Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 39 : Kecemburuan.


__ADS_3

Elena, Evans, dan Jemima baru saja tiba di bandara Kota K. Rencananya mereka akan menginap di hotel bintang lima yang jaraknya cukup dekat dengan gedung kantor cabang Wileen Group.


Sesampainya di hotel, tanpa beristirahat terlebih dahulu mereka langsung pergi untuk menemui Mr. Jeff, sang kepala proyek, sekaligus melihat lokasi.


Setelah melalui beberapa prosedur dan memakai helm keselamatan, ketiganya diajak berkeliling untuk melihat kinerja para pekerja. Evans, Elena, dan Jemima menyapa ramah para pekerja yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh kesopanan.


"Hati-hati Mr. Evans, Mrs. Elena, dan Mrs. Jemima. Beberapa peralatan atau besi-besi bangunan yang berserakan mungkin akan sedikit menghambat langkah Anda semua." Mrs. Jeff yang memandu mereka berjalan di depan memberi peringatan.


Evans mengangguk. Pria itu kemudian berjalan mendahului Elena dan mengulurkan tangan kirinya pada sang adik.


Dengan senang hati Elena menyambut uluran tangan pria itu. Tangan besar Evans yang halus dan hangat membuat dada Elena berdebar keras.


Dari belakang, gadis itu dapat melihat dengan jelas postur tubuh Evans dan Leon secara bergantian. Penampilan Leon dulu terlihat sedikit lusuh dan sederhana, begitu pula dengan tangannya. Leon memiliki tangan yang sedikit kasar karena sering melakukan berbagai macam pekerjaan berat. Namun, tidak begitu dengan Evans.


Pria itu memiliki tangan yang lebih halus dari Leon. Kendati demikian, kehangatan genggaman tangan mereka masih tetap sama.


Evans menyingkirkan beberapa puing-puing kecil dan benda-benda tajam yang sekiranya dapat menghambat langkah Elena. Pria itu juga membantu sang adik melewati setumpuk besi yang harus dilangkahi, dengan cara mengangkat tubuh mungilnya. Untung saja dia sedang tidak memakai rok dan heels.


Selesai berkeliling, Evans meminta Jemima untuk mem-booking tiga rumah makan sederhana yang letaknya tak jauh dari sana, sebagai apresiasinya atas kerja keras mereka.


Tawaran itu tentu saja disambut dengan riang gembira oleh para pekerja. Mereka berterima kasih pada kedua kakak beradik itu.


"Terima kasih, Tuan Evan dan Nona Elena," ucap salah seorang pekerja pada mereka, disusul dengan suara-suara lainnya.


Evans menganggukkan kepalanya. Sesekali dia menyambut uluran tangan para pekerja yang ingin berjabatan tangan, tanpa merasa risih oleh tangan kotor mereka.


Jemima yang memang sudah mengetahui sisi lain dari Evans terlihat biasa-biasa saja. Namun, hal tersebut merupakan sesuatu yang langka bagi Elena.


Gadis cantik itu tersenyum dan mengikuti jejak sang kakak. Dia sama sekali tidak ragu menerima jabatan tangan dari para pejuang keluarga tersebut.


Elena semakin kagum pada sosok sang kakak, tatkala Jemima menanyakan tagihan tiga restoran tersebut.


Tanpa basa-basi, Evans membayar semua tagihan menggunakan kartu kredit pribadinya, alih-alih kartu kredit perusahaan.


Tersentuh dengan perbuatan sang kakak, Elena pun ikut mengeluarkan kartu kredit miliknya dan menyerahkan benda itu pada Jemima.


"Tidak perlu, biar aku saja!" sergah Evans.


"Aku tahu, uangku tak sebanyak milikmu, jadi tidak perlu menyombong!" Elena memaksa Jemima untuk menerima kartu kreditnya.

__ADS_1


Tak ingin melihat kakak beradik itu berdebat, mau tidak mau, Jemima menerima kartu kredit keduanya untuk melakukan membayar.


Mereka bertiga juga turut bergabung di sana untuk menikmati makan siang bersama.


...***...


Menjelang sore, Evans, Elena, dan Jemima berkeliling mendatangi beberapa store produk mereka, sebelum kemudian kembali ke hotel. Baru saat malam harinya, tanpa Jemima, mereka menghadiri undangan makan malam salah seorang teman dekat sang ayah di sebuah restoran ternama.


Simon memang meminta mereka untuk datang mewakili dirinya, yang tidak dapat hadir karena masalah kesehatan. Akhir-akhir ini, kondisi kesehatan Beliau sedang menurun, walau hal itu tidak terlalu serius.


Dokter hanya meminta Simon untuk tidak banyak berpergian jauh terlebih dahulu. Apa lagi dia memiliki riwayat penyakit jantung dan hipertensi.


"Terima kasih kalian sudah mau datang jauh-jauh kemari, Mr. Evans dan Mrs. Elena." Mr. George menyambut kedatangan mereka dengan penuh kesantunan.


Sebagai tamu yang diundang, meski usianya terpaut jauh, pria berusia 50 tahunan yang masih terlihat tampan itu dengan ramah menghampiri mereka terlebih dahulu.


Mr. George bahkan mencium lembut punggung tangan Elena, sebelum akhirnya menuntun mereka ke meja dan mempersilakannya duduk.


Mr. George kemudian memperkenalkan dua orang putranya yang ikut hadir di sana. "Ini adalah Adam, putra sulungku yang masih berusia 24 tahun, dan yang satu lagi adalah pitra bungsuku, Max, yang masih berusia 15 tahun."


Keempatnya saling berjabatan tangan. Tatapan mata Adam, putra sulung Mr. George, pada Elena membuat Evans merasa sedikit tidak nyaman. Jelas sekali terlihat bahwa pria itu memiliki ketertarikan pada adiknya.


Sementara Elena tengah asyik mengobrol dengan Adam dan Max.


Adam lah yang lebih banyak membuka suara dibandingkan dengan adiknya.


Pria itu menceritakan, bahwa ibu mereka tinggal jauh di luar negeri untuk mengejar karirnya sebagai seorang penyanyi opera.


Mereka berempat sebenarnya tinggal bersama, tetapi hanya dia, ayah, dan sang adik lah yang sering kembali ke tanah air.


"Sekarang giliranmu. Apa kegiatanmu selain bekerja?" tanya Adam.


"Kuliah. Aku hanya pergi ke kantor dua atau tiga kali saja dalam satu minggu," jawab Elena ramah.


"Bagus, dengan begitu kau bisa sambil belajar sebelum benar-benar terjun ke dalam dunia bisnis ayahmu," puji Adam.


Elena tersenyum.


Adam kemudian meminta Elena untuk turun ke lantai dansa saat musik romantis mengalun mengiringi para pengunjung restoran.

__ADS_1


Elena melihat ke depan dan mendapati beberapa pengunjung telah turun ke sana bersama pasangan masing-masing.


Evans yang sedang asyik mengobrol dengan Mr. George sontak menoleh, tatkala Adam menggandeng tangan Elena untuk ikut dengannya ke lantai dansa.


Pria itu memperhatikan Elena yang tampak canggung, saat Adam memegang pinggangnya dan menuntun tangan gadis itu untuk melingkari lehernya.


Dengan gerakan santai dan lembut, mereka bergerak selaras.


"Tampaknya, Adam tertarik dengan adik Anda, Mr. Evans. Saya bisa melihat adanya kecocokan di sana." Mr. George tertawa.


Mendengar itu, Evans hanya menanggapi Mr. George dengan tawa kecil. Entah mengapa, dalam hati dia merasa sangat tidak senang melihat kebersamaan Elena dan Adam.


Evans menajamkan matanya, saat Adam tiba-tiba merapatkan tubuhnya pada Elena dan berbisik mesra di telinga gadis itu.


Tangannya tanpa sadar menggenggam keras garpu yang dia pegang.


Tak tahu kenapa, pria itu ingin sekali menarik tubuh sang adik dari pelukan pria lain. Namun, dia tentu saja tidak mungkin dapat melakukan hal tersebut, karena pasti akan terlihat sangat aneh.


Selepas acara makan malam, keduanya segera kembali ke hotel.


"Kakak kenapa? Kau seperti sedang menahan kekesalan," ujar Elena saat mendapati raut tak enak yang terpatri di wajah Evans.


"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Evans sekenanya.


Suara sang kakak yang terdengar datar membuat Elena mengerutkan keningnya.


"Ya sudah." Tak ingin ambil pusing dia mengangkat bahu dan memilih untuk melihat pemandangan di luar jendela taksi.


Suasana di dalam taksi cukup hening selama beberapa saat, sampai Evans tiba-tiba membuka suaranya kembali. "Kau sepertinya merasa sangat nyaman berdekatan dengan Adam, meski kalian baru saling mengenal?"


Elena mengalihkan pandangannya dari jendela. "Ya. Dia adalah pria ramah yang cukup menyenangkan. Kami bahkan sudah bertukar nomor ponsel, dan berjanji akan mengajakku jalan-jalan saat berada di kota tempat tinggal kita," jelas gadis itu dengan wajah berbinar-binar.


Mendengar jawaban Elena, wajah Evans semakin datar.


"Memangnya kenapa?" tanya Elena penasaran.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk tidak terlalu ramah dengan para pria, jika ingin terlihat mahal."


Kesenangan yang hinggap di hatinya selama seharian ini, hancur begitu saja oleh sebaris kata menyakitkan yang dilontarkan Evans.

__ADS_1


Elena menahan dirinya untuk tidak menghardik pria itu. "Sikapmu mungkin sebaik malaikat, tetapi mulutmu terkadang masih memiliki kebusukan!"


__ADS_2