KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 21


__ADS_3

"Nikahi saya." Permintaan itu meluncur dari mulut Femila tanpa beban.


Berbanding terbalik dengan ustadz Mirza yang sangat terkejut dan berat menjawab permintaan Femila. "Maksud kamu?"


"Apa kurang jelas kalimat saya! Ni-ka-hi sa-ya." Femila sengaja mengeja kalimatnya.


Ustadz Mirza masih terdiam tak percaya. "Menikah?" Ulangnya.


"Ya."


"Kenapa menikah?" Ulang ustadz Mirza masih dalam ketidakpercayaan. Pandangan seorang ustad Mirza menikah bukanlah hal yang mudah. Ada yang ngajak nikah, langsung yuk nikah atau ketika nikah bosen ya sudah ceraikan. Banyak pertimbangan dalam hal menikah dan dia masih ingat betul ketika nyantri di pesantren.


Wanita itu dinikahi karena empat hal. Kerena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu yang paling utama yang harus jadi perhatian adalah Masalah agamanya. Maka perhatikanlah agamanya niscaya kamu akan selamat.


Sekarang, bagaimana bisa saya menikahi gadis yang sama sekali belum saya kenal agamanya. Agamanya memang islam tapi bagaimana pendalaman agamanya? Batin ustadz Mirza bermonolog.


"Saya batal menikah karena cacat. Jadi apa salah saya meminta pertanggungjawaban pada orang yang menyebabkan saya cacat." Jelas Femila.


Ustadz Mirza terdiam. Sedikit membenarkan ucapan Femila kalau dirinya yang menyebabkan Femila cacat namun tidak dengan menikahinya. Bukan sama sekali. Bukankah diam-diam hatinya telah terisi wanita special? Walaupun belum terlihat jelas special seperti apa yang hatinya maksud.


"Kenapa hanya diam ustadz?" Tanya Femila.


"Bolehkah permintaan lain?"


"Kembalikan kaki saya!"


Singkat namun benar-benar menghunus jantung ustadz Mirza.


"Beri saya waktu." Ustadz Mirza pasrah dengan permintaan pertama dari Femila.


"Tiga hari."


"Satu minggu." Tawar ustadz Mirza.


"Oke. Satu minggu. Dalam satu minggu saya tidak menerima jawaban mengecewakan."


"Sama halnya kamu memaksa untuk mengiyakan permintaan kamu."


"Apakah terlihat seperti itu?"


Ustadz Mirza mendengus kesal. "Saya beri uang asuransi seumur hidup. Kalau perlu saya beri asisten untuk merawat kamu." Lanjut ustadz Mirza.


"Kalau saya tergiur dengan uang anda, saya sudah minta dari awal kecelakaan."


Ustadz Mirza terdiam. Bukankah memang benar tidak pernah Femila mengungkit uang asuransi bahkan ketika dirinya membayar biaya pengobatan rumah sakit sebenarnya juga ditolak oleh Femila maupun kekasihnya.

__ADS_1


"Dan asisten, saya masih mampu membayar seorang asisten." Lanjut Femila kemudian melangkah pergi dengan kruk yang kini setia menemaninya kemana pun pergi.


"Assalamualaikum." Ucap ustadz Mirza karena Femila pergi tanpa mengucap salam.


"Waalaikum salam." Langkah Femila terhenti sebentar menjawab salam.


Ustadz Mirza mengusap kasar wajahnya. "Astaghfirullah haladhim. Dia pikir menikah itu apa! Lalu kenapa saya tidak dengan tegas katakan tidak mau!" Gerutu ustadz Mirza pada dirinya.


Habibi melangkah dengan ragu, mengendap-endapkan langkahnya agar tidak menimbulkan bunyi. Dia tidak ingin masuk dalam permasalahan yang sekarang di hadapi ustadz Mirza. Tentu saja Habibi dengar dengan jelas percakapan ustadz Mirza dan Femila karena selesai mengantar Hana ke gerbang rumah, Habibi langsung melangkah ke ruang tamu namun langkahnya terhenti karena mendengar pembicaraan dua orang yang ada di sana.


"Tunggu Habibi." Cegat ustadz Mirza.


deg.


"Tuh kan beneran, ustad Mirza pasti meminta saya untuk menyelesaikan masalah ini." Batin Habibi bermonolog. Habibi memundurkan langkah kemudian melangkah ke ustadz Mirza. "Apa ustadz?" Tanya Habibi.


"Kalau sudah dengar semua pembicaraan saya dengan Femila, sekarang saya minta saran dari kamu."


"Bagaimana bisa dia langsung mengerti saya sudah dengar pembicaraannya dengan Femila." Batin Habibi. "Istikharah ustadz." Ucap Habibi.


"Subhanallah, Astaghfirullah hal adzim. Kenapa tidak berpikir sampai ke sana. Seyrahkan sama Allah. Salat sunah kepada Allah memohon supaya ditunjukkan jalan yang benar. Kamu the best partner." Puji ustadz Mirza menepuk bahu Habibi kemudian berlalu pergi setelah mengucapkan terima kasih.


Sedangkan Habibi, masih mematung tidak percaya kalau satu kalimatnya bisa membebaskan dari kekalutan dirinya maupun ustadz Mirza.


"Maaf ustadz, saya mau menyampaikan satu hal." Ucap Habibi di hadapan ustadz Mirza yang telah duduk di kursi kerjanya.


"Apa Bi," dengan datar ustadz Mirza menanggapinya karena ketika ke ruang kerja, ada e-mail masuk dari PT Karya Kayu Indah dan sekarang dirinya konsen membaca file tersebut.


"Orang tua Hana nanti sore tiba di Jakarta."


"Apa! Kenapa tidak kamu sampaikan dari tadi!" Kaget ustadz Mirza mendengar kedatangan orang tua Hana akan datang dan kesal karena Habibi baru menyampaikan kabar padanya.


"Maaf ustadz, saya melihat wajah anda tegang terus dari tadi, sampai-sampai saya lupa mau memberikan info ini."


"Jadi, Hana sebenarnya mau menyampaikan berita ini?"


Habibi mengangguk. "Waktu saya antar ke gerbang rumah dia sampaikan pesan itu."


Ustadz Mirza meraih ponselnya menekan beberapa tombol tanpa lama di sebrang sana sudah mengangkat panggilannya.


...****************...


Setelah dari ustadz Mirza Femila langsung pergi ke butik mamanya. Hanya duduk-duduk menemani mamanya ngobrol, sesekali menemani pegawai yang sedang melayani pembeli secara on-line maupun of-line untuk membantunya.


"Ma, saya mau nikah." Ucap Femila di sela-sela obrolannya.

__ADS_1


"Anak mama, sudah lupakan Andra apalagi pernikahan itu. Dia tidak pantas kamu ingat terus menerus," mama Anita menghibur Femila.


"Siapa juga yang akan menikah dengan Andra."


"Tuh kan kamu tahu. Jadi tolong sayang jangan kamu ungkit lagi tentang Andra. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu apalagi untuk mental kamu."


"Saya masih sehat fisik maupun mental ma." Jawab Femila.


"Bagus itu, dan tetap harus semangat!"


"Maaf Bu, pembeli minta warna grey untuk model yang ini." Ucap Winda salah satu karyawan butik.


"Biar saya yang membalas pesannya customer Win." Pinta Femila.


Dengan kelihaian Femila di bidang market akhirnya customer mau dengan model dan warna yang tersedia di butik.


"Hebat Nona Femila, padahal customer sudah ngotot mintanya yang warna grey. Akhirnya luluh dengan tawaran Nona Femila." Puji Winda.


"Anak mama memang hebat. Tidak diragukan kemampuannya." Sambung mama Anita.


"Itu semua bakat alami yang diturunkan sang mama."Jawab Femila.


"Ah...kamu bisa saja sayang." Mama Anita tersenyum mendapat sanjungan dari anaknya. "Makanya sayang, dari pada mau ngapain di rumah mending menyibukkan diri di butik."


"Bilang saja mama seneng di temani Femi."


"Iya juga." Mama Anita tertawa lepas.


...****************...


Ustadz Mirza sedang menunggu kedatangan orang tua Hana sekaligus guru ketika dia nyantri. Setengah jam dari jadwal penurunan penumpang kereta api dia sudah standby di tempat.


"Ustadz, kalau ustadz datangnya jam 14.30 nanti nunggu di terminalnya terlalu lama." Saran Habibi.


"Biar Bi, yang penting Romo kyai sampai, saya sudah sampai terlebih dahulu, dari pada beliau yang menunggu saya. Itu sangat tidak etis."


"Tapi tidak secepat ini juga ustadz."


Nyatanya memang benar. Bahkan kini lebih dari tiga puluh menit karena Hana mendapat kabar dari abahnya ada sedikit masalah sehingga perjalanan mundur lima belas menit dari jadwal.


"Ustadz seperti mau temu calon mertua." Bisik Habibi di telinga ustadz Mirza.


"Habibi!" Melirik tajam ke arah Habibi.


Habibi tersenyum puas melihat reaksi ustadz Mirza.

__ADS_1


__ADS_2