
"Kakak tidak masuk dulu?" tanya Elena pada Evans, saat mereka sudah tiba di rumah.
"Sudah malam, Papa dan Mama pasti juga sudah beristirahat. Lebih baik aku langsung pulang saja," jawab Evans.
"Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu." Elena bersiap membuka pintu mobil. Namun, tiba-tiba dia berkata sesuatu yang membuat Evans sedikit bertanya-tanya.
"Kak, cobalah mengingat-ingat, siapa tahu jauuuuuh sebelum kau mencintai 'wanita enam tahunmu' itu, kau telah mencintai wanita lain."
Meski bingung, Evans tetap tertawa menanggapinya. "Aku tak pernah berhubungan dengan wanita mana pun selain dia. Lagi pula, aku tahu benar pada siapa hatiku tertaut," katanya yakin.
"Jika kau masih menganggap dia lah wanitamu satu-satunya, berarti kau tidak pernah benar-benar tahu pada siapa hatimu telah termiliki."
Evans kontan terdiam. Entah mengapa, kata-kata yang dilontarkan Elena barusan menyentil hatinya.
"Memang apa artinya cinta sejati menurutmu?" tanya pria itu kemudian. Tiba-tiba saja dia ingin mengajukan pertanyaan seperti itu pada Elena.
"Aku tidak tahu benar apa artinya, tetapi yang jelas cinta sejati merupakan cinta yang sebenar-benarnya. Kakak tahu tidak, bahkan sebuah janji yang terucap oleh sepasang kekasih yang memiliki cinta sejati, akan terus abadi sampai mereka bereinkarnasi."
Mendengar itu, Evans tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Sepertinya kau terobsesi sekali dengan reinkarnasi. Memang ada apa?" tanyanya.
"Tidak ada. Aku hanya sangat menyukai hal-hal bersifat supranatural seperti itu. Aku yakin kau tak akan berani tertawa lagi setelah memahami maksudku."
Elena mengulum senyum misterius sembari membuka pintu mobil Evans. Namun, baru saja menurunkan satu kakinya, gadis itu tiba-tiba berbalik badan, seolah melupakan sesuatu.
Disaat bersamaan, Evans yang sedang mengambil sesuatu di kursi belakang mobil tiba-tiba menolehkan wajahnya ke arah Elena, sembari hendak menyodorkan tiga buah goodie bag milik gadis itu.
Jarak mereka yang sangat dekat membuat bibir Elena tanpa sengaja mencium sudut bibir Evans.
Keduanya mematung sesaat. Desir aneh timbul dalam benak Evans seketika. Kerinduan akan sesuatu membuncah di relung hati pria itu tanpa bisa dicegah.
Suara-suara asing yang tidak diketahui siapa pemiliknya pun, mulai terdengar samar memenuhi isi kepala pria berusia berusia 30 tahunan tersebut.
"Berjanjilah Iris, bahwa kita akan terus bersama."
"Aku sangat mencintaimu. Bahkan, ketika Tuhan menutup mata dan membiarkan kekejaman ini memisahkan raga kita, aku akan tetap mencintaimu."
"Argh!" Evans refleks memundurkan dirinya terlebih dahulu sembari memegang kepalanya yang terasa sakit.
Elena yang langsung tersadar, memegang pundak sang kakak dan merebahkan kepala pria itu di bahunya.
"Kak! Kenapa?" tanya Elena khawatir.
__ADS_1
Evans tidak menjawab, dia hanya mengerang kecil seraya memegang mencengkeram kepalanya terus-menerus. Sesekali, pria itu seperti menyuruh seseorang untuk berhenti bicara.
Elena tahu, bukan dia lah yang diminta Evans untuk berhenti bicara. Namun, gadis itu memilih diam dan membiarkan Evans tetap berada pada posisinya, sampai benar-benar tenang.
Setelah Evans merasa tenang, dan tak lagi kesakitan seperti tadi, Elena memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak apa-apa. Akhir-akhir ini aku hanya mengalami beberapa mimpi aneh yang susah dijelaskan," jawab Evans.
"Mimpi yang bagaimana?" tanya Elena penasaran. Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa mimpi tersebut mungkin saja berhubungan dengan masa lalu mereka. Sebab apa yang terjadi padanya juga bermula dari sepotong mimpi.
"Hanya mimpi horor." Jawab Evans sekenanya. Pria itu memutuskan untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena tak ingin dikulik lebih dalam.
Jawaban yang diberikan Evans tak serta merta membuat Elena percaya begitu saja. Namun, dia tidak ingin mengajukan pertanyaan lebih lanjut demi kenyamanan bersama.
Evans pun bergegas pamit pulang.
Di sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen, yang ada di pikiran Evans hanyalah sosok sang adik, Elena. Dia juga tidak bisa mengenyampingkan bisikan-bisikan samar yang hadir mengganggunya.
Bisikan samar yang sama sekali tidak dia kenali pemilik suaranya. Yang jelas, bisikan itu hadir setelah dia memimpikan hal-hal aneh.
Evans refleks memegang sudut bibirnya. Fokus pria itu kembali lagi pada Elena.
Masih teringat jelas bagaimana rasanya bibir sang adik ketika menempel ringan di sudut bibirnya.
Semenjak hubungan keduanya membaik, Evans tak pernah sekali pun menganggap Elena lebih dari adik kandungnya sendiri.
Namun, hanya dalam waktu hitungan menit saja semua itu berubah akibat satu kejadian tak disengaja, yang seharusnya tidak menjadi masalah berarti.
Buru-buru Evans mengenyahkan pikiran-pikiran anehnya. "Apa yang kau pikirkan, Bodoh! Dia adikmu!" maki pria itu dalam hati.
...***...
Elena sendiri sedari tadi mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. Meski gadis itu telah bersiap untuk tidur, ingatan akan kejadian di mobil tadi membuat jantung Elena tidak tenang.
Pertanyaan-pertanyaan akan perkataan sang kakak juga mengusik batin Elena.
Mungkinkah mimpi itu berhubungan dengannya? Apakah Evans akan mengingat masa lalu mereka, dan bagaimana jika hal itu terjadi? Apa yang harus dia lakukan sementara keduanya tak bisa bersatu.
"Aku tak ingin apa-apa selain dia tahu, bahwa aku tak pernah melupakan janjiku," gumam Elena.
...***...
__ADS_1
Jauh sebelum ingatan masa lalunya kembali, Elena pernah menjalani hidup normal sebagai putri bungsu dari keluarga Wileen. Gadis ceria yang manja dan terkadang kekanak-kanakan.
Namun, hal itu lah yang membuat Elena merasa dicintai keluarga dan teman-temannya. Termasuk Albern, cinta pertama sekaligus kekasih hatinya hingga detik ini, jika saja Iris tidak bersemayam dalam tubuhnya.
Ingatan masa lalu yang datang mau tak mau membuat perasaannya pada Albern terkikis sedikit demi sedikit. Dia bahkan mendeklarasikan bahwa hatinya telah dikutuk hingga hanya terpaut pada satu pria saja, yaitu Leon.
Meski pun demikian, Elena tidak merasa keberatan, sebab janji yang dia ucapkan adalah janji yang gadis itu tetapkan sendiri.
Namun konsekuensi dari janji itu adalah, dia harus kehilangan cintanya yang lain, seperti saat ini.
Elena dan Albern yang duduk saling berhadapan hanya bisa berdiam diri satu sama lain. Sudah sepuluh menit berlalu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Tahu bahwa dirinya lah yang memulai semua ini, Elena memilih membuka suaranya terlebih dahulu.
"Maaf atas segalanya, Al. Aku tahu penolakan waktu itu telah membuat harga dirimu terluka. Aku tidak bisa memberi alasan yang bisa meringankan kesalahanku," ucap Elena mengawali pembicaraan.
Albern terdiam sejenak. "Jadi?" tanyanya kemudian.
"Beri aku waktu untuk meyakinkan diri. Aku ingin memahami apa yang sebenarnya kurasakan saat ini."
Albern sama sekali tidak menanggapi perkataan Elena.
"Aku pun menyadari perubahan sikapku pasca kecelakaan tersebut, dan sekali lagi aku minta maaf." Elena tertunduk.
"Selagi memikirkannya, tak bisakah kau tetap memakai cincin ini sebagai pengingat. Siapa tahu dengan melihat cincin ini keyakinanmu padaku kembali seperti dulu."
Albern mengulurkan sebuah kotak cincin cantik berwarna biru tua.
Melihat kotak tersebut, perasaan bersalah Elena semakin menjadi. "Aku tak bisa, maaf."
Albern menghela napas pelan. Segelintir kekecewaan hinggap di diri pria itu.
Dia mengambil kembali kotak cincin yang diletakkan di atas meja tersebut.
"Baiklah, secara tidak langsung kau ingin kita beristirahat dulu. Aku akan mengikuti apa pun maumu. Kuharap, waktu istirahat yang kita gunakan ini tidak semakin membuatmu jauh dariku." Setelah berkata demikian, Albern berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Elena.
Elena menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Sekali lagi, maafkan aku," gumam gadis itu lirih.
Di dalam mobil, Albern terdiam sejenak. Dia mengatur napasnya yang terasa sesak, sebelum kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku kemeja.
__ADS_1
Pria itu mencari nomor telepon seseorang dan langsung menghubunginya.
"Aku butuh seorang mata-mata," titah Albern begitu orang yang dia hubungi mengangkat teleponnya.