
"Ini yang ketiga kalinya saya bertemu dengan om Fery namun tetap saja saya merasa gugup." Batin Femila.
"Kenapa menatap saya seperti itu?" Apa masih mengira saya Andra?"
"Selamat sore Om." Sapa Femila tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya dari om Fery.
"Tidak usah terlalu formal." Jawab om Fery.
"Kalau begitu langsung saja ke inti pembicaraan." Ucap Femila.
"Kenapa begitu terburu-buru."
Femila membuang napasnya kasar.
Om Fery tertawa kecil melihat ekspresi Femila yang nampak kesal.
"Kamu apa kabar Silla?" Om Fery menolehkan wajahnya menatap ke arah Silla.
"Baik. Om bagaimana kabarnya?"
"Cukup baik. Bukankah selayaknya seperti ini, lama tidak bertemu dengan kerabat langsung menanyakan kabar." Om Fery menoleh ke arah Femila sengaja kalimat itu ditujukan untuk menyindirnya.
Femila hanya tersenyum kecut.
"Saya mau melihat proposalnya." Ucap om Fery dan Silla langsung menyerahkan berkas yang dia pegang.
"Kenapa saya harus menjalin kerja sama lagi dengan perusahaan kalian." Tanya om Fery.
"Mutu produk kami sudah tidak diragukan oleh pasar nasional, harga produk kami di bawah pasaran produk lain, dan kami menjamin kerja sama berdasarkan kesepakatan sehingga kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan." Ucap Femila meyakinkan.
"Selain itu, kerja sama yang sebelumnya dilakukan oleh perusahaan kita bukankah nyata menguntungkan kedua belah pihak. Namun entah kenapa perusahaan anda tidak mau memperpanjang kontrak kerja sama." Sambung Femila panjang lebar.
"Kalau saya beralasan agar bisa menarik kamu untuk kerja kembali, apakah itu masuk akal."
Femila menatap om Fery sejurus. "Apa maksud om Fery?"
"Bukankah dengan tidak memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaan kamu, akhirnya perusahaan kamu memanggilmu untuk kerja kembali."
Deg.
Femila sedikit membenarkan perkataan om Fery.
"Apakah saya boleh menyimpulkan, setelah saya bekerja dan menemui om Fery kerja sama ini dapat berlanjut."
"Tergantung ke depannya."
"Maksud om Fery?"
"Ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi."
Lagi-lagi Femila membuang napasnya dengan kasar.
"Syarat apa yang om ajukan?"
Om Fery terdiam menjeda bicaranya, menarik napas dalam-dalam dan membuang kasar napas itu.
"Safera ikut saya ke Jakarta." Ucap om Fery.
Semua diam menunggu sepatah kata keluar dari salah satu yang duduk di sofa itu untuk merespon ucapan om Fery.
"Siapa Safera Om?" Tanya Silla kemudian.
"Dia anaknya om Fery." Jawab Femila singkat.
Silla menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari Femila.
__ADS_1
Satu tahun yang lalu bocah perempuan itu pernah di bawa ke Jakarta oleh Om Fery dan Eva, istri om Fery. Mereka tinggal selama satu minggu di Jakarta. Pertemuan pertama dengan Safera membuat Safera lengket dengan Femila sampai lima hari kedepan dia malah meminta tinggal di rumah Femila. Sudah dibujuk untuk tinggal di rumah Andra malah dia nangis keras tidak mau tidur atau makan, akhirnya hari kedua di Jakarta dia tinggal di rumah Femila.
"Kenapa dengan Safera Om?" Tanya Femila.
"Ceritanya panjang. Intinya saya ingin kamu merayu Safera agar betah tinggal di Jakarta."
"Mbak Eva apakah tidak ikut ke Jakarta?"
"Sepuluh hari yang lalu saya mengurus perceraian dengan dia, sudah secara resmi kita berpisah dan hak asuh Safera jatuh ke tangan saya."
Femila membulatkan matanya. Terlihat shock mendengar ucapan om Fery. "Kenapa bisa Om?"
"Ya, mungkin kita sudah tidak berjodoh." Jawab om Fery.
Femila pun terdiam tidak ingin mempertanyakan lebih dari itu karena tidak mau ikut campur ke dalam masalah rumah tangga om Fery.
"Saya, akan pikirkan itu."
"Dan saya memohon bukan atas nama perusahaan tapi atas nama pribadi, ayah dari anak yang malang."
Femila terdiam. Membayangkan nasib malang bocah perempuan itu karena diusianya yang masih lima tahun harus menelan pahitnya hidup. Menjadi korban perpisahan kedua orang tuanya.
"Bagaimana kondisi psikisnya?" Tanya Femila.
"Sejauh ini dia tahunya Mamanya akan menyusulnya."
"Besok bawa ke kantor. Saya akan menemuinya.
"Ok. Saya sangat berharap pada kamu."
"Namun saya tidak janji akan berhasil."
Om Fery menganggukkan kepalanya.
"Biar saya yang antar."
"Saya sudah bilang suami saya, kalau Silla yang akan mengantar saya."
"Sepertinya kamu bahagia dengan suamimu?"
deg.
Femila menghentikan langkahnya.
"Dia sangat baik om dengan saya. Jadi kenapa saya tidak bahagia." Jawab Femila.
"Selamat sore Om."
"Selamat sore." Jawab om Fery.
Femila dan Silla melangkah pergi, turun dari lantai dua puluh yang ceo room tempati.
"Bahagia. Benarkah itu? Apakah pernikahan yang hampir satu bulan ini saya merasakan bahagia? Setidaknya ustadz ada di samping saya bukan malah meninggalkan saya seperti yang ponakan om lakukan pada saya." Batin Femila bermonolog setelah dirinya menjawab pertanyaan dari om Fery.
"Fem," panggil Silla.
"Femila." Tidak ada sahutan.
"Femila Ahmad." Suara Silla meninggi.
"Ya." Jawab spontan Femila karena kaget.
Silla tertawa menang karena Femila spontan menjawab ketika nama Femila di rangkai dengan nama belakang suaminya.
"Cie... dari tadi saya panggil tidak ada sahutan giliran dipanggil Femila Ahmad langsung jawab." Ledek Silla.
__ADS_1
Femila mencibirkan bibirnya melihat Silla masih tertawa menang.
"Fem, apa kamu tidak apa-apa menerima syarat dari om Fery?" Tanya Silla dengan serius begitu masuk ke mobilnya.
Femila memasang seat belt-nya dan menatap ke arah Silla.
"Atas dasar kemanusiaan. Saya pernah kenal dekat dengan bocah itu, walaupun singkat hanya satu minggu. Mudah-mudahan satu tahun kita tidak bertemu tidak membuat bocah itu lupa dengan saya".
"Good luck, semoga berhasil." Doa Silla.
Femila mengangguk pelan.
Silla melajukan mobilnya memasuki jalan raya, menembus kebisingan kota di tengah kesibukan para pekerja yang pulang dari tempat bekerjanya. Sesekali berhenti karena lampu merah jalanan menyala. Berjalan kembali menapaki aspal yang tetap kokoh walau terinjak berton-ton kendaraan yang melewatinya.
"Thanks Sill. Sampai jumpa besok." Pamit Femila begitu turun dari mobil dan mobil Silla pun melaju kembali.
...****************...
Ustadz Mirza mengucap dua salam setelah menyelesaikan rakaat terakhirnya. Femila masih curi pandang ke arah ustadz Mirza yang sedang berdzikir. Isya ini ustadz Mirza memilih salat di dalam kamar karena tidak berjamaah dengan Habibi. Setelah selesai dzikir, ustadz merapikan sajadahnya kemudian mengganti baju salatnya dengan baju tidur. Femila langsung menutup rapat matanya dengan buku yang dia pegang.
"Jangan terlalu dekat antara buku dengan mata." Ucap ustadz Mirza yang sudah naik ke atas ranjang.
Femila memundurkan bukunya dengan pelan tanpa menyahuti ucapan ustadz Mirza.
Ustadz Mirza hanya tersenyum simpul.
"Bagaimana pertemuan dengan mitra kerjanya. Sukseskah?"
"Itu, e...setengah." Jawab sekena Femila.
"Maksudnya, setengah?"
"Belum seratus persen berhasil." Terang Femila.
"Boleh diartikan gagal?"
"Tidak juga gagal." Kesal Femila merasa diremehkan kemampuannya.
"Kamu ingkar janji dengan saya."
"Maksud ustadz? Saya tetap setia dengan ustadz saya tidak selingkuh." Jawab Femila dengan cepat.
Ustadz tersenyum mendengar jawaban dari Femila. "Kamu ingkar janji karena minggu-minggu ini kerjanya terlalu diforsir." Ustadz menarik hidung Femila karena terlalu gemas dengan reaksi Femila.
"Aw aw aw, sakit Ustadz." Femila memegang hidungnya.
"Itu balasannya."
"Tidak lucu Ustadz, ini namanya KDRT."
Ustadz Mirza melebarkan senyumnya. "Istirakhatlah, sesekali baca buku yang bisa menentramkan jiwa. Selain tubuh kamu yang perlu diberi nutrisi, jiwa juga butuh nutrisi." Ustadz Mirza mengambil buku yang dipegang Femila dan menaruhnya di atas nakas.
Femila hanya diam mendengar ucapan penuh makna bahkan lebih tepatnya sebuah sindiran dari mulut suaminya namun diakui Femila ucapan ustadz Mirza benar adanya.
"Kita baca doa bersama."
Femila mengangguk dan mengikuti ustadz Mirza membaca doa.
"Selamat malam Femila." Ucap Ustadz Mirza, wajahnya menengadah ke langit-langit kamar dan mulai memejamkan matanya.
"Malam Ustadz." Jawab Femila mengambil posisi ternyaman, posisi membelakangi ustadz Mirza.
Ustadz Mirza memiringkan tubuhnya menghadap ke Femila. Menatap punggung wanita yang katanya sah menjadi istrinya. Mata ustadz Mirza terbuka penuh dari tadi dia hanya mencoba memejamkan mata tapi belum juga terbawa ke alam mimpi.
Melihat ada pergerakan dari Femila. Ustadz Mirza langsung memejamkan matanya. Kini keduanya beradu wajah. Femila membulatkan matanya, menatap dengan intens wajah suaminya. Sebuah senyum tergambar dari wajah cantiknya.
__ADS_1