Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 8 : Fakta Tentang Evans.


__ADS_3

Setibanya di kamar, Elena langsung membenamkan wajahnya dalam-dalam di bantal sembari menangis sesenggukan. Rasa sakit di hatinya semakin bertambah-tambah akibat perkataan dan perlakuan kejam sang kakak.


"Sebenarnya aku salah apa pada pria itu, sampai dia segitu bencinya padaku ?" tanya Elena dalam hati.


...***...


Sementara itu, Evans langsung kembali ke kantor tanpa menemui sang ibu terlebih dahulu. Dia tak ingin mendapat teguran untuk yang kesekian kalinya dari beliau.


Evans bukan tak menyadari sikapnya yang keterlaluan pada Elena. Semua terjadi begitu saja ketika Elena lahir.


Kehadiran sang adik membuat Evans merasa tak pantas lagi berada di tengah-tengah keluarga Wileen. Sebab pria itu beranggapan, sejak awal dirinya datang hanyalah sebagai pelipur lara dari sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak.


Sewaktu baru menikah, Samantha divonis menderita kista ovarium. Wanita itu harus merelakan salah satu ovariumnya untuk diangkat. Peluang kehamilan semakin kecil setelah diketahui, bahwa ovarium yang sehat ternyata didiagnosis mengalami PCOS, yaitu penyakit dimana sel telur tidak dapat berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon.


Demi mengobati kesedihannya, mereka pun sepakat untuk mengangkat seorang bayi dari salah satu panti asuhan yang selalu rutin didatangi Wileen Group.


Simon dan Samantha sama sekali tidak menyembunyikan kenyataan tersebut ketika Evans mulai tumbuh besar. Pria itu pun dapat menerima kenyataan yang ada dengan lapang dada.


Namun, sebuah mukjizat tiba-tiba terjadi pada sang ibu. Samantha dinyatakan hamil saat usia Evans menginjak dua belas tahun.


Mengetahui kedua orang tua angkatnya akan segera memiliki anak sendiri, Evans merasa berkecil hati. Dia bukannya tidak mau melihat kebahagiaan mereka, melainkan sadar diri akan statusnya di sana.


Pribadinya yang ceria perlahan mulai berubah menjadi sosok pendiam. Dia bahkan sempat meminta untuk segera dikembalikan ke tempat asalnya semula.


Simon dan Samantha tentu saja dengan tegas menolak. Bagi mereka, Evans tetap merupakan anak pertama, sama sekali tak ada bedanya dengan Elena. Namun, sifat keras kepala Evans rupanya tidak dapat dibendung.


Tak ingin kehilangan sang putra kesayangan, Simon akhirnya mengusulkan Evans untuk tinggal di luar kota.


Evans setuju, tetapi dia meminta sang ayah untuk mengirimnya sekalian ke luar negeri.


Sejak saat itulah Evans tinggal di sana sampai belasan tahun, sebelum akhirnya ditarik kembali ke rumah ini.


Fakta ini sama sekali tidak diketahui Elena. Simon dan Samantha selalu mengingatkan Evans untuk tidak mengatakannya pada gadis itu.


Jika saja sang ayah tidak sakit, tentu dia akan menolak ajakan beliau untuk kembali ke tanah air dan tinggal bersama mereka.


Evans mencengkeram erat kemudi mobilnya. Dia sungguh berharap, sikap jahatnya pada Elena akan membuat Simon dan Samantha menyerah. Dengan begitu, mereka pasti akan membiarkannya pergi.


...***...

__ADS_1


"Mana Elena?" tanya Simon saat mereka sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam.


"Sejak pulang sekolah, dia langsung mengurung dirinya di kamar. Lily yang selalu mengantar makanan ke atas." Jawab Samantha.


Mendengar jawaban sang istri, mata Simon bergulir pada Evans. "Kalian bertengkar?" tanya pria paruh baya itu.


"Tidak." Jawab Evans singkat.


"Vans," tegur Simon.


Evans sontak mengangkat kepalanya. "Kami tidak bertengkar, Pa," jawabnya lebih sopan.


"Kalau begitu, panggil adikmu dan suruh dia makan bersama di sini," titah Simon selanjutnya.


"Ada Lily dan yang lainnya, Pa," tolak Evans.


Simon tidak menjawab. Matanya menatap Evans tajam sampai pria itu merasa risih sendiri.


Dengan langkah malas, Evans berdiri dari kursinya dan pergi menuju kamar Elena.


...*************...


"Berhati-hatilah, aku akan menunggu kepulanganmu," ujar sang istri sendu. Batinnya terasa pilu karena harus ditinggalkan sang suami yang akan berburu selama beberapa hari.


Pria tampan berpenampilan sederhana itu mencium lembut bibir sang istri, sebelum kemudian pergi meninggalkannya dengan langkah yang sedikit berat.


Demi mendapatkan kepingan uang agar bisa menghidupi sang istri, mau tidak mau pria itu harus mengerjakan pekerjaan apa pun. Termasuk ikut salah seorang teman untuk berburu babi hutan dan hewan-hewan lainnya.


Selepas kepergian sang suami, wanita muda itu pun langsung pergi menuju perkebunan.


...***...


Para buruh yang sedang sibuk bekerja tiba-tiba menghentikan kegiatan mereka, ketika sosok sang tuan tanah muncul. Pria bertubuh berisi itu memang rutin memantau para pekerja di hari-hari tertentu.


Hati Iris mendadak kalut. Pasalnya, sikap dan ekspresi sang tuan tanah selalu saja membuat wanita itu risih.


Iris berharap, pria itu tidak dapat menyadari keberadaannya. Namun, harapan itu tentu saja sia-sia, karena salah satu tujuan si pria memang untuk melihat wajah cantik Iris.


"Tuan." Iris dengan tangan gemetaran membungkuk hormat pada Benjamin yang datang menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar dirimu, Cantik?" tanya Benjamin seraya mengangkat dagu Iris.


Wanita itu menahan diri untuk tidak menepis tangan kurang ajar Benjamin. Biar bagaimana pun, dia masih membutuhkan pekerjaan ini.


"Ba–baik, Tuan," jawab Iris tersendat.


Benjamin tersenyum menyeringai. Pria itu menelisik wajah Iris yang sangat cantik. Sayang kecantikannya itu harus tertutupi oleh debu dan penampilannya yang lusuh.


Benjamin lantas mendekatkan diri pada telinga Iris. "Andai kau mau meninggalkan suami miskinmu itu, dan jadi selirku, maka hidupmu tidak akan begini, Iris," bisiknya menjijikan.


Iris mundur dua langkah. Jantungnya berdegup sangat keras kala ketakutan mulai melingkupi hati wanita itu.


Seribu kata makian ingin sekali ditumpahkan Iris, tetapi dia masih sadar diri.


Iris hanya mampu memalingkan wajahnya ke arah lain dan tertunduk.


Melihat itu, Benjamin tertawa sinis dan melepaskan tangannya dari dagu Iris.


"Semua kembali bekerja! Berbuat kesalahan sedikit saja, aku akan mem*ngg4l kep4l4 kalian!" teriak Benjamin. Pria berusia 50 tahunan itu memang dikenal sebagai saudagar kejam. Dia tak sungkan melakukan kekerasan pada orang-orang yang bekerja di bawah kakinya.


Semula, Iris tidak ingin bekerja di sana. Akan tetapi, hampir seluruh tanah perkebunan di wilayah perkampungan ini adalah milik Benjamin.


...***...


"Jangan kurang ajar, Tuan! Anda sudah keterlaluan!" hardik Iris ketika Benjamin dengan sengaja memegang bok*ngnya.


Kali ini, Iris tidak bekerja di kebun pria itu, melainkan di dalam kandang hewan ternak miliknya.


Namun, hal itu ternyata hanya akal-akalan Benjamin agar bisa bebas menyentuh Iris. Sebab, kandang ternak miliknya adalah tempat tertutup.


"Jangan munafik kau, Iris! Kau bisa mendapatkan segalanya dariku setelah ini. Dari pada suami miskinmu itu, lebih baik kau bersenang-senang denganku, gadis manis!" seru Benjamin dengan mata berkilat menjijikan.


Air mata sontak saja keluar dari pelupuk mata Iris, ketika Benjamin terus berusaha mengg4g*hinya. Wanita itu mencoba memberontak dan lari, akan tetapi tenaga Benjamin tentu jauh lebih besar dari tenaganya.


Dalam hati, Iris sudah berniat untuk m4t1 jika Benjamin berhasil menguasai dirinya, tetapi suruhan Benjamin tiba-tiba masuk dan memberitahu pria itu, bahwa kedua istrinya datang ke sana.


Benjamin berteriak marah. Pria itu menghempaskan Iris kasar ke atas tumpukan jerami, setelah menamparnya terlebih dahulu.


"Aku akan segera mendapatkanmu secepatnya, Iris!"

__ADS_1


__ADS_2