
"Masih lanjut chatting dengan kekasihnya?" Batin Femila bermonolog ketika netranya melirik ustadz Mirza yang sibuk memegang ponsel. "Bukan saya cemburu, sama sekali tidak. Hanya tidak suka saja sampai diselingkuhi dengan cara seperti ini." Batin Femila masih bermonolog.
"Ehem. Maaf Fem, bukunya di depan kamu bukan di muka saya."
Femila langsung salah tingkah mendengar ucapan ustadz Mirza. Matanya langsung menatap buku yang dia pegang.
"Pede banget sih." Ketus Femila.
Ustadz Mirza tersenyum.
"Dari pada kamu tidak fokus, saya ke ruang kerja saja. Kalau ada perlu apa-apa telepon saja.
"Tidak! Ustadz tetap duduk di situ!" Titah Femila.
Ustadz Mirza yang sudah mengangkat pantatnya pun duduk kembali. Terlihat pasrah dengan pemaksaan istri.
"Ok."
Femila merasa menang. "Bagus. Saya akan lihat sejauh mana kamu mau menuruti keinginan saya." Batin Femila.
Diam. Mereka saling diam. Yang satu pegang buku, satunya lagi pegang ponsel. Halaman demi halaman Femila baca sampai setengah lebih dari tebal buku Strategi Pemasaran karya Fandy Tjiptono. Sedangkan ustadz Mirza tak bergeming menatap layar ponselnya.
"Assalamualaikum. Laporannya sudah saya cek, tidak ada masalah. Barang bakunya sudah saya dapat nanti segera kirim ke tempat produksi."
Ustadz Mirza akan mematikan sambungan namun teringat satu hal. "Yang terpenting baca pesan yang baru saya kirim. Besok harus ada di sini. Wassalamu'alaikum." Menutup pembicaraannya di sambungan telepon.
Ustadz Mirza menatap Femila yang masih membaca buku. "Apakah sewaktu sekolah kamu dijuluki kutu buku?" Tanya ustadz Mirza.
"Ustadz bicara sama saya?"
"Di sini tidak ada siapa-siapa kecuali kamu."
"Saya cerdas karena buku. Maaf bukan saya sombong itu realitanya." Jawab Femila.
Ustadz Mirza mengangguk mendengar jawaban Femila. "Sekarang sudah jam setengah satu lebih lima menit itu artinya sudah tiga jam lebih lima menit kita duduk di sini. Apakah masih ingin lanjut duduk berdua di sini?"
"Masih. Maksud saya, saya lapar." Salah tingkah Femila karena ustadz Mirza menekankan kata berdua.
"Mbak Anik sudah menyiapkan makan siang, kita makan." Ajak ustadz Mirza berjalan dan disusul Femila.
...****************...
Habibi tertawa terkekeh mendengar cerita ustadz Mirza. "Besok lagi akan saya belikan lima kilo apel. Biar tambah lama berdua-duaan dengan sang istri." Ledek Habibi.
"Satu hari sepuluh apel dia habiskan dan tiga buku dia lahap sekaligus." Habibi menggelengkan kepalanya.
"Dia memang tipe orang yang cerdas Ustadz. Serasi dengan Ustadz yang otaknya biasa-biasa saja, untuk perbaikan keturunan." Ucap Habibi langsung diikuti tawanya lagi.
"Terserah kamu Habibi, si anak genius."
"Alhamdulillah akhirnya mengakui kalau saya orang yang genius."
"Sudah dapat orangnya?"
"Orang apa Ustadz?"
"Predikat genius saya tarik."
"Maksud Ustadz, orang yang akan menjadi asisten non Femila. Mengapa tiba-tiba membahas itu."
"Kamu saya suruh ke sini untuk membahas itu."
"Sekaligus mendengar curhatan Ustadz yang begitu seru, menggelitik, membuat penasaran."
"Terserah kamu Habibi."
"Ya Allah perasaan dari tadi cepat marah Ustadz."
"Besok harus ada."
"Masalah itu sudah beres Ustadz."
__ADS_1
"Latar belakangnya harus kamu tahu."
"Sangat tahu Ustadz."
"Siapa dia?"
"Aliyah."
"Aliyah temannya Hana?"
"Ya."
"Bagaimana bisa."
"Ya bisa dong Ustadz, kenapa tidak bisa."
"Maksudnya dia kan masih kuliah."
"Semester tujuh Ustadz. Semua mata kuliahnya sudah diambil di semester sebelumnya. Tinggal menghadapi skripsi. Saya rasa waktunya bisa diatur oleh Aliyah."
"Ketemu Aliyah di kampus?"
"Ya, kebetulan dia sedang butuh kerjaan. Saya tawari dan dia mau. Ada tapinya Ustadz."
"Tapi apa?"
"Saya di rampok itu anak."
"Hati kamu yang dirampok."
"Apaan sih Ustadz."
"Dia minta tlaktir makan."
"Tlaktir satu anak apa bisa membuat kantong kamu berkurang?"
"Memang satu Ustadz tapi satu kelas."
"Kalau bukan karena terpaksa tidak akan saya pilih dia. Lagian kenapa begitu mendadak ustadz memberi tugas untuk mencari asisten pribadi."
"Kalau tidak mendadak bisa-bisa besok saya disuruh duduk manis lagi."
"Duduk manis dengan istri kan enak, apalagi pengantin baru." Ledek Habibi dengan senyum seringai.
"Ustadz mau kemana?"
"Istirahat. Kepala saya tambah pening mendengar bicaramu."
"Atau jangan-jangan sudah tidak sabar berduaan dengan sang istri?"
"Yang masih jomblo lebih baik diam." Kesal Ustadz Mirza.
Habibi mencibirkan bibirnya.
Ustadz Mirza masuk kamar, menatap sebentar Femila yang duduk bersandar di ranjang tidur kemudian langsung masuk kamar mandi.
"Masih lanjut bacanya Fem?" Tanya ustadz Mirza begitu keluar dari kamar mandi dan masih melihat istrinya membaca buku.
"Hemmm." Femila hanya mendengung.
Ustadz Mirza memposisikan tidur di ranjang, mulutnya membaca doa dan memejamkan matanya.
...****************...
Beberapa suap sudah masuk ke mulut Femila. Hanya dentingan sendok dan piring yang menyela mereka. Habibi yang duduk diantara mereka juga hanya diam .Merasakan ada hawa dingin di kedua wajah yang katanya pengantin baru.
"Semenakutkan inikah pengantin baru?" Atau hanya dua manusia itu saja yang bertingkah seperti ini?" Batin Habibi bergumam tentunya tak berani dia utarakan pada dua sosok yang ada di hadapannya. Bisa-bisa tatapan membunuh yang dimiliki dua orang di depannya benar-benar membunuhnya saat itu juga.
Habibi menelan salivanya dengan susah membayangkan hal itu.
"Kenapa Bi?" Tanya ustadz Mirza di tengah diamnya semua.
__ADS_1
Habibi hanya nyengir. Femila masih fokus mengunyah makanannya. Tanpa menghiraukan dua mahluk yang ada di samping dan depannya.
"Aliyah belum datang Bi?"
"Masih di jalan Ustadz."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Nah itu, panjang umur, diomongin langsung nongol."
"Amin." Sahut Aliyah.
"Sudah sarapan?"Tanya ustadz Mirza.
"Sudah ustadz." Jawab Aliyah.
Femila hanya menatap sekilas tamu ustadz Mirza. Tanpa bergeming masih dengan mengunyah dan mengaduk makanannya.
Aliyah menatap ke arah Femila. "Pagi mbak." Sapanya agak membungkukkan badannya.
"Pagi." Singkat Femila menoleh sebentar kemudian membuang tatapannya lagi.
"Dia Aliyah, yang nantinya akan mengurus segala keperluan kamu." Ucap ustadz Mirza memperkenalkan Aliyah kepada Femila.
"Hai mbak." Aliyah menyodorkan tangannya.
"Tangan saya kotor." Ucap Femila sengaja tidak ingin membalas uluran tangan itu.
"Kamu sudah paham tugasmu kan? Sekarang kami harus pergi."
"Ya Kak Habibi."
"Siapa juga yang minta asisten. Ini hanya akal-akalan ustadz untuk menghindari permintaan saya. Benarkan?" Ucap Femila dengan ketus.
"Sangat benar. Saya tidak mungkin seperti kemarin, seharian nungguin kamu." Jawab ustadz Mirza.
Ustadz Mirza menyodorkan tangannya ke arah Femila. Femila menatap tangan itu lalu menatap muka ustadz Mirza yang mengerlingkan alisnya.
Dengan terpaksa Femila meraih tangan itu dan mencium punggung tangannya.
"Assalamualaikum." Ucap ustadz Mirza kemudian.
"Waalaikum salam."
Ustadz Mirza dan Habibi pun melangkah pergi.
"Ya ampun. Saya bener-bener gila kalau seperti ini terus. Huh! Salah saya juga kenapa nikah dibuat main-main." Gerutu Femila dalam hati.
"Hei kamu. Tolong ambilkan buku di ruang kerja ustadz."
"Buku apa mbak?"
"Terserah buku apa pun."
"Baik mbak."
"Tunggu!" Langkah Aliyah terhenti. "Jangan panggil saya mbak. Panggil No-na." Ucap Femila dengan menekan kata nona.
"Iya No-na." Aliyah mengikuti gaya bicara Femila.
Femila yang merasa nada bicaranya diikuti Aliyah langsung mencibirkan bibirnya tidak suka dengan respon Aliyah.
"Ini Non." Ucap Aliyah sambil menyodorkan buku ketika sudah di samping Femila.
"Sepertinya kamu hafal sekali ruangan di sini."
"Iyalah Non, dulu kan sering sekali main di sini diajak teman saya."
"Teman?" Tanya Femila menunggu kalimat selanjutnya dari kata teman itu.
__ADS_1
"Ya, dia mbak Hana."