
Peresmian Pabrik Otomotif milik Wileen Group berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Pasalnya, peresmian tersebut juga turut mengundang para warga setempat untuk ikut menikmati hidangan yang disediakan pihak Wileen Group.
Selain itu, beberapa anak-anak dibawah umur juga diberikan tour cuma-cuma mengelilingi pabrik.
Acara terbuka itu memang usulan langsung dari Elena dan Simon agar masyarakat dapat melihat seperti apa pabrik yang digadang-gadang merupakan pabrik dengan teknologi tinggi dan ramah lingkungan tersebut.
Acara tersebut baru selesai pada sore hari, dan kini Elena dan Jemima sedang berada dalam perjalanan menuju Destiny Cafe.
Semula, Jemima menolak permintaan Elena untuk pergi ke sana, sebab akan menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam. Namun, keinginan Elena untuk melihat laut tidak terbendung.
Alhasil, Jemima harus mengalah dan menuruti keinginan atasannya itu.
...***...
Seorang gadis berambut pendek terlihat gaduh saat memasuki sebuah kafe kecil yang sedang dalam keadaan ramai.
Gadis tersebut berlari menuju ruang belakang, untuk menaruh tas dan jaketnya.
"Kau terlambat sepuluh menit, Eve!" tegur Dennis yang tengah membersihkan cangkir espresso. Matanya memicing sinis rekan kerjanya tersebut.
"Maaf ... maaf, tadi, kan, aku sudah semaksimal mungkin berangkat sebelum acara selesai, tapi bus ternyata datang terlambat," ujar Eve membela diri. Gadis itu memakai apron kerjanya dan mulai membantu Narnia yang tengah mengisi ulang es batu.
Dennis yang masih kesal terus saja menyalahkan Eve yang ngotot ingin melihat pembukaan pabrik baru di kota. Narnia juga ikut bersuara dengan mengomeli mereka berdua yang tidak pernah akur.
Mendengar ribut-ribut kecil yang ditimbulkan karyawannya, Chris pun keluar dari dalam ruangan kerjanya dan menegur mereka bertiga.
"Kalian ini tidak bisa akur barang sebentar saja. Apa yang kalian ributkan sebenarnya?" tanya Chris seraya bertolak pinggang.
"Eve, Kak. Dia terlambat datang karena menghadiri peresmian pabrik Wileen Group di kota. Sudah tahu perjalanan dari sana ke sini lumayan jauh!" seru Dennis.
"Aku tahu! Tapi, kan, sudah kubilang, bus ternyata datang terlambat! Jadi itu bukan salahku!" sahut Eve tidak mau kalah.
Mendengar pembelaan Eve, Dennis tidak terima. Mereka pun berdebat sengit, hingga akhirnya Chris harus menegur mereka sekali lagi.
"Cukup bertengkarnya! Lihat itu, kafe kita sedang ramai oleh pengunjung. Jangan buat mereka tidak nyaman. Kembali bekerja."
Eve dan Dennis langsung bungkam. Mereka mengangguk patuh dan langsung pergi melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Chris menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. Dia pun kembali masuk ke dalam ruangannya.
Pria itu duduk di depan laptopnya kembali. Dia sedang membuat tabel pendapatan kafe sekaligus laporan gaji para karyawannya.
__ADS_1
"Dia terlambat datang karena menghadiri peresmian pabrik Wileen Group di kota."
Perkataan Dennis tiba-tiba terngiang di kepala Chris. Dia menghentikan pekerjaannya sejenak, sebelum kemudian mencari sesuatu di internet.
Sebuah foto pabrik otomotif muncul di layar laptop Chris. Berita pembukaan pabrik tersebut sangat ramai di internet. Di sana juga terdapat beberapa potongan video, dan Chris membuka salah satunya.
Video tersebut ternyata merupakan video pidato Elena setelah acara pengguntingan pita.
Gadis itu berpidato di depan khalayak ramai dengan penuh wibawa. Dia juga tampak semakin cantik dan terlihat lebih dewasa.
Chris menghentikan video tepat ketika wajah Elena diambil dari jarak dekat.
Tangannya kemudian terulur menuju layar laptop guna mengelus lembut wajah adik angkat sekaligus gadis yang sangat dicintainya itu.
Sejuta kerinduan hadir dalam dada Chris. Dua tahun sudah dia meninggalkan Elena dan keluarga Wileen untuk hidup sendiri.
Jangankan meninggalkan pesan, bahkan sepeser uang pun sama sekali tidak dibawa olehnya.
Semua yang dia capai di sini murni menggunakan uang depositonya saat dulu tinggal di luar negeri.
Tentu ada banyak alasan mengapa dia memilih pergi meninggalkan Elena dan keluarga angkatnya. Namun, yang lebih membuat dirinya yakin untuk pergi adalah, takdir mereka berdua.
Agar mereka siklus hidup dirinya dan Elena tidak terulang, dia beranggapan bahwa perpisahan adalah solusi yang tepat.
Setahun pertama hidup sendirian, Evans, atau kini bernama Chris, harus berjuang membangun usahanya.
Syukurlah, bekalnya sebagai Direktur dan CEO memudahkan pria itu untuk membangun usahanya.
Tak puas hanya membangun gudang pengiriman daging beku, dia juga langsung membangun sebuah kafe dua tingkat di pinggir pantai.
Kini, setelah dua tahun berjalan dia sudah memiliki enam orang karyawan untuk mengelola kafe, dan sepuluh orang karyawan gudang, termasuk Dennis yang menjadi karyawan ganda.
Kendati demikian, bayangan akan Elena masih terus terngiang-ngiang di ingatannya. Bahkan, mimpi mereka hingga detik ini masih menghantui pria itu.
Suara ketukan pintu membuat lamunan Chris buyar. Rupanya Eve yang sedang mengetuk pintu.
"Ada apa, Eve? Masuklah," titah pria itu.
"Kak, Dennis sedang terlibat masalah dengan orang lain?" tanya Eve tanpa basa-basi.
"Kenapa memangnya?" Chris yang tampak belum memahami maksud Eve, balik bertanya.
__ADS_1
"Itu, ada dua orang wanita datang dan mengajak Dennis bicara. Sepertinya soal mobil."
Mendengar jawaban Eve, pria itu pun tersentak. Dia ingat kemarin Dennis membuat mobil orang lain mengalami kerusakan.
"Ahh, begitu rupanya. Baiklah, aku akan ke depan. Kau, kembalilah bekerja." Chris berdiri dari kursinya dan berjalan ke luar ruangan. Eve pun kembali ke tempat.
Baru saja dia hendak keluar dari pantry, tiba-tiba matanya terbelalak.
Pasalnya, dua orang wanita yang sedang bicara dengan Dennis tersebut adalah Elena dan Jemima.
Buru-buru, pria itu berbalik arah dan pergi kembali ke dalam ruangannya.
Tak lupa dia memanggil Eve kembali.
"Ada apa, Kak?"
"Mereka yang berurusan dengan Dennis?" tanya Chris.
"Iya. Loh, bukannya Kakak sudah tahu. Aku juga kaget sih, ternyata Nona Elena yang datang."
"Kenapa tidak memberitahuku sejak awal?" Chris terlihat panik.
"Loh, kan, tadi sudah aku bilang. Kupikir Kakak sudah tahu," ujar Eve.
Chris menghela napas gusar. Pria itu kemudian mengambil cek kosong dan menyuruh Eve untuk memberikannya pada Dennis untuk mengganti biaya mobil tersebut.
"Kalau mereka menanyakanku, bilang saja aku baru keluar!"
Kendati kebingungan dengan tingkah bosnya, Eve pun tetap mengiyakan perintah pria itu.
Setelah gadis muda itu keluar, diam-diam, Chris mengintip dari balik pintu untuk memperhatikan mereka.
Terlihat, Eve sedang menghampiri Dennis, Elena dan Jemima lalu mengatakan sesuatu.
Jemima terlihat tidak suka mendengar perkataan Eve, tetapi Elena berusaha menenangkan wanita itu.
Chris menggeleng kepalanya seraya tersenyum. Jemima memang selalu tegas pada orang lain.
Mata pria itu kemudian fokus pada sosok Elena.
Melihat gadis itu secara langsung, membuat kerinduan yang telah lama bersemayam di diri Chris semakin berkembang.
__ADS_1
Dia tengah berusaha menahan diri untuk tidak melangkah keluar dari sana.
Elena pasti jauh lebih bahagia tanpa dirinya. Hal tersebut bisa terlihat sangat jelas di wajah gadis itu sekarang.