
Akhirnya pesannya kamu baca juga. Ada hal penting yang akan saya sampaikan. Ini mengenai kantor. Kalau kamu sudah nyahok-nyahok segera telepon.
"Itu anak, emang perlu dilurusin otaknya. "Gerutu Femila yang telah mengambil ponselnya dan membaca satu pesan baru dari Silla.
Femila merebahkan tubuhnya di atas kasur dan kedua tangannya dia rentangkan, merasa peredaran darah mengalir ke seluruh tubuh. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.
"Saya sebenarnya ingin masuk kantor kembali. Tapi, harus berurusan dengan PT Perkasa Bintang rasanya begitu berat." Batin Femila.
Dua hari yang lalu Dewan direksi tempatnya bekerja memintanya segera masuk ke kantor karena kontrak kerja sama dengan PT Perkasa Bintang tidak diperpanjang, Femila diminta agar PT Perkasa Bintang mau memperpanjang kontraknya. Jujur dari lubuk hati terdalam Femila benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan PT Perkasa Bintang, dia tidak ingin mengenang apapun dari PT Perkasa Bintang, tepatnya dengan ceo PT Perkasa Bintang. Catatan, walaupun sekarang PT Perkasa Bintang yang ada di Jakarta di tangani oleh om Fery bukan Andra.
Klontang.
Femila membuka pesan yang masuk.
Please Fem, kembalilah ke kantor. Saya tahu, kamu juga bosan di rumah saja. Secara kamu yang biasa aktif di luar dengan kecerdasan kamu yang luar biasa menaklukan sasaran patner kerja perusahaan pasti jiwa kamu meronta-ronta ingin masuk kerja lagi. Yuk lah Fem...kamu pastinya juga kangen saya? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
"Memang sih diam diri di rumah membuat saya bosan. Perasaan kerjaannya cuma makan, rebahan, makan, rebahan. Apa saya coba saja. Toh sekarang yang pegang perusahaan om Fery. Itu pun hanya sekali dua kali berurusan dengan PT Perkasa Bintang. Saya harus profesional, harus bisa membedakan kerja dan urusan pribadi." Gumam Femila sendiri.
Femila meraih bantal dan menutupnya ke wajah. "Jalan hidup saya mengapa begini ya Tuhan." Keluh Femila.
Mulutnya mulai menguap dan lama-lama matanya mulai terpejam sampai ada suara yang membangunkannya dari tidur dia sama sekali tidak goyah dari posisinya. Tubuhnya menyilang di tengah kasur, kakinya menjuntai, kedua tangannya telentang dan wajahnya masih ditutup bantal.
"Ya Allah, ini orang tidurnya kenapa nyilang-nyilang begini? mana telentang segala, saya laki-laki normal lagi." Batin ustadz Mirza setelah masuk kamar dan melihat istrinya tertidur dan sedikit mengutuk diri sendiri yang tidak tahu malu karena gejolak kelaki-lakiannya tiba-tiba muncul.
Ustadz Mirza membuka bantal yang menutup wajah Femila. "Wajah yang cantik, semoga akhlak kamu juga sama cantiknya dengan wajah kamu istriku." Lirih ustadz Mirza masih menatap wajah blaster indo-italia itu.
Tangan kiri ustadz Mirza mengulur di leher belakang Femila dan tangan kirinya mengulur ke kaki Femila. Beban 48kg dia angkat dan rebahkan di posisi yang seharusnya, kemudian menutup tubuh Femila dengan selimut.
...****************...
"Kalau kamu bosan, bisa keluar jalan-jalan dengan Aliyah. Nanti biar Habibi yang nyetir. Saya bisa ke kampus nyetir mobil sendiri." Ucap ustadz Mirza di tengah-tengah diamnya mereka ketika sarapan pagi.
Femila hanya mengangguk. Tubuhnya memang di hadapan ustadz Mirza tapi pikirannya melayang memikirkan bagaimana caranya meminta izin ke suaminya untuk bekerja kembali. Walaupun dia tahu, status pernikahannya hanya di atas buku nikah, dua hati tidak ada rasa karena tidak saling mencinta namun Femila juga punya etika.
"Jadi, iya mau pergi?"
Femila mengangguk sekaligus menggelengkan kepala.
"Maksudnya mengangguk lalu menggeleng?"
"Tidak." Singkat Femila.
"Oh...itu isyarat baru, mengangguk lalu menggeleng sama dengan tidak." Ustadz Mirza menyimpulkannya.
"Terserah Ustadz." Ketus Femila.
__ADS_1
"Saya berangkat dulu."
Femila langsung menarik tangan ustadz Mirza dan mencium punggung tangannya dan menampakkan senyum terindahnya.
Ustadz Mirza mematung, kaget seketika dengan perlakuan Femila. Beberapa hari ini dia yang memaksa agar Femila mencium punggung tangannya ketika akan berangkat kerja. Namun pagi ini, malaikat apa yang menggamparnya agar bersikap selayaknya seorang istri.
"Ya sudah ustadz katanya mau berangkat kerja. Buruan." Ucap Femila.
"Oh, ya. Assalamualaikum." Bangkit dari rasa kagetnya.
"Waalaikum salam."
Ustadz Mirza melangkah pergi.
"Kenapa kembali lagi?" Tanya Femila karena baru sejenak keluar ustadz Mirza masuk kembali.
"Memanggil Habibi."
Femila tersenyum melihat tingkah ustadz Mirza yang sepertinya geram dengan Habibi.
"Maaf Ustadz, tadi mbak Anik nyuruh ngangkat galon."
"Alasan kamu."
Habibi tersenyum mengangguk melewati Femila yang sedang duduk di ruang tengah.
Habibi menjalankan mobilnya meninggalkan parkir rumah masuk ke jalanan kota.
"Tapi, tadi saya menyaksikan sebuah sejarah." Habibi memulai percakapan lagi.
Ustadz Mirza hanya diam tidak menyahuti ucapan Habibi, dia fokus pada layar ponselnya.
"Ustadz tidak penasaran sejarah apa itu."
"Hmmm" Ustadz Mirza hanya mendengung.
"Saking terpananya saya sampai lupa mengabadikan di ponsel."
Habibi melirik ke ustadz Mirza, namun tetap membuat ustadz Mirza tidak bergeming.
"Ada yang pagi-pagi dapat kiss, ya walaupun itu masih di punggung tangannya."
"Maksud kamu itu sejarahnya!"
Habibi terkekeh "Kenapa dengar kiss langsung menoleh." Ucap Habibi masih menahan tawanya.
__ADS_1
"Fokus ke depan Habibi. Jangan banyak bicara apalagi tawamu bikin mual perut." Geram ustadz Mirza melirik Habibi yang masih tersenyum puas.
"Aneh, ada apa dengan Femila." Batin ustadz Mirza.
Sementara di rumah ustadz Mirza.
"Untung tadi ada kak Habibi jadi tugas kampus saya hampir selesai." Ucap Aliyah sambil duduk melanjutkan tugas kuliahnya dan menemani nonanya membaca di samping rumah.
"Jadi bukan angkat galon."
"Maksud Non?"
Femila tersenyum kemudian membuka mulutnya. "Tidak. Kamu lanjutkan saja mengerjakan tugasnya."
Aliyah mengangguk.
"Aliyah, kira-kira kalau saya kerja lagi ustadz Mirza mengizinkan tidak?" Tanya Femila ragu.
"Setahu saya ustadz Mirza orangnya begitu demokratis. Dia menghargai pilihan, keputusan, tindakan, sikap orang lain."
Femila terdiam.
"Non mau kerja? Kerja dimana? Apa tidak sebaiknya di rumah saja. Non Femila kurang apa coba semua kebutuhan dipenuhi sama ustadz Mirza." Ucap Aliyah panjang lebar.
Femila tersenyum, "Pemikiran kamu terlalu kuno. Kerjanya seorang wanita tidak hanya untuk mencari uang Al, tapi ada kepuasan tersendiri ketika ilmu yang ditempuh sampai bertahun-tahun akhirnya bisa bermanfaat, bisa di pakai tidak hanya berdiam diri di rumah."
"Di rumah toh bisa bermanfaat Non, kelak kalau kita punya anak kan dipakai untuk mendidik anak dan menurut saya itu jauh lebih bermanfaat."
"Ya, masing-masing orang juga sih mau menerapkannya seperti apa. Hari ini saya berprinsip seperti ini besok berganti prinsip juga bisa. Kamu berprinsip seperti itu besok berubah prinsip juga tidak apa-apa." Ucap Femila yang memang punya pemikiran terbuka dan menghargai setiap perbedaan.
Aliyah hanya mengangguk mendengar ucapan nonanya yang menurut dia begitu bijaksana.
"Nona mau saya kupaskan apel?" Tawar Aliyah.
"Boleh."
Femila memandang ke arah Aliyah. "Setidaknya ada teman, entah itu teman dalam selimut atau bukan. Sebisa mungkin saya harus berdamai dengan keadaan." Batin Femila.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ustadz Mirza sudah pulang dari kampus dan sekarang duduk di ruang tengah.
Femila ikut duduk di situ sedangkan Aliyah sudah pulang diantar Habibi.
"Ada yang perlu saya bicarakan dengan Ustadz." Femila membuka pembicaraan.
"Tentang apa?"
__ADS_1
"Saya izin mau kembali kerja." Kalimat itu lolos dari mulut Femila.