
Femila mendongakkan wajahnya, memperlihatkan senyum berharap laki-laki yang kini memeluknya lebih tenang. Tangannya mengusap rahang Ustadz Mirza. "Saya baik-baik saja." Ucap Femila dengan lirih, kenyataannya wajah Femila mulai pucat karena banyaknya darah yang keluar.
Ustad Mirza membalas senyum itu. Bibirnya mengecup telapak tangan yang menjamah rahangnya, matanya terpejam seakan aliran energi masuk dalam sukmanya. Femila membiarkan itu selama laki-laki yang masih mendekapnya berangsur tenang.
"Saya yang terluka kenapa Ustadz yang pucat seperti ini?" Gumam Femila dan hanya mampu dibalas sebuah senyuman oleh ustadz Mirza.
Akhirnya sampai di rumah sakit Medical Center.
Ustadz Mirza langsung membopong Femila masuk ke IGD. Dengan sigap dokter jaga menangani pasiennya.
"Kalau nanti sakit itu karena pengaruh obat bius yang sudah habis. Sejauh ini tidak masalah dan pasien boleh langsung pulang." Ucap dokter yang telah menangani Femila.
"Terima kasih Dok."
Habibi segera mengurus administrasi. Selang sepuluh menit dia menghampiri ustadz Mirza.
"Semuanya sudah beres Ustadz, kita bisa langsung pulang."
Ustadz Mirza meraih tubuh yang masih merebahkan diri di kasur.
"Saya bisa jalan Ustadz, yang sakit tangan saya bukan kaki saya." Bantah Femila namun tubuhnya kini sudah melayang di atas tangan kokoh milik ustadz Mirza.
Femila pasrah ketika Ustadz Mirza tanpa menjawab penolakannya langsung main bopong.
"Saya tidak harus dipangku lagi Ustadz." Tolak Femila ketika di mobil, ustadz Mirza memangku tubuhnya.
Masih dengan mode yang sama, ustadz Mirza melakukannya tanpa izin, tanpa mendengar penolakan dari lawan bicara, dan tanpa menjawab atas penolakan si lawan bicara.
Femila terlihat pasrah kembali, tumben lelaki yang masih mendekapnya tidak menjawab sepatah katapun ucapan yang terlontar dari mulutnya.
Ustadz Mirza merasa ada desiran napas halus di dadanya. Dia menundukkan matanya melihat wanita yang kini dia dekap benar sudah tertidur. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman ketika merasa ada dua tangan yang melingkar di tubuhnya. Tangan ustadz Mirza pun membalas melingkarkan tangan merengkuh tubuh wanita yang terlelap penuh di pangkuannya.
Habibi menatap spion dalam mobil. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan akan dia lontarkan. Tapi mendapati kesenyapan suara dari jok penumpang dia urungkan itu.
"Mereka sudah terlelap dan kenapa seromantis itu adegan mereka. Jiwa jomblo saya kan meronta." Monolog batin Habibi.
Roda mobil masih bergulir menembus jalanan kota yang selalu ramai, tidak lama setelah itu memasuki sebuah pekarangan rumah dan menghentikan gulir itu.
"Ustadz, Ustadz." Habibi membuka pintu penumpang dan menepuk halus lengan ustadz Mirza.
Ustadz Mirza terlihat melebarkan matanya.
"Sudah sampai Ustadz." Lapor Habibi.
Ustadz Mirza mengangguk kemudian keluar mobil dan lagi membopong Femila masuk ke kamarnya. Habibi mengekor di belakang dan Aliyah yang baru saja datang juga ikut mengekornya.
Dengan sigap Aliyah membukakan pintu kamar. Ustadz Mirza merebahkan tubuh yang sedikitpun tidak bergeming dari tidurnya.
"Non Femila nyenyak sekali." Ucap Aliyah ikut membantu merapikan bantal untuk merebahkan nonanya.
"Habibi yang memberitahu kamu?" Tanya ustadz Mirza.
"Ya." Jawab Aliyah tahu akan maksud pertanyaan dari ustadz Mirza.
"Oh ya Bi, Ikbal sudah menghubungi kamu belum?"
"Sudah Ustadz. Besok langsung tim penyelidik ke rumah ustadz. Tersangka langsung di bekuk yang berwajib dan masih tahap penyidikan."
Ustadz Mirza diam mencerna ucapan Habibi. "Saya minta pelaku dihukum setimpal. Agar kejadian semacam ini tidak menimpa orang lain."
"Ya Ustadz, Ikbal sudah mempersiapkan semuanya."
"Kamu bebersih diri dulu, saya juga akan mandi. Setelah itu jamaah magrib."
"Ya Ustadz." Jawab Habibi keluar dari kamar.
"Saya juga keluar Ustadz, mau ambil wudu." Izin Aliyah.
__ADS_1
Ustadz Mirza mengangguk. Dia juga harus bebersih diri. lima belas menit dia sudah tampil bersih rapi dengan baju koko dan sarung.
"Fem, Femila..." Tangan ustadz Mirza membelai halus lengan wanita yang masih terlelap tidur.
Dua bola mata itu membulat menatap lelaki yang tersenyum tepat di hadapannya.
"Kenapa Ustadz?" Linglung Femila.
"Sudah hampir Magrib, bangunlah, mandi dan salat."
Femila segera bangkit. Tangan suaminya akan membantu bangkit.
"Saya bisa sendiri Ustadz." Tolak Femila namun ustadz sudah meraih tubuh Femila dan mendudukkannya di kursi roda, melepas kaki palsunya dan mendorong kursi itu akan ke toilet kamar.
"Saya ambil baju ganti dulu Ustadz."
Ustadz Mirza memutar kursi rodanya ke lemari pakaian.
Setelah ambil pakaian, ustadz Mirza kembali mendorong kursi roda itu ke toilet kamar.
"Kalau perlu bantuan tinggal panggil saja, saya menunggu di luar."
Femila mengangguk.
...***************...
"Apa Ustadz juga ikut cuti?"
Ustadz Mirza mengangguk.
"Saya tidak enak dengan atasan karena sering sekali izin tidak masuk kerja. Seperti perusahaan punyanya sendiri."
"Mudah-mudahan demikian." Ucap Ustadz masih menyiapkan alat penggantian perban.
"Maksudnya Ustadz mau beli itu perusahaan?"
Ustadz Mirza hanya tersenyum menanggapi ucapan Femila.
"Tanya kan saja sama Habibi." Jawab Ustadz Mirza.
"Adududuh sakit Ustadz." Femila menepuk tangan ustadz Mirza yang sedang membuka perban yang lengket dengan lukanya.
"Iya ini juga pelan."
"Pelan apanya, Ustadz menarik perbannya kuat sekali."
"Ya Allah ini pelan Fem."
"Aaaaaa, biar saya sendiri yang lepas."
"Ini dikit lagi."
"Ustadz...." Teriak Femila.
Ustadz Mirza malah tertawa menampakkan barisan giginya yang rapi.
"Tidak ada yang lucu Ustadz ini beneran sakit."
"Ya, ya sini saya tiup. Bismillahirrahmanirrahim." Ustadz Mirza memegang tangan Femila sambil meniup luka yang tertoreh di tangan itu.
"Mending?" Tanya Ustadz Mirza masih meniup luka itu sambil menarik perban yang sedikit lagi terbuka."
Femila diam. Malah wajahnya yang berubah memerah.
Perban sudah terlepas "Bagaimana?" Tanya lagi Ustadz Mirza sambil menatap Femila. Tepat netra wanita itu menatapnya juga. Dua pasang mata bersitatap. Femila yang merasa canggung langsung menarik tangannya.
"Sudah tidak apa-apa." Elak Femila.
__ADS_1
Ustadz Mirza tersenyum mendapati sikap Femila.
"Humaira." Canda Ustadz Mirza sambil menoel hidung wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya.
"Ustadz." Teriak Femila sambil mencibirkan bibirnya.
"Saya Femila bukan Hu-humaira."
"Tanya Aliyah siapa Humaira." Ucap Ustadz Mirza sambil tersenyum.
"Malas." Femila masih mencibirkan bibirnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Jawab ustadz Mirza dan Femila serentak.
Ustadz Mirza meraih tangan kedua mertuanya dan mencium punggung tangan itu. Hal yang sama dilakukan Femila.
"Sudah mending sayang?" Tanya mama Anita melihat tangan anaknya.
"Mending Ma," jawab Femila.
Ustadz Mirza memasangkan perban yang baru setelah sebelumnya membersihkan luka itu dan memberikannya salep luka.
"Selesai." Ucap ustadz Mirza kemudian melepas tangan Femila.
"Mama sangat kecewa dengan kamu Nak Mirza." Wajah mama Anita menampakkan kekecewaannya.
"Mama padahal sudah sangat mempercayakan keselamatan dan perlindungan Femila pada kamu. Tapi nyatanya apa? Hal ini sampai menimpa pada Femila!" Sambung mama Anita.
"Maaf Ma." Hanya itu yang terlontar dari mulut ustadz Mirza sambil menundukkan pandangannya.
"Mama apa-apa sih...Aliyah pasti sudah cerita sama Mama kan kalau ini kecelakaan." Ucap Femila yang memang menyuruh Aliyah untuk menghubungi mamanya.
"Kalau Nak Mirza bisa hati-hati pasti hal ini tidak akan terjadi." Mama Anita meninggikan suaranya.
"Ma, siapa juga yang mau terkena musibah ini! Jangan menyalahkan Ustadz Mirza. Dia juga tidak menginginkan ini menimpanya atau menimpaku." Bela Femila.
"Ma, mama yang tenang." Sela papa Riyan sambil meraih pundak istrinya.
"Bawa pulang Mama Pa," pinta Femila.
"Sayang, mama berkata seperti ini karena mama membela anak mama."
"Mama malah menambah pusing kepala Femila."
"Ayo Ma, benar kata Femila, mama malah menambah beban untuk Femila." Papa Riyan merangkul pundak Mama Anita dan membawanya keluar rumah.
"Assalamualaikum." Salam papa Riyan
"Waalaikum salam." Jawab lirih Ustadz Mirza dan Femila.
"Lepas Pa." Mama Anita menggerakkan bahunya agar terlepas dari tangan suaminya.
Papa Riyan membukakan pintu mobil.
Mama Anita masuk dan mendudukkan pantatnya di samping jok kemudi.
"Mama kok menyalahkan Nak Mirza itu bagaimana? Mama sendiri sudah tahu kalau itu semua musibah, Femila hanya menolong nak Mirza agar tidak terkena tusukan." Ucap papa Riyan setelah duduk di jok kemudi.
Mama Anita malah tersenyum.
"Kenapa Mama malah tersenyum." Heran papa Riyan.
"Rencana Mama berhasilkan Pa?" Tanya mama Anita masih melebarkan senyum di bibirnya sedangkan sang suami masih menunjukkan wajah keheranannya.
selamat membaca.
__ADS_1
Boleh dong vote nya untuk Humaira alias ya kamu Femila 🤭.
Like dan komen plisssss biar author kenal dengan kalian😍🥰🙏