KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 66


__ADS_3

"Rencana Mama berhasilkan Pa?" Tanya mama Anita masih melebarkan senyum di bibirnya sedangkan sang suami masih menunjukkan wajah keheranannya.


"Maksud Mama rencana apa?"Tanya papa Riyan sambil melajukan mobilnya.


"Membuktikan rasa cinta Femila."


"Jadi semuanya rencana Mama?"


Mama Anita mengangguk.


"Dari peristiwa penusukan itu?"


"Astaghfirullah...ya gag lah Pa. Sekejam itukah Mama? Mama memang mengharapkan Femila bisa mencintai nak Mirza tapi tidak senekat itu juga sampai mengabaikan keselamatan anak dan menantu Mama."


"Papa kira seperti itu."


"Papa ngaco." Gerutu mama Anita.


"Tapi akting Mama bagus kan?" Mama Anita mengharap jawaban ya dari suaminya.


"Ya bagus. Pantas kalau dapat piala oscar.


Mama Anita terkekeh mendengar jawaban itu.


"Sebenarnya mama kasihan sama Femila. Mama baru datang, belum juga meluk dia eh mama harus pasang wajah yang jutek agar akting Mama terkesan natural."


"Tidak dibikin akting juga mama sudah natural juteknya."


"Isst Papa." Mama Anita mencubit lengan suaminya.


"Aduh...sakit Ma." Papa Riyan tersenyum.


"Pa, mungkin tinggal satu langkah lagi agar si keras kepala Femila mau membalas cintanya nak Mirza."


"Saya ragu Ma."


"Isst. Bagaimana bisa Papa katakan ragu. Nih ya Pa, Femila berinteraksi baik dengan nak Mirza, sering bercanda, sering berdua, apalagi sekamar bersama, saling menghawatirkan keadaan satu sama yang lainnya. Ditambah peristiwa kemarin sore, Femila sampai rela tangannnya terluka untuk melindungi nak Mirza."


"Nah!" Suara Mama Anita meninggi dengan penegasan kata itu."


"Ya Allah Ma, Papa sampai kaget."


Mama Anita tersenyum. "Satu lagi. Tadi Femila bertengkar dengan mama coba karena apa? Karena untuk membela nak Mirza. So sweet sekali kan Pa."


"Kalau berantem mah tidak usah nunggu momen seperti itu, memang Mama dan Femila sukanya berantem."


"Terus...terus saja ngomongin Mama."


"Ya deh, Mama pokoknya the best! Hubungan Femila dengan nak Mirza banyak kemajuan mamalah yang berperan besar," menyerah papa Riyan karena percuma juga bersikeras dengan wanita di sampingnya.


Mama Anita tersenyum menang.


"Terus rencana Mama ke depan apalagi."


"Emmmm...nanti dech menunggu situasi dan kondisi kita nanti jalankan aksi berikutnya."


"Kita? Mama aja kali!"


"Papa!" Kesal memanja mama Anita.


"Ya, ya, ki...ta. Puas!"


Mama Anita mengangguk dan lagi tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi ya Pa, kira-kira pelakunya siapa ya? Tega sekali dia melakukan itu."


"Nanti pihak kepolisian yang akan mengungkap. Saya yakin orang tersebut akan cepat diberi hukuman yang setimpal."


Sementara di rumah ustadz Mirza.


"Jangan masukkan ke hati ucapan Mama." Ucap Femila mendapati situasi ustadz Mirza hanya terdiam.

__ADS_1


"Lagian kenapa Ustadz tidak membela diri sih. Beri penjelasan ke mama kek biar tidak salah paham begitu." Sambung Femila.


"Penjelasan apapun tetap pada kenyataannya sayalah yang membuat kamu terluka seperti ini."


"Ustadz, kenapa bicaranya seperti itu. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri orang itu akan menusuk Ustadz jadi sebisa saya menghalaunya."


"Ya, terima kasih Femila."


"Assalamualaikum Ustadz, Non Femila." Sapa Habibi begitu masuk ke ruang tengah kemudian duduk di antara mereka. "Saya boleh duduk di sini kan?" Tanya Habibi walaupun pantatnya sudah duduk di sana.


Femila hanya mengangguk.


"Apa saya salah masuk? Kenapa seperti duduk di antara benda gaib? Semua diam dengan wajah yang dingin." Gumam Habibi.


Ustadz Mirza dan Femila yang mendengar ucapan Habibi tapi tetap tidak meresponnya.


"Benar-benar di antara benda gaib." Habibi mengulang kesimpulannya.


"Bi, sudah berapa lama kamu ikut Ustadz Mirza?" Tanya Femila mengalihkan pembicaraan.


"Sekitar empat tahun, ada apa Non tiba-tiba tanya seperti itu?"


"Tidak apa-apa sih cuma tanya saja.


"Kenapa tidak melanjutkan study? Kamu kan cerdas pasti gampang pilih tempat kuliah manapun." Sambung Femila.


"Apa Non Femila juga mau menawarkan saya untuk melanjutkan ke S2?"


"Kalau kamu mau."


"Kalau saya mau sudah dari dulu tawaran dari Ustadz Mirza saya terima."


"Ustadz Mirza sudah menawarkan kamu melanjutkan study?"


Habibi mengangguk.


"Kamu tolak?"


Habibi lagi mengangguk.


"Habibi maunya lengket terus sama saya." Sela ustadz Mirza.


Femila tersenyum mendengar jawaban ustadz Mirza.


"Benar sekali jawaban ustadz Mirza. Beruntung Non Femila menikah dengan ustadz Mirza jadi bisa lengket terus sama beliau."


"Apanya yang dibilang beruntung." Gumam Femila.


Habibi tersenyum mendengar jawaban dari nonanya.


"Ustadz Mirza orang yang luar biasa baik Non. Dermawan, ganteng, cerdas, baik, soleh. Benar-benar suami idaman setiap wanita."


Femila terdiam. Karakter ustadz Mirza yang disebutkan oleh Habibi benar semua. Tapi tidak untuk kesimpulan yang dia lontarkan, "Suami idaman setiap wanita? Benarkah itu?" Batin Femila.


"Kalau sampai wanita tidak mengidamkan suami seperti itu, wanita itu patut diragukan kewanitaannya." Simpul Habibi.


"Maksud kamu saya?" Tanya Femila suara agak meninggi.


"Mengapa Non Femila langsung menyimpulkan seperti itu?" Habibi tersenyum menang merasa lawan bicaranya mengikuti alur pembicaraannya.


"Emmm. Saya, hanya tanya." Ucap Femila asal sambil memandang ustadz Mirza yang bangkit dari duduknya melangkah ke ruang dapur.


"Begini Non. Dekat dengan orang pintar pasti kita akan tertular pintarnya, dekat dengan orang baik pasti akan tertular kebaikannya, dekat dengan orang soleh pasti akan tertular ketaatannya pada yang Maha Kuasa. Itu kenapa saya enggan untuk jauh dari ustadz. Biarlah saya menjadi asistennya asal saya selalu bisa menyeimbangkan urusan duniawi dan akhirat seperti yang selalu beliau lakukan."


Habibi berhenti bicara. Femila mencerna ucapan Habibi.


"Dulu saya hanya mahasiswa biasa yang kata mereka cerdasnya di atas rata-rata. Saya selalu haus akan prestasi dan ilmu. Tapi saya lalai, ternyata jiwa saya hampa, tidak pernah diisi dengan ilmu agama. Salat tidak pernah, ngaji apalagi, beranggapan amal dan sedekah hanya mengurangi harta. Tapi, setelah bertemu dengan ustadz Mirza semuanya jadi berubah. Mindset saya tidak hanya mengukur masalah duniawi akhirat juga harus terukur. Semoga Allah selalu mengistikomahkan kami."


Femila masih terdiam mendengar dengan seksama apa yang dilontarkan Habibi.


"Apa Non Femila juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasa?"

__ADS_1


deg


"Benar yang kamu katakan Habibi, banyak sekali perubahan. Saya sangat beruntung bisa mengenal kalian semua." Ucap Femila yang hanya mampu terlontar dalam batinnya.


"Sepertinya pembicaraan kalian sangat menarik?" Tanya ustadz Mirza yang tiba-tiba datang membawa buah apel yang sudah dikupas lalu menyodorkan ke Femila.


"Terima kasih." Femila mengambil satu lalu memakannya.


"Maaf menyela, ada tamu mas di depan." Ucap mbak Anik.


"Ya mbak, terima kasih." Ustadz Mirza melangkahkan kaki ke ruang tamu.


"Dari kepolisian, kita temui bersama." Ucap ustadz Mirza ketika masuk kembali ke ruang tengah.


Femila mencoba berdiri dibantu ustadz Mirza.


"Selamat siang Ibu Femila."


"Siang Pak."


"Maaf kami mengganggu waktu istirahat Ustadz dan Ibu. Kami datang untuk mengajukan beberapa pertanyaan terkait peristiwa penusukan kemarin sore di markas kajian Islam pimpinan Ustadz Mirza Zayn Ahmad." Terang salah satu polisi.


"Ustadz dan Ibu rileks dahulu."


Femila dan ustadz Mirza tersenyum kecil karena memang mereka terlihat tegang.


"Coba ceritakan alur kejadian kemarin sore yang menimpa Ustadz dan Ibu."


Ustadz Mirza langsung menceritakan kejadian itu dengan runtut.


"Apa Ibu mau menambahkan?"


"Saya rasa kejadiannya sudah jelas dan runtut seperti yang disampaikan suami saya."


"Oke. Ustadz coba ingat-ingat apa selama ini Ustadz pernah memberikan ceramah tentang ujaran kebencian?"


"Saya yakin tidak pernah Pak."


Polisi menganggukkan kepalanya.


"Nanti kepolisian bisa langsung kroscek ke channel YouTube kajian Islam." Sela Habibi.


"Maaf saya menyela, saya Habibi asisten ustadz Mirza. Kemarin saya juga ada di tempat kejadian. Boleh dibilang saya juga saksi peristiwa."


"Jangan lupa like dan subscribe Pak." Canda Habibi yang disusul tawa semuanya.


"Mas Habibi pandai membawa suasana agar tidak tegang." Puji salah satu polisi.


"Mereka korban kalau introgasinya terlalu menegangkan takutnya malah membuat mereka sulit mengatakan apa yang seharusnya dikatakan." Ucap Habibi.


"Tapi serius ya Pak. Like dan subscribe. Insya Allah channel ini bermanfaat selain itu dana yang terkumpul untuk kemaslahatan umat." Sambung Habibi.


"Ya, Insya Allah."


"Kalau perlu Bapak juga ajak teman-teman polisi untuk like dan subscribe." Canda Habibi.


Kembali yang ada di situ tertawa.


"Silahkan dilanjut introgasinya Pak." Ucap Habibi.


"Kita kembali ke pertanyaan lagi Ustadz. Mungkin di pekerjaan Ustadz, Ustadz punya saingan bisnis yang berbuat curang atau mungkin iri dengan pencapaian Ustadz?"


"Saya rasa itu juga tidak ada Pak."


"Apa mungkin ada masalah pribadi dengan seorang? Apa itu sebuah dendam? Atau sebuah kekecewaan terhadap Ustadz?"


deg


Otak Femila langsung mengarah pada sesosok orang yang hari itu bertemu dengannya di panti asuhan.


"Apakah kamu Andra?" Batin Femila penuh tanya.

__ADS_1


like komen ya kak🙏😍🥰😘


Hadiah atau vote juga mau🤭🙏🙏🙏❤️🌹


__ADS_2