KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 39


__ADS_3

Femila terdiam. "Saya harus bersikap profesional." Batin Femila menguatkan diri.


"Ya Pak. Permisi."


Femila melangkah ke ruangannya. Mulai mempersiapkan segala pekerjaan yang menurutnya terhenti selama dua bulan ini. Mengejar target yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Berlomba dengan perusahaan lain untuk mencari partner kerja, menstabilkan keadaan pemasaran produk, dan pekerjaan lain yang lama tidak dia jamah dan penuh dengan tantangan yang menggugah jiwanya sebagai petualang terbaik.


tok


tok


tok


"Masuk."


"Hai.... Femila Amore Ibrahim...aduh si cantik yang aduhai, lama tidak jumpa. Kamyu makin cantik aja Cin...idih boleh cium kamyu dong."


Aufar langsung menghambur cipika-cipiki dan dibalas Femila.


"Kalau ada ustadz Mirza boleh tidak ya cipika-cipiki seperti ini." Batin Femila tapi langsung dia tepis.


Rentetan kata memuji, Femila dengar dari mulut Aufar sekretaris Pak Freddy yang memiliki gerak gemulai dan bertutur kemayu itu.


"File nya sudah akoh kirim lewat e-mail Cin, di buka ya."


"Ok Cin."


"Husttt! Cin itu jargon akoh jadi jangan asal pakai."


"Ya deh, sudah sana balik ke kandang."


"Enak aja ke kandang. Emang akoh singa."


Aufar mengucap kata singa dengan suara laki-laki nya.


Femila terkekeh karena itu. "Coba kamu ulang."


"Emang akoh singa." Aufar mengulangnya.


Femila makin terkekeh sambil memegang perut.


"By the way, akoh turut berduka ya Cin atas musibah yang menimpa kamyu. Tapi kamyu tetap cantik mempesona kok Cin."


Femila mengangguk. "Aku tahu cantikku tidak luntur bahkan semakin cantik kan?" Ucap Femila menghibur diri sambil tersenyum.


Aufar mencibirkan bibirnya sekaligus menganggukan kepalanya."Tetap semangat ya Cin." Aufar menepuk halus pundak Femila.


"Thanks Aufar ganteng." Ledek Femila


"Hmmmm." Aufar hanya berdengung, merasa tidak senang dibilang ganteng.


"Sudah ah, akoh pergi dulu nanti bos si uncit itu marah." Celetuk Aufar.


"Aku aduin ke pak Freddy loh pakai ganti nama orang."


"Silahkan Cin... ba bay..."


Langkah Aufar terhenti. "Ini siapa Cin?"


"Asistenku. Aliyah."


"Hai."

__ADS_1


"Hai." Aliyah membalas sapaan itu dengan senyum yang terpaksa.


Aufar pun melangkah pergi dengan menyunggingkan bibirnya dan berjalan lenggak-lenggok layaknya peragawati kecacingan.


"Ini Non." Aliyah menyodorkan tisu.


"Siapa yang minta tisu, saya tidak minta." Ucap Femila yang pandangannya fokus ke laptop di depannya.


"Perlu Non, takutnya Ustadz Mirza tahu kalau pipi Non telah ternoda." Ketus Aliyah.


Femila beralih pandang ke arah Aliyah yang dari raut mukanya tergambar sedang kesal.


"Maksud kamu ternoda karena cipika-cipiki dengan Aufar?"


Aliyah mengangguk keras.


"Kamu ngaco, dia laki jadi-jadian."


"Tetap saja Non dia laki-laki." Aliyah menekan kata laki-laki.


Femila tersenyum melihat ekspresi Aliyah. "Ya, ya, ya saya usap nih." Femila menarik beberapa tisu dan mengusapkan ke pipinya.


"Kamu asisten pribadi sekaligus bodyguard Al. Bahkan protektifnya lebih dari ustadz Mirza." Ucap Femila sambil memandang ke arah laptopnya.


"Itu salah satu tugas saya Non."


Femila mencibirkan bibirnya. Melirik ke arah Aliyah yang masih sibuk berbenah barang yang dibawa Femila.


"Kalau sudah kamu bereskan. Kamu bebas mau keluar juga silahkan."


"Saya tetap di sini saja Non, memata-matai Non Femila biar tidak ada yang main sosor lagi."


"Terserah kamu."


"Mela, tolong panggilkan Marketing Manager ke ruang saya." Femila menutup teleponnya setelah mendapat jawaban ya dari Mela, tim marketing.


Satu hari ini Femila sibuk menata pemasaran produk dan membuat rencana target pencapaian pemasaran produk sampai mengatur jadwal pertemuan dengan sasaran mitra kerja.


Femila membuang napasnya kasar, wajahnya terlihat gusar dengan mata tertutup tombol enter berhasil dia tekan dari laptop yang ada di depannya. Data itu berhasil melesat ke penerima dan selang sepuluh menit Femila sudah mendapat balasan yang intinya jam 10 pagi sudah sampai di kantor PT Perkasa Bintang.


Femila terdiam. Sekali lagi membuang napas dengan kasar. "Ok, harus saya jalani dengan profesional." Lirih Femila namun terdengar oleh Aliyah.


"Kenapa Non?" Tanya Aliyah melihat Nonanya gusar dan tiba-tiba bicara sendiri.


Femila hanya tersenyum, kita beres-beres lalu pulang.


"Tapi belum kasih kabar kak Habibi kita akan pulang."


"Ustadz Mirza tahu jadwal pulang kantor saya. Kalau sampai Habibi belum di parkiran kita naik taksi online."


Aliyah segera bangkit mengambil kruk yang akan dipakai Femila. "Terima kasih Al." Ucap Femila begitu Aliyah menyodorkan kruknya.


Femila dan Aliyah masuk ke lift. PT Garuda Semen Nasional ada di lantai lima dalam gedung perkantoran itu.


"Capek minta ampun. Ada Marketing Executive baru, seharian ini tim kita begitu sibuk." Ucap Silla yang ikut masuk ke dalam lift.


Ting


Pintu lift terbuka.


"Kamu nyindir saya." Tanya Femila begitu keluar dari lift.

__ADS_1


"Begitulah. Sampai kita tidak ada acara buat gosip ria." Silla terkekeh.


"Kamu dijemputkan?"Tanya Silla kemudian.


"Mungkin. Sudah kamu jalan dulu." Ucap Femila.


"Ok. Saya pulang dulu ya. bay..." Silla melambaikan tangannya masuk ke dalam mobil.


Femila membalas lambaian itu. Mobil Honda Brio RS CVT melaju memasuki jalanan.


Bip.


Femila menoleh ke mobil yang ada di samping dia berdiri. Mobil yang tadi pagi mengantarnya sampai ke kantor.


"Assalamualaikum Non Femila, Aliyah."


"Waalaikum salam." Jawab keduanya.


"Sudah lama Bi?" Tanya Femila.


"Lumayan, setengah jam yang lalu."Jawab Habibi.


"Kamu duduk di depan Al, biar ustadz Mirza yang nantinya duduk di belakang." Pinta Habibi.


Aliyah menutup pintu belakang dan membuka pintu depan kemudian duduk di samping pengemudi.


"Ustadz Mirza belum pulang Bi?"


"Kegiatan kajian Islam belum selesai, dan sudah satu jam yang lalu dia nyuruh saya jemput ke sini. Takut sekali tuan putrinya kenapa-napa." Ledek Habibi.


Femila hanya tersenyum kecil bahkan nyaris tak terlihat tersenyum mendengar ucapan Habibi.


"Saya boleh ke kampus sebentar tidak Non, mau menyapa teman-teman rohis. Kangen sekali sama mereka." Pinta Aliyah.


"Sudah sore Aliyah, nanti kita sampai rumah jam berapa." Ucap Habibi.


"Ya sudah saya diturunkan di kampus saja nanti pulang sendiri."


"Ingat besok juga harus kerja."


"Biarlah Bi, Aliyah juga butuh bertemu dengan sahabatnya."


Aliyah mencibirkan bibirnya ke arah Habibi. "Non Femila saja boleh." Ucap Aliyah merasa menang.


Mobil itu berhenti tepat di parkiran kampus. Sesosok laki-laki tampan dengan kemeja dan celana casualnya tersenyum berdiri di samping mobil.


"Sudah lama Ustadz?" Tanya Habibi setelah mematikan mobilnya dan keluar dari mobil.


"Belum, baru lima menit."


"Saya pamit sampai sini ya Non. Insya Allah jumpa besok. Assalamualaikum."


"Ya, waalaikum salam."


Aliyah turun dari mobil dan masuk menelusuri jalan yang dipasang menggunakan blok paving. Tapi sebelum dia melangkah pergi, Aliyah sudah berpamitan dengan dua sosok laki-laki yang ada di samping mobil.


"Assalamualaikum Ustadz, maaf mengganggu sebentar boleh minta tanda tangan?"


"Ya Ustadz, sebentar saja."


Femila menatap empat gadis muda-muda memakai gamis dan berhijab mengerumuni ustadz Mirza merengek saling sahut meminta bubuhan tanda tangan, ada yang sampai membawa baju dan kerudung untuk ditanda tangani.

__ADS_1


"Kaya selebritis saja, sampai antri minta tanda tangan." Cibir Femila entah merasa tidak senang saja dengan pemandangan yang nampak di depannya.


__ADS_2