Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 15 : Hari Pertama Bekerja.


__ADS_3

Elena saat ini tengah berdiri canggung di sebelah Jemima. Tepat di hadapan gadis itu, hampir seluruh karyawan kantor yang berada di lantai 20 ini, menyambut kedatangan dirinya sebagai sekretaris baru CEO mereka.


Tak sampai satu bulan sejak hari kelulusan sekolah, beliau langsung mendapuk sang putri bungsu untuk menjadi sekretaris pribadi Evans di kantor bersama dengan Jemima.


Selagi menunggu masuk ke dunia perkuliahan yang baru akan dimulai kurang lebih tiga bulan lagi, gadis itu akan full bekerja di kantor dari pagi sampai sore. Baru setelah masuk kuliah, Elena hanya akan bekerja dari siang sampai sore, setelah pulang dari kampus. Itu pun hanya dua atau tiga hari saja.


Elena sama sekali tidak berdaya dan pasrah menerima nasibnya. Dia yang berharap bisa fokus kuliah, mau tidak mau harus membagi fokusnya untuk bekerja juga.


"Sekali lagi, selamat datang Nona Elena," ujar Mr. Raymond, kepala HRD Wileen Group.


"Tolong, panggil saya Elena saja. Perlakukan saya seperti karyawan biasa. Salam kenal semua, mohon bantuannya. Silakan untuk langsung menegur, jika saya melakukan kesalahan." Gadis itu tersenyum simpul sembari membungkuk hormat.


Para karyawan serempak melakukan hal yang sama. Mereka tentu tidak terbiasa jika harus menyamaratakan Elena dengan karyawan lainnya.


Melihat sikap para karyawan, Elena sontak meringis tak enak. Dalam hati dia berharap tidak membuat nama ayah dan kakaknya malu.


...***...


Setelah sesi perkenalan singkat, Jemima langsung mengajak Elena berkeliling sejenak, sebelum akhirnya mengajak gadis itu masuk ke dalam ruang kerja mereka.


"Ini mejaku, dan itu mejamu." Jemima menunjuk meja kerja Elena yang berada di seberang mejanya. Sementara itu, sebuah pintu terletak persis di tengah-tengah mereka. Pintu itu adalah pintu masuk ke ruangan Evans. Jadi, kalau ada karyawan yang ingin masuk ke sana, mereka harus melewati keduanya terlebih dahulu.


Suara dering telepon yang ada di meja Elena berbunyi. Buru-buru gadis itu menerima teleponnya.


"Ke ruangan saya sekarang!" Hanya itu sepenggal kata yang keluar dari mulut Evans pada gadis itu.


"Aku disuruh ke ruangannya, Kak," kata Elena. Gadis itu memang memanggil Jemima dengan sebutan, Kakak. Itu terdengar jauh lebih baik dari pada panggilan sebelumnya yang terdengar sangat menjengkelkan bagi wanita itu, yaitu Mrs.


"Menikah saja belum!" Batin Jemima kesal, ketika mendengar panggilan yang disematkan adik bosnya sendiri.


"Ya sudah, masuk saja." Jemima mengendikkan dagunya ke arah pintu, lalu duduk di kursinya.


Perlahan, Elena masuk ke dalam ruangan Evans setelah mengetuk pintunya dua kali.

__ADS_1


"Permisi, Tuan Evans," ujar gadis itu. Demi keprofesionalan kerja, Elena harus memanggil Evans dengan sebutan kehormatan.


Gadis itu melangkah menghampiri meja Evans. "Ada yang bisa saya ba—"


Belum juga Elena selesai berbicara, pria berusia 30 tahun itu melempar setumpuk berkas ke atas mejanya.


"Pelajari ini semua. Besok akan ada rapat penting, jangan sampai kau mengandalkan Jemima dan jadi benalu di kantor ini!" Tanpa mempedulikan perasaan sang adik, Evans mengeluarkan kata-kata pedas yang sangat menyakitkan.


Elena melipat kedua bibirnya. Dengan tangan sedikit gemetaran, dia mengambil tumpukan berkas tersebut dan mendekapnya erat-erat. "Baik, Tuan. Ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Elena penuh kesopanan.


"Buatkan kopi. Jangan terlalu manis tetapi jangan terlalu pahit juga." Jawab Evans tanpa mengalihkan pandangannya pada Elena.


Elena menganggukkan kepalanya. Berusaha tidak terjadi apa-apa, dia pun pamit undur diri dari ruangan Evans.


Sesampainya di luar, Jemima menghampiri Elena. "Apa ini?" tanya wanita cantik itu.


"Aku disuruh mempelajarinya, Kak. Bisa tolong aku? Besok akan ada rapat penting dan aku tidak boleh sampai tidak mengerti apa-apa." Elena mematri senyum simpul.


"Ok, baiklah."


"Kalau begitu, kemarikan berkas-berkasnya. Ingat untuk menambahkan satu sendok teh gula di kopi susu instannya," kata Jemima mengingatkan.


"Ok, Kak." Elena pun melangkah meninggalkan ruangan, dan pergi menuju pantry yang letaknya tak jauh dari sana.


Ada tiga jenis kopi susu yang ada di hadapan gadis itu. Setelah sempat bimbang memilih, dia pun memutuskan mengambil satu sachet kopi susu dengan kandungan kafein paling rendah. Elena juga tak lupa menambahkan satu sendok teh gula dan mengaduknya hingga rata.


Selesai membuatkan minuman tersebut, dia langsung pergi menuju ruangan Evans.


"Ini Tuan, kopinya. Saya permisi dulu," ucap Elena sembari meletakkan cangkir kopi di hadapan Evans, sebelum kemudian pamit undur diri.


"Tunggu!" Evans mengambil cangkir tersebut dan meminumnya.


Tak sampai dua detik, pria itu menyemburkan kopi yang baru saja dia minum ke lantai.

__ADS_1


"Kopi ini terlalu manis! Sudah kukatakan untuk tidak membuat kopi yang terlalu manis dan terlalu pahit. Bodoh sekali kau!" hardik Evans.


Elena tersentak. Seumur-umur, dia tak pernah mendapat bentakan dari keluarganya. Namun kali ini, dia baru saja mendapatkannya dari atasan sekaligus kakak sendiri.


"Kata Kak Jemima, satu sendok teh gula ditambahkan ke kopi Anda, Tuan," ujar Elena membela diri.


"Sekarang aku tidak suka! Cepat, singkirkan minuman sampah ini dan bersihkan tumpahannya!" seru Evans.


Segores luka tercipta di hati Elena. Dia tak pernah menyangka sikap Evans juga sedemikian kejam di tempat kerja. Gadis itu jadi berpikir, bahwa Evans memang sengaja memanfaatkan situasi untuk menyakiti dirinya lebih dalam.


Elena tak boleh lemah. Dia tak ingin mengadukan hal ini pada sang ayah. Sebab percuma saja, sang ayah pasti hanya akan meminta gadis itu untuk bersabar lebih lama.


Lagi pula, dunia kerja memang sangat menakutkan ... dan dia sangat memahami hal tersebut.


Bergegas Elena membawa kopi susu tersebut ke dapur dan kembali ke ruangan Evans dengan membawa selembar kain lap.


Jemima yang menyadari hal tersebut mencoba membantu Elena, tetapi Evans dengan tegas melarangnya.


"Biar saya saja, Tuan, Nona Elena ak—"


Jemima sontak terdiam tatkala mendapati sorot mata dingin yang Evans tunjukkan padanya.


Wanita itu sama sekali tidak mengerti, mengapa Evans bisa bersikap kasar pada adiknya sendiri. Walau mereka harus bersikap profesional, tetapi rasanya sangat keterlaluan memperlakukan sang adik seperti itu.


"Biar aku saja, Kak. Kakak bisa kembali ke depan. Nanti aku susul." Elena memasang senyum termanis yang dia miliki. Namun, Jemima dapat menangkap sorot kepedihan yang tersirat di sana.


"Jangan terlalu memaksakan diri ya?" Jemima memegang pundak Elena sebelum undur diri keluar ruangan Evans.


"Membuat minuman saja tidak becus, bagaimana bisa bekerja! Besok, jangan sampai kau mencoreng wajahku, dengan berbuat hal memalukan. Aku tidak akan pernah menolerir kesalahan yang dibuat!"


Mendengar hal tersebut, Elena sontak memegang tangan kanannya yang sedang membersihkan tumpahan kopi dengan gemetar.


"Baik, Tuan. Sekali lagi, maafkan kesalahan saya hari ini," ucap gadis itu seraya berdeham, guna meminimalisir suaranya yang mulai parau.

__ADS_1


Ini baru hari pertama. Dia tak boleh kalah begitu saja, sebab masih ada hari-hari lain yang harus dia hadapi.


"Kau pasti bisa, El!" Batin Elena menguatkan.


__ADS_2