Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 40 : Hilang?


__ADS_3

Sejak obrolan terakhir mereka kemarin, hubungan Elena dan Evans menjadi sedikit renggang. Elena sama sekali enggan mengajak sang kakak berbicara kecuali pada saat bersama dengan orang lain. Itu pun hanya seperlunya saja.


Evans menyadari kemarahan Elena. Pria itu juga sebenernya merasa sangat menyesal karena telah menyinggung perasaan adiknya tersebut. Kecemburuan yang dirasakan Evans membuat pria itu tidak bisa berpikir panjang, akan dampak dari apa yang dia katakan.


Sudah dua kali Evans meminta maaf pada gadis itu, tetapi tampaknya, Elena kali ini benar-benar merasa sangat emosi. Jangankan dimaafkan, dihiraukan saja tidak.


"Aku ingin berjalan-jalan dulu sebelum kembali ke hotel," kata Elena pada Jemima, ketika mereka baru saja keluar dari gedung pertemuan untuk meeting dengan klien Wileen Group.


Evans menoleh ke arah Elena. "Mau jalan-jalan ke mana? Biar aku temani," ujarnya pada gadis itu.


Elena terdiam. Dia sengaja tidak menjawab perkataan Evans dengan berpura-pura tidak mendengar.


Evans menajamkan pandangan matanya. Raut wajah pria itu berubah dingin.


Melihat ketegangan yang mungkin akan di antara kedua kakak beradik itu, Jemima pun memutuskan membuka suaranya. "Anda ingin jalan-jalan ke mana, Nona? Biar saya atau Tuan Evans yang menemani Anda."


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Besok kita sudah kembali pulang, dan aku sama sekali belum menikmati keindahan kota ini. Minimal, biarkan aku berjalan-jalan di sekitar sini selama satu atau dua jam saja."


"Tapi Nona, hari sudah menjelang malam. Bagaimana kalau kita pergi bertiga sambil makan malam bersama di luar?" Jemima yang merasa khawatir menawarkan diri sekali lagi. Kali ini, Evans mengangguk setuju.


Elena melirik ke arah sang kakak dengan tatapan sinis. "Ck! Tidak perlu. Aku ingin memgembalikan mood-ku. Lagi pula, ponsel ini tidak bisa memberikanku keleluasaan, bukan?" Gadis itu mengangkat ponselnya dengan wajah jengkel.


Alat pelacak yang ditanam pada ponsel Elena tersambung langsung ke ponsel Evans. Jadi, sudah pasti mereka akan selalu mengetahui di mana pun dirinya berada.


Tanpa menunggu persetujuan mereka, Elena memanggil taksi dan langsung pergi dari sana.


"Apa kita perlu mengikutinya, Tuan?" tanya Jemima sedikit khawatir.


Evans mengambil ponselnya dari dalam saku jas. Dia mengutak-atik ponsel tersebut selama beberapa saat, sebelum kemudian meletakkannya kembali ke tempat semula.


"Biarkan saja, aku ingin istirahat." Tanpa mempedulikan raut khawatir sekretaris pribadinya itu, dia pun masuk ke dalam taksi seorang diri.


Jemima bergegas menyusul atasannya ke dalam taksi, untuk kembali ke hotel.

__ADS_1


"Sok perhatian tetapi gemar menghinaku! Apa namanya kalau bukan munafik? Tak peduli dia suamiku di masa lalu, tetap saja sakit hati ini tidak bisa terbendung!" Elena melipat kedua tangannya. "Untuk sifat yang satu ini, sangat berbanding terbalik sekali dengan Leon."


Elena terdiam sejenak. "Apa Leon juga memiliki sisi menyebalkan seperti itu ya?" terka gadis itu seketika.


Sedetik kemudian, Elena kontan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak! Tidak! Leon tidak memiliki sifat jahat seperti itu!"


"Ck! Dari pada memikirkan orang menyebalkan seperti dia, lebih baik memikirkan ke mana aku akan bersenang-senang selama dua jam ke depan." Raut wajah Elena yang semula kesal, kini berubah sumringah. Berjalan-jalan seorang diri sepertinya merupakan pilihan yang paling tepat saat ini.


...***...


Setibanya di hotel, Evans langsung masuk ke dalam kamar, dan meminta Jemima untuk memesankan makan malam ke kamarnya.


Pria itu kembali mengecek ponselnya untuk melihat lokasi Elena.


Evans mengetik koordinat lokasi Elena, dan menemukan gadis itu sedang berjalan-jalan di sekitaran food street, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel mereka.


Setelah mengetahui ke mana Elena pergi, Evans pun memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian.


...***...


Gadis itu melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ini sudah lewat dari waktu yang telah ditentukan.


"Pria itu pas—" Belum Elena selesai bicara, ponselnya sudah berdering.


Dia menolak panggilan telepon Evans, dan mengetik pesan untuk Jemima untuk memberi kabar bahwa dirinya sedang dalam perjalanan pulang.


...***...


Evans sedang menikmati secangkir kopi seraya menatap suasana malam dari atas balkon kamarnya. Pria itu mendapat kabar dari Jemima, bahwa Elena tengah berada dalam perjalanan. Namun, sudah hampir setengah jam, gadis itu belum juga kembali. Padahal jarak dari food street ke hotel mereka hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja.


Evans tidak berpikiran macam-macam. Mungkin saja Elena sedang terjebak macet, karena kawasan tersebut memang sedikit padat.


Dia akan menunggu sepuluh menit lagi. Jika dalam sepuluh menit Elena belum juga muncul, Evans berniat akan menyusulnya ke sana.

__ADS_1


...***...


Elena yang sedari tadi tidak dapat menemukan taksi, memilih berjalan sebentar ke tempat yang tidak terlalu padat.


Jalan raya yang masih sangat ramai tidak membuat gadis itu merasa terlalu khawatir. Apa lagi, dia juga masih mendapati satu atau dua orang pejalan kaki, berada di sana.


Elena berhenti di sebuah halte bus yang tampak kosong. Dia berniat pulang menggunakan bus umum jika taksi belum juga terlihat.


Saat Elena sedang sibuk mengutak-atik ponselnya, sebuah mobil van hitam tiba-tiba berhenti tepat di depan gadis itu.


Tanpa disadari Elena, dua orang pria bermasker keluar dari dalam mobil dan langsung menyergap dirinya.


Elena sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan, karena mereka sudah membekapnya terlebih dahulu menggunakan sapu tangan yang sudah diolesi obat bius, hingga pingsan.


Gadis itu pun dibawa ke dalam mobil dan pergi secepat mungkin.


Ada tiga orang pria yang berada di dalam mobil gan hitam tersebut, dan salah satunya terlihat hendak menghubungi seseorang.


"Bos, kami sudah mendapatkannya. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuji ke tempat Anda."


Setelah berbicara demikian, pria itu segera menutup teleponnya. Tak lupa, ia juga memeriksa isi tas Elena dan menemukan ponselnya di sana.


Tanpa pikir panjang ia membuang ponsel tersebut ke jalan.


...***...


Evans keluar dari kamar hotel dengan langkah terburu-buru. Selang beberapa detik, Jemima juga turut keluar dari kamarnya dan mengikuti langkah sang atasan.


Wajah Evans terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak, sesaat tadi dia melacak lokasi Elena dan menemukan gadis itu sedang berjalan ke arah lain, sebelum kemudian menghilang, tepat sepuluh menit yang lalu.


Evans tahu betul Elena tidak akan pernah membiarkan ponselnya mati.


Mungkin saja kemarahannya membuat gadis itu sengaja mematikan ponsel. Namun, mengapa dia harus pergi berlawanan arah dari hotel?

__ADS_1


Demi menghilangkan kekhawatirannya, Evans memutuskan pergi ke tempat Elena bersama dengan sang sekretaris.


__ADS_2