KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 10


__ADS_3

Femila masih menatap atap kamarnya. Masih teringat jelas pertemuannya dengan ceo yang bernama ANDRA AKSARA BARATA itu. Dia memang terlihat tampan. Senyumnya juga tak kalah menawan. Namun yang membuat penasaran, dia berkata pernah bertemu dengannya Selain di kantor.


"Dimana? Kapan? Apa cuma akal-akalan dia." Femi mencibirkan bibirnya. "Haaaa." Femila membuang kasar nafasnya. "Gila! Jadi gila beneran aku gara-garanya." Femila mengacak rambutnya. "Tapi dia emang ganteng banget." Femila tersenyum sendiri.


Tuling.


Satu pesan masuk. Femila meraih ponselnya dengan malas. Sontak Femila kaget melihat pengirim pesan.


*Belum tidur? Masih membayangkan wajahku? Gantengkan*?"


deg


Femila langsung melihat foto profil kontak.


Femila membungkam mulutnya. " Kenapa dia tahu nomor ponselku?" gerutu Femila.


Jangan heran kenapa aku bisa tahu nomor ponselmu.


Andra mengirim pesan lagi.


"Gila! Ini orang kok bisa tahu isi otakku."


Kamu memang sudah gila karena otakmu sudah dipenuhi tentang aku. Buruan balas jangan hanya heran membaca pesanku.


Femila membelalakkan matanya membaca tak percaya pesan yang masuk dan langsung menonaktifkan ponselnya.


"Haaaaa!" Teriak Femila yang langsung membenamkan diri di bantal.


...****************...


"Kenapa pesanku semalam tidak kamu baca? Pakai hp matiin segala!"


"Ih...cemberut gitu jelek tahu."Goda Femila sambil mencubit pipi Silla rekan kerjanya.


"Oh ya...sampai lupa aktifin ponselnya." Femila merogoh ponsel yang ada di tasnya dan segera mengaktifkan.


tuling tuling tuling tuling tuling


Pesan masuk bagai arus tsunami. Bahkan grup alumni SD, SMP, SMA, kuliah, teman kerja, sampai ribuan pesan belum terbaca. Namun ada satu pesan yang menggoda Femila untuk langsung membacanya.


langsung membaca pesanku dibanding pesan yang lain? benarkah begitu? Sore ini aku jemput.


"Mati aku. Apa aku benar-benar gila! " Femila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa Fem?" Tanya Silla karena sikap Femila yang aneh.


Femila hanya nyengir dan menggelengkan kepalanya. Kemudian membuka kembali pesan tersebut sampai akhirnya dia tak sadar kalau dirinya sudah sampai di parkiran kantor.


"Woi sudah sampai parkiran. Liat hp sampai tidak sadar sudah di parkiran."


Femila tersenyum mendengar ocehan sahabatnya. Kemudian kepalanya menoleh kanan-kiri.

__ADS_1


"Saya dibelakang anda nona?"


Femila menoleh ke belakang. "Kamu beneran datang?" Femila terkejut tidak menyangka sosok sang ceo benar-benar ada di hadapannya.


Andra mengangguk tersenyum tipis lalu memakai kaca hitamnya lagi. " Kita langsung pergi." Ajak Andra sambil menarik tangan Femila.


"E..e...e..main tarik tangan. Mobil aku, teman aku?" Femila menarik tangannya dari genggaman Andra dan menunjuk teman dan mobilnya.


"Mobil kamu biar asistenku yang bawa sekalian antar teman kamu. Bukan begitu girl?" Tawar Andra pada Silla.


Silla mengangguk cepat dan tetap dengan pandangan melelehnya melihat kegantengan ceo Andra.


"Jalan Pak..." Perintah Andra begitu dia dan Femila sudah duduk di kursi belakang.


"Kenapa kesannya aku wanita gampangan. Langsung mau saja diajak dia pergi." Batin Femila.


Femila melirik Andra "Tapi dia memang gantengnya kebangetan." Batinnya masih bermonolog.


Andra tersenyum melihat wajah Femila yang bersungut dalam diamnya.


"Aku memang ganteng. Mau kamu tatap dari arah manapun tetap ganteng."Ucap Andra.


"Kenapa kamu selalu tahu isi otakku? Upss!" Femila langsung membungkam mulutnya merasa keceplosan dengan perkataannya.


Andra terkekeh dengan tingkah Femila."Dan aku pastikan kamu takkan lepas dariku. Aku yakin kamulah yang selama ini kucari." Batin Andra.


Dua bulan Andra dan Femila semakin dekat. Andra selalu meluangkan waktu untuk menjemput Femila atau terkadang Femila yang akan menjemput Andra yang berpura-pura mobilnya masuk bengkel walaupun Femila tahu itu hanya alasan klise. Femila yang periang dan Andra yang cenderung dingin misterius menjadi daya tarik dari kedua insan. Hingga sampai sekarang cinta itu terjalin dan siap melangkah ke pelaminan.


(@ Maafin author. Cerita cinta mereka author skip. Nanti keblabasan bapernya 🙏😌😂)


Femila tiba-tiba menangis. Air mata yang sedari tadi dia tahan melesat, meluncur bebas dari pelupuk matanya. "Femi menyerah ma." Lirih Femila yang sedari tadi mengingat masa lalunya.


"Sayang....nanti kita bicarakan baik-baik dengan keluarga Andra. Kamu jangan banyak berpikir." Ucap mama Anita dengan menggenggam tangan Femila.


Femila hanya diam menanggapi ucapan mamanya.


Tanpa disadari ada sesosok orang yang mendengar semua pembicaraan Femila dan mama Anita. Langkahnya hanya terhenti sampai di pintu ruang rawat. Barang yang sedianya dia berikan ke Femila dia bawa kembali ke ruang rawatnya.


...****************...


"Maaf ya sayang, urusan kantor banyak sekali. Papa mau izin tidak enak. Sudah seminggu kemarin papa kan izin." Ucap papa Riyan sambil memeluk anak semata wayangnya.


Jam istirakhat papa Riyan langsung ke rumah sakit karena mendapat telepon dari mama Anita yang memberikan kabar tentang hubungan anaknya dengan Andra.


Femila hanya mengangguk.


"Makan siang yuk. Papa sudah bawakan makanan kesukaan kamu. Udang pedas asam manis."


Femila tersenyum melihat perhatian papanya. Tak selang berapa lama sahabat karibnya datang.


"Assalamualaikum. Om, Tante."Sapa Silla dengan mencium punggung tangan papa Riyan dan mama Anita.

__ADS_1


"Hai Femila... ."Sila menghambur memeluk Femila. "Maaf ya say, kerjaan kantor numpuk. Bahkan semua kerjaan kamu aku yang handle." Silla manyun.


"Thank's ya sahabatku yang baik sedunia. Maaf ngerepotin kamu."


Silla tersenyum. "Ya, say...yang penting kamu fokus ke penyembuhanmu." Silla melepas pelukannya.


Femila mengangguk.


"Femila, mama dan papa ke kantin dulu ya. Kalian biar enak ngobrolnya." Ucap mama Anita.


"Iya ma." Jawab Femila.


"Sil, ajak Femila makan. Satu buat kamu, udang pedas asam manisnya buat Femila."


"Ok Tan, makasi."


Mama Anita dan papa Riyan melangkah pergi.


Silla membuka nasi lauk udang pedas asam manis kemudian menyuapinya ke mulut Femila. "Buka mulutnya." Pinta Silla karena mulut Femila masih dikatupkan.


"Kamu dulu yang makan." Tolak Femila.


"Aku juga nanti makannya."


"Apaan sih Will, biasanya juga kamu makan porsi banyak."


"Ini luar biasa. Solidaritas sahabat biar sama-sama tidak makan." Celetuk Silla.


"A a a.a.."Femila membuka mulutnya isyarat agar Silla memasukkan makanan.


Silla tersenyum dan langsung memasukkan satu suapan ke mulut Femila.


"Puas kamu." Ucap Femila dengan mulut penuh makanan.


"Lagi makan pamali atuh sambil ngomong." Nasihat Silla dengan gaya di sok-sokin orang tua.


Femila mencibirkan bibirnya mendengar nasihat Silla.


"Ada masalah apa?" Tanya Silla tanpa ragu.


Femila langsung berhenti mengunyah makanannya. Diam untuk sejenak, melanjutkan mengunyah dengan pelan.


"Aku sudah lama berteman dengan kamu. Tidak usah kamu tutup-tutupi." Lanjut Silla.


Ditelanlah makanan yang Femila kunyah susah. Diam lagi.


"Bunda Rima." Berhenti,menarik nafas dan membuang dengan kasar. "Bunda Rima memintaku untuk putus dengan Andra."


Silla melongo , mulutnya menganga kaget. "Serius Fem?" Silla masih tidak percaya.


Femila mengangguk.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Femila dan Silla, ada sesosok yang mengepalkan tangannya. Amarah dan murka terpancar di wajahnya kemudian dia berlalu tanpa masuk ke ruang rawat Femila.


...****************...


__ADS_2