KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 27


__ADS_3

"Apa diamnya Ustadz berarti Ustadz mempertimbangkan kata-kata saya? Dan mulai meragukan dengan pilihan Ustadz?"


"Insyaallah saya mantap dan menjalankan semua karena Allah."


"Tadi Ustadz bilang mencoba mantap kenapa berubah menjadi mantap."


"Terima kasih atas desakan kamu akhirnya saya lebih memantapkan diri." Ucap ustadz Mirza mulai jengah dengan rentetan pertanyaan yang tidak henti dari mulut Habibi.


"Mengapa harus menunggu desakan saya baru katakan mantap. Mengapa Ustadz tidak konsisten? Itu artinya Ustadz memang belum mantap untuk menikahi Femila." Lugas Habibi.


"Saya belum ada rasa cinta untuk dia." Jujur ustadz Mirza mendatarkan suaranya.


Habibi menghela nafasnya, merasa jawaban ustadz Mirza benar-benar dari lubuk hatinya.


"Belum artinya ustadz mengharap suatu hari ada rasa cinta itu."


"Kalau saya jadi menikah dengan Femila bukankah harus ada rasa saling mencinta diantara suami istri."


"Kalau nanti kenyataanya ustadz Mirza beneran jatuh cinta dengan Femila dan Femila tidak bisa mencintai ustadz bagaimana? Atau sebaliknya ustadz tidak bisa mencintai dia bagaimana?


"Wallahu a'lam, Allah dzat yang mampu membolak-balikan hati."


"Sepasrah itukah Ustadz! Bukankah ustadz bisa memperjuangkan cinta yang sekarang ada di dalam hati Ustadz? Mengapa Ustadz merelakan cinta yang sebenarnya sudah tumbuh untuk dek Hana?"


"Femila lebih membutuhkan saya dibandingkan Hana."


"Apakah benar seperti itu? Femila baik-baik saja tanpa Ustadz? Mungkin saat inilah yang butuh Ustadz justru dek Hana."


"Ada pertanyaan lagi?"


"Ada Ustadz."


"Habibi." Untuk kesekian kali ustadz Mirza menahan amarah karena ulah asistennya.


"Apa rencana Ustadz untuk mendapat restu dari orang tua Femila?"


"Perlu saya jawab."


"Harusnya begitu."


"Saya belum ada rencana. Silahkan kalau kamu ada rencana tulis di telegram kirim ke saya rencana itu. Assalamualaikum, saya permisi mau tidur."


"Kenapa sepertinya Ustadz marah?"


"Kalau ada orang salam harus jawab." Sambung ustadz Mirza.


"Waalaikum salam."


Ustadz Mirza melanjutkan langkahnya meninggalkan Habibi yang terlihat tersenyum dengan kekonyolannya.

__ADS_1


"Maafkan saya ustadz. Saya harus pastikan pilihan ustadz tepat agar ustadz bahagia dunia maupun di akhirat." Batin Habibi.


...****************...


"Beneran Fem, ya ampun Femila kamu sudah tidak waras apa!"


"Saya masih waras Non." Timpal Femila.


"Terus yang kamu lakukan ini apa Fem kalau bukan namanya tidak waras. Menikah itu bukan perkara yang mudah Fem dan solusi meminta untuk dinikahi ustadz Mirza itu bukan solusi tapi menambah masalah buat hidup kamu Femila."


Silla menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya.


"Sudah ah saya mau pulang. Seharian sudah di rumah kamu. Belum mandi bau asem." Femila mencium ketiaknya.


"Katanya mau nginep di sini?"


"Nanti malah kamu tidak bisa istirakhat. Ujung-ujungnya kita ngobrol sampai pagi."


"Curang kamu, kenapa dari pagi tidak curhat masalah ustadz tampan itu. Eh baru dua kalimat sudah pamit pulang." Silla memonyongkan bibirnya.


"Apa yang perlu dibicarakan dari sesosok ustadz itu."


"Hati-hati loh kalau kamu tidak mau, banyak yang ngantri. Saya juga tidak apa-apa kalau nantinya dikasih second nya." Silla terkekeh. "Oya, saya sampai lupa. Dapat salam dari om Fery. Dia sepertinya naksir sama kamu."


Femila mengetuk dahi Silla, "Otak kamu kebanyakan halu makanya sampai demam tinggi."


Tawa pun keluar dari mulut Femila sedangkan yang ditertawakan makin memonyongkan bibirnya. "Dah...saya pulang dulu, lain kali kita bertemu."


"Ma, Pa." Sapa Femila.


"Hai sayang, Setelah mandi kesini ya sayang."


"Ya Ma."


Lima belas menit Femila sudah duduk di antara orang tuanya.


"Bagaimana butiknya Ma, banyak pembeli?"


"Yah, lumayanlah."


"Syukur deh."


"Ada hal yang lebih penting yang perlu kita sampaikan Fem." Ucap papa Riyan.


"Apa pa."


"Mama dan papa merestui hubungan kamu dengan ustadz Mirza." Ucap papa Riyan langsung ke topik.


Femila tercengang kaget, "Kenapa, Mama Papa merestui?" Tanya Femila masih tidak percaya apa yang diucapkan papanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat tidak senang dengar berita ini? Selidik mama Anita.


"Huft, hanya terkejut saja Ma. Kenapa tiba-tiba Mama dan Papa menyetujuinya."


"Tadi sore Nak Mirza ke butik menemui mama dan papa."


"Hanya menemui, papa mama langsung merestui?"


"Kami banyak ngobrol, akhirnya kami memutuskan untuk merestui kalian." Jawab papa Riyan.


Femila terdiam.


"Kamu tidak penasaran apa yang dikatakan ustadz Mirza sampai akhirnya papa dan mama luluh untuk merestui hubungan kalian?"


Femila menggelengkan kepalanya. "Untuk apa penasaran. Saya ke kamar dulu Ma, Pa."


"Issst! Papa Mama masih mau ngobrol banyak sama kamu." Cemberut mama Anita.


"Besok lagi Ma. Selamat malam."


"Ya sayang. Selamat malam, tidur yang nyenyak." Jawab mama Anita walau merasa kesal dengan sikap Femila.


Senyum Femila mengembang kemudian melenggangkan kaki ke kamarnya.


Sesampai di kamar, tubuhnya langsung dia rebahkan di kasur. Memijit-pijit keningnya agar rileks. Kepalanya terasa retak mendengar berita dari mama dan papanya. Rasa penasarannya dia singkirkan karena ego yang begitu tinggi. "Bagaimana bisa secepat itu ustadz Mirza meluluhkan hati mama papa." Gumam Femila masih dengan memijit Keningnya.


"Kalau tadi saya bilang penasaran, pasti mama sudah ceritakan semua. Tapi ogah, untuk apa saya cari tahu. Setidaknya cukup saya tahu, ustadz Mirza berbeda dengan Andra. Dia mampu memperjuangkan restu pernikahan. Seandainya kamu pun sama Andra." Monolog Femila.


Femila menguap, matanya mulai berat untuk diajak melek. Dia meraba ponselnya, ada panggilan masuk tertera nama "Si cerewet Silla".


"Ada apa Sill?"


"Cuma mau tanya, apa kamu masih memikirkan tidak direstuinya rencana pernikahan kamu dengan ustadz tampan itu?"


"Mereka sudah merestui." Jawab Femila singkat dan langsung mematikan teleponnya.


Tut Tut Tut


"Issst. Tuh bocah main matiin telepon. Orang tua Femila sudah menyetujui rencana pernikahannya. Emmm, jadi penasaran kelanjutan cerita mereka." Silla tersenyum sendiri.


"Menikah dengan ustadz Mirza? Apakah benar kata Silla saya sudah tidak waras? Dia yang sudah membuatku seperti ini, cacat. Lalu kenapa saya menuntutnya untuk menikahi saya?" Batin Femila berkecamuk. Mengacak rambutnya dengan kasar kemudian menenggelamkan diri dalam bantal.


...****************...


Semuanya terlihat sibuk. Rumah yang tadinya sepi kini terlihat ramai. Taman rumah pun berubah sejak dipasangnya tenda yang menjulang tinggi tiga meteran terbentang memanjang dan melebar memenuhi taman itu. Beberapa bunga sintetik maupun bunga asli terpajang di berbagai sudut ruang. Altar merah memanjang pun nampak mencolok diantara warna altar yang lain.


Dan sekarang, Femila masih terduduk membisu di depan cermin yang menampakkan wajahnya. Wajah blaster indo-italia. Terlihat tambah cantik dengan polesan natural tune oleh MUA. Matanya kini tertunduk melihat dua tangannya yang sudah terlukis hena putih.


"Perfect. Cantik kebangetan neng." Ucap MUA yang sedari tadi memoles wajah Femila.

__ADS_1


Femila hanya tersenyum. Mengeluarkan nafasnya kasar. Seharusnya hari ini adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun, semuanya berubah. Bahkan momen ini tidak pernah terlintas sedikitpun dalam otak Femila.


"Sanggupkah saya melanjutkan acara ini?" Batin Femila goyah.


__ADS_2