
Andra tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Femila.
Jantungnya bergemuruh, sakit sampai ke ulu hati. Itu yang Andra rasa, ketika orang yang selama ini masih menduduki tahta hatinya tega melontarkan kalimat yang seharusnya tidak diragukan untuk tidak dia lakukan.
Andra membuang napas kasar. "Apa di pikiran kamu, aku sebejat itu?" Tanya Andra dengan wajah yang merah padam menahan amarah dan kecewa yang tertumpah menjadi satu, menatapnya lekat wajah wanita yang ada di hadapannya.
deg
Femila terdiam. Matanya juga menatap tajam ke arah Andra. "Aku tidak segan-segan buat perhitungan kalau sampai kamu yang melakukan itu." Nada ancaman terarah ke Andra.
Andra tersenyum kecut kembali.
"Apa karena membela suamimu sampai kamu menuduh sekejam ini?"
"Cukup sekali kamu menghancurkan hidupku!" Suara Femila meninggi. Entah kekuatan apa sampai dia melontarkan kalimat itu.
"Tapi aku bersyukur. Akhirnya kamu bisa melupakanku."
"Kamu terlalu percaya diri, kamu pikir selama ini aku belum melupakanmu! Itu yang kamu pikirkan." Femila masih meninggikan suaranya, deraian air mata kini tampak di pipinya dan napasnya tersengal-sengal tidak teratur karena gemuruh di dadanya.
Apa yang terlontar dari mulutnya benar-benar di luar pikirannya dan berbanding terbalik dengan hatinya.
"Kamu pergi begitu saja Andra. Padahal saat itu aku butuh kamu." Femila merendahkan suaranya dengan isak yang menyertainya.
Tiba-tiba saja mulutnya berucap seperti itu.
Andra terdiam. Itu memang kesalahan terbesar dalam hidupnya. Namun, dia harus menempuh jalan itu demi bundanya.
"Apa kamu tahu, siapa yang paling kubenci di dunia ini?" Masih dengan suara yang lirih.
Femila diam mengharap Andra mengucap sepatah kata. Namun Andra juga diam.
"Itu kamu Andra." Kalimat itu lolos tanpa beban dari mulut Femila
"Bahkan kebencianku ke kamu melebihi kebencianku pada ustadz Mirza yang telah menyebabkan aku cacat!" Femila meninggikan suaranya kembali.
"Apa kamu tahu juga. Siapa yang selama ini kurindukan?"
__ADS_1
"Itu juga kamu Andra." Lirih Femila berbanding terbalik dengan pernyataan yang terlontar sebelumnya yang mengatakan sudah melupakan Andra dan sangat membencinya.
"Aku...aku seperti orang bodoh. Di hatiku sangat membenci kamu di sisi lain aku juga sangat merindukan kamu." Ucap Femila sambil memukul dadanya sendiri karena ulu hatinya terasa sakit teramat. Air matanya masih mengalir bebas di pipinya.
Andra terdiam. Ingin rasanya meraih tubuh wanita yang ada di hadapannya dan menghapus air mata itu. Tapi, dari awal perpisahan Andra sudah bertekad akan melupakan Femila dan merelakannya. Ditambah sekarang, posisi Femila sudah bersuami dan suami yang dipilih oleh Femila sangat tepat menurut Andra. Tepat dari segala hal.
"Aku pun sama Fem, sangat merindukanmu." Ucap Andra hanya mampu terlontar dalam batinnya.
"Lupakan semua. Kita jalani hidup kita masing-masing," kalimat itu akhirnya mampu dilontarkan Andra ke Femila walaupun perih tetap harus terucap agar semuanya terang.
"Kamu sudah memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dibanding ketika bersamaku." Sambung Andra.
Femila masih dengan derai air matanya. Rasanya inilah yang terbaik, menangis mengeluarkan segala beban yang telah membelenggu nya selama lebih dari setengah tahun.
"Aku yakin. Dia lelaki yang sangat tepat untukmu Femila. Dia lelaki yang bertanggung jawab dan dari sorot matanya dia sangat mencintaimu."
Andra menelan salivanya. Untuk mengucapkan itu semua butuh keberanian karena sangat bertolak belakang dari hatinya yang sebenarnya belum merelakan Femila dengan lelaki lain. Namun ini tekad. Sekuat apapun mempertahankan perasaannya itu percuma. Dia tidak mampu membongkah tembok hati bundanya yang melarangnya kembali ke Femila. Mempertahankan Femila berarti akan menambah luka untuknya dan jalan terbalik mengikhlaskan perasaan yang sama.
"Dari awal kita berpisah, aku sudah ikhlaskan kamu Fem. Bukalah hati kamu padanya yang benar-benar bisa membuatmu bahagia." Pinta Andra.
"Bukalah hatimu yang sebenarnya sudah ada rasa cinta untuk ustadz Mirza. Hanya kamu mengubur rasa itu dengan kebencian dan amarah yang terlalu tinggi padaku." Lanjut Andra.
Andra kini juga terdiam. Rasanya baru pertama kali ini dia berbicara terlalu panjang. Dia yang irit bicara, entah kekuatan apa yang mendorongnya hingga lancar berbicara panjang lebar pada Femila.
Sebenarnya ini juga momen yang ditunggu Andra. Berbicara dari hati ke hati. Saling mengikhlaskan untuk melanjutkan hidup masing-masing. Memberi kejelasan hati yang masih terpaut karena perpisahan sebelumnya yang terlalu cepat dan mendadak.
Sedangkan Mario. Dia yang sedari awal berdiri di belakang kursi Andra, mengusap air matanya agar tidak membasahi pipinya.
Sejarah baru untuk Mario. Jarang sekali, bahkan mungkin sudah puluhan tahun dia baru menitihkan air mata. Karena apa? Karena begitu terharu dengan kisah cinta tuannya yang begitu dramatis, begitu banyak pengorbanan dan keikhlasan karena tidak bisa memiliki satu sama lain walau cinta masih ada di antara keduanya.
"Kalau kamu tahu cerita yang sebenarnya, apa reaksi kamu Non Femila?" Batin Mario yang kini lebih memilih menahan cairan bening itu menumpuk di pelupuk matanya.
"Selama ini tuan Andra hanya menahan rasa sakit sendiri. Bertahan agar Non Femila menjalankan hidup yang baru." Masih monolog batin Mario.
"Jam istirahat kita sudah hampir habis Non. Sebaiknya kita kembali ke kantor." Ajak Aliyah agar nonanya tidak larut dalam kesedihan.
Femila membersihkan mukanya dengan tisu. Menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya. Tangannya bergerak ke tangan Aliyah agar dia membantu berdiri dari sofa.
__ADS_1
Aliyah memapahnya dan berpamitan keluar. "Kami keluar dulu Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Lirih Andra dan Mario.
Femila berjalan agak gontai sambil dipapah oleh Aliyah.
"Femila, aku harap kamu mau memaafkanku." Ucap Andra sebelum Femila melangkah keluar dari ambang pintu ceo room.
Mario berjalan mengekor di belakang Femila dan Aliyah. Dia tahu maksud dari tunjukan dagu tuannya agar dia memastikan Non Femila dan Aliyah baik-baik saja sampai masuk mobilnya.
Aliyah membukakan pintu mobil untuk nonanya. Kemudian dia masuk ke jok kemudi dan melajukan mobilnya masuk ke jalanan kota yang padat kendaraan. Tiga puluh menit sampailah di kantor.
Aliyah membuka ponselnya setelah duduk di ruang kerja nonanya. Dia memesan makan siang karena niatnya sepulang dari kantor PT Perkasa Bintang akan makan siang di luar. Hanya saja keadaan tidak memungkinkan akhirnya Aliyah lebih memilih memesan makanan via online.
Lima belas menit OB mengirim pesanan ke ruang kerja Femila.
"Terima kasih ya Mas." Ucap Aliyah.
Tangannya kemudian membuka plastik hitam yang dia pegang ada dua box makan.
"Makanlah Non, kita belum makan dan aku sudah sangat lapar." Ucap Aliyah yang sudah membuka box makanannya.
"Sampai lupa belum uci tangan dulu." Monolog Aliyah kemudian masuk ke toilet dalam ruangan.
Dia duduk kembali berdoa kemudian menyantap makanannya. "Non, makanlah."
Femila hanya tersenyum dan mengangguk. Matanya tetap menatap layar laptop yang baru dia nyalakan.
Satu, dua, tiga, akhirnya jam pulang kerja sudah datang. Femila dan Aliyah bergegas keluar dan masuk ke mobil yang ada di parkiran.
"Aliyah jangan katakan apapun pada ustadz Mirza. Biar saya yang langsung bicara padanya."
Aliyah paham arah pembicaraan nonanya, "Insya Allah Non." Jawab Aliyah.
Bagaimana kehidupan Andra dan keputusan Bundanya untuk tidak merestui hubungan Andra dan Femila ada di Bab 1-25an jangan lupa dilike juga.🙏🥰
Semangat pagi semua....Berikan like dan komentar kalian.😘❤️
__ADS_1
Itu vote yang masih nganggur boleh juga di kasih🤭kalau ada yang mau kirim bunga atau kopi juga boleh.🙏😘😍🤩🥰🌹