Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 62 : Kasih Sayang Keluarga.


__ADS_3

"Terima kasih," ucap Elena pada Evans yang baru saja membantunya turun dari mobil.


Seperti yang pernah dikatakan Dokter James dulu, Dokter Michael pun tampak takjub dengan tubuh Elena yang memiliki proses penyembuhan lebih cepat dari pada manusia umumnya. Hal itu tentu saja tidak dapat dijelaskan dengan tepat secara medis.


Dokter Michael bahkan sempat terang-terangan meminta izin pada Simon untuk meneliti tubuh Elena lebih dalam. Namun, pria itu dengan tegas menolaknya. Dia pun meminta pihak rumah sakit untuk tidak mengeluarkan statement apa pun ke publik, guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya. Biar bagaimana pun, keluarga Wileen merupakan keluarga yang cukup terkenal.


Dokter Michael yang memahami sikap Simon akhirnya meminta maaf karena telah lancang meminta izin seperti itu. Tak lupa, dia juga mengatakan bahwa sama sekali tidak ada niatan buruk dibalik penelitian yang semula ingin dilakukannya.


"Sama-sama," jawab Evans kalem.


Selama Elena berada di rumah sakit, Evans berusaha merawat gadis itu dan menemaninya hampir dua puluh empat jam. Pria itu bahkan rela meninggalkan pekerjaannya di Blue Ocean City, dan menyerahkan sepenuhnya pada Dennis untuk dikelola sementara waktu.


Kendati begitu, Evans benar-benar merasa jarak antara dirinya dan Elena kini sangat jauh. Gadis itu sama sekali tidak pernah mengungkit masalah mereka berdua dan memperlakukan Evans layaknya orang baru dikenal.


Meski kekecewaan hinggap di hatinya, Evans tetap berusaha terlihat baik-baik saja.


Dia justru bertekad untuk mengembalikan ingatan Elena, sekaligus ingatan tentang kebersamaan mereka.


Evans merangkul Elena ke dalam rumah secara perlahan. Beberapa maid yang sudah menunggu kedatangan mereka bergegas lari menghampiri majikan mudanya tersebut, termasuk Lily.


Namun, begitu melihat sosok Evans yang kini memiliki janggut dan kumis tipis, mereka semua sontak terkejut.


Raut kegembiraan terpancar setelahnya. Mereka pun menyambut kepulangan Evans dengan penuh keharuan.


Evans tentu saja terkejut. Dia pikir kehadirannya dulu tidak memiliki arti di rumah ini.


"Syukurlah Tuan telah kembali," ujar Lily penuh haru, pada Evans yang kini sedang tersenyum simpul.


Lily terlihat ingin mengulurkan tangannya beberapa kali, tetapi tampak ragu karena takut bila Evans menolak jabatan tangan gadis itu.


Menyadari tingkah Lily, Evans pun mengambil inisiatif untuk menjabat tangan Lily terlebih dahulu.


Lily sontak menangis terisak-isak.

__ADS_1


Simon dan Samantha tertawa kecil melihat maid yang telah lama bersama dengan mereka itu.


"Kau hanya merindukan kakakku saja, padaku tidak?" Suara Elena mengalihkan pandangan Lily pada sosok gadis itu.


Lily pun memeluk Elena lembut. "Tentu saja saya juga merindukan Anda, Nona," ucapnya lirih.


Elena tertawa kecil. Bersama Lily, mereka pun pergi menuju kamar gadis itu.


...***...


Evans membantu Elena berbaring dan membuka sandalnya. Tak lupa dia juga mengatur bantal untuk gadis itu.


"Biar aku saja, Ma," sergah Evans, tatkala Samantha hendak membantu sang putri menggeser tubuhnya.


Evans dengan sigap mengangkat tubuh sang adik dan memindahkan posisi duduknya hingga dapat bersandar dengan nyaman di bantal.


Simon dan Samantha tersenyum lembut melihat perhatian yang Evans tujukan pada anak bungsu mereka, bahkan sejak berada di rumah sakit.


Satu sisi, Samantha merasa Evans kini benar-benar bisa menerima kehadiran Elena sebagai adiknya. Namun, entah mengapa, di sisi lain dia menyadari bahwa perhatian yang Evans tunjukkan sedikit berlebih.


"Mungkin, dia hanya ingin mencoba menebus waktu kebersamaan mereka yang sempat hilang belasan tahun silam." Batin wanita itu.


Selesai memastikan Elena dapat beristirahat dengan nyaman, ketiganya pun pergi meninggalkan Elena, dan menyerahkan tugas selanjutnya pada Lily.


...***...


Evans sendiri kembali ke dalam kamarnya yang pernah dia tinggalkan.


Begitu pintu kamarnya terbuka, pria itu tertegun sejenak.


Selema dua tahun ditinggalkan, kamar tersebut masih dalam kondisi rapi dan sama. Bahkan, bingkai foto yang tak sengaja bergeser pun sama sekali tidak berpindah dari tempatnya.


Tak hanya itu saja, dompet miliknya pun ternyata masih berada di atas meja, dalam posisi yang sama.

__ADS_1


"Mama sengaja menyuruh Anna, Lily, dan yang lainnya untuk tidak menyentuh barang-barangmu, sekaligus membiarkannya tetap seperti ini. Jadi, mereka membersihkan kamar ini dengan sangat hati-hati." Samantha yang melihat Evans hanya mematung di ambang pintu, memutuskan menghampiri pria itu. Sementara Simon sendiri sudah beristirahat di kamar.


"Dengan begini, Mama hanya merasa kau terlalu sibuk pulang pergi kerja seperti hari-hari biasanya." Sambung wanita paruh baya itu.


Evans mengalihkan pandangannya pada sang ibu dan meminta maaf.


Samantha tersenyum. Dia mengajak Evans untuk masuk ke dalam kamarnya. Mereka pun duduk di pinggir ranjang pria itu.


"Beberapa kali, Elena tidur di kamar ini. Dia juga pergi ke apartemenmu dan sesekali menginap di sana. Hingga saat terakhir, apartemenmu masih terjaga karena Elena senantiasa merawatnya."


Mendengar pernyataan Samantha, Evans memasang raut wajah sendu. Dia pikir peninggalannya akan hilang begitu dia pergi meninggalkan rumah. Namun, siapa sangka ternyata mereka malah menunggu kepulangan dirinya yang hanya seorang anak angkat di keluarga ini.


Samantha berjalan menuju lemari pakaian Evans, lalu membukanya. Setelah mengambil sesuatu dari laci lemari, wanita itu kembali duduk di sebelah Evans.


"Ini kunci apartemenmu, Elena menambah penjagaan menggunakan kunci biasa. Dia selalu mengembalikan ke sana tiap kali selesai berkunjung ke apartemenmu." Samantha menyerahkan sebuah kunci pada Evans.


Evans menatap kunci yang berada di tangan sang ibu sejenak. "Aku tak pantas menerima semua ini Ma. Aku hanya orang luar. Aku bukan bagian dari keluarga ini," ucapnya.


Samantha tersenyum simpul. Dia mengambil tangan sang putra dan meletakkan kunci tersebut di telapak tangannya.


"Kau anak sulung Mama, kakak dari Elena. Walau bukan terlahir dari rahim Mama, kau tetap anak Mama. Hubungan keluarga tak harus terlahir dari darah yang sama, Sayang," ujar Samantha memberi pengertian.


Evans menatap kunci apartemen tersebut.


"Mama membebaskanmu menjalani hidup seperti yang kau mau, tetapi jangan hilangkan fakta, bahwa kau adalah bagian dari Keluarga Wileen."


Setelah mengatakan hal demikian, Samantha memeluk tubuh pria itu dan mengelusnya lembut.


Setitik air mata mengalir membasahi pipi Evans. Kenangan-kenangan masa lalu bergulir memenuhi ingatannya.


Sesungguhnya, sejak kecil Evans tidak pernah meragukan kasih sayang kedua orang tuanya, terutama sang ibu.


Beliau selalu ada setiap kali dia mengalami kesulitan meski itu hanya berupa masalah sepele. Namun, apa balasan yang mereka dapatkan darinya, selain kekecewaan?

__ADS_1


Evans melepas pelukan Samantha dan mencium tangannya lembut. Pria itu juga menidurkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


Evans rindu saat-saat dimana dia menjadi seorang anak yang manja. Dalam hati dia mengikrarkan satu janji lagi, bahwa bukan hanya Elena yang akan dia bahagiakan, melainkan kedua orang tuanya juga.


__ADS_2