
"Ustadz...saya nyerah. Bisa ganti hukumannya tidak?" tawar Habibi.
"Tidak bisa, kalau memang tidak mau terima hukuman berarti penuhi tantangan kamu."
"Mengapa saya merasakan ada unsur kesombongan di balik ucapan Ustadz?" ledek Habibi.
Ustadz Mirza tersenyum kecil mendengar ucapan Habibi.
"Dulu yang buat tantangan siapa? Katanya mau nikah sebelum saya tidak perjaka? Mana buktinya? Sebut saja calonnya kamu, sudah saya gugurkan dari hukuman," terang ustadz Mirza.
"Kalau belum ada calon bagaimana menyebutkan nama si calon," gerutu Habibi.
"Sudah dapat tambahan waktu belum juga dapat?"
"Terus saja Ustadz ledek, tidak semudah itu memilih calon istri," lirih Habibi.
"Tapi dulu ada yang sesumbar dan berlagak sombong memberi tantangan semacam itu?" tanya ustadz Mirza.
"Itu...agar Ustadz semakin semangat mengejar cintanya non Femila," jawab Habibi.
"Tanpa kamu beri tantangan saya sangat semangat dan ikhlas apa yang menjadi jalan hidup saya."
"Ckckc...sok puitis sekali Ustadz, ya saya percaya akan cintanya Ustadz ke non Femila."
"Bagus kalau kamu tahu, sekarang kembali ke topik. Sebutkan nama calon istri kamu. Kalau tidak mampu menyebutkan nama boleh sebutkan inisialnya. Kalau tetap tidak ada ya...mau tidak mau, hafalkan Surah Al Mulk-nya," terang ustadz Mirza.
"Nanti saya hafalkan Surah-nya," jawab Habibi menyerah.
Ustadz Mirza tersenyum, "Satu minggu kamu hafalkan," ucap ustadz Mirza kakinya melenggang keluar dari ruang kerja.
Mata Habibi terbelalak mendengar kalimat yang terlontar dari mulut ustadz Mirza, "Ustadz memberi hukuman atau ancaman? Satu minggu mana bisa hafal?!" teriak Habibi karena ustadz Mirza sudah melangkahkan kaki di ambang pintu.
"Pasti hafal," jawab ustadz Mirza tanpa menoleh, tangannya bergerak membuka pintu dan kakinya kembali melangkah.
Kakinya dia hentikan ketika sampai di depan kulkas, tangannya yang sudah menggapai kulkas dia urungkan untuk membukanya. Matanya menangkap sesosok wanita yang sedang bergelut di dapur. Kakinya dia langkahkan untuk menghampirinya.
"Ustadz," sapa Femila terkejut karena tiba-tiba laki-laki itu ada di sampingnya.
Ustadz Mirza tidak membalas sapaan Femila, matanya tetap memandang wanitanya.
"Jangan terlalu capek sayang," pinta ustadz Mirza.
"Tidak capek Ustadz, pokoknya kalau aku capek, aku langsung istirakhat," ucap Femila tangannya tidak berhenti menggoreng tempe tanpa tepung kemudian membiarkannya.
"Aku bantu apa?" tawar ustadz Mirza.
"Bantu habisin makanan sayang," jawab Femila mengusap pipi yang sudah mendekat ke wajahnya.
__ADS_1
Senyum kecil tergambar di wajah ustadz Mirza.
"Itu pasti sayang. Oya, mbak Anik dimana?"
"Sedang keluar beli tepung."
"Buat goreng apa?"
"Tempe. Pak Rohim sukanya tempe tepung."
"Ini tempenya angkat sayang?" tanya ustadz Mirza melihat tempe yang ada di wajan sudah berubah warna kecoklatan.
"Ya, tolong angkatin Ustadz," jawab Femila tangannya masih bergerak menghaluskan sambal yang ada di cobek.
"Sayur asamnya tolong taruh di mangkok sayur," pinta Femila.
Setelah taruh di mangkok besar, Ustadz membawa ke meja makan. Kakinya kembali memutar ke dapur. Ditaruhlah tempe yang sudah ditiriskan di piring oval. Kemudian dia tata kembali di meja makan. Beberapa menu dia ambil lagi di dapur.
Femila mendudukkan pantat di kursi makan. Begitu juga ustadz Mirza. Habibi baru menyusul setelah mendapat panggilan makan dari mbak Anik.
"Sepertinya enak nih...sudah lama sekali kita tidak makan sayur asam, ikan penyet, dan satu lagi tempe tanpa tepung," celoteh Habibi dengan menaruh semua menu yang dia sebutkan.
"Pasti enak," jawab Femila.
"Berdoa dulu Bi," ucap ustadz Mirza melihat Habibi akan memasukkan satu suap makanan dengan terburu-buru.
"Iya...sampai lupa," seru Habibi.
"Alhamdulillahilladzi ath'amanaa wa saqaanaa waja'alanaa minal muslimin," ucap ustadz Mirza disusul Femila dan Habibi.
"Biar Habibi yang bawa Fem, kamu langsung ke tempat salat. Kita salat Zuhur berjamaah," ajak ustadz Mirza ketika tangan Femila akan membawa bekakas yang sudah dipakai untuk makan.
"Ya Non, biar saya yang bawa," sela Habibi.
"Ya," jawab Femila kemudian melangkah ke tempat salat disusul ustadz Mirza.
Warga rumah sudah lengkap di tempat salat, mereka segera melaksanakan salat Zuhur berjamaah.
Setelah salat Zuhur Habibi izin keluar akan ke markas kajian Islam, dia sudah janjian dengan Iqbal di sana.
"Bi, sekalian cari calon ya...," pesan ustadz Mirza.
"Ledek terus... mentang-mentang sudah punya yang halal," jawab Habibi.
"Biar kamu semangat nyarinya."
"Semangat sekali Ustadz," ketus Habibi yang langsung menjalankan mobil.
__ADS_1
Ustadz Mirza terkekeh melihat reaksi Habibi, "Assalamualaikum...," teriaknya.
"Waalaikum salam...," jawab Habibi yang sampai lupa memberi salam sebelum melajukan mobil.
Matanya sudah memutar ke sudut ruangan tapi wanitanya tidak ada. Ustadz menyimpulkan pasti ada di kamar. Setelah pintu terbuka benar saja wajah istrinya terlihat. Dia sedang fokus dengan ponsel yang ada di tangan.
Ustadz Mirza naik ke atas ranjang, menutup setengah badannya dengan selimut, "Masih sibuk?" sapa ustadz Mirza.
"Tidak, hanya baca berita pasar."
"Masakannya enak sayang," puji ustadz Mirza mengalihkan pembicaraan.
"Aku tahu pasti enak," jawab Femila diiringi senyum karena mendengar pujian dari suami.
"Belajar masak dari siapa?"
"Dari mbok Mina dan YouTube," jawab Femila.
"Tapi lain waktu jangan terlalu capek," saran ustadz Mirza wajahnya mendekat dan mencium singkat dahi istrinya.
"Ya Ustadz, aku berasa kaya istri sultan. Mengerjakan ini tidak boleh, itu tidak boleh."
"Aku khawatir dengan kaki kamu sayang," jawab ustadz Mirza.
"Sudah aku bilang ustadz, kalau aku capek... aku akan berhenti," tangan Femila mengusap pipi lelaki yang memang sudah sah menjadi suaminya.
Ustadz Mirza menggenggam tangan itu, menciuminya bertubi-tubi. Femila tersenyum mendapati perlakuan dari suaminya.
"Sebenarnya aku takut Ustadz," Femila membuka percakapan serius.
"Takut kenapa?" tanya ustadz Mirza merasa khawatir.
"Takut akan kematian," jawab Femila pelupuknya sudah terisi genangan cairan.
"Mati memang hal pasti yang akan menghampiri setiap manusia. Tidak pandang tua, muda, balita, sakit bahkan sehat, siang ataupun malam, di rumah, di sekolah, di Musala, semua tak luput dari jangkauan kematian. Terima kasih sayang sudah mengingatkan kematian. Semoga menambah keimanan kita."
"Amin...terkadang aku malu, sudah menikah dengan ustadz satu tahun lebih tapi sekalipun belum pernah memasak makanan untuk ustadz, bahkan menyuguhkan minuman pun tidak pernah. Padahal...kita tidak tahu umur kita sampai kapan. Bisa juga aku yang ditinggalkan Ustadz terlebih dahulu atau sebaliknya Ustadz yang meninggalkan aku terlebih dahulu. Wallahu 'alam," terang Femila matanya masih menahan cairan bening di pelupuknya.
"Semoga Allah memberi umur yang panjang dan barokah pada kita. Menua bersama dengan anak cucu kita."
"Amin," jawab Femila tubuhnya mendekat ke arah suami kemudian mendekap tubuh itu. Menyesap aroma tubuh yang ikut mendekapnya erat. "I love you, Ustadz," lirih Femila tak terasa air mata yang dia tahan kini mengalir bebas di pipi.
"I love you to istriku," balas ustadz Mirza dan tangannya bergerak menghapus air mata yang baru menggenang di pelupuk.
"Aku juga takut kehilangan kamu sayang, takut tiba-tiba Allah mengambilmu, takut tiba-tiba kisah manis kita berakhir karena hati kita sudah mati untuk saling mencintai. Astaghfirullah haladhim...ampuni segala dosa kami ya Allah...tetapkanlah hati kami untuk saling mencintai karena-Mu. Relakan hati kami kalau kematian telah memisahkannya," keluh batin ustadz Mirza bib*rnya mendarat di tengkuk sang istri.
...----------------...
__ADS_1
Assalamualaikum....sore readers...Ustadz Mirza dan Femila menyapa kembali. Terima kasih masih mendukung novel ini dengan memberikan like, komen, hadiah, dan vote.
lope lope buat kalian. next time insya Allah menyapa kalian lagi🤗 semoga kalian tetap suport authornya.😍🌹jangan bosen ya🤭