Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 55 : Pertemuan Kembali.


__ADS_3

"Nona Elena ya?" terka Mrs. Amber begitu melihat wajah Elena. Kemarin, saat mereka selesai berbicara di telepon, Eva, sang cucu yang turut membantu mengurus penginapan, memberitahu dirinya perihal Elena dan pabrik otomotif tersebut.


"Iya, benar." Jawab Elena tersenyum.


"Ahh, aku Amber. Kau cantik sekali. Salam kenal." Wanita berusia 60 tahunan itu menghampiri Elena dan memeluk tubuhnya.


"Salam kenal, Mrs. Amber." Elena membalas pelukan hangat sang pemilik penginapan.


Tanpa basa-basi lagi, wanita itu segera mengajak Elena untuk masuk ke dalam penginapannya.


Jujur saja, semula di mata Elena, penampilan penginapan milik Mrs. Amber terlihat terlihat sangat sederhana dan sedikit meragukan dari luar. Namun, begitu Mrs. Amber membuka pintu pagar penginapan sepenuhnya, mata gadis itu langsung termanjakan oleh pemandangan taman cantik nan indah yang mengelilingi kolam ikan. Sebuah air mancur mini yang berada di tengah-tengah kolam menambah keindahan tempat itu.


"Indah sekali," puji gadis itu.


"Terima kasih," ucap Mrs. Amber. "Ini semua dirancang oleh almarhum suamiku sendiri." Sambungnya.


Elena mengangguk takjub. Dia pun diajak masuk ke dalam penginapan dan berkeliling sejenak, sebelum kemudian naik ke lantai dua.


Saat masuk ke dalam penginapan , Elena harus melewati lorong terlebih dahulu. Tepat di ujung lorong, ada dapur dan deretan meja makan di sana. Sementara di sebelah kanannya, terdapat tangga menuju lantai dua.


"Penginapan ini hanya memiliki sepuluh kamar saja. Lima kamar di lantai dua, dan lima kamar lainnya di lantai tiga. Usia penginapan ini juga sudah lumayan tua, tetapi telah direnovasi sedemikian rupa. Kendati begitu, aku tetap mempertahankan bangunan aslinya. Jadi, mudah-mudahan Nona Elena dapat beristirahat dengan nyaman," ujar Mrs. Amber.


"Saya menyukainya, Mrs. Amber, dan cukup panggil saya Elena saja," pinta Elena penuh santun.


Mrs. Amber tersenyum. "Baiklah. Ini kuncinya, Elena. Kami menyediakan makanan dua kali sehari, yaitu sarapan dan makan malam. Kau bisa memilih diantar ke kamar atau bergabung bersama tamu lain di bawah."


Elena mengambil kunci tersebut dan berterima kasih. "Sepertinya menyenangkan jika bisa makan bersama."


"Itu lah yang dicari." Mrs. Amber tertawa kecil. "Kalau begitu, selamat beristirahat," ucap wanita paruh baya itu, lalu beranjak ke lantai bawah.


Elena segera memutar kunci pintu kamarnya. Wajah gadis itu mendadak sumringah ketika mendapati kamar tersebut ternyata cukup luas dan nyaman, dengan nuansa warna-warna pastel.


Toiletnya pun sangat bersih dan nyaman. Sama sekali tidak terlihat dari luar bahwa penginapannya sebagus ini. Baginya, tempat ini merupakan salah satu penginapan terbaik.

__ADS_1


Setelah meletakkan kopernya, Elena pun bergegas pergi keluar untuk melihat-lihat lenih detail seluruh area penginapan.


Setelah puas, dia pun pergi ke Destiny Cafe yang jaraknya hanya lima menit dari penginapan.


"Nona Elena, Anda datang lagi." Dennis yang baru saja meletakkan pesanan pelanggan lain membungkuk hormat pada gadis itu.


"Bersikap biasa saja, Dennis ... iya, aku memutuskan menghabiskan liburan di sini, dan menginap di tempat Mrs. Amber."


Mendengar itu, Dennis mengangguk-anggukan kepalanya. "Semoga Anda betah. Kalau Anda butuh sesuatu, Anda bisa mengatakannya pada saya," tawarnya kemudian.


"Terima kasih," ucap Elena. Setelah berbasa-basi sebentar, Elena pun memesan kudapan. Dia sengaja tidak memakan makanan berat karena Mrs. Amber menyuruhnya untuk makan siang di penginapan.


...***...


Malam hari.


Elena turun dari lantai dua setelah Eva menelepon ke kamarnya untuk memberitahu jika makan malam telah siap. Dia juga menanyakan pada gadis itu, apa ingin makan bersama di bawah atau harus mengantarnya ke atas.


Elena duduk di salah satu meja makan bersama sepasang suami istri dan seorang pria yang sepertinya tengah berwisata seorang diri.


Keempatnya berkenalan dan berbincang ringan.


Sepasang suami istri tersebut bernama Dave dan Elma. Sementara pria yang satu lagi bernama Arsenio. Ketiganya ternyata berasal dari Twins City, yang berada persis di sebelah kota ini.


"Keren sekali gadis muda sepertimu, berani pergi jauh sampai ke kota ini. Naik pesawat saja membutuhkan waktu kurang lebih empat jam." Elma menatap Elena takjub.


"Aku tidak sendirian sebenarnya. Ada urusan pekerjaan dan aku sengaja pulang belakangan." Elena tersenyum.


"Tetap saja keren," puji wanita cantik itu.


"Terima kasih, Kak," ucap gadis itu malu-malu.


Mereka pun terus asyik berbincang sembari menikmati makan malam dengan suasana yang menyenangkan.

__ADS_1


Selesai makan malam, gadis itu pun hendak beranjak pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.


"Nak Chris! Kenapa baru datang? Kau terlambat sekali, Nak," ujar Mrs. Amber tiba-tiba pada seseorang.


"Maaf, Mrs, tadi sedang banyak sekali pengiriman."


Elena yang baru saja menaiki undakan tangga ketiga tiba-tiba berhenti melangkah, tatkala indera pendengarannya menangkap suara seorang pria yang sangat familiar.


"Ahh, sebentar, kau sepertinya harus berkenalan dulu dengan salah satu tamuku, Nak Chris," ujarnya pada Evans yang kini berdiri di hadapan Mrs. Amber.


Wanita itu kemudian menoleh ke arah tangga, tepat di mana Elena kini telah berbalik menatapnya.


Tidak! Lebih tepatnya menatap pria yang berdiri di depan Mrs. Amber.


"Nona Elena, kenalkan ini Chris ... Nak Chris, inilah tamu jauh yang aku maksud tadi pagi," ujar Mrs. Amber.


Evans yang semula tengah tersenyum berubah terkejut, saat mendapati sosok Elena kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya.


Keduanya termangu sesaat.


Air mata yang jatuh membasahi pipi gadis itu, membuat Evans menyadari, bahwa ada sejuta kerinduan serta rasa sakit yang tertinggal di sana.


Elena berusaha mendekati Evans, tetapi pria itu malah menjauh.


"Maaf, Mrs. Amber, saya ada urusan mendadak. Lain kali, saya akan kembali lagi ke sini." Tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik penginapan, Evans bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


Selama beberapa detik Elena tak mampu menguasai tubuhnya yang kaku tak mau bergerak. Dia hanya bisa menatap kepergian Evans yang sudah menghilang dari sana.


Namun, begitu sentuhan Mrs. Amber terasa di pundaknya, tubuh Elena seolah tersadar. Dia pun segera berlari menyusul Evans, tanpa menghiraukan panggilan wanita itu.


Eva dan Mia, kedua cucu Mrs. Amber, menanyakan apa yang terjadi pada sang nenek.


"Mungkin, mereka sudah saling mengenal. Biarkan saja, itu bukan urusan kita," jawab sang nenek.

__ADS_1


__ADS_2