
Langit telah berganti malam ketika Albern baru saja sampai di rumah Elena untuk mengajak gadis itu kencan.
Pria berusia 21 tahun itu turun dari mobil dan menghampiri Elena yang sudah menunggu di depan rumah dengan memasang senyum ramah.
"Maaf, aku sedikit terlambat," ujar Albern seraya mendaratkan kecupan mesra ke bibir Elena.
Elena membalas ciuman Albern seperti biasa.
"Tidak apa-apa, aku juga baru selesai berdandan," kata Elena.
Ini lah salah satu hal yang disukai Albern dari Elena. Gadis itu tak pernah membiarkannya menunggu lama jika dia datang ke rumah. Malah, tak jarang sang kekasih lah yang lebih dulu menunggu dan menyambut kedatangannya, baik di dalam, mau pun di depan rumah seperti ini.
Pria itu pun ikut masuk ke dalam rumah untuk menyapa kedua orang tua Elena terlebih dahulu, sekaligus meminta izin untuk pergi berkencan dengan anak mereka.
"Hati-hati ya, Sayang. Aunty titip El," pesan Samantha pada Albern.
"Baik, Aunty," jawab Albern seraya membungkukkan badannya.
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah menuju restoran mewah yang sudah Albern booking sejak jauh-jauh hari.
...***...
"Bagaimana makanannya? Enak?" tanya Albern pada Elena yang sibuk memakan hidangannya dengan tenang.
Elena mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Albern. "Enak sekali. Terima kasih sudah mengajakku kemari," ucap gadis itu ramah.
Albern menganggukkan. Dia mengambil garpu Elena dan meletakkannya di atas piring, sebelum kemudian mengecup tangan kanan sang kekasih dengan penuh cinta.
Tak hanya itu saja sikap lembut yang Albern tunjukan, dengan penuh perhatian, pria itu membersihkan mulut Elena yang kotor karena terkena saus keju. Dia juga dengan telaten membantu memotong daging yang ada di piring gadis itu. Sesekali, Albern juga mengelus dan memuji wajah Elena yang sangat cantik.
Mendapat perhatian-perhatian kecil seperti itu dari kekasihnya sendiri, bukan tidak mungkin Elena tidak merasa tersanjung. Namun, perasaannya tak lagi sebesar dahulu.
Elena hanya bisa memandang Albern seraya menggumamkan kata maaf berkali-kali dalam hatinya.
Sesaat setelah menghabiskan menu makan malam utama, beberapa orang waitress kemudian datang menghampiri meja mereka untuk mengambil piring kosong, sekaligus menghidangkan makanan pencuci mulut.
"Makanlah," titah Albern. Matanya memandang Elena penuh arti.
__ADS_1
Tanpa merasa curiga, Elena memakan ice cream tiramisu berlapis emas yang menjadi makanan pencuci mulut mereka.
Baru suapan pertama, gadis itu hampir saja tersedak setelah merasa ada sesuatu benda keras yang mengganjal mulutnya. Dengan sigap Albern mengulurkan mangkok kecil berisi air yang memang disediakan di sana.
Elena terkejut, tatkala sebuah benda berkilau dia keluarkan dari mulutnya dan jatuh ke dalam mangkok tersebut.
Benda itu ternyata merupakan cincin berlian cantik berwarna ungu.
Albern langsung mengambil cincin tersebut dan meminta Elena untuk mengulurkan tangan kirinya.
"Sejak awal kita menjalin hubungan, aku tak pernah ingin bermain-main, El. Mungkin, pernikahan tak bisa kita lakukan sekarang, tetapi izinkan aku untuk mengikatmu dalam sebuah ikatan pertunangan." Albern mengelus tangan kiri Elena.
"Mau kah kau bertunangan denganku Elena Odelia Wileen?" tanya Albern dengan mimik muka serius.
Elena termangu. Perasaan bersalah mulai menggulung-gulung memenuhi benak gadis itu. Andai tak ada Iris di dalam dirinya, mungkin saja dia sudah menangis bahagia saat ini. Namun, jangankan menangis bahagia, sepatah kata pun tak mampu dia keluarkan untuk menjawab ungkapan cinta Albern.
Dipikirannya saat ini malah terbayang sosok Evans dan kebersamaan mereka pada hari-hari sebelumnya.
Elena tak bisa menahan air matanya lagi.
Melihat itu, Albern malah berpikir bahwa sang kekasih merasa terharu dengan segala tindakannya malam ini. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menyematkan cincin berlian tersebut di jari manis kiri Elena, kemudian memeluknya erat.
Albern tertawa dan membungkukkan badannya. Dengan penuh sayang pria itu menghapus air mata yang semakin mengalir membasahi pipi Elena.
...***...
Di sepanjang perjalanan pulang, Albern menyadari sikap Elena yang sedikit lebih pendiam. Sebenarnya, dia sudah berusaha mengabaikan sikap Elena tersebut, tetapi suasana di dalam mobil yang mendadak canggung membuat pria itu tak bisa menahan diri untuk tidak angkat bicara.
"Ada apa? Kau terlihat murung sekali? Apa kau tidak menyukai pertunangan kita?" tanya Albern tanpa basa-basi.
Elena yang sedang menatap jalanan kemudian menoleh ke arah Albern. Gadis itu mengelus lembut cincin mewah yang tersemat di jari manisnya.
"Bukan itu ... aku hanya ... masih merasa sedikit syok dan terkejut akan tindakanmu," jawab Elena berbohong.
Mendengar jawaban itu, Albern mencari tempat kemudian menepikan mobilnya di sana.
"Kenapa berhenti?" tanya Elena.
__ADS_1
Albern tidak menjawab. Dia malah menatap Elena dingin. Keduanya sempat dilanda keheningan sejenak.
"El, apa kau sadar, sejak siuman, sikapmu berubah drastis padaku? Ada apa? Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Rentetan pertanyaan diajukan oleh Albern tanpa basa-basi.
"Aku masih tetap Elena yang dulu, Al," jawab Elena.
Albern tertawa kecil. "Kau tak bisa berkilah El. Bahkan, ketika kau mengatakan hal itu barusan, aku tahu itu adalah sebuah kebohongan."
Elena terdiam.
"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya. Aku mencoba untuk tidak menyadari perubahan itu dan tetap menjalani semua seperti biasa. Namun, hubungan kita malah semakin terasa dingin dan hambar." Albern terlihat mengeratkan gigi-giginya.
"Bukan begitu, aku—"
"Biarkan aku menyelesaikan perkataanku dulu," potong Albern.
Elena kontan terdiam.
Albern menarik napasnya yang mulai terasa berat. "Kau tak lagi menghubungiku lebih dulu, kita juga tak pernah lagi banyak berbincang ketika bertemu. Mungkin, kau merasa aku tidak serius menjalin hubungan ini, mengingat kita tak pernah melakukan apa-apa, oleh sebab itu, untuk membuktikan keseriusanku, aku berniat mengikatmu!" kata pria itu panjang lebar. Sirat kekecewaan tercetak jelas di wajah tampannya.
"Namun, jika memang kau ingin mengakhiri semua ini, aku akan menerima. Itu mungkin saja satu-satunya jalan terbaik bagi kita berdua. Aku tak ingin melihatmu begitu terkekang menjalin hubungan denganku, tapi, tolong ... katakan alasan yang sebenar-benarnya, El!" Albern menatap Elena dengan pandangan menuntut.
Mendengar semua perkataan Albern, Elena menangis. "Aku tidak tahu, Al. Semua terjadi begitu saja. Kau tak akan mengerti sekali pun aku menjelaskan semua dengan benar."
Albern menatap Elena penuh luka. Jawaban gadis itu, secara tidak langsung membenarkan kecurigaannya selama ini.
"Siapa El? Siapa pria yang telah menggantikan posisiku di hatimu?" desak Albern.
Pria itu menerka, bahwa ada seorang pria yang setia menemani Elena selama dia koma, walaupun Albern sama sekali tidak pernah melihat orang tersebut, mengingat dia cukup sering datang ke rumah sakit.
Elena menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Al. Ini sulit bagiku," ujar gadis itu.
"Ini juga sulit bagiku, El!" seru Albern.
Elena tersentak. Gadis itu melepaskan cincin pertunangan yang baru satu jam lalu disematkan Albern, dan meletakkannya di dasboard mobil.
"Maafkan aku." Hanya itu ucapan terakhir Elena sebelum benar-benar pergi meninggalkan Albern seorang diri.
__ADS_1
Albern berteriak sembari memukul-mukul setir mobilnya. Dia bahkan menghempaskan cincin tersebut dari dashboard mobilnya.
"Aku tak akan pernah melepaskanmu, El. Kau milikku!" seru Albern dingin, sembari terus menatap sosok Elena yang sudah hilang dari hadapannya.