
Kerinduan yang tertanam selama lebih dari dua tahun membuncah seketika, tatkala wajah itu kembali terlihat jelas di depan matanya.
Penantian penuh luka, air mata dalam dekapan kemarahan, dan rasa sakit yang membelenggu, seolah terbayar saat dia dapat melihat kembali netra biru yang terpatri di wajah tampan itu.
Tangisnya pecah bersamaan dengan rasa rindu yang memburu.
Tanpa mempedulikan kenyataan, bahwa pria itu sempat menolaknya tadi, Elena terus berlari guna mengejar sosoknya.
Langkah kaki itu berhenti tepat di halaman penginapan.
Namun, tak ada seorang manusia pun terlihat di sana.
Elena tak ingin menyerah. Dia kemudian berlari menuju ke luar penginapan, meski tanpa mengenakan alas kaki.
Ditemani air mata yang mengalir membasahi pipinya, gadis itu berlari tunggang langgang tak tentu arah. Dia bahkan melewati sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari penginapan Mrs. Amber.
"Aku yakin itu Kak Evans! Aku yakin itu Kak Evans!" Bagai sebuah mantra, berulang kali Elena menggumamkan kalimat yang sama dengan suara tersendat-sendat.
Elena yakin sekali jika pria yang baru saja dilihatnya adalah Evans. Meski dengan kumis dan janggut yang tumbuh di wajahnya, Elena tetap dapat mengenali pria itu.
"Kak Evans," gumam Elena. Tak peduli kakinya telah kotor dan terluka, dia terus berlari ke arah jalan besar.
Evans yang ternyata sedang menyembunyikan diri di dalam mobil tersebut, kini mengangkat kepalanya.
Pria itu masih dapat melihat jelas bagaimana Elena berlari bak orang kesetanan tanpa alas kaki demi mencari dirinya.
Evans tersentak ketika melihat Elena nyaris saja terjerembab di aspal.
Matanya sama sekali enggan lepas dari sosok gadis itu.
Rasa takut membuat Evans tak mampu menemui Elena. Bayangan akan akhir hidup mereka di masa lalu bahkan kembali terngiang di kepala pria itu.
"Maafkan aku," ucap Evans lirih. Dia menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas, melewati Elena secepat mungkin.
Elena menghapus air matanya yang masih setia mengalir membasahi wajahnya.
Tanpa sadar, gadis itu ternyata sudah berjalan cukup jauh. Dia bisa saja tersasar entah ke mana jika seseorang tidak menemukan dirinya.
"Nona Elena!" Dennis yang baru pulang dari gudang berlari menghampiri gadis itu, setelah memastikan bahwa dia memang benar sosok Elena yang dikenalnya.
Pria muda itu memperhatikan penampilan Elena yang tampak berantakan. Belum lagi dia berlari tanpa alas kaki.
"Anda mau ke mana Nona? Mengapa Anda tidak memakai alas kaki?" tanya Dennis.
Elena tidak menjawab. Dia hanya menoleh ke sana kemari seperti tengah mencari keberadaan seseorang.
"Pria itu! Ke mana pria itu?" tanya Elena sembari menatap Dennis dengan wajah memelas.
"Pria itu? Pria yang mana Nona? Anda sedang mencari siapa?" Tak mengerti akan maksud dari perkataan Elena, pria muda itu mengajukan pertanyaan lain.
Namun, Elena tak juga menjawab. Gadis itu hendak pergi dari hadapan Dennis, jika saja dia tidak menahan lengan Elena.
Melihat penampilan Elena yang sangat kacau membuat Dennis enggan meninggalkannya di sana sendirian.
__ADS_1
Dia membujuk Elena untuk kembali ke penginapan. Namun, gadis itu memberontak dan berkata akan mencari seseorang terlebih dahulu. Dia bahkan meminta Dennis untuk membantu dirinya mencari orang yang sama sekali tidak dia ketahui identitasnya.
Dennis tentu saja menolak. Selain tidak mengenal, dia juga mengkhawatirkan kondisi Elena. Terlebih kakinya.
Dia pun sempat berdebat dengan Elena, sebelum akhirnya gadis itu mengalah, setelah dia berjanji akan membantunya besok.
Dennis yang menyadari langkah kaki Elena terseok-seok langsung mengajukan diri untuk menggendongnya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Elena, pria itu pun membawa gadis itu di belakang punggungnya.
Perlahan mereka menyusuri jalan menuju penginapan Mrs. Amber.
Sesampainya di penginapan, Mrs. Amber dan kedua cucunya ternyata sudah menunggu di sana dengan khawatir.
Begitu melihat kondisi Elena, mereka pun menyuruh Dennis untuk membawa tamu mereka ke kamarnya.
Dengan gerakan sangat hati-hati, Dennis menurunkan Elena yang kini telah tertidur.
Berlari sambil menangis pasti sudah cukup melelahkan bagi gadis itu.
"Eva, tolong ambilkan air dingin dan kotak P3K untuk Nona Elena," titah Mrs. Amber pada salah satu cucunya.
Gadis manis berusia 16 tahun itu pun bergegas pergi ke lantai bawah.
"Apa yang terjadi dengan Nona Elena, Nak Dennis?" tanya Mrs. Amber.
"Aku tidak tahu Grandma, sepulang dari gudang tak sengaja aku menemukan Nona Elena yang berjalan sendirian tanpa alas kaki, tak jauh dari sini. Sepertinya dia sedang mencari seseorang. Justru, aku ingin menanyakan hal ini pada Grandma. " kata Dennis panjang lebar.
Mendengar penjelasan Dennis, Mrs. Amber terdiam sejenak.
Itu pun kalau Elena bersedia.
...***...
Selama dua hari berada di penginapan, Elena selalu menunggu kedatangan Evans ke sana. Hampir setiap hari dia juga menunggu pria itu di kafe miliknya. Namun, Evans sama sekali tidak menampakan dirinya.
Kata Dennis, Evans juga tidak terlihat di gudang mau pun di rumahnya. Semua pengiriman dilakukan oleh karyawannya saja.
Peristiwa malam itu membuat Elena mau tidak mau menceritakannya pada Mrs. Amber, kedua cucunya, dan juga Dennis. Memang tidak semua, hanya hal-hal penting saja, seperti hubungan mereka berdua yang ternyata kakak beradik angkat.
Mendengar penjelasan Elena, mereka berempat cukup terkejut. Sebab dari yang Evans katakan, dia merupakan seorang anak yatim piatu yang lama tinggal di luar negeri, dan baru kembali ke tanah air setahun sebelum menetap di Blue Ocean City untuk merintis usahanya.
Elena sedikit kecewa mendengar penjelasan Mrs. Amber, sebab Evans sama sekali tidak menyinggung keluarga Wileen. Bahkan pria itu malah mengganti namanya.
Melihat kesedihan yang terpancar di wajah Elena, wanita paruh baya itu pun mengelus punggungnya lembut. Beliau sengaja tidak mengatakan apa-apa, karena tak ingin turut campur pada permasalahan keluarga mereka.
...***...
Setelah sarapan pagi, Elena memutuskan untuk kembali ke rumah Evans yang letaknya tak jauh dari penginapan. Rumah sederhana milik kakak angkatnya itu masih dalam kondisi serupa sejak dua hari yang lalu, yaitu gelap dan sepi.
Halaman kecil di depan rumah Evans pun terlihat semakin kotor.
Elena menghela napas pasrah. Dia pun berbalik hendak kembali ke penginapan.
__ADS_1
PRANG!
Elena sontak terkesiap begitu mendengar suara barang pecah dari dalam rumah Evans.
Keningnya berkerut saat mendengar ada suara benda jatuh lainnya.
Demi menghilangkan rasa penasaran, Elena bergegas membuka pintu pagar rumah Evans. Ragu-ragu, gadis itu mengetuk pintu rumah sang kakak sembari memanggil-manggil namanya. Selama dua hari kemarin Elena tidak pernah berinisiatif untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia hanya menunggu Evans di luar pagar selama beberapa menit sebelum kemudian pergi dari sana tanpa hasil.
Tidak mendengar jawaban apa pun dari sana, Elena mencoba membuka pintu.
"Kalau terkunci, aku akan meminta tolong Dennis," gumam gadis itu.
Entah keberuntungan dari mana, pintu rumah Evans ternyata tidak terkunci.
Elena membuka pintu lebih lebar dan masuk ke dalam. Bau menyengat dari minuman beralkohol langsung menerpa hidungnya.
Menggunakan senter ponsel, gadis itu berusaha mencari saklar lampu untuk menyalakan ruangan. Namun, dia sama sekali tidak menemukannya. Alhasil, mau tidak mau, Elena hanya bisa mengandalkan senter ponsel saja.
Ditemani seberkas cahaya senter, Elena bisa melihat kondisi ruang tamu rumah Evans yang dalam keadaan berantakan. Ada banyak botol minuman keras dan makanan ringan berserakan di sana.
Elena melangkah lebih dalam memasuki bagian rumah. Gadis itu berniat untuk membuka gorden agar cahaya matahari dapat masuk ke sana.
Namun, baru saja tangannya memegang gorden, seseorang sudah berdiri persis di belakang Elena. Saking dekatnya, dia bahkan bisa merasakan embusan napas orang itu.
"Kau memang gadis keras kepala!" seru orang itu.
Jantung Elena sontak bergemuruh.
Suara yang baru saja didengarnya memang suara Evans.
Elena hendak berbalik, tetapi Evans dengan sigap menahan tubuh dirinya agar tetap berada dalam posisi tersebut.
" ... dan kau, masih tetap menjadi pria yang menyebalkan, juga pengecut!"
Mendengar hinaan Elena, Evans lantas tertawa kecil.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Elena.
"Kau! Gadis bodoh yang gencar mencari kakaknya," jawab Evans dengan nada mengejek.
"Kau bukan kakakku. Aku sudah tahu semua."
Evans terdiam sesaat. "Kalau begitu, apa yang kau cari, gadis bodoh? Aku bukan kakakmu. Jadi, pergilah dari sini!"
Kini, Elena yang terdiam. Tangannya tampak mencengkeram erat gorden rumah Evans.
Tangan Evans kemudian terulur menuju tempat di mana Elena memegang gordennya.
Sembari mendekatkan diri ke telinga gadis itu, dia pun berbisik sinis. "Pergilah! Enyah dari hadapanku, wahai pengganggu!"
Mendengar hal itu, Elena menarik napas panjang. "Jangan pernah berani-beraninya mengusirku!"
"Aku berhak mengusirmu dari rum—" Perkataan Evans seketika terpotong, saat Elena tiba-tiba memberanikan diri berbalik menghadap pria itu dan memagut bibirnya.
__ADS_1
Evans hendak menjauh, tetapi Elena dengan erat mencengkeram kaos depan pria itu menggunakan satu tangannya. Sementara tangan yang lain dikalungkan pada leher pria yang sangat dia rindukan.