
Seminggu ini ustadz Mirza disibukkan dengan jadwal dakwah kajian Islam di beberapa tempat. Bahkan dua malam terakhir dia harus menginap karena harus berdakwah di luar kota.
"Ustadz...selalu jaga kesehatan," pesan Femila di tengah pembicaraan secara video call.
"Ya sayang," jawab ustadz Mirza.
"Multivitamin yang kemarin aku bawakan diminum," sambung Femila.
"Multivitaminnya itu di atas nakas," tunjuk ustadz Mirza karena kebetulan Femila di kamar sedang duduk di tepi ranjang dan nampak nakas yang ada di belakangnya.
Femila menoleh ke belakang, terlihat benda yang ditunjukkan ustadz Mirza.
"Mengapa ditinggal?" cemberut Femila.
"Sudah bawa madu sayang."
"Madu?"
"Ya, lebih alami madu."
"Issst...tidak menghargai pemberian istri," Femila memampakan wajah cemberut.
"Sayang...aku...,"
"Aku apa, memang kenyataannya begitukan!" wajah Femila semakin cemberut memotong ucapan ustadz Mirza.
"Maaf...," pinta ustadz Mirza.
"Bentar lagi aku sampai lokasi dakwah. Senyum dulu dong...biar suami semangat dakwah. Kamu cantik loh sayang kalau senyum," rayu ustadz Mirza
"Ogah!" canda Femila dengan memperlihatkan senyum kecil.
Ustadz Mirza tersenyum menanggapi sikap istrinya.
"Alhamdulillah...terima kasih sayang. Semoga Allah selalu memberi kamu kesehatan yang penuh barokah."
"Amin..., Ustadz juga sama, semoga Allah selalu memberikan kesehatan yang penuh barokah."
"Sudah sampai parkiran nih, lanjut nanti ya... Assalamualaikum... ."
"Waalaikum salam," jawab Femila kemudian menyentuh gambar telepon berwarna merah. Panggilan itu terputus.
Semangat sayang
Satu pesan terbaca ustadz Mirza dari sang istri. Semburat senyum tercetak di wajah tampan ustadz Mirza.
...****************...
Femila menempelkan telapak tangan di dahi sang suami.
"Kita periksa ke dokter saja Ustadz," tawar Femila.
"Nanti juga sembuh, paling ini karena kecapean," jawab ustadz Mirza. Matanya masih terpejam, dengan tubuh terbaring di kasur dan di kedua pelipis terpasang koyo.
Femila menatap suami dengan tatapan aneh.
Tangan Femila bergerak memijit kaki lelaki yang memang sah menjadi suaminya.
"Ya sudah biar Habibi belikan obat untuk Ustadz," menyerah Femila.
"Jangan," sentak ustadz Mirza tubuhnya langsung bangkit dari tidur.
"Kenapa? Panggil dokter jangan, beli obat jangan. Badan Ustadz itu panas kalau tidak diberi paracetamol nanti panasnya tidak kunjung turun," omel Femila.
tok
tok
tok
"Masuk," ucap Femila.
Habibi masuk dari balik pintu.
"Panasnya belum turun juga Non?" tanya Habibi mendekat ke arah Femila dan ustadz Mirza.
"Bagaimana mau turun, minum obat juga belum," keluh Femila.
Habibi tersenyum, "Rayu saja Non biar mau diperiksa dokter," rongrong Habibi.
"Mau tidak mau harus mau," tegas Femila tangannya berhenti memijat.
Kaki Femila turun dari ranjang meraih ponsel yang ada di atas nakas kemudian memencet ponsel itu hingga mulut Femila menyapa salam setelah tersambung dengan nomor yang dia hubungi.
"Alhamdulillah baik Dok cuma suami saya ni yang sedang tidak enak badan makanya saya telepon dokter."
"Sakit apa Mbak?"
__ADS_1
"Panas dan mungkin terlalu capek. Dia baru pulang dari luar kota."
"Oh...posisi Mbak Femila sekarang dimana?"
"Nanti aku share located ya,"
"Ok, sampai jumpa di lokasi."
"Ya, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Femila memutus panggilan itu, mengirim satu pesan ke dokter pribadi kemudian menaruh ponselnya di atas nakas.
Matanya memandang Habibi yang dari tadi senyam-senyum.
"Kenapa Bi?" penasaran Femila.
"Tidak Non," jawab Habibi masih menahan senyum.
Femila menyeringai menanggapi sikap Habibi. Kaki Femila melangkah mendekati ranjang dan mendudukkan pantatnya di tepi ranjang.
"Ustadz kok semakin pucat?" tangan Femila menempelkan tangan di dahi sang suami.
"Ya pucat lah Non, mau temu..."
"Habibi...," potong ustadz Mirza.
Femila memandang aneh kedua orang yang ada di dekatnya.
"Oh ya Bi, kenapa ustadz Mirza tidak punya dokter pribadi?"
Habibi menahan senyum mendengar pertanyaan dari nonanya.
Femila lagi, menatap aneh dengan sikap Habibi.
"Kenapa Nona tidak tanya ustadz?" lempar Habibi.
"Kalau ustadz mau jawab aku tidak akan tanya kamu Bi," sewot Femila.
"Bagaimana punya dokter pribadi, orang ustadz takut sama obatnya dokter," jawab Habibi.
"Apa?!" kaget Femila.
Satu bantal melayang jatuh tepat di muka Habibi.
Habibi langsung menangkap bantal itu, mulutnya kali ini terkekeh dengan sikap ustadz Mirza.
Mata Femila menatap ke arah suaminya berharap mendapat penjelasan yang lebih jelas dari laki-laki yang membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Ustadz takut minum obat?" Femila memastikan.
"Si-siapa juga yang takut obat," jawab ustadz Mirza terbata.
Femila membungkam mulut namun tawanya tidak dapat dia sembunyikan. Suara tawa itu semakin nyaring manakala dua tangan Femila malah memegang perutnya karena tidak tahan menahan tawa.
Ustadz Mirza menampakkan wajah datarnya, "Terus saja tertawa," ucap ustadz Mirza.
"Ternyata ini, makanya dibelikan multivitamin tidak dibawa, akan dipanggilkan dokter tidak mau, akan dibelikan obat juga tidak mau," Femila terkekeh kembali.
Mata ustadz Mirza tidak berhenti berkedip memandang istrinya yang tertawa renyah karena dari sudut itu nampak sekali wajah yang semakin cantik dari wanita yang memang sudah sah menjadi istrinya.
"Kamu sangat cantik," ucap ustadz Mirza sambil memegang pipi kanan Femila.
Femila langsung menghentikan tawanya mendapat serangan gombal yang mendadak.
"Issst...sedang sakit sempat-sempatnya ngegombal," ucap Femila namun tidak dapat menyembunyikan rasa tersanjungnya atas perlakuan sang suami.
tok
tok
tok
"Masuk,"
Habibi dan dokter muncul di balik pintu, mereka kemudian masuk.
"Dokter, assalamualaikum," sapa Femila menempelkan pipi kanan kiri di pipi dokter itu
"Hai Mbak, waalaikum salam," membalas salam dan cium Femila.
"Silahkan langsung periksa Dok,"
"Ya," dokter mengeluarkan stetoskop dan tensimeter.
"Agak rendah 100/80. Panasnya juga masih tinggi. Apa sudah diberi obat penurun panas?"
__ADS_1
"Belum Dok," jawab Femila.
"Sudah biasa rendah tekanan darahnya?" tanya dokter Maya
"Bagaimana tahu tensi darahnya, periksa dokter saja tidak mau," celetuk Femila.
Dokter Maya tersenyum, tangannya membuka tas mengambil 3 macam obat, "Minum 3x1 setelah makan."
Femila menerima obat itu.
"Aku langsung pamit Mbak," ucap dokter Maya tubuhnya bangkit. "assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," Femila membalas menempelkan pipi kanan kiri dokter Maya.
Habibi mengekor dokter Maya mengantar menuju mobil yang terparkir di pelataran rumah.
"Obatnya langsung di minum Ustadz," pinta Femila sambil membuka kemasan pil dan mengambil air yang di ada di atas nakas.
"E...nanti,"
"Nanti nunggu apa Ustadz, obat segera diminum panasnya biar cepat turun dan Ustadz langsung istirakhat," saran Femila.
"Biar saya yang urus Non," ucap Habibi yang sudah masuk kamar, meraih obat yang di pegang Femila.
Habibi mengeluarkan dua sendok, menaruh pil itu di sendok kemudian dihaluskan dengan dua sendok yang dia pegang.
Femila menatap heran Habibi, "Benar-benar tidak bisa menelan pil?"
Habibi tersenyum, melempar pandangan ke ustadz Mirza.
Femila menatap ke arah suaminya, "Benar Ustadz?"
"Ya Non," jawab Habibi, yang sudah menyerahkan pil yang dihaluskan diberi air diminumkan ke mulut ustadz Mirza.
"Bismillahirrahmanirrahim...," tiga kali seduh masuk ke mulut ustadz Mirza.
"Terima kasih Bi," ucap ustadz Mirza.
"Ya, Ustadz. Silahkan istirakhat," ujar Habibi kakinya melangkah keluar dari kamar.
Femila mengekor Habibi kemudian mengunci pintu kamar. Kakinya memutar dan melangkah naik ke ranjang tidur.
Senyum yang sedari tadi dai tahan akhirnya berubah jadi tawa yang renyah.
"Astaghfirullah haladhim..., serius Ustadz nggak bisa nelan pil?" tanya Femila mulutnya masih terkekeh karena hal itu.
"Satu persatu terungkap, pertama takut ulat dan kali ini Ustadz ketahuan tidak bisa nelan pil."
"Terus saja kamu tertawa," ucap ustadz Mirza tangannya menoel hidung sang istri karena terlalu gemas.
"Auw...sakit Ustadz," teriak Femila tangannya reflek menepuk paha sang suami.
Ustadz Mirza menenggelamkan kepalanya di dada istri.
"Manja sekali kalau sakit," lirih Femila tangannya mengelus rambut ustadz Mirza.
Ustadz Mirza diam tidak membalas ucapan sang istri. Tangan kanannya bergerak memeluk pinggang wanita yang memang sudah sah menjadi istrinya.
"Bolehkan seperti ini dulu?"
Femila mengangguk mencium pucuk kepala sang suami.
"Apapun asal Ustadz nyaman, tidurlah."
"Terima kasih sayang," tutur ustadz Mirza yang mulai memejamkan matanya hingga lamat-lamat raganya masuk ke alam mimpi.
Femila pun sama, tubuhnya yang masih bersandar pada kepala ranjang terlelap memeluk sang suami.
Di tengah malam Ustadz Mirza terbangun dari tidur. Nampak senyum di wajah ustadz Mirza mendapati diri tidur dalam pelukan sang istri.
"Kenapa tidak membangunkanku sayang?" tangan ustadz Mirza membelai halus pipi Femila dan sebuah kecupan singkat mendarat di bib*r sang istri.
Femila menggeliat karena merasa ada sesuatu yang mengagetkan, "Ustadz kok bangun?" kedua tangan Femila mengucek mata.
Ustadz Mirza tersenyum kemudian meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Tidurlah," titah ustadz Mirza
Femila menempelkan punggung tangan ke dahi ustadz Mirza, mulutnya tersenyum karena dahi itu sudah tidak panas. Tubuhnya kembali masuk dalam pelukan sang suami.
"Good night suamiku," ucap Femila sambil mengecup singkat bib*r sang suami.
"Good night istriku," balas ustadz Mirza.
...----------------...
Ringan tidak berkonflik karena novel inikan sudah tamat. Dibawa santai saja bacanya ya...tidak ada yang namanya kuras emosi🤭.
Sekedar pemberitahuan, novel satunya terpaksa aku hapus karena mau aku ikutkan untuk lomba, nanti nunggu notif pengumumannya ya...terima kasih yang sudah dukung karya remahanku 🙏🥰😍
__ADS_1
lope lope buat kalian❤️😘😘😘
like, komen, yang masih nyimpen vote sini atuh sumbangin ke novel ini😍🥰