Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 9 : Bayangan Leon.


__ADS_3

Ketukan pintu yang sedari tadi dilayangkan Evans sama sekali tidak digubris Elena. Pria itu bahkan sudah memanggil-manggil namanya. Namun, tak ada sahutan apa pun dari dalam.


Evans baru saja hendak pergi dari sana, ketika tiba-tiba tangannya tanpa sengaja menekan handle pintu kamar Elena, dan terbuka.


Mengetahui bahwa pintu kamar gadis itu tidak terkunci, Evans pun perlahan masuk ke dalam sana.


Pria itu mengerutkan keningnya dalam-dalam, ketika mendapati sang adik sedang menangis dengan mata terpejam.


Gadis itu benar-benar sedang menangis terisak-isak sembari memanggil nama seseorang.


"Leon? Siapa Leon? Apa dia kekasihnya?" Batin Evans saat mendengar nama tersebut


Bukannya mereda, tangisan Elena malah semakin menjadi. Hal itu membuat Evans sedikit panik.


Takut tangisan sang adik terdengar sampai keluar kamar dan menimbulkan kesalahpahaman, Evans akhirnya membangunkan Elena.


"Elena," panggil Evans seraya menusuk pipinya dengan jari telunjuk selama beberapa kali.


Sekali, dua kali, bahkan tiga kali, Evans memanggil namanya, tetapi Elena sama sekali tidak terbangun. Namun, begitu panggilan keempat, Elena sontak membuka matanya dan langsung duduk dengan tubuh gemetaran.


Tak hanya sampai disitu, Elena seperti berusaha menyingkirkan sesuatu tak kasat yang hinggap di seluruh tubuhnya.


Evans yang melihatnya semakin khawatir sekaligus bingung.


"El," panggil Evans sembari memegang bahu sang adik.


Elena yang terkejut disentuh, refleks menepis tangan Evans dan meneriaki pria itu untuk tidak memegang tubuhnya.


"Hei, ini aku!" seru Evans.


"Tidak! Pergi! Pergi!" Elena memejamkan mata dan menutup kedua telinganya rapat-rapat.


Hati Evans tiba-tiba melunak. Dengan gerakan selembut mungkin, pria itu mendekap tubuh adiknya dan mulai menenangkan gadis itu.


"Hei, tenanglah, kau sudah baik-baik saja," ucap Evans lembut. Dia mengucapkan kalimat tersebut berkali-kali seraya mengelus kepala Elena.


Sadar bahwa dia kini berada di atas tempat tidur dan dalam pelukan sang kakak, Elena akhirnya berhenti menangis


Tangannya mencengkeram kuat kaos Evans, seolah meminta untuk tidak dilepaskan.


Evans mau tidak mau tetap berada dalam posisi yang sama hingga Elena benar-benar merasa tenang.


"Aku takut!" seru Elena dengan suara serak.


"Tenanglah, kau baik-baik saja," ucap Evans.


Setelah Elena berhenti menangis, Evans kembali merebahkan tubuh sang adik dan memintanya beristirahat. "Aku akan menyuruh Lily untuk mengantarkan makanan ke sini," ujar Evans.

__ADS_1


Elena hanya bisa mengangguk. Dia memang tidak memiliki tenaga untuk turun ke lantai bawah karena terlalu banyak menangis.


Mimpi yang baru saja dialaminya benar-benar terasa sangat nyata dan itu menakutkan.


...***...


"Kenapa lama sekali Sayang? Mana adikmu?" tanya Samantha begitu melihat sang putra muncul seorang diri.


"Tidur, Ma. Biar Lily saja yang mengantar makanan ke atas nanti." Jawab Evans.


Simon dan Samantha menanggukkan kepala. Sepertinya kedua putra-putri memang sedang tidak mengalami bentrokan kecil.


...***...


Keesokan paginya, Elena keluar dan turun dari kamar untuk sarapan. Wajahnya terlihat biasa-biasa saja, seolah tak ada hal apa pun yang terjadi.


Melihat itu, Evans merasa sedikit lega.


...***...


Hari libur biasanya menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi Elena. Namun, semenjak kehadiran Evans, gadis itu merasa tidak kerasan di rumah.


Ada saja alasan yang Elena utarakan agar bisa pergi keluar rumah. Seperti bermain di rumah Jenny, atau pergi jalan-jalan dengan sang kekasih, Albern.


Namun, karena kedua orang kesayangannya itu sedang sibuk, Elena terpaksa hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Dia tidak mungkin terus mengurung diri di kamar.


Evans yang baru turun dari lantai dua juga menanyakan hal yang sama.


"Ada undangan dari salah satu kolega Papa, setelah itu kami akan pergi mengunjungi Uncle Ben. Kalian baik-baik di rumah ya," pesan Samantha. Beliau mencium pipi Evans dan Elena bergantian. Begitu pula dengan Simon.


Elena membelalakkan matanya. Kenapa saat dia di rumah, mereka harus pergi? Apa lagi, setiap weekend begini beberapa maid mengambil libur.


Elena tertunduk lesu, seolah sudah bersiap ingin menangis.


"Oke kalau begitu aku aka—"


"Jangan mengurung diri di kamar, El. Kau juga Evans. Dari pada hanya berleha-leha di kamar dan ruang kantor, lebih baik kalian bersihkan taman belakang. Pak Bardon sudah beberapa hari ini tidak masuk karena pulang ke kampung halamannya, dan Papa belum menemukan pengganti beliau sementara," kata Simon panjang lebar.


"Good! Semakin indah hari liburku ini!" Batin Elena jengkel.


Selepas kepergian kedua orang tuanya. Evans dan Elena pun pergi ke taman belakang bersama Lily.


Setiap weekend, para maid yang tidak mengambil libur diperbolehkan sedikit bersantai dan memakai pakaian bebas.


"Mana saja yang harus dibersihkan?" tanya Evans pada Lily.


Lily meringis. "Ini semua Tuan Muda. Anda harus memotong rumput menggunakan Lawn Mower, lalu membersihkan daun mati pada tanaman-tanaman, sekaligus menggantinya jika tanaman sudah mati."

__ADS_1


Helaan napas keluar dari mulut Evans. Matanya kemudian mengerling pada sang adik.


"Aku memotong rumput saja!" jawabnya cepat, seolah mengerti akan arti dari tatapan mata Evans.


Lily berjalan menghampiri gudang untuk mengambil mesin pemotong rumput dan peralatan lainnya.


Dia pun memberi pengarahan singkat pada Elena cara menggunakan mesin tersebut. Ada tiga lawn mower yang mereka miliki dan Lily memberikannya mesin teringan, agar majikan mudanya tersebut dapat mengendalikan dengan mudah.


Sementara itu, Evans mulai berkutat dengan tanaman-tanaman yang perlu diperbaiki.


Mereka tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga tidak terasa setengah wilayah sudah selesai Elena bersihkan.


Lily memberikan Elena dan Evans, masing-masing topi jerami besar untuk menghalau sinar matahari yang sudah mulai berada di atas kepala mereka.


"Beri aku waktu istirahat sebentar," pinta Elena lesu.


"Biar saya teruskan Nona." Lily menawarkan diri menggantikan Elena, sementara gadis itu duduk di kursi taman yang berada tak jauh dari posisi Evans.


Anna, salah seorang maid lain yang tidak libur, datang menghampiri mereka sembari membawa nampan berisi seteko minuman dingin, dua gelas kosong, dan sepiring kue.


"Terima kasih, Anna," ucap Elena. Gadis itu menenggak minuman dinginnya, setelah Anna menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas.


"Sama-sama, Nona."


Mata Elena kemudian bergulir pada Evans yang sedang merenggangkan seluruh otot-otot tubuhnya yang kaku.


Elena terpaku. Di bawah teriknya matahari, sosok pria yang semula dilihatnya sebagai Evans, tiba-tiba berubah seketika.


"Aku mencintaimu, Iris."


"Berjanjilah, bahwa kita akan terus bersama."


Suara-suara asing tiba-tiba terdengar di telinga Elena, hingga membuat kepala gadis itu mulai terasa berdenyut menyakitkan.


"Jangan pernah menangisi kematianku, Iris. Ingatlah, meski kita tak bisa meraih kebahagiaan pada kehidupan ini. Di kehidupan selanjutnya, aku berjanji akan membahagiakan dirimu."


Gelas yang dipegang Elena jatuh seketika, seiring tetesan air mata yang mengalir membasahi pipi gadis itu.


"Nona El!"


"Nona Elena!"


Sebelum benar-benar tumbang, samar-samar Elena masih bisa mendengar teriakan Lily dan Anna, disusul siluet seorang pria yang berlari menghampiri dirinya.


"Leon," ucap Elena lirih.


Tubuh Elena nyaris terjerembab di atas rumput, jika saja Evans tidak segera menangkapnya.

__ADS_1


__ADS_2