
Setelah Femila resign dari kantor, ustadz Mirza sengaja memberi pekerjaan. Dia tahu otak sang istri yang memang diberi kelebihan Sang Khalik dengan kecerdasan di atas rata-rata tidak mungkin betah kalau diangguri. Industri ekspor impor mebel dan kerajinan pernak-pernik yang ada di Jepara sengaja ustadz Mirza pilih untuk memberi tantangan ke Femila.
Flashback on
"Itu berkasnya sayang, kamu pelajari. Tidak usah muluk-muluk, dapat order lokal saja sudah sangat bagus untuk pekerja pemula. Apalagi sampai bisa ekspor," ucap ustadz Mirza setelah mengirim file ke e-mail Femila.
Femila membuka file yang di kirimkan oleh ustadz Mirza. Matanya membaca seksama isi file tersebut dan tangan bergerak memencet keyboard.
Ustadz Mirza masih duduk di atas tepian kursi yang diduduki Femila.
"Jangan terlalu serius sayang, dibawa santai saja. Kerja kamu freelance," saran ustadz Mirza karena melihat sang istri sudah setengah jam menatap layar laptop dan tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya.
Femila hanya menyahuti dengan anggukan.
"Barang ini, setiap hari diproduksi Ustadz?" tanya Femila tanpa menjawab pertanyaan sang suami sebelumnya malah melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan kerjaan.
Ustadz Mirza tersenyum menatap gambar yang ditunjuk Femila. Namun bukan tersenyum karena melihat gambar itu melainkan tersenyum karena baru pertama kali melihat kerja sang istri yang begitu serius tanpa ada celah main-main atau sekedar canda sedikit.
"Begini kalau kamu kerja ya? Serius dan langsung ke sasaran? Pantas saja bos Freddy berat melepas karyawan secerdas dan seprofesional kamu," tutur ustadz Mirza.
"Ustadz...aku tanya apa malah jawab apa," kesal Femila.
"Ya, iya... sebenarnya yang bos siapa? Kenapa lebih galakan karyawannya."
Femila tersenyum mendengar ucapan ustadz Mirza.
"Nah gitu dong...kamu itu cantik kalau senyum," pungkas ustadz Mirza dengan menoel hidung wanitanya.
"Ustadz... kebiasaan deh," jerit Femila dengan memegang hidungnya.
Ustadz Mirza tersenyum lebar.
"Barang yang kamu tunjuk itu setiap hari produksi. Banyak pengrajin di daerah tersebut. Nanti ada tengkulak kami yang mengumpulkan barang."
Femila mengangguk.
"Kerjanya dibawa santai saja," ulang ustadz Mirza.
"Hmmm," dengung Femila.
"Nomor yang bisa bantu kamu kerja sudah aku kirim ke ponsel kamu. Mereka semua yang menangani industri ekspor impor yang di Jepara."
Femila mengangguk.
Flashback off
Tiga bulan berlalu. Tantangan itu terjawab dengan pengiriman barang ke lokal dan internasional. Strategi pemasaran yang dimiliki Femila memang patut diacungi jempol. Memang tidak banyak barang namun cukup bagus untuk permulaan.
Femila langsung pasang sasaran di negara sang nenek, Italia. Keberuntungan menyertai Femila, keluarga di sana juga ikut memasarkan produk yang Femila tawarkan dan dapat tanggapan positif dengan adanya customer.
"Tante masih sibuk?" tanya Retha ketika masuk ke ruang kerja milik ustadz Mirza dan menatap Femila masih bergelut dengan laptopnya.
"Tidak juga, ada apa?" tanya Femila, mengalihkan pandangannya ke arah ponakan ustadz Mirza.
Retha tersenyum kecil, "Mas Habibi belum pulang ya?" tanyanya sambil duduk mendekatkan kursi ke kursi Femila.
"Astaghfirullah haladhim ini bocah, tiap hari lihat Habibi tapi tiap hari pula tanya Habibi," gemas Femila.
Retha pasang senyum kembali. "Tante kaya tidak pernah muda saja," sahutnya.
"Pernah, bahkan sekarang juga masih muda. Tapi tidak se-agresif kamu," ucap Femila dengan tawa menyertainya.
__ADS_1
"Isst...Tante," cemberut Retha.
"Kuliah yang bener dulu. Nanti kalau sudah lulus boleh deh nyari jodoh."
"Kalau bisa menyelam sambil minum air kenapa harus menyelam dengan menahan kehausan," pungkas Retha.
"Ck ck...makin pinter saja ponakan Tante. Nanti Tante sampaikan ke om kamu. Kamu minta nikah."
"Beneran Tante?" ucap Retha antusias dengan tubuh yang makin mendekat ke Femila.
Femila hanya menggeleng tidak menyangka ancamannya malah menjadi celah yang dianggap sebuah persetujuan bagi Retha untuk nikah. "Astaghfirullah haladhim...jadi merinding Tante," Femila bergidik dengan tingkah Retha.
Retha malah semakin tersenyum menang mendapati reaksi Femila. "Terima kasih Tante," ucap Retha dengan mencium punggung tangan Femila kemudian lari keluar ruangan.
Femila hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Amit-amit deh...si jabang bayi jangan tiru," ucap Femila, mengelus perutnya yang rata.
"Jabang bayi?" Femila tersenyum mengulang kalimat itu, pikirannya menerawang apalagi mengingat kejadian kemarin sore dan subuh lalu.
Huft...
Diempaskan napasnya dengan kuat membuang penat yang seketika melekat.
"Pengen keluar makan siang tapi dengan siapa? Aliyah dan Hana sudah bekerja. Silla apalagi, akhir bulan pasti dia sangat sibuk. Hah! Berasa sendiri tidak punya teman dekat," keluh Femila, menyandarkan kepala di sandaran kursi. Matanya dia pejamkan.
"Ustadz sedang apa ya? Kenapa aku rindu kamu?" gumam Femila masih dengan mata terpejam.
cup
Satu kecupan mendarat di dahi dan membuat mata lentik Femila terbuka lebar.
"Ustadz...," girang Femila dengan bangkit dari sandaran dan refleks langsung memeluk tubuh lelaki yang memang sudah sah menjadi suaminya.
Ustadz Mirza membalas pelukan itu dengan mengecup tengkuk sang istri dan mengusap punggungnya.
"Rapat diundur. Aku langsung pulang karena firasatku ternyata benar,"
"Firasat apa?" tanya Femila dengan manja.
"Ada yang merindukanku," bisik ustadz Mirza di telinga Femila.
Femila tersenyum malu dengan menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.
"Aku ada hadiah untuk Ustadz," ucapnya dengan mendongakkan wajah dan antusias yang tinggi.
"Apa sayang?"
Femila melepas pelukan, "Tunggu di sini," tekan Femila kakinya melangkah keluar ruangan.
Femila masuk kembali dengan langkah panjang mendekat ke arah suaminya yang sedang berdiri di depan rak buku tangannya bergeser merapikan buku.
"Ustadz...," panggil Femila.
Ustadz menghentikan tangannya yang sedang merapikan buku, melangkah ke arah sang istri yang terlihat tersenyum senang.
Femila menarik tangan ustadz Mirza untuk menerima barang kejutan darinya.
"Lihatlah," ucap Femila.
Ustadz terdiam menatap 5 benda dengan bentuk yang berbeda tapi dengan suratan yang sama.
"Ini serius sayang?" Ustadz Mirza memastikan. Matanya berkaca menatap kejutan yang diberikan sang istri.
__ADS_1
Femila mengangguk pelan, matanya juga ikut berkaca-kaca merasa kebahagiaan yang luar biasa.
"Masya Allah... Alhamdulillah ya Allah segala puji bagi-Mu. Terima kasih sayang," Ustadz Mirza menarik tubuh sang istri masuk dalam dekapannya. Bulir air mata kebahagiaan mengalir dari dua insan karena mendapat titipan yang sudah mereka tunggu selama 2 tahun lebih 3 bulan.
Ustadz Mirza melepas pelukan, kakinya berjongkok di depan Femila, "Assalamualaikum sayang...," sapanya di depan perut rata sang istri. Diusap perut itu dan satu kecupan lembut mendarat. Tangan Femila mengusap kepala lelaki yang masih memberi kecupan di perutnya.
"Hadiah dari kamu benar-benar indah sayang. Harusnya aku yang kasih kamu hadiah di hari ulang tahunmu," ucap ustadz Mirza yang kini berdiri di depan sang istri.
"Ustadz tahu hari ini ulang tahunku?"
"Baru tahu tadi siang dari Aliyah," jujur ustadz Mirza.
"Ustadz...," cemberut Femila dengan memukul lemah dada sang suami.
Ustadz Mirza terkekeh, "Maaf sayang...aku benar-benar lupa," tangan ustadz Mirza menangkup.
"Isst...2 tahun menikah sudah lupa ulang tahun istri bagaimana kalau 10 tahun mendatang?" ucap Femila dengan kesal.
"Ya, iya maaf sayang. Tahun depan akan kuingat."
Femila mencibirkan bibirnya mendengar ucapan ustadz Mirza.
"Ingin hadiah apa?" tawar ustadz Mirza.
"Rumah boleh, mobil juga mau, debit card juga ok, cincin bertahta berlian juga bagus," tutur Femila dan kini matanya menatap wajah sang suami yang tersenyum lembut mendengar permintaannya.
"Bagaimana Ustadz?"
"Bagaimana apa?"
"Permintaanku?"
Ustadz Mirza tersenyum tangannya membuka lemari nakas yang ada di sudut ruang.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap ustadz Mirza dengan mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin bertahta berlian.
"Ustadz...," Femila tak mampu melanjutkan kalimatnya hanya cairan bening yang menumpuk di pelupuk matanya sebagai tanda ada kebahagiaan yang teramat.
"Satu bulan yang lalu sudah aku beli untuk hadiah ulang tahun kamu tapi tepat di hari ulang tahun kamu malah aku lupa," terang ustadz Mirza.
Femila menghambur memeluk sang suami kemudian mengecup lembut bib*rnya. " Permintaanku tadi hanya bercanda sayang. Apa yang kamu berikan selama ini sudah lebih dari cukup. Kebaikan kamu lebih dari hadiah yang Allah anugerah kan melalui kamu."
"Menyenangkan istri itu pahalanya besar," sahut ustadz Mirza dengan menoel hiding Femila.
Femila terkekeh karena itu.
"Selamat ulang tahun kami ucapkan...."
Habibi, Aliyah, Hana, Andra, Ikbal, Silla, Retha, mama Anita, dan papa Riyan tiba-tiba masuk membawa kue ulang tahun dengan menyanyikan lagu khas di hari ulang tahun.
Femila tersenyum bahagia dan tidak menyangka mendapat surprise yang begitu istimewa. Satu hal lagi yang tidak kalah membuatnya bahagia. Surprise dari sang Illahi dengan dihadirkannya buah hati yang masih ada di dalam perutnya.
"Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan," syukur Femila dengan mengelus perut yang masih rata. Titik air mata kebahagiaan menetes di pipi.
Alhamdulillah...selesai sudah Extra bab nya. Terima kasih atas segala dukungan yang kalian berikan. Lope lope dech buat kalian. Tunggu karya baruku jangan unfavorite ya...biar kalian dapat notif kalau karya baruku meluncur.
Habibi, Hana, dan Andra Insya Allah bakal hadir dengan cerita yang baru tentunya dengan judul yang baru dan cerita yang tak kalah menarik.
Like, komen, komen, komen, vote juga asik tuh๐โค๏ธ๐ฅฐ๐๐๐๐๐.๐.
Salam dariku Mel Rezki, semoga kita selalu diberi kesehatan yang penuh berkah. Amin๐คฒ
__ADS_1
Komen ya tentang cerita ini. Bagian apa yang paling mengesankan buat kalian๐ฅฐ