
Mama Anita tersenyum melihat anaknya yang marah tidak karuan.
"Kami titip Femila Nak." Ucap mama Anita.
Ustadz Mirza mengangguk.
"Kami percaya kamu bisa menjaganya." Lanjut papa Riyan teringat ucapan komitmen ustadz Mirza kala meminta restu.
Flashback on
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Ada yang bisa saya bantu Mas?" Tanya pelayan butik.
"Saya mau bertemu ibu Anita."
"Silahkan duduk dulu Mas, saya panggilkan ibu Anita dulu."
"Ya terima kasih."
"Ada perlu apa lagi." Ketus mama Anita begitu melihat tamu yang duduk di kursi.
"Sebaiknya kamu pulang saja." Sambung papa Riyan yang sore itu sudah datang menjemput mama Anita.
"Saya perlu bicara pada Ibu dan Bapak." Ucap ustadz Mirza.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya kamu pergi." Papa Riyan masih menahan emosi.
"Sudahlah Pa, biar dia bicara saja. Kita dengarkan dulu dari pada nantinya harus berurusan lagi dengan orang macam dia."
Ustadz Mirza mendudukkan kembali pantatnya di kursi.
"Cepat bicaralah!"
"Kemarin Femila datang ke rumah saya dan meminta untuk menikahinya."
"Jangan kamu hiraukan omongannya." Ucap mama Anita.
"Saya sudah memantapkan untuk menikahinya."
"Atas dasar apa?" Memastikan papa Riyan.
"Femila hadir dalam mimpi saya setelah saya istikharah, tidak dipungkiri mungkin itu memang petunjuk dari Allah, bisa juga bisikan setan ataupun hanya bunga tidur saja."
"Hanya karena mimpi kamu menerima tawaran Femila." Cecar papa Riyan
Deg! Pertanyaan yang sama persis dilontarkan oleh Habibi.
"Saya lah yang andil besar atas pembatalan pernikahan Femila."
"Femila hanya terbawa emosi saja. Jangan kamu hiraukan permintaanya. Silahkan pergi." Ucap papa Riyan.
"Jujur saya belum mencintai Femila, namun saya akan selalu berusaha menjaga dia, membahagiakan dia."
"Dengan apa kamu membahagiakan dia."
"Saya tidak bisa memberikan janji apa pun pada Femila. Takut janji itu tidak saya penuhi. Namun saya akan jalani pernikahan dengan tulus ikhlas karena Allah ta'ala."
"Bagaimana bisa Femila akan bahagia kalau pernikahan kalian tanpa cinta? Dua ingsan menikah yang tadinya saling mencintai saja bisa berpisah. Apalagi kalian tanpa cinta." Argumen papa Riyan.
"Itulah kuasa Illahi, hati yang saling mencintai saja bisa saling membenci. Kita tidak tahu ke depannya perasaan saya dan Femila akan seperti apa. Wallahu 'alam." Sanggah ustadz Mirza.
Sejenak semua terdiam.
__ADS_1
"Nikahilah anak saya Femila Amore Ibrahim." Mantap papa Riyan.
Ustadz Mirza tersenyum mendengar persetujuan dari orang tua Femila.
"Bagaimana Ma?" Papa Riyan memandang istrinya berharap jawaban yang sama.
"Apapun itu asal Femila bisa bangkit dalam keterpurukannya dan bahagia, tentu saya restui."
Flashback of.
"Bicarakan baik-baik dengan Femila." Ucap mama Anita.
"Ya Ma." Jawab ustadz Mirza kemudian melangkah ke kamarnya.
...****************...
Femila menatap lekat ke seluruh penjuru ruangan. Rasanya begitu berat harus meninggalkan kamarnya. Ya, dia akan pindah ke rumah ustadz Mirza setelah melalui drama rayuan dan bujukan dari orang tuanya. Tiga koper besar sudah masuk ke mobil.
"Habibi, tolong kamu bawa juga kardus yang ini." Pinta ustadz Mirza.
"Ya ustadz."
Dua kardus pun diangkat masuk ke mobil.
"Masih ada lagi ustadz?"
"Sudah semua." Ustadz Mirza masuk kembali ke kamar karena orang yang akan diboyong masih belum kunjung keluar juga.
"Apa perlu kamarnya ikut dipindah?" Ucap ustadz Mirza saat mendapati Femila yang masih duduk menatap berbagai pajangan yang ada di kamar.
"Kalau kamu bisa, sekalian pindahkan." Sahut Femila kemudian menurunkan kruk nya ke lantai dan berjalan ke luar kamar menuju ke mobil yang terparkir di halaman depan.
Femila masih terdiam belum mau masuk ke mobil.
"Mama tidak apa-apa sayang."
"Mama, saya sudah nangis loh." Sambung Femila yang sudah berderai air matanya.
"Nak Mirza, kasian itu hapus air mata Femila." Pinta mama Anita.
"Apaan sih Ma." Femila langsung menyeka air matanya.
Dibalas dengan senyuman mama Anita dan ustad Mirza.
"Kenapa mama dan papa tidak ada yang menangisi saya." Protes Femila.
"Kamu akan bahagia di sana sayang. Ingat cepat beri mama papa cucu."
"Kenapa tidak Mama Papa saja yang buat anak." Ketus Femila.
"Ide bagus Ma. Semangat papa Riyan.
"Papa!" Mama Anita menatap tajam suaminya dengan memanyunkan bibirnya.
"Unyu-unyu, nambah gemes deh sama Mama." Mencubit dua pipi istrinya.
"Ya ampun, apa-apan sih kenapa malah melihat drama kalian." Gerutu Femila langsung masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Saya pamit Ma, Pa." Ustadz Mirza mencium punggung tangan mertuanya.
"Jaga Femila Nak, kami titipkan sama kamu."
"Ya Pa. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikum salam."
Pip.
Suara klakson mobil menandakan pamit jalan. Mama Anita melambaikan tangannya.
Menatap mobil yang membawa anaknya pergi.
"Kejadian ini akhirnya tiba Pa. Merelakan anak semata wayang kita pergi bersama pasangannya." Pipi mama Anita mulai basah dengan air mata.
Papa Riyan langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Sebenarnya sejak ustadz Mirza izin akan membawa putri semata wayangnya dia sudah menangisi semalaman. Dan hari ini, dia mencoba tegar di hadapan anaknya.
Sementara di dalam mobil, dua ingsan yang duduk di belakang kemudi masih saling diam tanpa bicara.
"Mbak Femila, maaf kemarin saya tidak datang ke acara pernikahannya mbak." Ucap Habibi.
"Ya, saya maafkan. Tapi perlu ingat lagi, jangan panggil MBAK. Kesannya lebih tua saja.
"Dek." Tawar Habibi.
"Saya bukan adik kamu!." Protes Femila.
"Nona."
"Lebih enak di dengar."
"Tujuh hari yang lalu bapaknya Habibi meninggal." Sela ustadz Mirza.
"Saya ikut bela sungkawa." Nada bicara Femila lebih halus. "Semoga beliau Khusnul khotimah."
"Ya Mbak, maksud saya Non, terima kasih atas doa dan bela sungkawanya."
Mobil sudah memasuki halaman rumah ustadz Mirza. Rumah yang dua kali ini didatangi oleh Femila. Nampak di depan ada bapak paruh baya dan wanita berumur 45 tahunan menyambut kedatangan mobil itu. Wanita itu langsung membantu Femila turun dari mobil.
"Mbak Atik, langsung antar Femila ke kamar." Pinta ustadz Mirza.
"Nggih (ya) Ustadz."
Ustadz Mirza mengekor Femila jalan ke kamar. Terlihat mbak Atik sudah membukakan pintu kamar, aroma pengharum ruangan langsung menyeruak.
"Taruh di sini Ustadz?" Tanya pak Rohim sambil menaruh koper.
"Ya pak, masukkan kamar Ini semua." Jawab ustadz Mirza.
Femila mendudukkan diri di tepi ranjang. Ranjang dan ukuran ruang memang sama besar dengan kamar Femila. Mata Femila memutar menatap kamar barunya dengan warna putih, elegan, rapi, dan bersih.
"Semoga betah di kamar baru ini." Ucap ustadz Mirza. Barang-barang kamu ditata besok saja karena hari sudah malam."
Femila hanya diam tidak menyahuti ucapan ustadz Mirza.
Ustadz Mirza duduk di sofa kamar, mengusap layar ponselnya ada beberapa pesan masuk yang belum dia baca. Dia buka satu persatu dan jarinya menyentuh status yang ada di menu WA. Tertera nama Hana dengan status.
Merelakan yang memang bukan milikku.
dengan gambar sepasang sepatu pantofel yang difoto dari jarak jauh.
Ustadz Mirza membesarkan foto itu.
"Sepatu ini." Gumamnya.
Tuling.
Satu pesan berhasil masuk dan langsung terbaca ustadz Mirza
__ADS_1
Selamat atas pernikahannya ustadz, semoga menjadi keluarga yang sakinah ma waddah wa rohmah.