
Femila Ahmad! Nama yang Femila juluki untuk dirinya. Namun ketika nama itu disebut jelas oleh Andra mengapa menjadi lain arti bagi Femila?
"Nona Femila." Sapa Mario ketika masuk ke ceo room sambil membungkukkan badannya dan senyum yang tercetak di bibirnya.
Femila membalas senyum itu, raut mukanya kini tidak terlalu tegang setelah Mario masuk ke ruang itu.
"Maaf Tuan, sudah di tunggu dewan direksi di ruang rapat." Lirih Mario.
Sebenarnya ketika resepsionis menghubungi Andra, saat itu dia sudah bangkit dari kursi kerjanya akan melangkah ke ruang rapat dengan dewan direksi. Namun, setelah mendengar tamu yang akan bertandang adalah Femila Ahmad dia mengurungkan niatnya dan duduk kembali di kursi kerjanya.
"Biarkan mereka menunggu." Jawab Andra.
"Sepertinya anda sedang sibuk, jadi sebaiknya kami permisi dulu." Ucap Femila.
"Anda sengaja tidak melanjutkan pembicaraannya supaya besok bisa datang lagi ke sini?"
Femila menarik sudut bibirnya, "Kalau iya, apa anda keberatan?" Tantang Femila dengan suara yang bergetar dan tatapan yang tajam ke arah Andra.
Mata itu beradu sebentar karena Andra langsung mengalihkan pandangannya ke pulpen yang dia pegang sedari tadi.
Sementara dua pasang mata itu saling berkilatan mengeluarkan percik api. Dua pasang mata lain yang ada di ruang itu juga menatap penuh tanda tanya.
"Katanya non Femila masih cinta dengan tuan Andra, tapi non Femila sepertinya sangat membencinya?" Batin Aliyah.
"Saya tahu Non, dibalik kebencian Non ada rasa rindu yang dalam untuk tuan Andra, saya tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut. Setidaknya rasa benci itu tidak pantas non Femila sematkan untuk tuan Andra. Dia lelaki yang baik." Batin Mario.
"Saya akan menyelesaikan truk yang masih tertahan di proyek, saya akan segera mencari tempat bongkar muatannya. Dan pengiriman berikutnya kita bahas nanti. Seperti yang sebelumnya saya katakan, beri tambahan waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah internal perusahaan." Ucap Andra panjang lebar.
Andra berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah mendekat ke tempat duduk Femila. "Deal." Andra mengulurkan tangan.
"Terima kasih Pak, kami permisi dulu." Tanpa menyambut uluran itu Femila berdiri dan melangkahkan kakinya.
Andra menarik sudut bibirnya sambil menatap tangan kanannya sendiri yang mendapat penolakan dari Femila.
"Keras kepalanya tidak berubah." Batin Andra.
"Sepertinya kamu bahagia dengan pernikahan yang sudah kamu jalani." Ucap Andra.
Femila menghentikan langkahnya. "Seperti yang Anda lihat, saya bahagia tanpa kekurangan apapun." Ucap Femila tanpa menoleh ke Andra, kemudian melanjutkan jalannya lagi.
Bagi Femila, Andra tahu dirinya sudah menikah, menikah dengan siapa, bahkan kehidupannya setelah pernikahan. Tidak ada rasa terkejut atau heran. Dalam sepeluh menit informasi seperti itu bisa langsung didapat dari orang-orang kepercayaannya.
Femila dan Aliyah sudah turun dan hampir masuk ke mobilnya. Namun ada suara yang memanggil namanya membuat Femila menoleh dan mengurungkan untuk masuk.
"Mario, ada apa?" Femila terkejut.
"Ada hal yang harus saya sampai ke Non."
__ADS_1
Mario memang ditugaskan untuk memastikan Femila baik-baik saja sampai masuk ke mobilnya. Kesempatan ini Mario gunakan untuk bicara fakta yang lebih jelas mengenai alasan Andra meninggalkannya. Karena sepertinya aura kebencian nampak sekali dari raut Femila kepada tuannya. Mario tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, kalau tuannya diam, dirinyalah yang harus bertindak.
"Mengenai apa?"
"Tolong jangan benci tuan Andra. Dia..."
Ucapan Mario terpotong karena ada telepon masuk. "Baik. Saya segera ke ruangan." Jawab Mario, lalu memutus sambungan telepon itu.
"Maaf Non, saya harus ke atas. Lain kali saya akan membicarakan ini dengan Non." Mario langsung melangkahkan kakinya pergi.
Femila masuk dan menduduki kursi samping kemudi.
Pikirannya langsung melayang menerka ucapan dari Mario yang tak berlanjut.
"Kenapa berhenti di sini Al?" Tanya Femila begitu Aliyah menghentikan mobilnya.
"Kita salat Ashar dulu Non. Sudah pukul empat sore." Ajak Aliyah.
Femila hanya terdiam.
"Salat adalah salah satu rukun Islam yang harus dijalankan seluruh umat Islam. Salat mampu mengingatkan kita akan akhirat di saat kita tengah sibuk dengan urusan duniawi. Selain itu, salat juga bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari terutama bagi kesehatan tubuh dan pikiran kita." Terang Aliyah.
"Maaf kalau saya lancang berbicara, kita perlu dekat dengan Sang Pencipta agar hati kita tenang, tentram." Sambung Aliyah.
Femila membuka pintu mobil, turun, dan masuk ke masjid.
Setelah dua salam dia ucapkan Femila dan Aliyah menengadahkan tangannya untuk bermunajat.
Aliyah mengiyakan permintaan nonanya, ikut menyenderkan tubuhnya di dinding.
"Bener-bener itu orang tidak ada kapoknya ya Non, coba lihat." Aliyah menunjukkan ponselnya ada status teman kantor Tika menyinggung masalah rumah tangga teman kantor lainnya.
"Dulu iri dengan karir Non, sampai menyebut kalau Non ada main sama om Fery, untung saat itu ustadz Mirza bergerak cepat membela Non dan memberi pelajaran pada Tika, kalau tidak mungkin dia masih usil dengan kehidupan Non."
Femila hanya tersenyum.
"Non sangat beruntung punya suami seperti ustadz Mirza." Sambung Aliyah.
deg.
"Mengapa semua berkata seperti itu. Tidak Mama, Papa, Mbok Mina, mbak Anik, pak Rohim, Habibi, Silla, dan sekarang dari mulut Aliyah yang mengucapkan kata yang sama dan entah berapa kali dia lontarkan." Batin Femila.
"Jangan banyak menggosip di masjid, takutnya nambah dosa."
Aliyah langsung nyengir malu mendengar ucapan Femila. "Ya Non."
"Kita ke kantor"
__ADS_1
"Tidak langsung pulang Non?"
"Saya langsung lapor ke pak Freddy."
Aliyah mengangguk dan melangkah masuk ke mobil kemudian melakukannya.
...****************...
"Habibi, kalau sudah kamu bereskan semua silahkan istirakhat, subuh hari kita sudah berangkat."
"Ya Ustadz. Saya ke kamar."
Habibi melangkah keluar.
Sementara di kamar Femila.
"Tiga hari ini jangan kangen dengan saya ya Non." Canda Aliyah sambil tersenyum riang.
"Kamu bahagia sekali akan pergi dengan Habibi dan Ustadz Mirza."
"Ya lah Non, di sana saya bisa silaturahmi dengan keluarga pesantren, temu kangen dengan alumni, dan satu hal lagi saya bisa bertemu dengan mbak Hana." Senyum masih menghias di wajah Aliyah berbeda dengan Femila yang langsung menampakkan raut yang berbeda mendengar nama Hana.
"Jadi Hana pulang?"
Aliyah mengangguk cepat.
"Non Femila beneran tidak ikut?"
"Saya banyak kerjaan tidak bisa izin seenaknya."
"Ya...padahal kalau Non ikut kan tambah seru."
"Saya istirahat dulu Non," pamit Aliyah kemudian melangkah keluar kamar Femila.
Khusus malam ini dia menginap di rumah ustadz Mirza biar mudah ketika berangkat ke pesantren Mubtadi'in karena mereka berangkat subuh hari.
"Kamu belum tidur?" Sapa ustadz Mirza begitu masuk kamar.
Ustadz Mirza masuk ke kamar mandi ambil wudu kemudian naik ke ranjang.
"Hana pulang dari Kairo Ustadz?" Tanya Femila pelan.
"Iya."
"Ustadz jangan sia-siakan kesempatan ini. Saya ikhlaskan kalau Ustadz akan kembali dengan Hana."
deg.
__ADS_1
"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Apa ini hanya dalih kamu agar kembali ke Andra?" Tanya ustadz Mirza yang tentunya hanya dalam hatinya.
"Saya akan menyerah dengan kamu kalau kamu sudah bahagia dengan orang yang selama ini kamu cintai." Ucap ustadz Mirza.