Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 14 : Prom Night.


__ADS_3

Acara prom night yang dinanti-nantikan seluruh siswa-siswi sekolah akhirnya tiba.


Elena tampak begitu cantik dan memukau saat memakai gaun panjang seksi berwarna forest green. Penampilannya semakin seksi dengan belahan sisi gaun yang lumayan menantang. Sementara Albern terlihat sangat tampan menggunakan tuxedo berwarna dark green.


Elena sontak memanggil Jenny, saat matanya menangkap keberadaan gadis itu di lobby hotel. Jenny sepertinya memutuskan menerima ajakan Aldrich, salah satu pria popular yang tergabung dalam tim basket sekolah mereka.


Jenny terlihat sangat hot menggunakan gaun panjang berwarna merah menyala dengan belahan dada yang turun hingga perut. Belum lagi belahan sisi gaunnya yang hampir menyentuh pinggul, sama seperti dirinya. Aldrich sendiri memakai kemeja dengan warna yang sama seperti Jenny.


Keempatnya masuk ke dalam aula hotel berbintang lima, yang menjadi tempat acara prom night diadakan.


Mereka kemudian duduk di salah satu meja bundar yang diperuntukkan bagi enam orang.


Musik klasik terdengar merdu di telinga mereka. "Sepertinya semua teman-temanmu benar-benar tampil semaksimal mungkin," bisik Albern saat melihat penampilan teman-teman sekolah Elena yang sangat glamour, baik siswa mau pun siswinya.


"Mau bagaimana lagi, di sekolah, mereka tidak bisa begini. Acara prom night hanya terjadi sekali seumur hidup, jadi, sudah pasti mereka akan memaksimalkannya sebaik mungkin." Elena menimpali perkataan sang kekasih dengan tawa kecil.


"Pantas, kau pun sangat bersemangat tampil menarik." Albern tersenyum.


"Tentu saja! Kau tidak suka?" Elena mendelik pada sang kekasih dengan wajah kesal.


"Sangat suka Sayang." Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi gadis itu. Jenny yang melihat kontan berdeham dan menggoda kedua insan dimabuk asmara itu, sembari tertawa.


Tak lama kemudian, sepasang pemuda pemudi kelas lain yang didapuk menjadi pembawa acara tersebut, naik ke atas panggung untuk menyambut para tamu undangan.


Acara pertama dimulai dengan pidato singkat dari pemilik yayasan sekolah mereka. Beliau berpesan untuk hidup dengan penuh rasa tanggung jawab, meski harus memikul banyak beban.


"Menjadi dewasa tak semudah kelihatannya. Jika dulu kita tak pernah memikirkan dengan serius, bagaimana rasanya memikul beban dan tanggung jawab, kini kita dituntut untuk melakukannya. Tak ada lagi orang tua yang akan melindungi kita, kita lah yang harus melindungi diri sendiri. Oleh sebab itu, jadilah manusia yang kuat dan tetap berakal sehat, karena dengan begitu, meski hidup terasa sangat kejam, kita tidak akan pernah tenggelam dalam kubang keputusasaan."


Tepuk tangan dari para tamu undangan bergemuruh memenuhi aula. Beberapa dari mereka bahkan sampai menitikkan air matanya, tak terkecuali dengan Elena dan Jenny.


Mendengar pidato sang kepala yayasan membuat jantung Elena sedikit bergemuruh. Sebab, tak akan lama lagi dia akan segera memasuki dunia kerja sekaligus perkuliahan.


Gadis itu sama sekali tidak bisa menolak permintaan ayahnya untuk menjadi sekretaris sang kakak. Maka dari itu, sebelum masuk ke dunia perkuliahan tiga bulan lagi, dia akan full bekerja di kantor sang ayah. Baru setelah masuk kuliah, Elena hanya akan datang ke kantor pada hari senin dan selasa saja.


Acara mulai dipenuhi tawa setelah memasuki sesi selanjutnya. Menjelang akhir, seluruh siswa-siswi diminta berdansa romantis bersama pasangan mereka, sebelum akhirnya sesi penobatan King and Queen yang menjadi puncak acara.

__ADS_1


Albern mengajak Elena untuk pergi ke lantai dansa, mengikuti Jenny dan Aldrich yang sudah turun ke sana terlebih dahulu.


"Aku tak bisa berdansa," ungkap Elena jujur. Selama berpacaran, mereka memang tidak pernah berkencan dalam suasana seperti ini.


"Tidak masalah," ujar Albern. Pria itu menuntun tangan Elena untuk memeluk lehernya, sementara kedua tangannya sendiri memeluk pinggul sang kekasih mesra.


Lampu diredupkan, lagu romantis pun mengalun indah mengiringi para tamu undangan. Elena dapat menangkap momen-momen indah teman-teman sekolahnya, yang seolah tengah terhanyut dalam suasana romantis tersebut. Tak terkecuali dengan Jenny dan Aldrich.


Keduanya saling menatap mesra, sebelum Aldrich terlihat berbisik di telinga Jenny. Tepat setelah Jenny menganggukkan kepalanya, Aldrich memagut mesra bibir gadis itu.


"Aiih, padahal mereka baru saja bertemu," ujar Elena seraya mengendikan dagunya.


Albern mengikuti arah pandang Elena dan tersenyum. "99 persen cinta selalu datang pada pandangan pertama. Seperti aku dan kau," ucap pria itu.


Suara sang kekasih yang terdengar seksi membuat jantung Elena kontan berdesir.


"Kau benar," kata Elena.


Albern menempelkan dahinya pada dahi sang gadis tercinta. "Aku sangat mencintaimu, Elena Odelia Wileen," ucapnya kemudian.


Albern menarik pinggul sang kekasih dan mendekapnya erat. Pria itu kemudian mendaratkan ciumannya di kening sang kekasih, lalu merambat pada mata, pipi, hidung, dan bibir tipis yang selalu dia sukai itu.


...***...


"Aldrich mana Jen? Kau tidak pulang bersamanya?" tanya Elena ketika kedua gadis itu tiba di lobby hotel. Mereka sedang menunggu Albern yang sedang izin ke toilet terlebih dahulu.


Mendapat pertanyaan tersebut, wajah Jenny tiba-tiba berubah merah. "Tidak." Jawab gadis itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Elena penasaran.


Jenny terlihat gamam, sebelum akhirnya mendekatkan diri pada sang sahabat, dan membisikkan sesuatu di telinganya.


Mendapat bisikan dari sang sahabat, Elena nyaris saja berteriak, jika Jenny tidak segera menutup mulut gadis itu dengan brutal.


"Kecilkan suaramu, Bodoh!" seru Jenny kesal.

__ADS_1


"Maaf, maaf, ha ha ha. Aku benar-benar tak menyangka kalian akan ... ha ha ha!" Elena tertawa lepas.


Jenny yang panik menoleh ke belakang, tepat di mana Aldrich berada. Pria itu sedang di memesan kamar di bagian resepsionis. Tak hanya Aldrich yang terlihat di sana, ada beberapa pasangan lain juga yang turut melakukan hal tersebut.


Mau bagaimana lagi, negara mereka memang menganut kebebasan. Jadi, pemandangan seperti ini bukanlah pemandangan yang tabu lagi.


"Albern memang tidak ...?" Jenny sengaja tidak meneruskan kalimatnya.


"Dia benar-benar anak yang baik. Beruntung, pria itu mendapatkan gadis yang sama baiknya seperti diriku ini," kelakar Elena bangga, seraya mengeluarkan seringai menyebalkan.


"Jadi menurutmu, aku tidak baik?" Jenny memukul lengan Elena main-main. Sementara Elena tertawa kecil.


"Kau, sih, enak sudah memiliki status yang jelas dengan Albern, lain halnya dengan diriku! Jadi, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." Tawa centil keluar dari mulut Jenny.


Elena berusaha untuk tidak memutar bola matanya.


Tak lama kemudian, Albern dan Aldrich datang nyaris bersamaan. Mereka pun berpisah di lobby.


"Good luck! Jangan lupa pakai pengaman ya?" bisik Elena.


"Tidak akan seru tahu!" sahut Jenny tertawa.


Mendengar hal itu, Elena lantas memarahinya. "Heh! Jangan bodoh, Jen!"


"Issh! Aku hanya bercanda, p3r4wan menyebalkan!" sahut Jenny ketus.


"Oh! Dasar pirang kurang ajar. Ya sudah, sana! Bye ...." Elena melambaikan tangannya pada Jenny.


"Mereka check-in?" tanya Albern begitu melihat ke arah mana sepasang manusia itu pergi.


"Iya. Kau mau juga?" Elena menggelayut manja di lengan Albern. "Memangnya kau tidak ingin seperti mereka? Jangan-jangan, kau ini tidak mencintaiku ya? Ahh, atau, kau sebenarnya seorang gay? Hanya saja menutupi semua itu dariku!"


Perkataan asal yang dilontarkan Elena membuat gadis itu langsung mendapatkan sentilan manis dari Albern.


"Justru karena aku sangat mencintaimu, gadis nakal!"

__ADS_1


Elena mengelus-elus dahinya yang sama sekali tidak sakit. Mereka saling melempar tawa kemudian.


__ADS_2