Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 31 : Tanda Lahir Evans.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Seperti yang diperkirakan Dokter James beberapa waktu lalu, bahwa Elena proses penyembuhan yang terjadi di tubuhnya tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan tubuh manusia biasa. Terbukti, hanya dalam waktu tiga bulan saja gadis itu telah sembuh total dan dapat beraktifitas kembali seperti dulu.


Malah, orang awam yang tidak mengetahui kondisi Elena sebelumnya, pasti tidak akan menyangka dia pernah mengalami tragedi memilukan beberapa waktu lalu.


Kini Elena tengah disibukkan dengan kegiatan kuliahnya sebagai mahasiswi baru di kampus yang sama dengan Albern, sang kekasih.


Dulu, momen tersebut merupakan momen yang dia tunggu-tunggu. Kini Elena tak lagi merasakan hal yang sama. Padahal dia juga sudah berusaha membangkitkan kembali segala memori dan perasaannya untuk Albern. Dia bahkan sampai rela menghabiskan lebih banyak waktu bersama pria itu hampir setiap hari. Namun hasilnya tetap saja nihil.


Bukannya semakin mencintai Albern, dia malah semakin menaruh perasaan pada kakaknya sendiri.


Elena berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal segala perasaannya. Gadis itu bahkan sempat marah dan menangis berhari-hari. Dia menghardik Iris dan meminta wanita itu untuk pergi tanpa perlu menolongnya.


Elena sama sekali tidak peduli, bahwa dia bisa hidup karena sebagian dari jiwa Iris ada di dalam tubuhnya.


Namunkini, Elena mencoba menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan. Yang dapat dia lakukan saat ini adalah menjauh sebisa mungkin dari Evans.


Beruntung, sudah satu bulan ini Evans memilih pindah ke sebuah apartemen yang jaraknya dekat dari kantor. Pria itu juga menolak segala fasilitas yang diberikan Simon, seperti mobil dan supir pribadi. Dia berdalih ingin mulai hidup mandiri seperti yang dilakukannya di luar negeri. Padahal tanpa diketahui siapa pun, Evans berlaku demikian agar Elena bisa hidup nyaman di rumah. Sebab, dia sangat menyadari ketidaknyamanan Elena setiap berdekatan dengannya.


Elena juga terlihat lebih dewasa, mandiri dan tak lagi manja seperti dulu. Salah satu contohnya adalah, ketika gadis itu tak pernah lagi mengandalkan Lily dalam melakukan apa pun. Dia tak pernah lagi menyuruh Lily mengambil sesuatu. Elena bahkan sudah mulai belajar memasak dan mau membantu sang ibu di dapur.


Untuk seorang gadis seperti Elena, tentu perubahan itu cukup membuat keluarganya terheran-heran. Namun mereka tidak mempermasalahkannya. Justru mereka malah merasa senang, karena kelak ketika Elena sudah lebih dewasa, dia bisa hidup mandiri.


...***...


"Ya, Kak Jem?" sapa Elena sesaat setelah mengangkat teleponnya. Gadis itu kini tengah mengemudikan mobilnya menuju kantor, sepulang kuliah.


"Tuan Evans tidak bisa dihubungi dan aku tidak bisa meninggalkan kantor. Bisa kau datangi apartemennya, El?" tanya Jemima dari balik sambungan telepon.


"Memang dia tidak berangkat ke kantor hari ini?" Elena balik bertanya.


"Beliau meliburkan diri, tetapi salah satu klien penting tiba-tiba datang ke kantor tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Tak enak rasanya jika aku harus mengusir orang itu pulang."


"Oke, baiklah, aku akan ke sana sekarang," jawab Elena.


"Terima kasih, El, aku mengandalkanmu," ucap Jemima sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.


Elena segera memutar balik mobilnya menuju Golden Crown Apartment, tempat di mana sang kakak tinggal.


Sebagai seorang sekretaris, gadis itu tetap menjunjung tinggi profesionalisme. Setidaknya, mereka hanya akan bertemu pada saat jam kantor saja.


Tak butuh waktu lama Elena tiba di apartemen tempat tinggal Evans. Gadis itu naik lift menuju lantai 10 dan berjalan ke unit 1010.


Sesampainya di sana, Elena langsung menekan beberapa angka pada smart lock yang terpasang di unit tersebut.


Evans memang memberitahu Jemima dan keluarganya soal kode apartemen.

__ADS_1


"Kak!" Sembari melangkah masuk, Elena memanggil-manggil sang kakak tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


Gadis itu mengintip ke dalam kamar Evans yang kondisi pintunya dalam keadaan terbuka.


"Ke mana dia?" gumam Elena.


"El!" Suara Evans yang muncul dari belakang membuat Elena sontak berbalik badan.


Matanya terbelalak mendapati sang kakak ternyata baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai celana panjang tanpa atasan sama sekali.


Elena terpaku sesaat.


Evans melenggang melewati sang adik menuju ke kamarnya. Tanpa repot-repot menutup pintu terlebih dahulu, dia mencari kemeja di dalam lemari pakaiannya.


"Ada apa? Jemima menelepon dan menyuruhmu ke sini?"


Pertanyaan Evans sontak saja membuat lamunan Elena buyar seketika.


"Ya, ada klien yang sudah datang menunggumu," jawab Elena. Semula, gadis itu hendak berpaling dari sang kakak menuju menuju dapur, akan tetapi sebuah luka melintang yang berada di dada Evans mengalihkan perhatiannya.


Seraya membawa satu set kemeja yang tersampir di gantungan baju, Evans keluar dari kamar dan berhenti tepat di hadapan Elena.


"Hari ini aku memang berniat tidak ke kantor. Seharusnya kau tak perlu kemari, karena aku baru saja membaca pesan dari Jemima," ujar Evans.


Elena tidak menanggapi perkataan sang kakak. Gadis itu malah fokus menatap dada bidang Evans.


Evans yang hendak mengancingkan kemejanya kontan tersentak, saat Elena menyentuh luka yang terdapat di tubuhnya.


Evans terpaku menatap wajah Elena yang tampak sedih. Entah mengapa, sentuhan lembut itu membuat jantung Evans berdesir tak karuan.


"Dari mana Kakak mendapatkan luka ini?" tanya Elena lirih.


"Kata Mama dan Papa, luka ini sudah ada sejak aku lahir. Bisa dibilang, ini adalah tanda lahir yang kumiliki," jawab Evans jujur. Dia memang mendapatkan jawaban yang sama dari Madame Maria, sang pemilik panti asuhan tempat ya tinggal.


Mendengar jawaban seperti itu, Elena semakin yakin bahwa luka itu adalah luka milik Leon yang terbawa kepada sosok Evans.


Tanpa mempedulikan raut keheranan Evans, gadis itu meletakkan seluruh telapak tangannya hingga menutupi luka Evans.


"Pasti rasanya sakit sekali," ucap Elena.


Evans mengerutkan keningnya. "Ini sama sekali tidak sakit, karena ini bukan luka."


Seolah tidak mendengar, Elena terus bergumam kalimat tersebut beberapa kali.


Kerinduan benar-benar membuncah memenuhi rongga dada gadis itu. Sekuat tenaga dia mencoba menahan diri untuk tidak menerjang dan memeluk sosok sang suami di masa lalu, yang kini berubah menjadi kakak kandungnya.


Evans menggenggam tangan Elena yang berada di dadanya. "El," panggil pria itu kemudian.

__ADS_1


Elena tiba-tiba tersentak. Gadis itu terbelalak mendapati tangannya digenggam erat oleh Evans. Dengan sigap dia menarik kembali tangannya. "Ma—maaf, aku tak sopan. Luka itu membuatku penasaran."


"Tidak apa. Siapa pun yang melihat tanda lahir ini pasti penasaran, karena tidak terlihat seperti tanda lahir pada umumnya. " Evans mengancing seluruh kemejanya. "Jemima bahkan pernah menuduhku gangster karena tanda lahir ini," sambung pria itu seraya tersenyum kecil.


"Kak Jemima pernah melihat luka ini?" tanya Elena yang terkejut.


"Sesekali. Aku tak terbiasa ada orang lain yang turut mengurus diriku secara pribadi." Jawab Evans santai. Dia sama sekali tidak menyadari raut sinis yang Elena keluarkan.


Elena jadi mengingat perkataan Jemima soal sekretaris pribadi yang tak hanya membantu mengurusi pekerjaan atasan saja, melainkan juga kebutuhan pribadi mereka.


Elena menggeleng. Dia tak akan membiarkan Jemima melakukan hal itu lagi.


Baru saja Evans hendak mengambil dasinya dari gantungan baju, Elena sudah merebutnya terlebih dahulu. Sebagai sekretaris, secara profesional Elena memakaikannya ke leher Evans. Dengan cekatan dia membuat simpul dasi dan merapikannya. Setelah selesai memakaikan dasi, gadis itu juga turut membantu sang kakak memakai kemejanya.


"Mulai saat ini, jikalau pun ada yang harus membantu mengurus kebutuhanmu, biar aku saja. Sebab bagaimana pun juga, aku adalah sekretaris sekaligus keluargamu sendiri. Tak pantas rasanya jika ada wanita lain yang berlaku demikian," ujar Elena kemudian.


Evans lagi-lagi hanya bisa mengerutkan keningnya. Sikap Elena benar-benar tak bisa ditebak.


Tak ingin memusingkan hal tersebut, Evans memilih mengiyakan saja perkataan adiknya.


Selesai dengan seluruh pakaiannya, Evans kemudian memakai kaos kaki dan sepatu. Baru setelah itu, keduanya segera keluar dari apartemen. Elena membawa tas kerja Evans dan mengikutinya dari belakang.


...***...


Evans mengajukan diri mengemudikan mobil Elena. Pria itu tak mungkin membiarkan sang adik menyetir, sementara dia duduk manis di belakang. Walau Elena adalah sekretarisnya di kantor, tetap saja tak semua peran harus Elena lakukan.


Penyesalannya akan musibah yang menimpa sang adik membuat pria itu benar-benar berubah total.


...***...


Albern keluar dari dalam mobilnya dengan wajah kusut. Dengan penuh kemarahan, Albern menghapus bekas cetakan lipstik yang terdapat di sudut bibirnya.


Sesaat kemudian, wanita cantik berpenampilan seksi ikut keluar dari dalam mobil Albern. Wanita itu mengejar dan menarik tangan Albern untuk kembali ke dalam mobil.


"Lepaskan aku, Chyntia!" seru Albern sembari melepas genggaman tangan wanita itu.


"Kau tak bisa memperlakukanku seperti ini, Al! Kau yang datang padaku dan menawarkan pelampiasan, setiap kali bermasalah dengan Elena. Namun, saat aku telah menerima tawaran darimu, dan kita menjalaninya selama beberapa minggu ini, mengapa tiba-tiba kau ingin melepaskan semuanya begitu saja? Jangan bilang kau hanya memanfaatkan perasaan sukaku saja, Albern?"


Albern terdiam. Perasaan bersalah hadir memenuhi benaknya. Sejak Elena kembali dari maut, hubungan keduanya memang tak pernah berjalan dengan baik. Dia menyadari betul perubahan sikap yang ditunjukkan sang kekasih.


Tak hanya sikap saja, Elena bahkan tak pernah mau dicium lagi olehnya. Gadis itu selalu enggan melakukan kontak fisik dengannya, walau hanya sekadar berpegangan tangan.


Setiap bertemu, yang mereka lakukan hanya berdiam diri satu sama lain sembari mengobrol basa-basi.


Hal itu memicu konflik di dalam diri Albern. Untuk menghilangkan kerisauannya, pria itu memilih bersenang-senang dengan wanita lain.


Pilihannya jatuh pada Chyntia, teman kuliahnya yang sudah lama memendam perasaan pada Albern.

__ADS_1


Albern melunakkan sikapnya dan meminta Chyntia untuk meninggalkan dirinya seorang diri.


Selepas kepergian wanita itu, dia merogoh ponselnya dan menatap wajah Elena, yang terpajang di layar ponsel tersebut.


__ADS_2