Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 47 : Takdir Tak Bisa Diubah.


__ADS_3

"Sang nenek yang sangat mencintai kakek berusaha menyelamatkan suaminya dengan melakukan pembelaan, karena mereka sama sekali tidak mengetahui ada pohon-pohon yang ternyata dilarang ditebang. Akan tetapi, pembelaan hanyalah pembelaan. Untuk orang kecil seperti mereka, hukum tidak pernah terlihat adil. Sang nenek pun harus pasrah melihat sang suami dihukum mati di depan matanya sendiri." Suara Evans terdengar sedikit bergetar, tatkala mengatakan demikian.


Ingatan saat Iris tengah dig4g4h1 oleh Benjamin dengan sadis, kontan terngiang-ngiang dalam isi kepalanya.


Rasa panas tiba-tiba menguar dari seluruh tubuh Evans. Pria itu berusaha menahan diri untuk tidak menggenggam tangan Elena dan memeluknya erat.


"Malang sekali nasib mereka," ucap Elena lirih. "Lalu, bagaimana setelahnya?" tanya gadis itu penasaran.


Secercah harapan akan akhir baik dari kisah sepasang suami istri itu, dipanjatkan Elena sepenuh hati. Namun, apa yang Evans katakan selanjutnya sontak mengikis harapan tersebut.


"Si nenek yang begitu sangat mencintai sang suami, memutuskan untuk menyusulnya ke alam baka. Dia mengakhiri hidupnya sendiri dengan terjun ke sungai, tempat di mana mereka berdua sering menghabiskan waktu setelah lelah bekerja seharian."


Elena menahan napasnya. Entah mengapa, kisah yang baru saja diceritakan oleh Evans memiliki sedikit kemiripan dengan kehidupan mereka sebagai Iris dan Leon. Bayangan akan kematian mereka berdua di masa lalu tiba-tiba muncul lagi ke permukaan.


Elena buru-buru mengusap matanya yang mulai basah.


"Lalu ...,"


Elena menoleh. "Lalu? Ceritanya belum selesai?" tanya gadis itu kebingungan.


"Belum. Kita sedang membicarakan soal reinkarnasi, kau ingat?"


Elena terkesiap. Benar juga! Mereka saat ini tengah membahas perihal reinkarnasi, jadi sudah pasti cerita tersebut belum selesai sepenuhnya.


Elena tampak sabar menunggu perkataan Evans selanjutnya.


" ... kau tahu, mereka ternyata dihidupkan lagi beberapa ratus tahun kemudian sebagai seseorang yang baru. Keduanya lalu bertemu tanpa disengaja dan hidup bahagia. Namun, hidup mereka ternyata berakhir tragis seperti dulu. Berabad kemudian, mereka lahir dan bertemu kembali. Namun, seperti sebelumnya, mereka menikah dan mati dengan tragis."


Mendengar hal yang baru saja Evans katakan, Elena lantas termangu. Keheningan mulai melanda keduanya selama beberapa saat.


"Melalui cerita itu aku percaya akan adanya proses reinkarnasi. Namun, aku juga jadi mempercayai satu hal lagi. Kau tahu apa?" tanya Evans tiba-tiba.


Tanpa repot-repot memikirkannya terlebih dahulu, Elena menggelengkan kepala.

__ADS_1


" ... bahwa, jalan takdir seseorang tidak dapat diubah."


Elena mematung seketika. Seolah ada jutaan pisau tak kasat mata, menancap tepat di jantung gadis itu.


" ... bahwa jalan takdir seseorang tidak dapat diubah."


Perkataan Evans terus menerus terngiang di dalam isi kepala Elena.


"Itu tidak benar! Jangan mengambil kesimpulan sembarangan! Takdir seseorang jelas bisa diubah!" sergah Elena tegas. Matanya memandang Evans penuh kemarahan.


"Tidak semua takdir bisa diubah El. Takdir kaya akan menjadi miskin, atau miskin akan menjadi kaya, tentu bisa. Namun, tidak dengan jalan kematian," ujar Evans tenang. Dia menyadari betul, perkataannya tadi telah memancing emosi Elena.


"Tidak! Tidak! Itu bisa diubah. Aku tidak setuju dengan kesimpulanmu yang seenaknya! Kau tidak tahu apa-apa!" seru gadis itu keras kepala.


Evans mengerutkan keningnya. "Apa yang membuatmu berpikir, kalau kesimpulanku itu salah? Kau seperti pernah mengalaminya saja."


Elena tersentak. Bola matanya terlihat bergerak ke sana kemari dengan gelisah. "A—aku ... aku memang tidak pernah mengalaminya dan hanya membaca cerita soal reinkarnasi dari internet. A—anu, maksudku, jika reinkarnasi benar-benar terjadi dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengingatnya, bukankah itu berarti, Tuhan tengah memberi mereka kesempatan untuk merubah takdir di kehidupan selanjutnya?" Elena menatap lekat-lekat mata pria itu.


Evans terdengar serius saat mengatakannya. Pria itu menatap Elena yang saat ini sedang mengalihkan pandangannya pada sekumpulan bunga warna-warni di sana.


Elena merasa sangat gelisah, dan Evans dapat melihat jelas kegelisahan tersebut. Gadis itu bahkan tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas pangkuan, seerat mungkin.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku tidak akan pernah membiarkan takdir jahat membelenggu kita lagi!" Bagai sebuah mantra, dengan suara nyaris tak terdengar, Elena terus menggumamkan kata-kata yang sama.


Namun, siapa sangka, suaranya ternyata cukup terdengar di telinga Evans.


"Aku ke toilet sebentar." Evans berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Elena sendirian.


Alih-alih pergi ke toilet, pria itu malah menyembunyikan diri di balik salah satu pohon besar dan bersandar di sana. Sedetik kemudian, tangisnya pecah tanpa bisa terbendung.


Ini lah alasan utama mengapa Evans membahas soal reinkarnasi. Semua tak lebih untuk memenuhi rasa keingintahuan pria itu akan ingatan sang adik.


Melihat reaksi dan kata-kata yang dilontarkan Elena, membuat dia sangat yakin bahwa gadis itu ternyata telah mendapatkan ingatan masa lalunya juga, jauh sebelum dirinya.

__ADS_1


Pasalnya, Elena pernah membicarakan tentang reinkarnasi seorang putri kerajaan dan pria biasa, beberapa waktu lalu saat mereka sedang makan malam di apartemen.


Evans berusaha mengatur napasnya perlahan.


Dia masih mengingat betul, ketika Leon memberitahu melalui mimpi, bahwa mereka berdua merupakan reinkarnasi ketiga. Namun, jalan takdir di dua kehidupan mereka sebelumnya berakhir sama. Tak ada kebahagiaan. Hanya ada air mata dan pertumpahan darah saja.


Entah mengapa, Evans memiliki keyakinan bahwa mereka tidak boleh bersatu. Sebab, jika hal itu sampai terjadi, tragedi mereka pasti akan terulang kembali.


Itulah mengapa, dia mengarang akhir cerita sepasang kakek nenek tadi.


"Takdir tidak akan bisa diubah El!" Batin pria itu sembari menatap Elena yang tengah duduk membelakanginya.


Sementara itu, Elena menangis tersedu-sedu di kursi taman seorang diri. Sesekali, tangan gadis itu terlihat memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak.


"Tidak akan kubiarkan hal ini kembali terulang!" serunya marah. "Tak akan pernah kubiarkan!"


...***...


Tak berapa lama, Elena dan Evans akhirnya tiba di rumah utama keluarga Wileen. Sekembalinya Evans dari toilet, mereka tak lagi membicarakan obrolan sebelumnya.


Pembicaraan terhenti begitu saja. Bahkan, saat di perjalanan tadi, keduanya hanya saling berdiam diri karena fokus dengan pikiran masing-masing.


"Terima kasih, Kak," ucap Elena datar sembari membuka seatbelt-nya.


"Beristirahatlah, besok aku akan menjemputmu," kata Evans tanpa turun dari mobil. Pria itu rencananya akan pergi ke kantor terlebih dahulu, sebelum pulang ke apartemen. Selagi jam kantor belum berakhir.


Sementara Elena memang sedang dibebas tugaskan selama beberapa waktu, hingga kondisi psikisnya benar-benar pulih.


"Tidak perlu, aku bisa membawa mobil sendiri," tolak Elena cepat.


"Besok aku akan menjemputmu!" Evans mempertegas perkataannya.


Meski terlihat kesal, Elena akhirnya mengiyakan tawaran sang kakak. Dia tak lagi memiliki tenaga untuk berdebat dengan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2