Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 44 : Penyelamatan Elena.


__ADS_3

Benar saja, dua orang petugas keamanan bertubuh tinggi besar keluar dari dalam gerbang dan menghampiri mobil Evans. Mereka juga sempat melihat dua mobil lain yang terparkir persis di belakangnya.


Evans membuka kaca mobil setengah.


Dua orang pria itu menatap Evans dan Jemima yang duduk di sebelahnya. Dia kemudian melongok sedikit ke dalam, tepatnya ke kursi belakang mereka yang kosong.


"Ada perlu apa Tuan?" tanya pria tersebut.


Evans tersenyum. "Tidak ada." Dengan gerakan cepat, Evans membuka pintu mobil dan menendangnya hingga membentur tubuh orang tersebut.


Sesuai dengan apa yang di rencanakan sebelumnya, Jemima bergegas pindah ke kursi kemudi begitu Evans keluar dan menghajar para pria penjaga rumah tersebut.


Melihat keributan yang ada di sana, Semua pria yang tengah berjaga kemudian berlari keluar untuk membantu rekannya.


Empat anak buah Evans turun dari mobil untuk membantu pria itu, sementara satu mobil lainnya mulai bergerak mengikuti Jemima yang masuk ke dalam gerbang.


Setelah memastikan mobil Jemima sudah masuk, mereka pun memarkirkan mobilnya dengan posisi melintang guna menghalangi para penjaga itu masuk.


Beberapa penjaga berhasil dilumpuhkan menggunakan stun gun. Evans memang memerintahkan mereka untuk tidak melukai orang-orang tersebut.


Evans berlari menuju gerbang dan melompat melewati kap mobil anak buahnya, hingga mendarat dengan mulus di dalam. Bersama Jemima, mereka bergerak menuju bangunan tersebut.


Sesampainya di sana, keduanya bergegas turun. Keduanya lagi-lagi harus menghadapi beberapa penjaga lain yang mencoba melumpuhkan mereka.


Berbekal stun gun yang dimilikinya, wanita perperawakan tomboy itu membantu sang atasan menghajar pria-pria tersebut hingga tumbang.


Beruntung, salah satu mobil anak buahnya tiba-tiba menyusul. Jemima pun menyuruh Evans untuk masuk ke dalam sana dan menyelamatkan Elena.


Tanpa diminta dua kali, Evans segera lari menerobos pintu utama.


...*...


"Bos, ada orang asing yang berhasil menerobos mansion ini!" Seorang pria bertubuh kekar masuk ke dalam kamar Albern tanpa mengetuk pintu.


Albern yang baru saja selesai diobati tampak terkejut. "Siapa?" tanyanya kemudian.


Pria itu menunjukkan sebuah rekaman CCTV yang baru saja dia periksa, pada Albern.


Melihat rekaman tersebut, Albern kontan saja terkejut. Pasalnya dia hafal betul bahwa itu adalah sosok Evans, kakak dari Elena.


Tanpa tedeng aling-aling, pria itu langsung menghajar kepala sang anak buah menggunakan vas bunga yang ada di dekat sana hingga terluka.

__ADS_1


"Kau bilang tak ada yang tahu tentang hal ini!, Lalu mengapa tiba-tiba keluarga dari gadis itu dapat menemukan keberadaannya, hah?"


Albern yang kalap terus memukuli pria tersebut hingga tidak berdaya. Dia pun segera menyuruh maid yang baru saja mengobatinya untuk membawa Elena dan menyembunyikan di gudang bawah tanah.


Maid yang tampak ketakutan itu pun langsung pergi meninggalkan kamar Albern untuk menjalankan perintahnya.


Sementara itu, di sisi lain Evans masih berkeliling mencari keberadaan Elena. Tiap ruangan yang dia lewati akan dia buka satu persatu untuk memeriksa.


"Lurus saja sampai ujung lorong lalu naik ke lantai tiga. Di sana kau akan menemukan sebuah pintu besar berwarna emas. Cepatlah sebelum ada orang yang membawanya pergi!"


Evans tersentak kala mendengar suara wanita yang muncul dalam pikirannya. Dia menoleh ke belakang dan tak mendapati siapa pun di sana. Jemima bahkan terlihat sibuk membuka satu persatu ruangan yang berada di seberangnya.


Mencoba mempercayai suara tersebut, Evans bergegas lari sampai ke ujung lorong lalu naik ke lantai tiga. Jemima yang melihat sosok atasannya berlari, segera menyusul pria itu.


Sesampainya di lantai tiga, dia terus berlari sembari memperhatikan pintu ruangan satu persatu.


Tepat di ujung lorong, terdapat sebuah pintu besar berwarna emas seperti yang dia dengar sebelumnya.


Tanpa pikir panjang, Evans membuka pintu ruangan yang ternyata tidak dikunci tersebut.


Pria itu terkejut ketika mendapati empat orang wanita berseragam pelayan sedang menyeret tubuh Elena yang nyaris p0los.


"Berhenti di sana!"


Jemima yang baru tiba lantas menghampiri keempat wanita itu untuk menanyakan keberadaan bos mereka.


Semula, mereka semua enggan menjawab pertanyaan Jemima. Namun, setelah Jemima berkata bahwa gadis yang diculik atasan mereka bukan orang sembarangan, membuat dua orang di antaranya buka mulut.


"Albern!" pekik Jemima tak percaya. Setahu dirinya, nama itu adalah nama dari kekasih Elena sendiri.


Evans yang fokus pada Elena sama sekali tidak mendengar pembicaraan mereka.


Dia sibuk menyadarkan Elena setelah memakaikan mantel panjangnya rapat-rapat pada tubuh sang adik.


"Elena," panggil Evans sekali lagi sembari menepuk-nepuk ringan pipi gadis itu.


Evans kemudian menatap dada Elena yang tampak tidak bergerak. Dia pun memeriksa hidung gadis itu dan tidak merasakan embusan napasnya.


"El!" teriak Evans panik. Dia meletakkan Elena kembali ke lantai dan mencoba melakukan CPR.


Beberapa kali Evans juga memberikan napas buatan untuk sang adik.

__ADS_1


"El, come on!" Evans terus memompa jantung Elena, hingga akhirnya gadis itu dapat terbangun dan mulai menangis histeris.


"Syukurlah! Syukurlah!" seru Evans seraya mendekap erat tubuh adiknya tersebut.


"Aku takut!" pekik Elena terisak-isak di pelukan sang kakak.


"Tidak perlu takut, ada aku." Evans berusaha menenangkannya.


Setelah Elena sedikit tenang, Jemima pun memberitahu Evans soal pemilik mansion ini.


Evans yang telah dipenuhi kemarahan setelah mendengarnya segera pergi meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan Albern. Maid-maid tersebut memberitahu Evans bahwa bos mereka sedang berada di lantai yang sama dengannya saat ini.


Jemima pun menghubungi polisi untuk datang ke kediaman Albern.


...***...


"Bagaimana? Apa ka—" Perkataan Albern terhenti begitu melihat, bahwa sosok yang masuk ke dalam ruangannya adalah Evans.


"Kak Evans, aku ti—"


"Jangan sebut aku 'kakak' dengan wajah dan suara menjijikkanmu itu!"


Evans berlari menerjang Albern dan menghajarnya membabi buta.


"Apa yang telah kau lakukan pada adikku, hah!" serunya sembari melayangkan tinjuan.


"Ini semua ulah Elena. Aku tidak akan melakukan hal seperti ini jika saja Elena tidak mengkhianati diriku! Asal kau tahu, aku sangat mencintai adik brengsekmu itu!" Albern berusaha membela diri.


"Bed*bah sialan! Kau lah yang brengsek! Perasaanmu ini bukanlah cinta!"


D4r4h segar keluar dari mulut Albern begitu Evans menghajar ulu hatinya. Dia bahkan m3n3nd4ng pria itu hingga terkapar membentur lemari.


"Sekarang juga enyah lah dari hidup Elena atau aku akan membunuhmu!" Evans yang sudah gelap mata menemukan sebuah pisau buah yang tergeletak tak jauh dari sana, dan menyeret Albern ke balkon kamar pria itu


Albern yang ketakutan sontak memejamkan mata ketika pisau tersebut hendak dihunuskan ke lehernya. Namun, sebuah pelukan hangat tiba-tiba meredakan emosi Evans seketika.


"Hentikan, Kak," pinta Elena dengan suara lirih. "Hentikan, aku tidak apa-apa." Sambung gadis itu.


Evans yang semula menatap Albern dengan penuh Kebencian kini mulai melunak. Dia pun melepaskan cengkeramannya pada kerah pakaian Albern perlahan-lahan.


Mengetahui celah tersebut, Albern menjauhkan diri dan hendak berlari ke pintu. Namun nahas, ternyata Jemima sudah menunggunya di sana.

__ADS_1


Albern langsung pingsan tatkala Jemima menyetrum tubuhnya berulang kali.


__ADS_2