Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 66 : Princess Airlea.


__ADS_3

"Princess Airlea, Anda tidak diperbolehkan pergi terlalu jauh dari Istana!" seru salah seorang pelayan kerajaan pada putri mahkotanya, tatkala melihat sang putri berlari menjauh dari halaman istana.


"Hutan itu berbahaya, Princess! Anda tidak boleh pergi ke sana!" Raut kepanikan terlihat jelas di wajah kedua pelayan tersebut saat mengetahui ke arah mana sang putri hendak pergi.


Mereka berusaha menyusul, tetapi tak sanggup menyamai langkah sang putri yang terkenal sangat enerjik tersebut. Sifatnya sangat berbanding terbalik dengan sang kakak, Princess Leanor, yang dikenal anggun, penurut, dan pendiam.


"Tidak ada yang berbahaya dari hutan ini! Tenang saja, aku akan segera kembali!" seru Airlea pada kedua pelayan pribadinya.


Kedua pelayan tersebut hanya bisa saling berpandangan satu sama lain, sembari berharap Airlea segera kembali sebelum ada penjaga atau orang lain yang mengetahuinya. Kalau tidak, nyawa mereka pasti akan melayang.


Airlea tersenyum sumringah begitu langkahnya hampir sampai di depan hutan tersebut.


Mendengar ayah dan ibunya pergi dari istana dalam beberapa hari untuk memenuhi undangan pihak kerajaan lain, membuat Airlea merasa bebas berkelana. Maklum saja, selama hampir 16 tahun dia harus hidup terkurung di dalam istana yang megah dan mewah. Airlea memang diperbolehkan keluar dari istana, tetapi hanya menuju tempat-tempat yang sudah terjadwal.


Jenuh kontan saja melanda jiwa Airlea yang penuh dengan rasa ingin tahu. Belum lagi sang ayah juga tengah gencar mengenalkan dirinya pada beberapa putra mahkota kerajaan sebagai jodohnya nanti. Tak pernah bergaul dengan orang luar membuat Airlea hanya mengenal pria-pria tersebut saja.


Airlea akhirnya sampai di perbatasan antara wilayah halaman kerajaan dan hutan belantara yang sejak dulu ingin dia jelajahi.


Ada berbagai macam rumor seram yang hadir ke telinganya, termasuk cerita soal pemburu misterius yang gemar memangsa siapa pun, tak terkecuali dengan manusia. Oleh sebab itu, dia mau pun sang kakak dilarang keras memasuki wilayah tersebut.


Namun, bagi Airlea yang memiliki keingintahuan besar, larangan merupakan sebuah perintah, dan kini dia tengah menjalankan perintahnya.


Perlahan, Airlea masuk ke dalam hutan tersebut. Berjaga-jaga agar tidak terjerembab, dia sengaja mengangkat tinggi-tinggi gaun lebarnya.


Langit cerah yang semula masih bisa terlihat, kini berubah semakin gelap begitu Airlea menginjakkan kakinya lebih dalam memasuki hutan.


Meski timbul desir ketakutan di dalam diri gadis itu, tetapi tetap tak mampu mengalahkan rasa penasarannya.


Airlea menatap sumringah beberapa pohon kecil dari flaming leaves yang menyala. Adanya pohon tersebut membuat hutan tidak terlalu menakutkan, sebab, semakin gelap, pohon tersebut akan semakin menyala terang.


Airlea menyentuh ujung flaming leaves dengan gerakan lembut. "Kehadiranmu membawa secercah cahaya harapan bagi para penghuni hutan ini." Senyumnya merekah, sebelum kemudian melangkah meninggalkan sekumpulan pohon kecil tersebut.


Sedang asyik-asyiknya menikmati beberapa hewan kecil yang berlarian ke sana kemari, Airlea dikejutkan dengan suara derap kaki kuda yang terdengar keras dan cepat.


Airlea terlihat waspada, matanya nyalang menatap sekeliling hutan yang tampak semakin gelap dan sunyi.


Hewan-hewan kecil yang semula berlarian ke sana kemari tak lagi terlihat di depan mata Airlea. Namun, dia dapat menangkap sesuatu yang tengah berlari menuju ke arahnya dengan sangat cepat.


"Apa itu?" seru Airlea ketakutan.


Suara ringikan kuda terdengar memekakkan telinga.


"Hei! Tidak!" Seolah tak sanggup bergerak, Airlea mematung sembari memejamkan mata. Kedua tangannya yang sudah gemetaran menutupi wajahnya yang ketakutan. Pasrah bila kuda tersebut menabrak dan mungkin membunuhnya saat itu juga.


Suasana hening seketika. Tak ada suara derap kaki kuda seperti yang sebelumnya terdengar. Namun, meski demikian, Airlea belum berani membuka matanya, sampai suara seorang pria menyapa indera pendengaran gadis itu.


"Hai! Sedang apa kau di sini?"


Suara tersebut kembali menyapanya dengan lebih keras.

__ADS_1


Airlea menurunkan tangannya dan menoleh ke arah sumber suara.


Tepat di hadapannya, tengah berdiri seorang pria gagah dan tampan. Di punggung pria itu terdapat busur dan anak panah, sementara di pinggangnya terselip sebuah belati kecil.


Helaan napas terdengar dari bibir mungil Airlea. Wajahnya tak lagi ketakutan seperti tadi.


Keduanya kemudian saling bertatapan satu sama lain dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Siapa kau?"


"Siapa kau!"


Mereka berbicara nyaris bersamaan. Nada si pria terdengar lebih ramah dibandingkan dengan Airlea.


"Seharusnya aku yang lebih layak bertanya, menelisik pakaianmu terlihat tidak cocok berada di hutan ini," ujar si pria.


"Memangnya kau tidak kenal aku?" tanya Airlea.


Tanpa pikir panjang, pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak!"


"Kerajaan Oswald?" tanyanya lagi.


Pria itu menggeleng lagi. "Aku hanya pernah mendengarnya tetapi tidak mengetahui benar."


Airlea menghembuskan napas kasar. "Hei! Kau orang baru atau penyusup? Aku Princess Airlea, anak bungsu dari Raja Galadriel!" seru Airlea sembari bertolak pinggang. Gadis itu tidak bermaksud menyombongkan diri, dia hanya ingin pria itu tahu bahwa orang yang disebutnya 'tidak cocok berada di hutan', merupakan seorang putri kerajaan.


Airlea mengangguk-anggukkan kepalanya. "Karena kau orang baru, aku dapat memakluminya."


Gadis itu pun mengajak Leon bersalaman. Namun, Leon tampak enggan menyambut uluran tangan Airlea, karena tangannya sendiri dalam keadaan kotor.


Mengetahui apa yang ada di pikiran Leon, Airlea memutuskan untuk mengambil tangan pria itu dan berjabatan dengannya.


"Tidak, Princess! Tangan saya kotor!" sergah Leon.


"Tangan kotormu itu tidak akan membuatku mati!" ujar Airlea. Keduanya pun berbincang sejenak selama beberapa saat sebelum akhirnya Airlea meminta diri untuk pulang. Sang kakak pasti sudah menunggu dirinya dan dia tidak mau kedua pelayannya mendapatkan amarah dari gadis itu.


"Sampai jumpa lagi." Airlea melambaikan tangannya dan pergi dari sana. Namun, baru beberapa saat berjalan, tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" teriak Leon seraya menghampiri Airlea.


Airlea menatap Leon dengan wajah memelas. "Aku lupa jalan pulang."


Suara tawa pecah dari pria tampan itu. Tawa yang terdengar sangat merdu di telinga putri kerajaan itu.


"Istanamu dekat dengan hutan ini, bagaimana bisa kau lupa jalan pulang?" tanya Leon setelah berhasil menghentikan tawanya.


Mendengar cemoohan Leon, Airlea mencibir. "Aku tidak pernah diperbolehkan masuk ke dalam sini!"


"Baiklah, kalau begitu aku antar sampai ke ujung hutan, setelah itu kau harus pergi sendiri." Leon menawarkan diri.

__ADS_1


"Emm ... baiklah kalau kau memaksa." Tanpa permisi, Airlea naik ke atas kuda Leon.


Leon tersenyum simpul sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru beberapa saat berkenalan saja dia sudah dapat mengetahui seperti apa tingkah sang putri.


Mau tidak mau, Leon pun menuntun kudanya menuju keluar hutan, tepat di belakang Istana Kerajaan Oswald.


"Mm ... omong-omong, bagaimana kau tahu letak hutan ini berada di dekat istanaku? Bukankah kau bilang tadi hanya pernah mendengarnya?"


Leon tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Airlea.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note:


Maaf kalau saya sedang jarang update karena anak sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, mohon dimaklumi kalau terdapat banyak typo atau tulisannya kurang nyaman dibaca.


Terima kasih untuk kakak-kakak dan adik-adik yang masih sudi menunggu cerita ini. Insha Allah, kalau kondisi anak saya sudah pulih dan sudah kembali pulang ke rumah, saya akan update setiap hari, seperti biasa.


Salam cinta,


Kim O 😘❤️

__ADS_1


__ADS_2