
Kalimat yang terlontar dari bocah polos itu seketika membius orang yang ada di ruang tamu.
"Om Andra sekarang kan jauh jadi tidak bisa kasih adek buat Safera." Ucap om Fery kemudian membopong gadis kecil itu.
"Om Andra suruh ke sini saja. Buat nemenin Safera dan tante Femila." Ucap Safera masih dengan kepolosannya.
Femila melirik ke arah ustadz Mirza yang nampak kecut ekspresinya.
"Nanti Tante ganti adeknya dengan boneka pokemon yang banyak." Rayu Femila.
"Tidak mau. Pokoknya adek yang bisa nemenin Safera."
"Nanti om Mirza yang kasih adek." Sela ustadz Mirza.
"Benar Om?" Girang Safera.
Ustadz Mirza menganggukkan kepalanya. "Sini Om yang gendong." Ustadz Mirza merentangkan tangannya dan Safera langsung pindah gendongan dari tangan papanya.
"Safera minta berapa adek?" Tanya ustadz Mirza sambil melangkahkan kaki keluar menuju parkiran mobil.
"Emmm... dua." Safera mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Sedikit sekali. Om sama tante Femila padahal mau kasih lima adek. Bagaimana?"
Safera tertawa. "Apa boleh minta banyak Om?"
"Iya, boleh."
"Ya kan tante?" Ustadz Mirza menolehkan pandangnya ke arah Femila untuk menjawab pertanyaan dari Safera.
"I-iya." Jawab Femila gugup.
"Janji ya Om." Safera menyodorkan jari kelingkingnya.
"Safera turun dari gendongan om Mirza." Sela om Fery melihat kegugupan pada dua ingsan suami istri di sampingnya.
Safera meraih tangan papanya kemudian bocah itu di dudukkan di jok samping kemudi.
"Sampai jumpa besok tante, om Mirza." Ucap Safera seakan lupa dengan permintaan janji pada ustadz Mirza.
"Ya sayang, ba bay...."Femila melambaikan tangannya.
"Assalamualaikum Safera."
"Waalaikum salam Om." Jawab Safera masih melambaikan tangannya.
Mobil itu pun melaju masuk melesat ke jalanan kota.
Satu, tiga, tiga setengah jam kemudian. Femila dan ustadz Mirza sudah bersiap-siap untuk menyapa alam mimpi. Waktu menunjukkan pukul 21.30. Ustadz Mirza sudah terbiasa tidur lebih awal agar bisa bangun di tengah malam. Jadi sesibuk apapun ustadz Mirza selalu diusahakan tidur malam maksimal sampai jam 22.00. Kebetulan Femila juga terbiasa tidur lebih awal. Jadi ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 dua ingsan yang katanya suami-isteri ini sudah merebahkan tubuhnya di kasur.
Femila melirik ke ustadz Mirza. Sejak Safera dan om Fery pulang tidak sepatah katapun keluar dari mulut ustadz Mirza.
"Apa ustadz Mirza marah dengan saya? Mengapa harus marah? Gara-gara hal ini dia marah? Nggak banget sih! Apalagi marahnya begitu menyeramkan." Batin Femila dan bahunya bergidik.
"Kenapa bahu kamu sampai bergidik seperti itu? Apa membayangkan permintaan Safera." Tanya ustadz Mirza membuka kebisuan.
"Siapa juga yang bayangin." Ketus Femila langsung menarik selimutnya dan membelakangi posisi ustadz Mirza. "Setidaknya kamu sudah membuka mulut kamu untuk bicara, ustadz." Monolog hati Femila dan dengan menarik sudut bibirnya.
Ustadz Mirza tersenyum dengan reaksi Femila.
"Apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan, kenapa sore tadi sampai ke kantor PT Perkasa Bintang?"
__ADS_1
"Urusan kantor." Jawab singkat Femila.
"Jadi calon klien yang waktu itu kamu temui om Fery?"
"Iya. Untuk mendapat kontrak kerja sama saya harus merayu anaknya agar mau sekolah dan betah tinggal di Jakarta." Terang Femila.
"Kenapa harus kamu? dan ibunya, apa tidak bisa membujuknya?
Femila membalikkan posisi tidurnya menghadap ke langit-langit kamar. "Om Fery baru saja cerai. Hak asuh anak jatuh ke tangan dia. Malang sekali bocah itu, menjadi korban keegoisan kedua orang tuannya." Terang Femila.
"Jadi, om Fery duda?"
Femila mengangguk.
"Berapa lama kamu membujuk Safera."
"Satu minggu."
Ustadz Mirza diam tak ada respon.
"Apa ustadz marah?" Tanya Femila dengan hati-hati.
"Atas dasar kemanusiaan saya izinkan." Jawab ustadz Mirza.
"Saya tidak mungkin macam-macam. Begini-begini juga punya harga diri. Saya masih menghormati ustadz selama ustadz masih menghormati pernikahan kita." Ucap Femila.
Ustadz Mirza mengangguk. "Berdoa setelah itu tidurlah." Ucap ustadz Mirza dilanjut membaca surah Al muawwidzat dan doa akan tidur. Hal yang membuat terkesima, untuk kesekian kalinya Femila melantunkan ketiga surah Al Qur'an itu dan doa akan tidur bersama dengan ustadz Mirza.
...****************...
Femila nampak mencibirkan bibirnya. Masuk ke dalam mobil ustadz Mirza, Aliyah ikut masuk dan duduk di jok depan samping kemudi. Femila nampak kesal setiap sore harus menjalani aktifitas yang menurutnya di luar logika. Bagaimana tidak, dalam enam hari ini setiap sore ustadz Mirza menjemput Femila dari kantor kemudian mengantar ke kantor PT Perkasa Bintang dan dengan entengnya sekalian masuk ke kantor menemani Safera main di sana.
Habibi tersenyum melihat dua orang yang ada di belakangnya. Si Istri merasa kesal karena dibuntuti setiap geraknya dan si suami merasa tanpa dosa dengan tampang yang biasa saja.
Flashback on.
"Kamu jangan asal bicara Bi." Kesal ustadz Mirza mendengar ucapan Habibi.
"Saya tidak asal bicara Ustadz. Apa itu kalau bukan cemburu, merencanakan untuk membuntuti Femila sampai ke kantor PT Perkasa Bintang."
"Saya tidak cemburu." Tekan ustadz Mirza sekali lagi.
"Kamu tahu sendiri, Femila akan menemui om Fery yang statusnya duda. Walaupun saya percaya Femila tidak akan macam-macam tapi bagaimana dengan om Fery?" Sambung ustadz Mirza.
"Femila tidak sendiri di ruangan itu, tapi ada Aliyah."
"Bagaimana kalau Aliyah pura-pura diminta keluar untuk beli makanan atau untuk foto kopi berkas atau apalah. Kita kan tidak tahu."
"Bener-bener pikiran Ustadz parno. Suami posesif." Habibi tertawa terkekeh.
"Waspada itu perlu. Tapi saya tekankan sekali lagi. Ini demi berjaga-jaga."
"Iya, percaya. Suami yang takut istrinya digondol om duda." Ledek Habibi tertawa geli.
plakkk
Satu tinjuan menipuk lengan Habibi.
"Awwww. Sakit Ustadz." Habibi nyengir mengelus lengannya.
"Lagi?" Ustadz Mirza mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Tidak Ustadz." Habibi tertawa terkekeh.
Flashback off.
"Selamat Fem, akhirnya kontrak itu berhasil kamu dapat."
"Hmmmm." Dengung Femila.
"Kenapa tidak berterima kasih dengan saya?"
"Apa hubungannya dengan Ustadz?"
"Kalau saya tidak membantu kamu membujuk Safera agar mau sekolah dan betah tinggal di Jakarta mungkin hasilnya tidak semulus ini."
"Hmmmm." Femila berdengung kembali isyarat mengiyakan ucapan ustadz Mirza dan menarik dua sudut bibirnya membentuk senyum yang sangat amat terpaksa.
Femila melirik ke ustadz Mirza, "Bagaimana bisa dia pede sekali mengatakan itu. Bahkan tanpa dia ikut, Safera pasti mau. Walaupun saya akui selama enam hari Safera malah terkesan lebih lengket dengan ustadz Mirza dan saya di sana hanya menyelesaikan pekerjaan kantor." Batin Femila bermonolog.
"Jangan langsung pulang Bi, kita mampir makan malam."
"Ya Ustadz. Ke tempat biasa?"
"Ya."
Dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai di tempat, tepat waktu magrib berkumandang. Habibi memesan makanan dan saung yang akan di tempati. Kemudian bergegas menyusul yang lainnya yang sudah di musala rumah makan itu.
Selesai mereka menjalankan salat berjamaah, mereka berjalan menuju saung yang Habibi pesan.
"Mengapa harus tempat ini? Ini kan tempat saya bertemu dengan mahluk yang ada di samping saya ini! Apa ustadz ini sengaja?" Batin Femila bermonolog.
Karena tidak fokus jalan ketika akan naik ke tempat saung yang di desain panggung ini Femila terpelesat. Untung ada ustadz Mirza yang sigap menangkap tubuh Femila.
"Ihhh, lepasin." Sungut Femila dan tubuhnya meronta untuk dilepaskan.
Namun apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan. Ustadz Mirza malah menggendong Femila ala bridal style kemudian mendudukannya tepat di samping Aliyah.
"Jangan sampai kamu lepas kendali malah terjatuh lagi. Ingat, kalau sampai tiga kali jatuh di depan saya bukan sakit saja yang kamu rasa tapi pasti malu." Bisik ustadz Mirza di telinga Femila kemudian duduk di sampingnya.
Femila menatap ustadz Mirza dengan kesal. Ustadz Mirza malah tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Femila.
"Apa maksud jangan jatuh ketiga kalinya!" Femila memastikan ucapan ustadz Mirza.
"Pikir saja sendiri. Ceroboh." Satu ketukan berhasil mendarat di dahi Femila.
"Awww. Sakit Ustadz." Pekik Femila sambil memegang dahinya.
Ustadz Mirza tersenyum menang.
drt
drt
drt
Ponsel Aliyah yang di taruh di atas meja makan berdering, satu panggilan video call. Femila dan Aliyah menatap bersama ke ponsel, panggilan itu tertera nama Mbak Hana.
deg.
like dari bab 1 sampai bab 45, komen, favorit, rate, hadiah juga mau🤗.
terima kasih kak😍🥰😘
__ADS_1