KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 40


__ADS_3

"Kaya selebritis saja, sampai antri minta tanda tangan." Cibir Femila entah merasa tidak senang saja dengan pemandangan yang nampak di depannya.


Selesai gadis-gadis itu pergi, Ustadz Mirza masuk ke dalam mobil memposisikan diri duduk di belakang jok kemudi tepatnya di samping Femila.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab Femila lirih matanya tetap fokus memandang ke depan tanpa menoleh ke ustadz Mirza.


Habibi menjalankan mobilnya memasuki jalan raya.


Ustadz Mirza menoleh ke arah Femila memandang wajah yang cemberut itu. "Perasaan tadi pagi ada yang mau mentradisikan ritual cium tangan." Ucap ustadz Mirza yang jelas kalimat itu ditujukan untuk orang yang duduk di sampingnya.


"Ritual itu hanya berlaku di pagi hari, saya janjinya juga di pagi hari." Jawab Femila ketus.


Ustadz Mirza hanya tersenyum mendengar jawaban Femila.


Habibi yang sedari tadi sudah curi-curi pandang ke arah kedua orang yang duduk di belakang kemudi lewat spion juga ikut tersenyum.


"Waktu saya jemput Non Femila di kantor wajah Non penuh senyum, kenapa giliran bertemu ustadz Mirza ditekuk seperti itu? Apa karena gadis-gadis muslimah tadi?" Telisik Habibi tanpa ada filter.


"Jangan-jangan Non Femila cemburu?" Sambung Habibi.


Femila gugup mendengar kata cemburu tapi bukan Femila kalau tidak bisa menutupi kegugupannya.


"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan seperti itu Habibi. Saya hanya kesal saja, sudah capek tinggal pulang eh malah ditunda gara-gara mereka."


Habibi tersenyum mendengar jawaban Femila dan menggelengkan kepalanya pelan.


Femila membuang muka, menolehkan kepalanya menatap keluar jendela. "Bagaimana saya cemburu? Kalau cinta saja tidak ada. Sebenarnya saya begitu benci dengan kamu ustadz. Tapi kebencian itu terkubur setelah keputusan Andra untuk meninggalkan saya. Kini dialah seorang yang begitu saya benci sekaligus begitu saya harapkan kedatangannya." Batin Femila bergejolak dan tiba-tiba cairan bening itu membanjiri mata Femila, namun tetap dia tahan. Takkan lagi membiarkannya menetes untuk seseorang yang sudah membuatnya sakit yang teramat.


...****************...


Sudah sepuluh hari ini Femila bekerja di kantor dan mulai sibuk dengan segala urusan kantor. Berangkat pagi pulang sore bahkan menjelang weekend dia lembur dan pulang malam. Sejak peristiwa sore itu Femila tidak mau dijemput Habibi dia lebih memilih taksi online untuk mengantarnya pulang. Hubungan Femila dan ustadz Mirza pun terlihat merenggang bahkan dua hari ini tanpa ada komunikasi masing-masing sibuk dengan urusannya.


"Saya berangkat." Femila meraih tangan ustadz Mirza kemudian mencium punggung tangan itu. Setidaknya Femila merasa dirinya bukan orang yang ingkar janji denagn menjalankan ritual ini.


Ustadz Mirza berjalan mengiringi Femila sampai ke parkiran mobil.


"Kenapa duduk di depan? Tanya Femila karena pintu mobil depan yang di bukakan oleh ustadz Mirza.


"Saya yang antar." Ucap ustadz Mirza.


"Masuk." Pinta ustadz Mirza pada Femila yang masih berdiri belum mau masuk ke mobil.

__ADS_1


"Saya tidak ingin ada perdebatan nanti kamu terlambat." Ucap ustadz Mirza.


Femila pun menyerah masuk ke mobil duduk di samping kemudi.


"Ustadz, saya ngapain?" Tanya Habibi yang bingung tidak jadi mengantar nonanya.


"Cek laporan dari PT Karya Kayu Indah." Kemudian ustadz Mirza masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.


Diam. Diam. Mulut mereka seakan terkunci oleh suara deru jalanan kota.


"Tidak ada lembur kan? Pulang sesuai jadwal." Tanya ustadz Mirza membongkah kebekuan.


"Kenapa?"


"Saya jemput."


"Tidak perlu, saya ada pertemuan dengan calon mitra kerja sore ini."


"Kalau begitu saya jemput di tempat pertemuan itu."


"Tidak perlu. Saya ke sananya dengan Silla jadi pulangnya pasti diantar Silla." Ucap Femila.


Diam.


"Kamu bertanya pada saya?"


"Kucing tengil yang ada di mobil ini." Jawab Femila sambil menyentuh boneka kucing kecil yang di pasang di dashboard mobil.


"Kamu bisa ngelucu juga." Kalimat itu terlontar dari mulut ustadz Mirza disusul dengan tawa yang singkat.


Femila langsung menatap ke arah ustadz Mirza dan memonyongkan bibirnya. "Tidak lucu!" Ketus Femila.


"O ya, Aliyah kok tidak berangkat?"


"Kenapa sudah setengah perjalanan, baru kamu tanya keberadaan Aliyah?" Ucap ustadz Mirza.


Femila tersenyum kecut.


"Dia izin tidak masuk. Ada janji dengan dosen pembimbing skripsi." Ucap ustadz Mirza.


"Kenapa dia tidak menghubungi saya. Malah menghubungi ustadz."


"Dia sudah menghubungi kamu namun tidak kamu angkat ponselnya."

__ADS_1


Femila merogoh tasnya dan mengambil benda pipih nan canggih kemudian mengusap layar ponsel itu. Tertulis dua panggilan tidak terjawab dari Aliyah.


Femila menganggukkan kepalanya. Kemudian tetap lanjut menatap ponsel itu sampai roda mobil itu berhenti di parkiran gedung perkantorannya.


"Terima kasih. Assalamualaikum." Femila membuka pintu mobil namun dengan gerak cepat ustadz Mirza sudah membantunya turun dari mobil. Mengambil kruk dan membuka lebar pintu mobil.


"Waalaikum salam."


Lima langkah Femila berjalan, dia menoleh ke belakang karena merasa mobil ustadz Mirza belum melaju.


"Sudah jalan tidak usah di lihat." Ucap Femila.


"Menunggu kamu masuk kegedung kantor."


"Tidak usah, buruan pergi."


Ustadz Mirza tersenyum mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke mobil.


Hari ini memang ustadz Mirza sengaja tidak ambil kelas mengajar, sudah diganti hari sebelumnya. Khusus mengantar Femila dan akan menjemputnya nanti. Namun semua tidak sesuai dengan rencana. Ternyata, Femila akan diantar Silla, sahabatnya. Tapi setidaknya, hari ini berhasil menjalin komunikasi yang sempat renggang sepuluh hari belakangan ini.


Pagi, berganti siang, siang berganti sore. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Femila dan Silla sudah sampai di kantor PT Perkasa Bintang, tepatnya di ruang ceo room. Sepuluh hari yang lalu rencana pertemuan dengan ceo PT Perkasa Bintang terpaksa dibatalkan karena Om Fery selaku ceo ada urusan mendadak. Dan selama sepuluh hari itu pula bos Freddy terus mengomel, mencecar Femila untuk segera mendapatkan kontrak kerja sama.


"Saya usahakan Pak." Jawab Femila ketika tadi pagi dipanggil pak Freddy dan rentetan omelan masuk ke telinganya.


"Tapi kenapa belum juga kamu dapatkan kontraknya."


"Ya Tuhan...saya sudah bilang Pak, sore ini saya akan menemui ceo PT Perkasa Bintang. Bapak kan sudah tahu kalau ceo nya yang membatalkan sepihak pertemuan itu karena ada acara mendadak."


"Saya tidak mau dengar kata gagal."


"Hmmm." Sahut Femila langsung keluar dari ruang pak bosnya.


Sekarang, Femila dan Silla telah duduk di sofa ceo room milik PT Perkasa Bintang. Sofa yang sama saat Femila menginjakkan kaki terakhir kali di ruang ini. Matanya memandang ke penjuru ruangan dan berhenti pada acrylic kayu yang sudah bertuliskan Fery Bagus Barata. Femila tersenyum kecut membaca lirih acrylic itu. Memorinya teringat jelas ketika masa pengenalan dengan Andra Aksara Barata. Femila membuang kasar napasnya.


"Kamu terlihat gugup Fem." Ucap Silla meneloh sahabatnya yang terlihat gusar dan membuang kasar napasnya.


Femila hanya tersenyum.


"Ini bukan pertama kalinya kan kamu masuk ruang ini setelah Andra tidak menjabat ceo di perusahaan ini."


Femila mengangguk.


Dari balik pintu muncullah sesosok yang ditunggu, Fery Bagus Barata. Namun kemunculannya membuat jantung Femila berpacu kencang. Bukan karena rasa cinta melainkan karena wajah om Fery mengingatkan Femila pada orang yang masih singgah di sebagian hatinya.

__ADS_1


"Ini yang ketiga kalinya saya bertemu dengan om Fery namun tetap saja saya merasa gugup." Batin Femila.


__ADS_2