuh dan menerima hukuman, dari pada harus melesatkan anak panah pada kepala musuh sekaligus kepala sahabat sendiri." Benjamin membalas tatapan Leon tak kalah dingin.


"Tutup mulut b3d3b4hmu itu!" seru Leon. Matanya berkilat marah, bukan hanya pada masa lalu yang harus dia ingat lagi, melainkan ketakutannya bila Benjamin mengatakan semua itu pada Iris.


Dia sudah bertekad untuk hidup sederhana dan tidak akan mengotori tangannya lagi.


Pertemuannya dengan sang istri semakin membulatkan tekad Leon untuk hidup damai hingga tua.


"Jadi?" Benjamin mengangkat alisnya tinggi-tinggi sembari menyeringai.


Setelah berkata demikian, Para anak buah Benjamin menodongkan senjatanya ke arah Leon, sementara Benjamin kembali tertawa keras.


"Kau benar-benar memiliki nyali yang besar Leon," ujar Benjamin.


"Anda dan anak buah Anda tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para musuh saya dahulu ...,"


Mendengar penghinaan tersebut, Benjamin menghentikan tawanya dan langsung naik pitam. Dia mencengkeram keras rahang Leon, seolah-olah hendak menghancurkannya.


Leon berteriak. Dia hendak menahan tangan Benjamin, tetapi dua anak buah pria itu dengan sigap menarik tangannya kembali ke belakang, dan mengikatnya seerat mungkin.


"Padahal aku meminta kesudianmu secara baik-baik, tapi sepertinya, kau tidak bisa diajak berunding. Iris mungkin akan jatuh ke tanganku jika kau menghilang dari sisinya!"

__ADS_1


Benjamin mundur dan menghempaskan wajah Leon kasar. Pria gemuk itu lalu memberi perintah pada anak buahnya untuk menyiksa Leon tanpa membvnvhnya.


Begitu mendapat perintah dari sang tuan tanah, para anak buah Benjamin pun dengan senang hati menghaj4r Leon hingga babak belur.


"Berani-beraninya kau menolak tawaran bos kami! Jangan banyak bertingkah kalau tak ingin m4t1!" seru salah seorang anak buah Benjamin sembari melayangkan pukulan ke wajahnya menggunakan tangan kosong.


Leon sama sekali tidak mampu melawan kebengisan mereka karena kedua tangan dan kakinya diikat. Kepala pria itu bahkan terasa sangat pening, dan matanya kini mulai berkunang-kunang.


Leon menahan diri untuk tidak jatuh pingsan, tetapi pukulan telak seseorang pada tengkuknya, membuat pria itu sontak tak sadarkan diri.


...**********...


Evans tiba-tiba membuka matanya dan menatap langit-langit kamar dengan raut ketakutan.


Wajah pria itu terlihat pucat pasi dengan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.


Pria berusia 30 tahun itu kemudian terduduk di atas ranjang, seraya menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari.


Sejenak, dirinya kembali mengingat-ingat mimpi yang baru saja dia alami barusan.


"Mimpi aku tadi?" gumam Evans bingung. "Cerita apa itu?" Sambungnya.


Wajar saja, seumur hidup pria itu hanya pernah bermimpi sekelebatan saja. Tak pernah sekali pun dia bermimpi panjang seperti tadi, bak potongan film. Apa lagi, mimpi tersebut terasa sangat nyata bagi Evans.


Evans sontak memegang tengkuknya. Entah sugesti atau apa, dia merasakan sakit pada tengkuknya tersebut.


...***...


Samantha yang kondisinya sudah berangsur-angsur pulih, bersikeras untuk datang ke rumah sakit untuk menemani Elena.

__ADS_1


Semula, Simon dan Evans melarang keras wanita itu untuk keluar rumah terlebih dahulu sampai kondisinya benar-benar sehat, tetapi sifat keras kepala Samantha membuat Simon mau tak mau mengizinkan sang istri untuk pergi mengunjungi Elena.


Bersama putra mereka, ketiga berangkat ke rumah sakit.


__ADS_2