KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 72


__ADS_3

"Mukenanya sampai tidak dibawa."


"Ya Tuhan...kenapa malah saya yang salah tingkah?" Batin Femila, tangannya masih memegang dadanya karena jantungnya masih saja dengan ritme yang cepat.


Waktu terus berjalan, jalan... terus.


Femila sudah duduk di samping jok pengemudi.


"Biar kubantu Fem," tawar ustadz Mirza namun tangannnya sudah menarik seat belt dan memasangnya.


"Terima kasih," ucap Femila yang memang kesulitan memasang seat-belt karena tangannnya masih sakit.


"Sepertinya Ustadz kenal dekat dengan pak Freddy?" Tanya Femila di tengah perjalanan.


"Tidak juga sih...malah lebih kenal dengan istrinya."


"Apa! Ustadz lebih kenal istrinya," suara Femila meninggi karena terlalu terkejut.


Ustadz Mirza mengangguk, wajahnya terlihat santai tanpa dosa mengucapkan kalimat itu yang jelas membuat kuping seorang istri manapun pasti panas.


Ustadz Mirza menoleh sebentar ke Femila, "Mengapa?" Penasarannya karena ekspresi wanita di sampingnya terlihat tak baik.


"Tidak apa-apa," ketus Femila tangannya di silangkan di atas dada dan matanya memandang keluar jendela.


"Dasar laki-laki! Seenaknya jidat bilang kalau lebih mengenal istri orang lain." Batin Femila.


"Kenapa istriku?" Tangan ustadz Mirza mengelus lembut rambut Femila.


"Isss...Ustadz!" Femila menepis tangan itu memandang ustadz Mirza dengan geram.


Ustadz Mirza tersenyum.


"Please Ustadz, jangan senyam-senyum terus," kesal Femila.


"Padahal senyum itu ibadah loh...Tiada seorang istri yang tersenyum di hadapan suaminya kecuali Allah akan memandangnya dengan pandangan kasih sayang atau rahmat," terang ustadz Mirza.


"Hmmm," dengung Femila mengiyakan ucapan lelaki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


"Dari senyum satu sama lain ini, Allah menurunkan rahmat, berkah, kasih sayang, ketentraman, dan keharmonisan di dalam rumah tangga tersebut," lanjut ustadz Mirza, matanya melirik ke Femila merasa wanita itu hanya diam tanpa menyahuti ucapannya.


Ustadz Mirza tersenyum namun otaknya masih bingung, "Ada apa dengan kamu Fem? Kenapa tiba-tiba bermuka masam seperti itu?" Batinnya.


Mobil masuk ke pekarangan rumah. Ustadz Mirza turun dari mobil setelah mobil di parkir dengan sempurna di parkiran rumah. Kakinya melangkah ke pintu mobil dan membuka pintu itu agar Femila turun dengan mudah.


"Terima kasih," ucap Femila masih dengan nada ketusnya.


Ustadz Mirza mengekor langkah Femila.


Saat melewati ruang tengah yang bersebelahan ruang samping dengan pintu yang terbuka lebar nampaklah taman samping itu. Langkah ustadz Mirza terhenti saat netranya menatap mbak Anik yang sedang menyiram bunga mawar. Dia memutar kakinya melangkah ke mbak Anik.


"Biar saya yang nyiram Mbak," pinta ustadz Mirza sambil meraih selang air.


Bibirnya tersenyum melihat tanaman mawar yang dia tanam tiga hari yang lalu. Sekarang sudah bermekaran bunganya. Tanaman mawar ini sengaja dia stek dari tanaman mawar yang ada di rumah Femila karena ustadz melihat Femila begitu suka dengan bunga mawar.


Walaupun saat itu dia harus terima kenyataan kalau tanaman mawar itu dulunya pemberian Andra. Waktu itu mama Anita yang cerita.


"Indah sekali bunga mawarnya," takjub Femila yang ternyata mengikut langkah ustadz Mirza ke taman sebelah.


Ustadz Mirza tersenyum bangga melihat wanita di sampingnya memuji bunga mawar yang dia tanam.


"Tanaman ini punya arti sendiri. Dulunya akar bunga ini tumbuh karena cinta seseorang. Tapi karena di-stek bunga ini memiliki akar baru dan tumbuh dengan cinta baru pula."

__ADS_1


"Emmm...mengapa kesannya terlalu berbelit, apa otak saya yang tidak mampu mencerna makna filosofi itu," jujur Femila yang memang tidak paham maksud dari ucapan ustadz Mirza.


Ustadz Mirza tersenyum mendengar kejujuran Femila.


"Sebenarnya tanaman ini saya stek dari tanaman mawar punya kamu di rumah mama Anita, mawar pemberian Andra."


Ustadz Mirza menelan salivanya. Femila lumayan terkejut mendengar ucapan ustadz Mirza.


"Tanaman ini punya akar baru karena di- stek, tumbuh dengan cinta baru. Saya harap hal itu juga menimpa kamu, tumbuh dengan cinta yang baru. Mengganti akar cinta yang lama dengan akar-akar cinta yang baru."


Femila terdiam.


Ustadz Mirza mematikan keran air. Fokus ke tanaman mawar itu, tangannnya mengambil tangkai yang mengering, dengan seksama matanya kembali menatap tanaman itu dan...


deg


Ustadz Mirza begitu terkejut ada mahluk kecil sedang melangkah indah di salah satu tangkai bunga itu dengan langkah yang pelan karena tubuhnya sangat berisi, warnanya hitam berseret hijau tubuhnya bergelayut manja di tangkai itu.


Bahu ustadz Mirza bergidik. Tangannya langsung dikibas, dicuci dengan air dan kakinya langsung melangkah pergi.


Femila yang melihat sikap ustadz Mirza menjadi bingung.


"Ustadz, Ustadz...,"panggil Femila namun tidak dihiraukan ustadz Mirza.


"Maaf mbak, mungkin Ustadz melihat ulat makanya langsung pergi." Ujar mbak Anik.


Femila membulatkan matanya karena sangat terkejut, "Bagaimana bisa seorang ustadz Mirza Zayn Ahmad bisa takut dengan ulat?" Batin Femila bertanya namun bibirnya langsung menyunggingkan senyum.


"Tadi saya sudah buang beberapa ulat di bunga itu tapi sepertinya masih ada." Sambung mbak Anik.


Mata Femila langsung mengedar ke tanaman mawar, benar saja ada ulat yang menempel di tangkai. Tangan Femila langsung memotong tangkai itu dan otaknya terbesit untuk menjaili lelaki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


Ustadz Mirza menoleh tangannnya yang akan meraih gagang pintu dia urungkan.


Satu tangan Femila yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang langsung dia julurkan ke depan ustadz Mirza.


"Hadiah untuk Ustadz..."


"Femila! Buang gag!" Teriak ustadz Mirza.


"Untuk Ustadz." Femila tertawa kekeh, tubuhnya mendekat ke ustadz Mirza.


"Femila! Aku serius, buang itu!" Seru ustadz Mirza memundurkan langkah menjauh dari jangkauan tangan Femila.


"Ustadz...ayo...mendekatlah...," ledek Femila yang masih tertawa puas sambil memegang perutnya saking tidak kuat menahan tawa.


Sedangkan Ustadz Mirza, mukanya sudah terlihat pucat dan masih berteriak-teriak agar Femila mengambil ulat yang kini jatuh di lantai.


"Femila! Ambil tidak! Fem...," masih teriak ustadz Mirza dan kakinya sudah berdiri di atas kursi ruang tengah.


"Non, kasihan ustadz Mirza," iba mbak Anik yang langsung mengambil ulat itu dan membuangnya.


Femila masih tertawa terpingkal-pingkal. Tangannya masih memegangi perutnya karena saking lepas tertawanya.


Di sudut ruang tengah, yang tidak kalah menjengkelkan untuk seorang ustadz mirza, ada sesosok orang tanpa dosa mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Dia hanya mematung tapi sekarang lihat...tawanya tiba-tiba pecah. Femila dan ustadz Mirza langsung menatap sesosok Habibi dengan pandangan yang sama-sama terkejut.


"Awas kamu Bi!" Tangan ustadz Mirza mengepal tubuhnya turun dari kursi kemudian melangkah ke kamarnya.


Femila dan Habibi saling pandang, kemudian tertawa bersama.


Waktu terus berjalan, sekarang sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau penjahat lainnya sudah ditangkap. Saya jadi lebih tenang meninggalkan Femila di rumah."


"Ustadz belum bicara dengan Femila?" Tanya Habibi.


"Belum. Sebenarnya tadinya saya bimbang jadi ke Kalimantan atau tidak, karena tidak mungkin meninggalkan Femila sementara keamanan kami belum stabil."


Habibi mengangguk.


"Saya istirahat dulu Bi. Kamu juga segera istirakhat."


"Ya Ustadz, ini nanggung ada yang perlu saya selesaikan."


Ustadz Mirza melangkah ke kamarnya meninggalkan Habibi di ruang kerja.


Ustadz Mirza mendekat ke Femila duduk di tepi ranjang.


"Saya bantu lepas," tawar ustadz Mirza yang sudah menaruh kaki kanan Femila di pangkuannya.


"Terima kasih Ustadz," ucap Femila.


Ustadz Mirza mengangguk kemudian melangkah ke toilet kamar untuk melakukan ritual bersih diri dan wudhu.


"Apa yang kamu baca?" Tanya ustadz Mirza setelah kedua kakinya dia naikkan ke atas ranjang. Tangannya menata bantal agar posisi tidurnya nyaman.


Femila membalik bukunya melihat judul buku yang dia pegang, "Fiqih Thaharah, Panduan Praktis Bersuci." eja Femila.


Ustadz Mirza tersenyum dia sengaja menaruh buku itu di atas nakas agar dibaca Femila.


Tangannya mengelus pucuk kepala Femila, " Masya Allah... semangat bacanya." Setelah puas mengelus pucuk kepala itu tangan ustadz Mirza turun akan menoel hidung milik wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya. Namun Femila langsung memundurkan wajahnya.


"Etttt...jangan main-main dengan saya. Karena saya punya peliharaan yang bisa membuat ustadz histeris," ledek Femila.


"Keluarkan saja senjata canggih itu." Tantang ustadz Mirza.


"Issst...lagaknya, kalau saya beneran ambil dari taman baru ustadz tahu rasa."


Ustadz Mirza tersenyum mendengar ucapan Femila.


"Ada hal penting yang akan saya sampaikan." Ustadz Mirza memasang wajah serius.


Femila menatap keseriusan itu, "Apa Ustadz?"


"Tiga hari lagi saya akan ke Kalimantan."


deg


Tiba-tiba ulu hati Femila mesara sakit, entah kenapa.


"Sepuluh hari saya di sana."


deg


Kini jantungnya seperti kena sengatan listrik, terkejut hingga ritmenya terlampau cepat.


#Assalamualaikum...menyapa pagi hari kalian.


Di sini ada yang takut ulat seperti ustadz Mirza?🤭


Diambil dari kisah nyata loh...ada tetanggaku laki-laki yang takut dg ulat.


like, komen,komen, komen... author pengen kenal kalian. Kasih vote juga mau🤗

__ADS_1


__ADS_2